-->

Kronik Toggle

Naskah Kuno Diembat Malaysia Juga

Upaya perlindungan naskah-naskah kuno dari wilayah Jawa Barat terus dilakukan pemerintah daerah. Namun, langkah ini tidak mudah. Naskah kuno yang dimiliki masyarakat sangat mudah berpindah tangan karena memiliki nilai jual tinggi.

Kepala Seksi Perlindungan Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga Nita Julianita, Kamis (2/9), mengatakan, naskah-naskah kuno idealnya dikuasai pemerintah dan disimpan di museum agar bisa dilestarikan dan dimanfaatkan. Sebab, itu memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal tinggi.

Namun, kenyataannya tidak sedikit orang per orangan yang masih suka menguasainya demi kepentingan pribadi atau bahkan dijual. Ia mencontohkan, koleksi-koleksi naskah kuno yang dimiliki Museum Sri Baduga sebagian diperoleh dari hasil membeli.

“Lebih banyak orang yang berniat menjualnya daripada menyumbangkannya begitu saja. Padahal, naskah-naskah kuno ini butuh pemeliharaan yang tidak mudah. Diperjualbelikan untuk pihak luar sebetulnya juga dilarang keras,” tutur Nita.

Ia mengakui, di luar tidak tertutup kemungkinan ada pihak-pihak yang sengaja memperjualbelikan naskah kuno asal Jabar. Salah satunya, bisa saja dimiliki Malaysia. Harga naskah-naskah kuno per buahnya bahkan bisa mencapai Rp 1 miliar.

Museum Sri Baduga biasanya hanya membeli naskah kuno dengan kisaran harga Rp 1 Rp 1,5 juta per buah. Harga Rp 1 miliar itu penawaran sepuluh tahun lalu. “Itu adalah sebuah peta kuno dari Ciamis yang kondisinya memang masih sangat baik,” tuturnya.

Untuk itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar lebih memilih mengoptimalkan aset, yaitu naskah kuno yang ada. Saat ini, ada 145 naskah kuno asal Jabar yang disimpan di Museum Sri Baduga. Namun, baru 51 diantaranya yang telah dipreservasi dalam bentuk mi krofilm dan digital.

Naskah-naskah ini berasal dari abad ke-16 hingga abad ke-19 dengan aksara jawa kuno, arab pegon, dan cacarakan. Sebagian medianya adalah kertas tradisional macam bahan daluang, nipah, dan daun lontar. Dari 145 koleksi naskah kuno, baru 76 diantaranya yang telah ditransliterasikan ke dalam aksara latin dan Bahasa Indonesia.

Upaya transliterasi gencar dilakukan sejak tahun 2006. Sebelum-sebelumnya, paling-paling tiap tahun hanya satu buah. Sejak dua tahun terakhir, ditingkatkan menjadi 20-25 buah per tahun. “Semakin cepat, semakin baik. Sebab, naskah-naskah kuno ini mudah rusak, tinta pun mudah luntur,” ucap Nita kemudian.

Masyarakat adat

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Jabar Wiana Sundari mengatakan, negara tetangga Malaysia saat ini memang gencar mengadopsi, bahkan mengambil naskah-naskah kuno dari daerah di Indonesia. “Salah satunya, dari Jabar. Beberapa naskah memang sudah ada di sana. Bahkan, dipamerkan,” tuturnya.

Ia mengakui, tidaklah mudah menggerakkan masyarakat untuk mau menyerahkan naskah-naskah kuno yang dimilikinya. Yang terberat salah satunya kelompok komunitas masyarakat adat. Sebab, mereka masih terbentur pada kepercayaan adat yang menyakralkan naskah-naskah kuno mereka. “Orang luar pun sulit membacanya, apalagi menyimpan,” ucapnya.

* Dinukil dari Oase Kompascom Edisi 2 September 2009 dengan judul Pemerintah Kesulitan Melindungi Naskah Kuno

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan