-->

Lainnya Toggle

Prof Aminuddin Kasdi Menjawab

Sejumlah elemen umat Islam yang mengatasnamakan dirinya sebagai Front Anti-Komunis berunjuk rasa di kantor pusat Jawa Pos di Surabaya, 2 September lalu. Mereka merasa tidak puas dengan tulisan CEO Jawa Pos Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, tentang Soemarsono. Dalam aksinya, mereka sempat membakar buku Revolusi Agustus.

Salah seorang tokoh yang ikut berdemonstrasi adalah Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Profesor Aminuddin Kasdi. Dia menjadi salah seorang tokoh yang bersuara paling lantang yang menyebut tulisan di Jawa Pos sebagai upaya ”memutarbalikkan sejarah”.

Berikut petikan wawancara kontributor Indonesia Buku Eri Irawan dengan Aminuddin Kasdi (AK), Senin (7/9/2009).

Prof, bisa dijelaskan sekilas mengapa sampai ada demonstrasi ke kantor Jawa Pos?

AK: Itu sebagai bentuk kepedulian berbagai kelompok umat Islam. Ada banyak, ada MUI dan berbagai kelompok. Intinya, kami menolak tulisan yang mencoba memutarbalikkan peran Soemarsono. Dia (Soemarsono, Red) bilang dia jadi korban, itu tidak benar. (Yang dimaksud adalah pernyataan Soemarsono yang telah meminta maaf kepada keluarga korban Kasus 1948 di Madiun dan mengatakan bahwa mereka adalah sama-sama korban. Kaum komunis maupun umat Islam adalah korban dari penguasa saat itu). Itu memutarbalikkan sejarah.

Anda melihat tulisan-tulisan Dahlan Iskan itu sangat berbahaya?

AK: Dahlan mencoba memberi peluang agar nama Soemarsono dan PKI bisa pulih kembali. Nanti itu bisa digunakan PKI untuk membersihkan diri. Semestinya tulisan itu harus berimbang, harus cari sumber-sumber lain. Soemarsono memang pelaku sejarah, tapi harus ada sumber-sumber lain biar tidak subyektif. (Tulisan-tulisan Dahlan Iskan yang dimaksud bisa di baca di sini dan di sini)

Anda puas dengan tanggapan yang sudah dimuat Jawa Pos?

AK: Sebenarnya banyak hal yang tidak ditulis Jawa Pos untuk meng-counter tulisan tentang Soemarsono. Masih ada beberapa hal lagi.

Prof, sejarah selalu punya banyak tafsir. Perbedaan menjadi hal yang wajar. Lantas, mengapa sampai membakar buku Revolusi Agustus?

AK: Itu bentuk ketidaksetujuan terhadap Soemarsono. Misalnya, dia itu kan tidak mengakui kalau kabinet pemerintahan dimulai dari kabinet presidensiil, tapi dia bilang dimulai dari Kabinet Amir Syarifuddin. Lalu di mana Kabinet Sjahrir I dan II?

Satu lagi, Soemarsono tidak menjadikan 17 Agustus 1945 sebagai titik tolak perjuangan bangsa, karena itu dia menyebutnya Revolusi Agustus. Kan bagi dia masih ada revolusi lagi untuk menuju masyarakat Komunis. Nah, pandangan itu kan mencerminkan kalau dia komunis tulen.

Soal 1948, kita harus tahu bagaimana pembantaian di Magetan, di Gorang-Gareng (merupakan salah satu kecamatan di Magetan, Red), para ulama di Takeran (juga satu kecamatan di Magetan). PKI itu menghalalkan segala cara.

Mengapa sampai membakar buku? Mengapa tidak menulis tanggapan, misalnya?

AK: Ya itu bentuk ketidakpuasan, ketidaksetujuan masyarakat. Kalau soal menulis tanggapan, sudah banyak buku yang ditulis. Orang tahu PKI itu menghalalkan segala cara.

Prof, banyak buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI dalam penyebutan Gerakan 30 September dibakar.

Kalau buku pelajaran sejarah, perjuangan kami secara yuridis, ke jalur hukum. Kami sampaikan ke Depdiknas untuk mengubah itu. Kami juga sampaikan ke lembaga terkait, kepolisian, kejaksaan, dan MA. Jangan sampai keliru memahami.

Saat ini, juga banyak buku yang mencoba memberi ruang bagi kelompok-kelompok yang selama ini terlanjur dipinggirkan dalam sejarah nasional untuk bersuara, termasuk mencoba meletakkan PKI secara proporsional dalam sejarah republik. Apa pendapat Profesor?

AK: Ya, sah-sah saja. Silakan. Biasa saja itu. Yang jelas, (untuk) sejarah 1965, (saya) memiliki titik pandang tertentu, dan itu belum bisa dipatahkan. Kalau buku-buku itu membela diri, pasti dipenuhi subyektivitas. Banyak mahasiswa sejarah yang juga seperti itu.

Artinya, banyak pula mahasiswa sejarah yang mencoba menggugat tafsir beku terhadap keterlibatan PKI selama ini?

AK: Biasa saja itu. Mereka itu terpengaruh oleh opini-opini, apalagi dibumbui semangat anti-Orde Baru. Tapi, bagi orang yang hidup di waktu itu, 1960-an, 1970-an, (pandangan bahwa PKI bersalah) tak bisa diganggu gugat.

Untuk mengurai silang-sengkarut sejarah ini, apa perlu sebuah rekonsiliasi nasional?

AK: Rekonsiliasi tidak untuk membengkokkan sejarah. Membuka luka sejarah ini berarti harus dibuka semuanya. Tidak hanya kasus 1965, tapi juga 1948. Jangan ada yang meminta pemulihan nama baik, merasa hanya menjadi korban, lho yang salah sebenarnya siapa? Apa umat Islam? PKI kalah saja kelakuannya seperti itu, apalagi kalau menang. Biarkan rekonsiliasi berjalan alamiah saja, tak usah dijembatani.

Prof, Anda sempat bilang bahwa ”sejarah hanya untuk pihak yang menang”. Lantas, apa berarti kelompok yang terpinggirkan tidak berhak hadir dalam sejarah, termasuk dalam konteks ini adalah PKI?

AK: Itu sejarahnya sendiri, yang punya legalitas yang bisa menulis. Sekarang begini, kalau kamu pacaran, belum menikah, masih bebas. Setelah Anda kawin, masak istri Anda boleh diaku oleh orang lain? Sama seperti itu. Ingat, sejarah itu soal satu masa. SBY saat ini menang, maka dia bisa mempolitisasi sejarah. PKI kalau mau bikin buku, silakan saja.

Bagaimana sebenarnya Anda melihat potensi berkembangnya komunisme dalam konteks negara kita saat ini?

AK: Situasi kita saat ini mirip 1965, di mana negara ya seperti ini. Situasi sekarang malah lebih sulit. Semua sudah diatur dalam UU. TNI sendiri sudah diatur sedemikian rupa, dwifungsi sudah tidak ada. Banyak saksi sejarah sudah tidak ada, sehingga tidak bisa memberikan paparan apa yang sebenarnya terjadi di zaman dahulu.

Dengan reformasi, marak isu demokratisasi, HAM, karena itu peranan TNI-Polri dibatasi. Akibatnya, tidak ada tindakan yang cepat untuk golongan-golongan yang anti-Pancasila.

Titik tolaknya ada di masyarakat. Kalau masyarakat tahu dan menolak paham-paham anti-Pancasila, TNI harus bergerak dan menolak juga. Masalahnya, PKI itu menghalalkan segala jalan, jadi masyarakat harus proaktif, harus waspada.

Ke depan, langkah apa yang akan dilakukan?

AK: Ke depan, ya disosialisasikan jangan sampai ada pembelokan sejarah. Saya sendiri bergerak di jalur saya, sejarah, lewat Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI).*

19 Comments

faiz ahsoul - 07. Sep, 2009 -

Kenapa tidak dikejar masalah membiarkan pembakaran buku? Ayo, wawancara balik. Gali data lagi dan krucutkan masalah pandangan dia terhadap buku dan sikap kaum vandalis yang membakar buku.

IBOEKOE - 07. Sep, 2009 -

Sudahlah Faiz… Cukup sudah dia bilang generasi muda nggak tahu apa-apa tentang PKI dan nggak pantas ngomongin sejarah. Cukup mereka saja. Terlihat kan ke mana arahnya…

Allan - 07. Sep, 2009 -

“Cukup sudah dia bilang generasi muda nggak tahu apa-apa tentang PKI dan nggak pantas ngomongin sejarah”

Waduh kok gitu sih? Kok orang lain gak pantas bicara sejarah?
APa ak tidak tahu pemabntai 1 juta orang yg dituduh sebagai PKI, lalu sebagian bear lainnya dikirim ke Buru sebagai bentuk sanksi buat mereka yg melawan Orba?
Mengapa dia mengatakan membelokkan sejarah? padahal kenyataanya, sejarah sudah dibelokkan oleh golongan yg menang? Apakah golongan yg menang saja yg berhak membelokkan sejarah?

IBOEKOE - 07. Sep, 2009 -

Salah satu buku yang ditulisnya adalah Kaum Merah Menjarah. Studi kasus BTI. Buku ini isinya mendiskreditkan petani2 radikal. Saya kok jadi tertarik menyasar isu buku ini dari sudut pandang orang2 BTI. Dan harus ditulis dengan amarah, seperti halnya Lekra tak Membakar Buku saya tulis dengan amarah meluap2 sambil selalu menaruh buku Prahara Budaya karya senior di PII Taufiq Ismail di depan meja sebagai lawan tanding yang sepadan.

Eri - 08. Sep, 2009 -

Bung Faiz, dia agaknya sudah paham dengan pertanyaan pancingan yang menjebak, seperti “mengapa membakar buku?” atau “apa Anda setuju kalau buku itu dibakar?”. Makanya, dia menjawab cukup diplomatis, dengan mengatakan, “Itu sebagai bentuk ketidakpuasan.” Saya sudah bertanya beberapa kali, dan dia tentu tidak mau terjebak pada “setuju” atau “tidak setuju” membakar buku. Salam.

teguh budi - 07. Sep, 2009 -

Memahami sesuatu musti secara utuh. Menjadi repot kalau sudah tidak lagi memberi ruang kepada kelompok-kelompok yang disebut komunis. Padahal dimata buku, siapapun boleh menorehkan sejarah. Sekalipun pihak yang dianggap kalah… Mungkin demikian. salam.

Vandzoel - 07. Sep, 2009 -

Kalo bisa dipastikan dl apa yg dia lakukan ini apolitis atau bukan. Aneh aja kok mendadak bikin kontroversi gt.

Petrik Matanasi - 07. Sep, 2009 -

wah kacau nih… kalau kondisi sekarang seperti tahun 1965, berarti PKI bakal menang pemilu dong… AD pasti keder…
Tapi bagaimana mungkin, PKI aja gak bisa hidup gimana komunisme ala Aidit mau bangkit…
keliatannya Kasdi sedih karena Orde baru dah ancur… zaman dah berubah tapi kitab sucinya soal G 30 S cuma terbitan Sekretaris Negara yang ditulis Nugroho Notosusanto doang… kasian tuh profesi, gak puas main bakar aja….
Kasdi semoga Tuhan menjagamu dari kedunguanmu itu….

emde - 07. Sep, 2009 -

aduhh..kasiohan sekali orang tua ini..makin kelihaan gak jelas otaknya…ko sejarah boleh di belok2 kan oleh penguasa…lucu sekali,ini mental fasis dehh..katanya orba pembela pancasila..lho lho.pancasila versi orba kali..dan itu yg dia anggap benar..soale kasdi mungkin dijaman orba,hidup mapan..jadi takut ama ketidak mapanan..kacau deh oran tua ini..logika dan otaknya sdh sakit..

dodi - 08. Sep, 2009 -

profesor itu lbh fasis dari komunis paling fasis di indonesia. dia tdk mau berpendapat soal pembakaran buku, tp di jls mendukung pembelokan sejarah oleh penguasa ….

saiful amin ghofur - 09. Sep, 2009 -

Lain waktu, coba kita patungan membawa Prov. Aminuddin Kasdi ke Menur. Logikanya sangat abstrak…

jpu - 09. Sep, 2009 -

yo mas di bawa ke menur yuk, sakit jiwa nih pak tua, dia pikir dia aja yang bisa ngomong dan ngobrolin sejarah, saya kasihan sama mahasiswanya..dapat ilmu apa ya dari dia….MANUSIA FASIS!

bambang haryanto - 10. Sep, 2009 -

“Sejarah itu kombinasi antara realitas dan kebohongan,” tutur dramawan dan sutradara film Perancis, Jean Cocteau (1889–1963). Dramawan Irlandia, George Bernard Shaw (1856-1950) dalam karya dramanya The Devil’s Disciple (1901) mengajukan dialog antara Swindon yang bertanya, “apa yang akan dikatakan oleh sejarah ?” dan dijawab oleh lawan bicaranya, Burgoyne : “Sejarah, tuan, akan senantiasa menceritakan kebohongan seperti pada lajimnya.”

Merujuk ilustrasi di atas itu maka bisa difahami bila Aminudin Kasdi (AK) bersikukuh bilang bahwa ”sejarah hanya untuk pihak yang menang”. Pemutaran film karya Arifin C Noer tentang G 30 S/PKI setiap tanggal 30 September ketika Orde Baru berkuasa adalah contoh bagaimana penguasa yang tiran berusaha memahat sejarah di batok kepala warga Indonesia.

Tetapi AK adalah tipikal sejarawan produk era analog, era atom, era kertas. Sedang kini adalah era digital, yang menuntut cara-cara baru dalam berpikir tentang sejarah, tentang pengajaran sejarah dan juga tentang cara mempublikasikan sejarah.

Silakan klik “History in the Digital Age” [http://digitalhistory.wordpress.com/] maka klaim AK bahwa anak-anak muda tidak tahu sejarah di masa depan hanya akan menjadi pandangan yang basi. Utamanya ketika Internet hadir dengan dahsyat sebagai pendukung suatu karya kolaborasi dibanding karya tunggal, yang menyuarakan suara beragam dan bukan suara tunggal, serta membuka beragam alternatif dalam pengalaman membaca sejarah.

Tetapi alternatif tentang keragaman itu kini nampaknya tidak diketahui oleh AK sendiri. Maka ia pun menjadi aktor “prov” dalam aksi pembakaran buku. Tentu ia juga tidak tahu alternatif semacam ini : bahwa saya telah membuat folder baru di komputer saya, bertajuk “book burning” dan artikel tentang diri AK masuk di dalamnya.

Bagaimana semesta dunia digital, dengan representasi Google dalam mencatat diri seorang AK ? Bila ia tahu, mungkin dirinya akan segera membakar isi Google dengan seluruh isinya !

Kak Nik - 10. Sep, 2009 -

Wah, butuh banyak CD/DVD tuh buat mbakar (burning) data google. Butuh program yang canggih juga tuh. Nero kayaknya gak bakalan kuat. Salam damai. Pesan kami: “BACALAH, BUKAN BAKARLAH!”

Tyson Tirta - 10. Sep, 2009 -

Kita oerang jang beladjar sedjarah mestinja poenja pikiran jang berbeda dari oom Kasdi. Tapi kog saja djadi tertarik djuga mau ngeliat itoe latar belakang oom Kasdi jang poenja itoe gelar profesor. Ada satoe itoe bagian jang saja liat oom Kasdi bilang begini “…Kan bagi dia masih ada revolusi lagi untuk menuju masyarakat Komunis. Nah, pandangan itu kan mencerminkan kalau dia komunis tulen.” Lah kog saja djadi bertanja-tanja emang kenapa kalo djadi komunis tulen? Bukannja perbedaan itoe mesti kita oerang amprogin oentoek djadi itoe kekayaan kita bersama?

Tapi parah djuga sih masa itoe boekoe dibakar-bakar.. emangnja kaloe saja (misalnya) ga soeka itoe disertasi oom Kasdi ataoe saja anggap itoe disertasi jelek (meski belom pernah liat), djadi sekonjong-konjong saja boleh bakar itoe hasil karjanya di depan umum? Dan saja djadi sakit hati djoega kaloe itoe prof Kasdi bilang “mahasiswa itu terpengaruh oleh opini-opini, apalagi dibumbui semangat anti-Orde Baru”.

hadi - 13. Sep, 2009 -

Harus diakui banyak tokoh indonesia yang katanya komunis itu berjasa besar terhadap perjuangan bangsa ini,kita mengenal semaon,pramudya ananta toer,tan malaka,bahkan sosok soemarsono sebagai pimpinan pejuang surabaya harus diakui bahwa mereka berjasa besar tehadap bangsa ini,hanya antek2 imperialisme/penjajah yang tidak mau kebenaran sejarah bangsa ini terungkap rakyat dibiarkan ketakutan dengan cerita2 horor tentang komunisme tanpa ada pengungkapan sejarah secara proporsional berdasarkan fakta2. sudah saatnya umat islam jangan mau di adu domba dengan komunis,karena komunis bukanlah agama melainkan cita2 tentang masyarakat tanpa penindasan dan itu juga tidak bertolak belakang dengan islam yang lahir sebagai rahmat bagi seluruh alam. jangan terkecoh dengan balutan pakaian dan simbol2 agama yang mereka pakai untuk melakukan pembodohan,karena pakaian,songkok,surban, tidak mempunyai agama jadi siapa saja bisa memakainya tak sedikit koruptor(baca:maling) yang juga memakai songkok,kebenaran harus terungkap karena kebenaran adalah milik allah,apa yang dikehendaki allah pasti akan terjadi meski didukung atau tidak didukung oleh manusia. dan buat pak kasdi belajar ke saya lagi aja pak soal komunisme biar gak terlalu phobia gtu! salam,

Zorro - 15. Sep, 2009 -

“AK: Situasi kita saat ini mirip 1965, di mana negara ya seperti ini. Situasi sekarang malah lebih sulit. Semua sudah diatur dalam UU. TNI sendiri sudah diatur sedemikian rupa, dwifungsi sudah tidak ada. Banyak saksi sejarah sudah tidak ada, sehingga tidak bisa memberikan paparan apa yang sebenarnya terjadi di zaman dahulu.”

Jadi Professor kok malah tambah tolol…. Ya, suruh dong generasi muda baca ke Arsip Nasional. Kan semua ada disitu.

wawan - 04. Okt, 2009 -

Saya dulu setiap hari berkelahi dengan PKI, malah pernah hampir hancur dipukuli PKI, tetapi sampai sekarang saya tidak yakin kalau PKI itu dalang Peristiwa 65. Kok di surabaya masih ada gurubesar yang begitu ndableg ya. Itu guru bear atau guru kebesaran (kegedean). Semoga dia lebih banyak belajar.

jagad - 02. Jan, 2011 -

EH Caar menyatakan bahwa kebenaran sejarah gugur manakala ditemukan data baru. Atas dasar tersebut maka bisa dikatakan bahwa sebuah rekonstruksi suatu peristiwa sejarah belum bisa dibongkar ulang apabila belum ditemukan data baru yang kredibilitasnya menyamai atau lebih dari data yang lama, bukan hanya sekedar penuturan sepihak dari tokoh tertentu yang kemungkinan memiliki bias sangat tinggi. Lalu apakah sudah ditemukan bukti primer dengan tingkat kesahihan tinggi yang menyatakan bahwa PKI adalah korban peristiwa Madiun dan peristiwa 65? ataukah sejarah harus ikut selera konsumen?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan