-->

Lainnya Toggle

Penerjemahan Sastra, Sebuah Pandangan

Oleh Anton Kurnia

Izinkanlah saya membuka tulisan ini dengan berandai-andai. Jika tak ada para penerjemah yang mau bersusah payah menekuni jalan sunyi mereka, bisa jadi banyak karya sastra—cerpen, novel, puisi, lakon—karya para pengarang dunia tak akan pernah dapat dinikmati oleh sebagian besar khalayak kita. Di sisi lain, boleh jadi karya para penulis kita sendiri tak bakal dikenal dunia jika tidak ada upaya penerjemahan ke bahasa asing. Dalam hal ini, andil para penerjemah sangat besar.

Berkaitan dengan itu, Pushkin, sastrawan ternama Rusia, mengibaratkan para penerjemah sebagai “kurir sastra”. Namun, pujian paling tinggi untuk para penerjemah mungkin diucapkan oleh pemenang Hadiah Nobel Sastra 1998 dari Portugal yang juga seorang penerjemah produktif, José Saramago. Ia mengatakan, para pengarang hanya menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah.

Di Indonesia, banyak sastrawan kita pada dasarnya adalah para penerjemah yang berhasil menarik manfaat dari karya sastra dunia. Sebut misalnya Pramoedya Ananta Toer yang menerbitkan terjemahan novel Maxim Gorky, Leo Tolstoy, Mikhail Sholokov, dan John Steinbeck sebelum kelak menulis tetralogi Bumi Manusia yang oleh para kritikus sastra dunia dianggap sebagai salah satu novel serial paling berhasil dalam khazanah sastra poskolonial. Sebuah kenyataan pula bahwa Pramoedya adalah penulis Indonesia yang karyanya paling banyak diterjemahkan ke bahasa lain. Hampir semua bukunya telah diterjemahkan ke bahasa asing, bahkan ada yang telah diterbitkan dalam 40 bahasa.

Chairil Anwar, penyair legendaris itu, pun dikenal sebagai penerjemah sejumlah puisi, cerpen, dan novel karya para sastrawan terkemuka dunia, antara lain Ernest Hemingway, John Steinbeck, dan Andre Gidé. Dari generasi berikutnya ada Sapardi Djoko Damono, Landung Simatupang, Arif Bagus Prasetyo, dan Eka Kurniawan—untuk menyebut beberapa nama.

Persoalannya, seperti yang kerap diperbincangkan di tengah maraknya arus penerjemahan karya sastra di negeri kita, apa yang harus dilakukan demi menghasilkan karya terjemahan yang baik?

Di sisi lain, seperti disinggung dalam pengantar panitia untuk acara “Temu Sastrawan Indonesia” ini, penerjemahan sastra Indonesia ke dalam bahasa asing perlu dipertanyakan kembali posisinya—apakah itu suatu keharusan, pilihan atau sekadar perkenalan?

Penerjemahan Karya Sastra Sebagai Tanggung Jawab Kolektif

Sekian banyak pendapat telah dipaparkan mengenai persoalan kualitas terjemahan kita, baik yang bersifat konstruktif maupun yang hanya cenderung menghujat tanpa menawarkan solusi. Salah satu yang cukup jernih adalah tulisan Alfons Taryadi, “Kritik Terjemahan di Indonesia” (Kompas, 5 November 2003).

Tulisan itu mencoba memaparkan betapa memprihatinkan kondisi karya terjemahan kita secara umum. Di antara sejumlah karya terjemahan yang bisa dibilang baik, amat banyak karya terjemahan yang buruk. Menurut Alfons yang pernah menjadi Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), para penerjemahlah yang paling bertanggung jawab atas kualitas karya terjemahan mereka. Namun, ia pun mengakui adanya faktor-faktor yang berpengaruh pada kinerja seorang penerjemah, seperti situasi sosial ekonomi, akses terhadap referensi, serta penghargaan orang terhadap penerjemah dan hasil karyanya.

Dalam tulisan itu disinggung pula sejumlah usulan untuk memperbaiki kualitas terjemahan kita, antara lain menjadikan upaya penerjemahan sebagai proyek kolektif dengan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan. Perlu dibuat pula sejumlah fungsi kontrol, termasuk dengan—mengutip pendapat Dr. Ignas Kleden—menerbitkan suatu media yang memuat sorotan-sorotan kritis, ilmiah, dan objektif atas buku-buku terjemahan yang terbit dengan maksud melecut komunitas penerbitan, termasuk pembaca, agar terus-menerus saling belajar—dan bukan dengan tujuan menghancurkan reputasi si penerjemah atau penerbit yang bersangkutan.

Kerja penerjemahan memang bukan soal gampang. Pakar bahasa Mikhail Rudnitzky yang berasal dari Rusia menggambarkan proses penerjemahan seperti seseorang yang harus melukiskan sebuah rumah indah di negara lain, sementara di negaranya sendiri rumah dengan arsitektur seperti itu tidak ada, bahkan seluruh keadaan alamnya pun berbeda. Inilah salah satu masalah bagi para penerjemah, yakni memindahkan gambaran dengan kata-kata ke dalam bahasa sasaran dengan sejumlah acuan yang terkadang kurang dikuasai mereka, termasuk pengetahuan atas ungkapan khas suatu bahasa dan latar belakang suatu karya yang berkaitan dengan aspek-aspek sejarah, sosiologi, dan budaya.

Rudnitzky yang pernah menjabat sebagai semacam direktur Lembaga Penerjemahan Eropa di Jerman juga berpendapat bahwa profesi penerjemah di berbagai belahan dunia kurang diperhatikan. Honor seorang penerjemah biasanya kecil, sedangkan publik pembaca baru menyadari karya si penerjemah kalau terjemahannya jelek. Menurut Rudnitzky, itu tidak adil. Baginya, pekerjaan penerjemah sebenarnya hanya dalam satu hal saja berbeda dengan pekerjaan pengarang: ia tidak boleh mengarang sendiri. Namun, ada kalanya penggunaan kata dan ungkapan dalam teks terjemahan jauh lebih bagus daripada dalam teks asli yang ditulis oleh pengarangnya.

Adapun Liubomir Iliev yang dikenal sebagai penerjemah karya besar Goethe, Faust, ke bahasa Bulgaria mengatakan bahwa para penerjemah sebenarnya adalah para pengalih bahasa yang berperan besar dalam perkembangan sastra dunia. Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan dukungan yang luas bagi profesi penerjemah yang besar tanggung jawabnya, tapi sering tidak mendapatkan perhatian. Dukungan tersebut diharapkan datang bukan saja dari pemerintah, melainkan juga dari berbagai unsur yang berkepentingan dengan tugas para penerjemah, termasuk para pembaca yang kritis.

Berkaitan dengan persoalan kualitas terjemahan tersebut, khususnya perihal terjemahan karya sastra, saya mengusulkan agar kita membentuk sebuah lembaga penerjemahan (saya pernah menulis tentang hal ini di Media Indonesia, November 2003). Lembaga ini nantinya bertugas membantu dan memperbaiki kemampuan para penerjemah—khususnya para penerjemah sastra—dari berbagai bahasa ke bahasa Indonesia dalam menjalankan tugasnya, lengkap dengan segenap fungsi dan fasilitas penunjang: referensi yang lengkap, jaringan yang luas, dan koordinasi yang baik. Lembaga ini juga bertugas memfasilitasi penerjemahan karya-karya sastra Indonesia terbaik ke berbagai bahasa asing, serta mengupayakan penerbitan dan penyebarannya.

Pembentukan serta pengelolaan lembaga ini hendaknya merupakan kerja sama antara pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jenderal Kebudayaan), berbagai kelompok praktisi penerjemahan (termasuk HPI), kalangan akademisi, para penerbit, dan kaum sastrawan, dengan melibatkan berbagai lembaga kebudayaan dan kedutaan asing (termasuk British Council, Goethe Institute, CCF—Pusat Kebudayaan Prancis, Erasmus Huis, dan Pusat Kebudayaan Jepang).

Lembaga penerjemahan sastra ini tentu saja bukanlah semacam tukang sulap yang akan menuntaskan berbagai persoalan penerjemahan karya sastra secara serta-merta, melainkan semacam upaya kolektif yang dilakukan secara terkoordinasi, terencana, dan berkesinambungan untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan yang mengemuka dalam penerjemahan karya sastra dunia ke dalam bahasa Indonesia dan dari bahasa Indonesia ke bahasa-bahasa lain secara bertahap.

Salah satu tugas lembaga penerjemahan sastra ini adalah mengupayakan pemberian penghargaan yang sepadan kepada para penerjemah agar mampu berkonsentrasi dalam berkarya. Namun, kontribusi utama lembaga ini tak dapat diukur dengan uang. Di lembaga ini, para penerjemah berbagai bahasa bisa berkumpul, berdiskusi membahas proses kerja, sekaligus meningkatkan komunikasi dan saling pengertian demi menghasilkan karya terjemahan yang baik kualitasnya—baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Karya terjemahan yang baik amat kita perlukan demi kemajuan sastra kita.

Bagaimanapun, kita tidak bisa menutup diri dari perkembangan sastra dunia jika kita ingin berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang menguasai pentas sastra dunia. Sebagai bahan renungan, sejak Hadiah Nobel Sastra diraih pertama kali oleh sastrawan Prancis Sully Prudhomme hingga saat ini, orang Indonesia yang pernah menjadi kandidat kuat memenangi hadiah sastra paling prestisius di dunia itu hanyalah Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka kita yang pernah dipenjarakan dan diasingkan di Pulau Buru tanpa proses pengadilan oleh rezim Orde Baru selama belasan tahun (1965-1979). Setelah bebas, ia menerbitkan novel-novel cemerlang yang kemudian melambungkan namanya di blantika sastra dunia. Pada 1986, Pramoedya bahkan berhasil menyisihkan saingan-saingannya dan melaju hingga nominasi terakhir penganugerahan hadiah tersebut. Namun, pada saat terakhir ia diungguli oleh penyair Nigeria, Wole Soyinka.

Hadiah Nobel Sastra tentu saja bukanlah segalanya. Banyak sastrawan terkemuka dan berpengaruh yang sepanjang hayatnya tak pernah meraih hadiah bergengsi itu, sebutlah Jorge Luis Borges, James Joyce atau Franz Kafka. Sebaliknya, ada pula pemenang hadiah tersebut yang namanya perlahan-lahan lenyap dari perbincangan. Namun, bagaimanapun, hadiah itu adalah sebuah tonggak pencapaian yang suka tidak suka mesti diakui wibawanya dalam peta sastra dunia.

Saya melihat, di balik keberhasilan individu para peraih Hadiah Nobel Sastra, terbentang tradisi sastra sebuah bangsa yang berakar dan tumbuh sejak berabad-abad silam. Tradisi itu dalam wujud sederhana adalah semangat membaca, menulis, dan menerbitkan karya sastra, serta mewariskan pustaka sebagai pusaka yang terus dimaknai dan kemudian mewujud dalam karya-karya besar. Juga kesediaan untuk belajar dari karya-karya utama dalam khazanah sastra dunia.

Lihatlah sesama bangsa Asia seperti India, Jepang, dan Cina. India tak hanya punya Rabindranath Tagore, orang Asia pertama yang meraih Hadiah Nobel Sastra (1913), tapi mereka juga melahirkan pendekar-pendekar utama dalam panggung sastra kontemporer yang diperbincangkan oleh dunia semisal Salman Rushdie, Arundhati Roy, Kiran Desai, dan Aravind Adiga.

Jepang memiliki dua peraih Hadiah Nobel Sastra: Yasunari Kawabata (1968) dan Kenzaburo Oe (1994). Jauh sebelum Kawabata dan Oe meraih Hadiah Nobel, karya-karya terkemuka dari khazanah sastra dunia diterjemahkan secara besar-besaran di sana sejak zaman Restorasi Meiji. Karya-karya Shakespeare bahkan diterjemahkan hingga berkali-kali dalam berbagai versi. Haruki Murakami, novelis Jepang paling terkemuka saat ini yang sempat disebut-sebut sebagai kandidat pemenang Hadiah Nobel Sastra, dengan tekun menerjemahkan karya-karya Franz Kafka, F. Scott Fitzgerald, dan J.D. Salinger sebelum melahirkan masterpiece-nya, Norwegian Wood, yang dianggap berhasil memadukan dengus napas kaum urban Jepang modern dengan denyut arus global yang datang dari Barat. Jika hendak ditarik ke masa silam, Jepang telah menyumbang salah satu novel terawal dalam sejarah sastra dunia, Genji Monogatari karya Murasaki Shikibu yang ditulis pada abad kesebelas. Juga bentuk-bentuk puisi tradisional mereka yang kini telah menjadi milik dunia seperti haiku.

Dan kini Cina pun telah mulai melangkah dalam pergaulan sastra dunia kaliber Nobel lewat Gao Xingjian, pemenang Nobel Sastra 2000 yang kini mukim di Prancis. Bisa disebut pula dua nama lain yang kerap disebut-sebut sebagai calon pemenang Nobel Sastra: Mo Yan, novelis pembangkang, dan Bei Dao, penyair eksil yang hijrah ke Amerika setelah lolos dari pembantaian Tiananmen dua puluh tahun silam.

Melihat kenyataan yang membentang, mereka memang memiliki tradisi sastra yang kuat dan sejarah yang panjang. Mereka telah menyalin karya-karya asing dari khazanah sastra dunia ke dalam bahasa mereka, menerbitkannya dalam bentuk buku, menelaah dan menarik manfaat darinya. Kemudian pada saatnya melahirkan karya-karya besar yang setara dengan karya-karya terbaik dunia lainnya. Mereka menyumbangkan karya agung bagi umat manusia secara universal, bukan sekadar merayakan perdebatan hampa dan kebanggaan kosong.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita telah memiliki sebuah “tradisi sastra” yang kuat dan sejarah yang panjang?

Pada masa lalu, kita pernah melahirkan karya-karya klasik yang tak kalah hebat dengan warisan bangsa lain. Sebut misalnya I La Galigo atau Serat Centhini. Namun, untuk kembali melahirkan karya-karya besar kita harus mau berendah hati membuka diri. Tidak hanya puas terkungkung dalam tempurung. Khalayak sastra kita perlu mendapatkan lebih banyak pengalaman membaca karya-karya utama dalam jagat sastra kontemporer, antara lain melalui karya terjemahan, baik melalui penerbitan buku-buku maupun publikasi di media massa (cerpen, sajak, esai, lakon). Saya kira “hal-hal kecil” semacam itu dapat bermanfaat luas bagi perkembangan sastra dan kebudayaan kita. Setidak-tidaknya, itu semua turut memperkaya khazanah literatur sastra kita.

Kita perlu membaca karya-karya bermutu dari khazanah sastra dunia demi kemajuan kita sendiri, membandingkan karya-karya itu dengan karya-karya kita sendiri, dan belajar dari para pengarang dunia tersebut. Sebetulnya tidak hanya dari karya mereka, tapi juga dari etos mereka dalam berkarya, dari proses kreatif mereka—para pekerja keras yang teguh berkarya. Misalnya, bagaimana seorang Balzac rela bekerja 16 jam sehari; bagaimana Kafka membagi hidupnya antara kerja kantoran dengan menulis karya sastra tanpa kehilangan ketajaman kreatifnya; bagaimana Hemingway tetap berdisiplin dalam menulis walaupun dia seorang hedonis yang amat menikmati kesenangan hidup.

Bukan berarti karya sastra dunia itu selalu lebih superior dari karya kita sendiri. Anggap saja sebagai pembanding, semacam kawan bergelut.

Sastra Indonesia Sebagai Bagian dari Sastra Dunia

Sementara itu, bila pada masa lalu sastra dunia dikuasai oleh Barat (baca Eropa dan Amerika) sebagai pusat yang hegemonik, peta sastra dunia saat ini mulai berubah ketika sastra non-Barat makin diperhitungkan. Pusat dan pinggiran tidak lagi sama. Batas-batasnya lebih baur, lebih merata.

Di Inggris dan Amerika Serikat banyak muncul karya bagus dari para penulis hibrida berlatar budaya bekas tanah jajahan—Asia, Afrika, Karibia, dan Amerika Latin—yang semula dianggap pinggiran, antara lain Salman Rushdie, Ben Okri, Zadie Smith, Jhumpa Lahiri, Amy Tan, Roberto Bolano, Junot Diaz, Sandra Cisneros, dan Li-Young Lee—yang terakhir ini dilahirkan di Jakarta, 1957, tapi kemudian hijrah ke Amerika bersama orangtuanya setelah ayahnya bebas dari penjara karena kasus politik pada masa Orde Lama, dan kini dikenal sebagai salah satu penyair terkemuka Amerika.

Pada 2006, Hadiah Nobel Sastra jatuh kepada Orhan Pamuk, pengarang asal Turki yang menulis dalam bahasa ibunya, sebuah negeri yang sebelumnya jarang disebut dalam percaturan sastra dunia. Ia menyusul segelintir pemenang lain yang berasal dari “pinggiran”. Sementara itu, kalau kita perhatikan nominator pemenang Nobel Sastra selama beberapa tahun terakhir yang beredar di media internasional, banyak nama dari kawasan yang selama ini dianggap kurang penting: Adonis (Suriah), Ko Un (Korea Selatan), Haruki Murakami (Jepang), Assia Djebar (Aljazair), Ismail Kadare (Albania, Eropa pinggiran).

Dua tahun terakhir, pemenang penghargaan bergengsi Man Booker Prize berasal dari India. Salah satu nominator Man Booker Prize 2007 berasal dari Malaysia. Bahkan, sejak 2007 ada penghargaan khusus untuk novel karya para penulis Asia yang ditulis atau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan belum dipublikasikan. Penghargaan itu, Man Asian Literary Prize, untuk pertama kali diraih oleh penulis Cina, Jiang Rong, melalui novelnya, Wolf Totem. Kemudian, pada 2008, pemenangnya adalah Miguel Syjuco, pengarang Filipina, melalui novelnya, Ilustrado.

Apa maknanya bagi kita? Ada pengakuan terbuka terhadap kemajuan sastra Asia meskipun penghargaan itu masih terbatas untuk novel-novel yang ditulis dalam bahasa Inggris. Ini fenomena yang sangat menarik dan sebetulnya angin segar buat para pengarang kita untuk melangkah lebih maju dalam kancah sastra dunia.

Saya percaya, salah satu sebab kurang dikenalnya sastra Indonesia dalam peta sastra dunia adalah karena kendala bahasa. Bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang dominan dalam kancah sastra dunia. Di sisi lain, hanya segelintir sastrawan kita yang menulis dalam bahasa utama dunia yang digunakan secara luas—misalnya bahasa Inggris. Sementara, karya sastra kita yang diterjemahkan ke bahasa asing sangat terbatas sehingga kurang dikenal. Sekadar catatan, dalam dua kali penyelenggaraan Man Asian Literary Prize yang saya sebut sebelumnya, tidak ada karya pengarang Indonesia yang masuk longlist 20 karya terbaik sekalipun.

Bagaimanapun, jika kita ingin berperan lebih banyak dalam pentas sastra dunia, penerjemahan karya sastra kita ke bahasa-bahasa lain adalah sebuah keharusan. Makin banyak karya sastra kita yang diterjemahkan ke bahasa asing, tentu makin terbuka kesempatan untuk diapresiasi oleh khalayak yang lebih luas dan secara lebih serius.

Sebagai gambaran, menurut data dari Goethe Institut, dari sekian banyak novel kita yang terbit sepuluh tahun terakhir, hanya ada dua buku yang diterjemahkan ke bahasa Jerman: Tarian Bumi karya Oka Rusmini dan Saman karya Ayu Utami. Dan saya yakin, masalahnya tentu bukan karena tidak ada karya sastra kita yang hebat.

Kita memerlukan upaya-upaya yang lebih sistematis dan terpadu untuk menerjemahkan kekayaan sastra dunia ke bahasa Indonesia dan menerjemahkan karya-karya terbaik kita ke bahasa asing—antara lain dengan membentuk lembaga penerjemahan sastra—serta mendorong penerbitan buku-buku sastra. Selain menyingkap cakrawala yang lebih luas bagi perkembangan sastra kita, semua itu akan membuka jendela bagi terciptanya dialog antarbudaya tanpa perlu terhalang oleh sekat-sekat perbedaan bangsa dan bahasa.

Melalui teks-teks sastra, terkadang kita disadarkan bahwa apa yang terjadi jauh di ujung dunia sana ternyata pada hakikatnya memiliki makna yang relevan dengan apa yang terjadi di sini, dalam kenyataan hidup kita sehari-hari. Dan pada gilirannya, semua itu akan menyingkap kesadaran kita akan adanya sebuah pijakan bersama di balik perbedaan yang tampak: sesungguhnya kita satu dalam semesta kemanusiaan.

Catatan: Tulisan ini adalah makalah yang disampaikan dalam diskusi “Penerjemahan Sastra: Keharusan, Pilihan atau Sekadar Perkenalan?” yang merupakan bagian dari acara Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkalpinang, Bangka Belitung, 30 Juli-2 Agustus 2009. Dinukil dari note facebook atas nama Anton Kurnia. Klik di sini.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan