-->

Tokoh Toggle

Nurul Fatah, Guru SMP yang Produktif Menulis Buku dan Lagu

JP [ Sabtu, 05 September 2009 ]
Bikin Puluhan Buku, Royalti Ratusan Ribu Rupiah
Guru-guru berikut benar-benar patut digugu dan dituru. Di tengah maraknya isu kemerosotan kualitas guru karena menjiplak karya orang lain untuk sertifikasi, mereka terus menghasilkan karya untuk pengembangan pendidikan.
SALAH seorang guru yang punya kelebihan lain itu adalah Nurul Fatah SPd. Guru SMPN 1 Manyar, Gresik Kota Baru, tersebut boleh dibilang serbabisa. Selain sehari-hari menjadi guru, dia produktif menulis buku dan lagu. Sudah lebih dari 50 buku dia hasilkan. Beberapa diterbitkan secara nasional, sebagian lagi dilansir Pemkab Gresik.
Hobi menulis buku dirintis Fatah -panggilan guru kesenian itu- sejak 1984, saat dia diterima menjadi guru. Seperti guru pada umumnya, dia juga terlibat dalam musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Nah, salah satu tugas guru yang mengikuti MGMP adalah menyusun buku. Waktu itu dia membuat lembar kerja siswa (LKS) bidang seni untuk SMP kelas VIII dan IX.
“Sejak saat itu saya mulai rajin menulis. Bukan hanya LKS, tapi juga buku-buku pelajaran,” ujar suami Umu Sholichah tersebut.
Buku-buku pelajaran dan LKS biasanya disusun bareng beberapa guru. Tapi, guru yang namanya ditulis paling depan umumnya paling berperan. Kontribusinya lebih dari 50 persen. Dalam berkas portofolio sertifikasi, nama Fatah selalu tercantum paling depan di antara guru-guru penyusun buku LKS atau pelajaran. Maka, otomatis kredit poin Fatah lebih tinggi daripada nama-nama guru lain. Tidak heran, pada sertifikasi kuota 2008 Fatah mendapatkan nilai tertinggi di Gresik, yaitu mencapai 1.637.
“Mungkin nilai yang tinggi itu berasal dari buku-buku saya, ditambah nilai saya sebagai penatar,” ungkap bapak tiga anak tersebut.
Bagi Fatah, menulis buku bukan pekerjaan sulit. Yang penting, punya kemauan dan semangat serta mengonkretkan ide-idenya. Misalnya, untuk membuat buku ajar, Fatah bisa menyelesaikan dalam waktu satu bulan. Tapi, terkadang tak sampai sebulan, buku itu sudah kelar.
“Memang, kali pertama membuat buku, saya kesulitan akan bahan-bahannya. Sehingga, saya butuh waktu lebih dari sebulan untuk menyelesaikannya,” tuturnya.
Namun, setelah buku pertama terbit, Fatah dengan gampang membuat seri-seri berikutnya. “Saya orang yang nggak telaten. Inginnya cepat nggarap dan selesai. Jadi, begitu muncul ide, ya langsung saya eksekusi,” terangnya tentang kecepatan menciptakan sebuah buku tersebut.
Meski puluhan buku telah dia hasilkan, ternyata penghargaan yang diterima belum sebanding. Misalnya, untuk buku-buku yang diterbitkan oleh Pemkab Gresik, Fatah hanya mendapatkan royalti ratusan ribu rupiah. Itu pun masih dibagi dengan beberapa kawannya.
Tapi, untuk beberapa buku lain, dia memilih model beli putus. Karyanya langsung diunduh dengan harga yang disepakati bersama penerbit. Hanya, setelah itu dia tidak mendapatkan royalti.
“Saya pernah dapat order membuat ilustrasi sebuah buku yang dicetak secara nasional. Namun, saya hanya mendapatkan sekali royalti. Itu pun tidak banyak,” kenangnya.
Selain itu, Fatah punya pengalaman tidak mengenakkan ketika harus mengetik buku karangannya di komputer sekolah. Naskah buku tersebut sudah selesai dan tinggal diterbitkan. Tapi, alangkah kaget dia begitu tahu seorang muridnya menghapus file buku yang siap cetak itu.
“Saya langsung lemas. Sebab, saya kebetulan tidak membuat file back up-nya. Ya terpaksa menulis mulai nol lagi,” tegas dia. Sejak saat itu Fatah langsung mengumpulkan uang untuk membeli laptop dan komputer sendiri demi keperluan kerja menulis tersebut.
Saat ini Fatah menyusun buku baru. Judulnya Wayang: Tak Kenal maka Tak Sayang. Buku setebal 552 halaman tersebut hampir selesai. Di dalamnya dijelaskan tokoh-tokoh wayang. Mulai bentuk hingga karakter tokoh-tokoh itu. Buku tersebut dibuat sebagai bentuk kepedulian Fatah terhadap menurunnya minat anak muda pada wayang.
“Padahal, orang-orang luar negeri sangat menyukai wayang. Generasi muda kita justru tidak tahu siapa Arjuna,” ucapnya sambil menunjukkan file buku tersebut.
Dia bakal menawarkan buku itu untuk diterbitkan oleh Pemkab Gresik. Selanjutnya, dia berharap pemkab mau membagikan buku itu ke sekolah-sekolah di Gresik. Dengan demikian, siswa bisa belajar atau paling tidak tahu tentang seni wayang. (sha/ari)
Nama : Nurul Fatah SPd
TTL: Gresik 21 April 1962
Jabatan: Guru Kesenian SMPN 1 Manyar GKB
Prestasi: Guru Teladan Se-Gresik (1995)
Juara 1 Cipta Komik Se-Gresik (2007)
Penata Musik Terbaik Jatim (2009)
Karya: — Lebih dari 50 judul buku
— Lebih dari 30 lagu kasidah
— Puluhan himne dan mars
Nama : Budi Hartono,SPd.SH,MSc,MM.
TTL: Trenggalek , 12 Oktober 1960
Pekerjaan: Guru Fisika SMPN 1 Surabaya
Kasek SMPN 42 Surabaya
Dosen Universitas Tri Tunggal Surabaya
Prestasi : — Juara Penulisan Naskah IPA/Biologi Tingkat Nasional (1996)
— Sertifikat Pendidik dengan Nilai 1.806,25 (2009)
— Juara II Guru Teladan Tingkat Jatim (2009)
Karya: 38 judul buku
Nama : Dra Hj Eny Wahyudati
TTL: Sidoarjo, 12 Oktober 1966
Jabatan: Guru Kelas 6 SDN Pucang 3 Sidoarjo
Prestasi: — Juara III Gupres SD Kabupaten Sidoarjo (2002)
— Juara I Lomba Mengajar Matematika se-Sidoarjo (2008)
— Juara III Lomba Mengajar Matematika se-Jatim (2008)
— Finalis Nasional Lomba Mengajar Matematika (2008)
— Guru SD Berprestasi tingkat Jatim (2009)
Karya: Tujuh buku pelajaran bahasa Inggris

[KODE KRONIK: N Lok 2009 NFJP]

Bikin Puluhan Buku, Royalti Ratusan Ribu Rupiah

Guru-guru berikut benar-benar patut digugu dan dituru. Di tengah maraknya isu kemerosotan kualitas guru karena menjiplak karya orang lain untuk sertifikasi, mereka terus menghasilkan karya untuk pengembangan pendidikan.

SALAH seorang guru yang punya kelebihan lain itu adalah Nurul Fatah SPd. Guru SMPN 1 Manyar, Gresik Kota Baru, tersebut boleh dibilang serbabisa. Selain sehari-hari menjadi guru, dia produktif menulis buku dan lagu. Sudah lebih dari 50 buku dia hasilkan. Beberapa diterbitkan secara nasional, sebagian lagi dilansir Pemkab Gresik.

Hobi menulis buku dirintis Fatah -panggilan guru kesenian itu- sejak 1984, saat dia diterima menjadi guru. Seperti guru pada umumnya, dia juga terlibat dalam musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Nah, salah satu tugas guru yang mengikuti MGMP adalah menyusun buku. Waktu itu dia membuat lembar kerja siswa (LKS) bidang seni untuk SMP kelas VIII dan IX.

“Sejak saat itu saya mulai rajin menulis. Bukan hanya LKS, tapi juga buku-buku pelajaran,” ujar suami Umu Sholichah tersebut.

Buku-buku pelajaran dan LKS biasanya disusun bareng beberapa guru. Tapi, guru yang namanya ditulis paling depan umumnya paling berperan. Kontribusinya lebih dari 50 persen. Dalam berkas portofolio sertifikasi, nama Fatah selalu tercantum paling depan di antara guru-guru penyusun buku LKS atau pelajaran. Maka, otomatis kredit poin Fatah lebih tinggi daripada nama-nama guru lain. Tidak heran, pada sertifikasi kuota 2008 Fatah mendapatkan nilai tertinggi di Gresik, yaitu mencapai 1.637.

“Mungkin nilai yang tinggi itu berasal dari buku-buku saya, ditambah nilai saya sebagai penatar,” ungkap bapak tiga anak tersebut.

Bagi Fatah, menulis buku bukan pekerjaan sulit. Yang penting, punya kemauan dan semangat serta mengonkretkan ide-idenya. Misalnya, untuk membuat buku ajar, Fatah bisa menyelesaikan dalam waktu satu bulan. Tapi, terkadang tak sampai sebulan, buku itu sudah kelar.

“Memang, kali pertama membuat buku, saya kesulitan akan bahan-bahannya. Sehingga, saya butuh waktu lebih dari sebulan untuk menyelesaikannya,” tuturnya.

Namun, setelah buku pertama terbit, Fatah dengan gampang membuat seri-seri berikutnya. “Saya orang yang nggak telaten. Inginnya cepat nggarap dan selesai. Jadi, begitu muncul ide, ya langsung saya eksekusi,” terangnya tentang kecepatan menciptakan sebuah buku tersebut.

Meski puluhan buku telah dia hasilkan, ternyata penghargaan yang diterima belum sebanding. Misalnya, untuk buku-buku yang diterbitkan oleh Pemkab Gresik, Fatah hanya mendapatkan royalti ratusan ribu rupiah. Itu pun masih dibagi dengan beberapa kawannya.

Tapi, untuk beberapa buku lain, dia memilih model beli putus. Karyanya langsung diunduh dengan harga yang disepakati bersama penerbit. Hanya, setelah itu dia tidak mendapatkan royalti.

“Saya pernah dapat order membuat ilustrasi sebuah buku yang dicetak secara nasional. Namun, saya hanya mendapatkan sekali royalti. Itu pun tidak banyak,” kenangnya.

Selain itu, Fatah punya pengalaman tidak mengenakkan ketika harus mengetik buku karangannya di komputer sekolah. Naskah buku tersebut sudah selesai dan tinggal diterbitkan. Tapi, alangkah kaget dia begitu tahu seorang muridnya menghapus file buku yang siap cetak itu.

“Saya langsung lemas. Sebab, saya kebetulan tidak membuat file back up-nya. Ya terpaksa menulis mulai nol lagi,” tegas dia. Sejak saat itu Fatah langsung mengumpulkan uang untuk membeli laptop dan komputer sendiri demi keperluan kerja menulis tersebut.

Saat ini Fatah menyusun buku baru. Judulnya Wayang: Tak Kenal maka Tak Sayang. Buku setebal 552 halaman tersebut hampir selesai. Di dalamnya dijelaskan tokoh-tokoh wayang. Mulai bentuk hingga karakter tokoh-tokoh itu. Buku tersebut dibuat sebagai bentuk kepedulian Fatah terhadap menurunnya minat anak muda pada wayang.

“Padahal, orang-orang luar negeri sangat menyukai wayang. Generasi muda kita justru tidak tahu siapa Arjuna,” ucapnya sambil menunjukkan file buku tersebut.

Dia bakal menawarkan buku itu untuk diterbitkan oleh Pemkab Gresik. Selanjutnya, dia berharap pemkab mau membagikan buku itu ke sekolah-sekolah di Gresik. Dengan demikian, siswa bisa belajar atau paling tidak tahu tentang seni wayang.

Mulai Lukis, Buku, hingga Lagu

Fatah memang bukan guru biasa. Dia termasuk guru kreatif dan produktif berkarya. Buktinya, bukan hanya buku yang dia hasilkan. Dia juga menciptakan banyak lagu.

Puluhan lagu sudah dia hasilkan. Untuk kasidah, misalnya, sudah sekitar 30 lagu direkam dan beredar di pasaran. Dia juga menulis lagu mars dan himne sekolah atau lembaga pendidikan lain. Antara lain, mars SMPN 1 Manyar GKB, mars MI Malik Ibrahim, serta mars dan himne Perguruan Tinggi Qomaruddin.

“Saya memang kuliah di jurusan seni rupa. Tapi, saya juga suka musik. Dulu, saya juga suka main band,” terang guru yang berhasil menjadi Penata Musik Terbaik Jatim 2009.

Hebatnya, Fatah mampu menciptakan sebuah lagu secara kilat. Hanya butuh satu hari untuk merampungkannya. Apalagi, pas mood-nya bagus, dia bisa menciptakan lebih dari satu lagu. Nah, untuk menilai sebuah lagu layak atau belum ditampilkan, biasanya Fatah menyuruh istri dan anaknya menilai. Tujuan lainnya, menghindari kesamaan dengan lagu yang sudah ada.

“Barangkali saja ada unsur lagu tertentu yang saya sukai masuk dalam karya saya. Nah, istri dan anak saya yang menjadi juri,” tuturnya.

Alumnus IKIP Surabaya (kini Universitas Negeri Surabaya) tersebut menjelaskan tidak pernah mematok harga untuk sebuah lagu yang diciptakan. Dia menerima berapa pun bayaran yang diberikan sekolah atau lembaga lain yang memesan lagu kepadanya. Fatah menyatakan mengarang lagu karena hobi. Sehingga, bayaran tidak terlalu menjadi persoalan.

Selain menciptakan lagu, Fatah sering mendapat job membuat ilustrasi buku. Karyanya dalam bidang menggambar memang patut diacungi jempol. Pada 2007 dia memenangi lomba cipta komik sejarah se-Kabupaten Gresik. Gambar komiknya sangat halus dan rapi. Isinya padat dan berbobot.

Fatah pun kerap mengikuti pameran lukisan keliling. Hanya, belakangan kegiatan melukisnya mulai dikurangi. Dia lebih terfokus menulis buku atau menciptakan lagu.

Biodata

Nama : Nurul Fatah SPd

TTL: Gresik 21 April 1962

Jabatan: Guru Kesenian SMPN 1 Manyar GKB

Prestasi: Guru Teladan Se-Gresik (1995)

Juara 1 Cipta Komik Se-Gresik (2007)

Penata Musik Terbaik Jatim (2009)

Karya:

— Lebih dari 50 judul buku

— Lebih dari 30 lagu kasidah

— Puluhan himne dan mars

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi 5 September 2009

2 Comments

amir - 29. Jul, 2010 -

Bagus ini perlu digugu dan ditiru. Produktif creatif dan kompetitif. selamat pak guru. semoga menulis buku menjadi ladang rezeki dan amal sholeh.

Rusydatul Mursyidah - 08. Sep, 2013 -

wah, pak fatah hebat, saya jadi bangga sebagaimurid anda
terus semangat ya pak, buatlah karya – karya baru

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan