-->

Kronik Toggle

Oh, Karena "Vulgar", Ormas Islam Demo Jawa Pos

Dinilai Sering “Vulgar”, Ormas Islam Demo Jawa Pos
Thursday, 03 September 2009 14:26 NASIONAL
Ormas Islam Surabaya mendemo koran Jawa Pos yang dinilai pemberitaannya sering vulgar
Hidayatullah.com–Puluhan orang yang mengaku mewakili beberapa elemen organisasi massa Islam, mendatangi kantor Jawa Pos di Jalan A Yani Surabaya, Rabu (2/9), guna memprotes beberapa pemberitaan koran itu yang dinilai vulgar dan dianggap membela komunis.
Kecaman sejumlah tokoh elemen terhadap koran Jawa Pos terutama ditujukan pada pemberitaan Miss Universe dan liputan tentang komunisme. Para demonstran melakukan aksi dan orasi di depan gedung DetEksi Basketball League (DBL) Surabaya, yang letaknya di depan Kantor Graha Pena, Kantor utama Jawa Pos.
Massa peserta aksi itu berasal dari Centre of Indonesia Community Studies (CICS), Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Front Pembela Islam (FPI) Surabaya, Front Ukhuwah Islamiyah (FUI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Forum Madura Bersatu (Formabes), dan sebagainya.
Massa memprotes pemberitaan Jawa Pos (JP) yang berasal dari tulisan bos Jawa Pos, Dahlan Iskan berjudul “Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya” yang dimunculkan tiga edisi berturut-turut itu, dimulai hari Ahad, 9 Agustus 2009.
Massa menilai, tulisan Dahlan itu kental dengan dukungan kepada PKI, khususnya kepada Soemarsono.
“Itu berarti Pak Dahlan Iskan memberi angin kepada komunisme di Indonesia, dan kunjungan itu sendiri seolah-olah ada rekonsiliasi dengan komunis,” kata Ketua CICS, Arukat Djaswadi.
Padahal, katanya, Soemarsono merupakan generasi ketiga dari PKI, setelah Muso dan Amir Syarifuddin, Karena itu Soemarsono yang sempat menjadi Gubernur Militer PKI itu, juga harus bertanggung jawab terhadap aksi pembantaian warga Magetan dan Madiun yang dilakukan PKI pada 1948.
Selain memprotes tulisan tentang Soemarsono, massa juga kecewa dengan berbagai liputan Jawa Pos yang dinilai mendukung pornografi dan foto-foto seronok.  Salah satu yang dinilai massa adalah liputan Jawa Pos tentang finalis Miss Universe asal Indonesia dengan pakaian two piece (swimsuit) yang justru menjadi headline koran tersebut.
“Tak hanya masalah komunisme, Jawa Pos juga menunjukkan perangai tidak baik dengan pemberitaan kontestan Miss Universe yang menggunakan pakaian seronok,” ungkap Abdurrahman Aziz, Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi saat memberikan orasi dengan membawa kopian gambar tersebut.
Dalam orasinya, Aziz menilai, apa yang dilakukan Jawa Pos telah melanggar Undang-Undang dan mencederai Pancasila. Padahal, menurutnya, UU Pornografi telah disahkan.
“Dengan adanya hal itu, Jawa Pos seolah tidak mengindahkan Undang-Undang dan mencederai nilai-nilai Pancasila,” ujar Aziz dengan suara lantang.
Aziz yang berada di depan massa dan orasinya selalu disambut dengan suara takbir, mengimbau agar Jawa Pos tidak melakukannya pemberitaan semacam itu lagi. [ans/www.hidayatullah.com]

Jika berita Jawa Pos ihwal pembakaran buku Soemarsono, Revolusi Agustus, terlihat sangat berhati-hati untuk tak dikatakan gugup, maka kronik berita yang ditulis redaksi Hidayatullah.com memberikan alasan yang lebih terbuka mengapa Jawa Pos pantas untuk didemo. Alasan utamanya adalah karena tulisan-tulisan koran ini terlalu vulgar. Kita tak tahu apa yang dimaksud dengan “vulgar” ini. Apakah menunjuk pada “sensasional”, “terbuka banget”, “memperlihatkan pembelaannya”, atau karena “memberi tempat bagi suara orang-orang yang dihinakan sedemikian rendah dalam sejarah”. Jika alasannya adalah yang terakhir, sebetulnya Majalah TEMPO lebih “vulgar”. Bersiap-siap sajalah TEMPO. Tapi kayaknya majalah ini sudah kebal dengan demonstrasi. Dibreidel penguasa nomor satu saja dia nggak mati. (REDAKSI IBOEKOE)

Dinilai Sering “Vulgar”, Ormas Islam Demo Jawa Pos

Ormas Islam Surabaya mendemo koran Jawa Pos yang dinilai pemberitaannya sering vulgar

Hidayatullah.com–Puluhan orang yang mengaku mewakili beberapa elemen organisasi massa Islam, mendatangi kantor Jawa Pos di Jalan A Yani Surabaya, Rabu (2/9), guna memprotes beberapa pemberitaan koran itu yang dinilai vulgar dan dianggap membela komunis.

Kecaman sejumlah tokoh elemen terhadap koran Jawa Pos terutama ditujukan pada pemberitaan Miss Universe dan liputan tentang komunisme. Para demonstran melakukan aksi dan orasi di depan gedung DetEksi Basketball League (DBL) Surabaya, yang letaknya di depan Kantor Graha Pena, Kantor utama Jawa Pos.

Massa peserta aksi itu berasal dari Centre of Indonesia Community Studies (CICS), Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Front Pembela Islam (FPI) Surabaya, Front Ukhuwah Islamiyah (FUI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Forum Madura Bersatu (Formabes), dan sebagainya.

Massa memprotes pemberitaan Jawa Pos (JP) yang berasal dari tulisan bos Jawa Pos, Dahlan Iskan berjudul “Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya” yang dimunculkan tiga edisi berturut-turut itu, dimulai hari Ahad, 9 Agustus 2009.

Massa menilai, tulisan Dahlan itu kental dengan dukungan kepada PKI, khususnya kepada Soemarsono.

“Itu berarti Pak Dahlan Iskan memberi angin kepada komunisme di Indonesia, dan kunjungan itu sendiri seolah-olah ada rekonsiliasi dengan komunis,” kata Ketua CICS, Arukat Djaswadi.

Padahal, katanya, Soemarsono merupakan generasi ketiga dari PKI, setelah Muso dan Amir Syarifuddin, Karena itu Soemarsono yang sempat menjadi Gubernur Militer PKI itu, juga harus bertanggung jawab terhadap aksi pembantaian warga Magetan dan Madiun yang dilakukan PKI pada 1948.

Selain memprotes tulisan tentang Soemarsono, massa juga kecewa dengan berbagai liputan Jawa Pos yang dinilai mendukung pornografi dan foto-foto seronok.  Salah satu yang dinilai massa adalah liputan Jawa Pos tentang finalis Miss Universe asal Indonesia dengan pakaian two piece (swimsuit) yang justru menjadi headline koran tersebut.

“Tak hanya masalah komunisme, Jawa Pos juga menunjukkan perangai tidak baik dengan pemberitaan kontestan Miss Universe yang menggunakan pakaian seronok,” ungkap Abdurrahman Aziz, Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi saat memberikan orasi dengan membawa kopian gambar tersebut.

Dalam orasinya, Aziz menilai, apa yang dilakukan Jawa Pos telah melanggar Undang-Undang dan mencederai Pancasila. Padahal, menurutnya, UU Pornografi telah disahkan.

“Dengan adanya hal itu, Jawa Pos seolah tidak mengindahkan Undang-Undang dan mencederai nilai-nilai Pancasila,” ujar Aziz dengan suara lantang.

Aziz yang berada di depan massa dan orasinya selalu disambut dengan suara takbir, mengimbau agar Jawa Pos tidak melakukannya pemberitaan semacam itu lagi. [ans/www.hidayatullah.com]

9 Comments

sasa - 04. Sep, 2009 -

Makin ga jelas juntrungnya

RR - 04. Sep, 2009 -

gak ngerti..

ary - 04. Sep, 2009 -

jadi, demonya karena soemarsono itu ikut miss universe, atau gimana sih? 😛

missy_butterfly - 04. Sep, 2009 -

ini yang patut ditelisik adalah siapa yang ngobong-ngobong-i, mengapa ada pergeseran tujuan gerakan?

teguh budi - 04. Sep, 2009 -

Sudah mulai tak konsisten… Terkadang aku berfikir PERCUMA…
Kayaknya besuk bakal muncul statemen yang melebar dan akhirnya menyimpang dari konteks sesungguhnya. PEMBAKARAN BUKU.

Aryarto - 05. Sep, 2009 -

Pembakaran buku : Tindakan tidak bermoral. Dan semua demonstrasi yg menggunakan cara pembakaran, entah ban, ataupun bendera, ataupun gambar, adalah tidak bermoral dan tidak mendidik. Karena bisa menyuburkan budaya anarkhisme.
UU Pornografi : Kalo memang diduga menyalahi UU yang telah disahkan…lebih baik dibawa ke pengadilan….biar semua belajar menetapi hukum, entah pers entah publik yg lain, karena semua berpotensi menyalahi hukum.
Dukungan terhadap PKI : Boleh-boleh saja, kan tap tentang PKI sudah dicabut pada jaman Gus Dur. Yang tidak boleh kan tidak bertuhan, karena bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

markus - 11. Sep, 2012 -

ayo trs….. wong jowo

markus - 11. Sep, 2012 -

wong jowo plaku pembakaran

markus - 11. Sep, 2012 -

wong jowo trs menjadi teroris di indon

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan