-->

Lainnya Toggle

Menulis Itu [Ternyata Tidak] Gampang

menulisSelasa, (22 Juli 2008) seorang teman bercerita tentang sebuah acara bincang-bincang di sebuah stasiun tv swasta. Acara tersebut menghadirkan tiga penulis yang memiliki segmentasi penggemar yang berbeda. Kepopuleran ketiga penulis tersebut pun berbeda: yang satu terkenal karena buku yang ia tulis mengisahkan masa kecilnya yang begitu sederhana, yang satu meraih kepopuleran melalui investigasinya terhadap daerah-daerah mesum di Jakarta, dan yang terakhir memperoleh simpati penggemar buku melalui jaringan penulis muda yang ia bangun di internet. Sayang saya tidak menonton acara bincang-bincang tersebut. Tapi dari cerita teman saya tadi, saya bisa menarik interpretasi mengenai kualitas masing-masing penulis.

Kalau saya berpikir mengenai profesi penulis (yang dalam kamus besar Bahasa Indonesia hanya didefinisikan sebagai orang yang menulis, pengarang, panitera, sekretaris dan sepadan dengan profesi pelukis atau penggambar) saya jadi teringat pesan orang tua saya: “jadi penulis itu tidak gampang. Tidak cukup menghasilkan cerita hanya berdasarkan khayalan. Cerita yang kuat hanya bisa dihasilkan melalui perenungan nurani dan riset yang panjang. Dan penulis itu baru dikatakan berhasil, bila hasil tulisannya jauh lebih terkenal dari penulisnya sendiri.” Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa penulis tidak akan bisa menuliskan sesuatu, jika ia tidak mengalami “penderitaan” akan sesuatu itu.

Saat saya mulai menggeluti profesi tulis menulis ini (meski saya belum bisa disebut sebagai seorang penulis), saya jadi mengerti apa yang diucapkan orang tua saya dulu. Kita tidak bisa menghasilkan suatu tulisan jika hati kita tidak peka terhadap apa yang terjadi di luar diri kita. Penulis baru bisa menghasilkan karya, jika ia memiliki rasa disiplin yang tinggi. Tidak ada bos yang akan menegur bila kita melewati deadline. Pilihannya hanya dua: makan atau tidak makan. Dan penulis memiliki tanggung jawab moral yang tinggi atas apa yang ia tulis, karena sedikit banyak ia akan membangun suatu pemahaman dari apa yang ia tulis melalui interpretasi masing-masing pembacanya.

Amarzan Loebis pernah berkata pada saya. Di dunia ini tidak ada penulis nomor satu. Semua nomor dua. Itu artinya, jika seseorang mengaku dirinya sebagai penulis, ia harus terus belajar mengenai segala sesuatu, paling tidak mengenai sesuatu yang menarik bagi dirinya. Dan bagi saya itu juga berarti, penulis tidak pantas menepuk dada sebagai yang terbaik, dan amat tidak layak untuk menyerang metode penulisan penulis lain. Karena toh, yang ada dalam kepala masing-masing pasti berbeda. Yang jelas, kalau mau jadi selebritis, lebih baik jangan jadi penulis deh! (Lita Soerjadinata)

Catatan ini dikutip dari catatan Lita Soerjadinata di Goodreads.

http://www.goodreads.com/story/show/24448.Renungan_Ga_Jelas

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan