-->

Kronik Toggle

Prof Aminuddin Kasdi: Soemarsono Pengecut

Ini adalah tulisan ketiga yang diturunkan Jawa Pos untuk memberi ruang bagi para pembakar buku memberikan suaranya. Lagi-lagi, Prof Aminuddin Kasdi men-zero-kan peran Soemarsono dalam perjuangan rakyat Surabaya. Sebagai sejarawan, apakah Profesor Kasdi memiliki data yang melimpah ihwal perlawanan rakyat itu? Kita nantikan saja, apa Prof Kasdi tergerak hatinya menulis buku bantahan selain berkomentar di koran setelah hari rebo 2 September berada di tengah massa pembakar buku. (Red. IBOEKOE)

Front Anti-Komunis Persoalkan Sosok Soemarsono:  Jangan Paksakan Rekonsoliasi (3-Habis)

Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) DPC Surabaya Hartoyik mengakui bahwa Soemarsono adalah pemimpin Pemuda Republik Indonesia (PRI). Dia juga tahu bahwa Soemarsono adalah pejuang yang ikut andil dalam peristiwa insiden penyobekan Bendera di Hotel Yamato (Oranje) pada 19 September 1945.

Pada saat itu Hartoyik tergabung dalam Laskar Hizbullah. Laskar ini adalah salah satu di antara puluhan laskar yang hidup pada masa revolusi tahun 1945. Menurut pengakuannya, beberapa laskar yang ada saat itu, memang hidup berdampingan. Dan tidak ada permusuhan antara satu dengan lainnya.

”Kita malah tidak mengerti apa itu ideologi. Kiri, kanan, atau apalah itu namanya. Yang kami tahu, kami berjuang melawan Jepang dan Belanda, juga menegakkan Republik Indonesia,” ujarnya ketika dihubungi Jawa Pos kemarin.

Hartoyik yang sekarang 81 tahun, hidup pada masa penyobekan bendera (Vlag Incident) yang sangat legendaris itu. Dia juga tahu bahwa persitiwa tersebut sangat besar, dan menjadi batu tapal perlawanan pemuda terhadap Jepang, Belanda, dan juga Inggris yang datang belakangan ke Surabaya.

Tetapi saaat itu, Hartoyik tidak ikut dalam penyobekan. Dia waktu itu berada di Masjid di Jalan Kembang Kuning (sekarang bernama Masjid Rahmat). Hartoyik yang saat itu berpangkat Prajurit Dua memang ditempatkan di lokasi tersebut. ”Cuma saya mendengar ada peristiwa itu,” ujarnya.

Memang, setiap laskar memiliki tempat sendiri-sendiri untuk menjaga keamanan. Ada yang melakukan penjagaan di Wonokromo, Gunung Sari, ataupun Tanjung Perak. Antara satu laskar, dengan yang lainnya, pada waktu itu tidak saling mengenal. Selain PRI dan Hizbullah memang ada beberapa laskar besar pada waktu itu. Sebut saja Pemuda Indonesia, Badan Pemuda Republik Indoensia, dan Pemuda Laskar Rakyat. ”Wilayah pertahanannya memang dibagi-bagi,” ucap Hartoyik.

Soemarsono dalam beberapa kali pengakuannya mengatakan bahwa dia dan kelompoknya (PRI) adalah kelompok utama penyobekan bendera. Tetapi Soemarsono tidak pernah menyebut dialah penyobek bendera. ”Itu semua yang melakukan rakyat. Para pemuda,” tuturnya kepada Jawa Pos bebera waktu lalu.

Hal itu kata Hartoyik bisa saja benar. Sebab pada saat itu, dia tidak pernah melihat secara langsung aksi tersebut. Nama Soemarsono yang menjadi pemimpin-pun asing di telingga Hartoyik.

Dia justru lebih familiar dengan nama Roeslan Abdulgani, dan Bung Tomo. Dua nama itu cepat populer karena memang sering muncul dan menjadi pembicaraan banyak orang. Bung Tomo misalnya, meski tidak memilki massa, dia sangat terkenal karena muncul di radio. Pidatonya, kata Hartoyik, sangat efektif untuk mengobarkan semangat arek-arek Surabaya dalam berjuang.

Tiga hari setelah peristiwa penyobekan bendera, yakni Rapat Akbar tanggal 21 September di Lapangan Tambaksari, juga diketahui Hartoyik. Sebab rapat raksasa itu melibatkan ratusan ribu orang. Rapat itu disebut-sebut dipimpin oleh Soemarsono. Hartoyik mengaku mendengar nama mantan aktivis Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) tersebut. Tetapi karena dia tidak mengikuti rapat raksasa itu, Hartoyik tidak bisa membuktikan bahwa Soemarsono adalah tokoh kunci dua peristiwa besar di Surabaya tersebut.

”Saya akui bahwa Soemarsono itu pejuang. Bahkan namanya juga ada terukir pada diorama tugu Pahlawan sebagai ketua PRI. Tetapi sayangnya, dia kesandung gunung. Ya, karena ikut PKI itu,” tuturnya kemudian.

Guru Besar Sejarah Unesa Aminudin Kasdi mengatakan nama Soemarsono tidak pernah terdengar dalam beberapa peristiwa perlawanan di Surabaya. Misalnya dalam perebutan pabrik senjata Jepang di jalan Don Bosco (sekarang Jalan Tidar). Begitu juga dengan perlawanan Pemuda yang sangat besar melawan Jepang di Gunung Sari. ”Selama ini dia mengaku pemimpin. Tetapi tidak mau menampakkan diri karena takut ditembak atau diculik Jepang. Nah itu kan namanya pengecut,” tuturnya.

Setali tiga uang dengan Hartoyik, Aminuddin mengatakan bahwa Soemarsono bisa saja dianggap pejuang atas jasanya dalam peristiwa 1945 di Surabaya. Namun ternyata dalam perjalanan karirnya, Soemarsono malah menjadi salah satu pemimpin tertinggi dalam peristiwa berdarah di Madiun pada tahun 1948.

Ketua Centre For Indonesian Communities Studies (CICS) Arukat Djaswadi menuturkan, tidak perlu adanya rekonsoliasi antara PKI dengan kelompok lain.

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi 5 September 2009

2 Comments

edy - 06. Sep, 2009 -

Ya memang tidak perlu rekonsiliasi dengan PKI karena PKI kabanyakan sudah mati dibunuh. Yang butuh direkonsiliasi dan meminta maaf adalah pembunuh-pembunuhnya. APakah mereka tidak merasa telah melanggar Panca Sila sila ke-2 KEmanusiaan yang adil dan beradab? APakah bisa wafat dengan tenang nanti? KEluarga korban yang tidak bersalah lebih menderita lagi karena stigma selama puluhan tahun. Siapa yang mau minta maaf minta maaflah, tak perlu mendengar kata-kata ketua Centre for Indonesian Communities Studies

badrud tamam - 10. Sep, 2009 -

perlu dialektika sejarah
jadi,tidak sepenggal-penggal satu tokoh sejarah.Mereka perlu berdialog
membahasakan sejarah otentik.

pertikaian di media tanpa face to face,hanya akan melahirkan nafsu pembenaran masing2.

jos untuk Indonesia Buku untuk beritanya.Oke banget!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan