-->

Resensi Toggle

Mengurai Krisis 2008 Ala Dahlan Iskan

Oleh Umar Fauzi*)

Krisis finansial yang pernah terjadi tahun 1998, ternyata terulang lagi dipenghujung tahun 2008. Penyebab krisis kali seperti lingkaran setan yang rumit diuraikan dengan bahasa ekonomi. Tapi kerumitan itu bisa diurai dengan bahasa sederhana oleh seorang Dahlan Iskan; Seorang jurnalis yang tidak pernah mengenyam pendidikan ekonomi secara formal, kecuali mengikuti “kuliah umum” perbisnisan seiring gairahnya mengembangkan Jawa Pos.

Dahlan Iskan menguraikannya dalam buku “Kentut Model Ekonomi” (KME). Buku keenam yang ditulis Dahlan Iskan secara berturut-turut setelah 1,5 tahun, pasca transplantasi liver ini merupakan kumpulan ulasannya yang dimuat di Jawapos. Dahlan berusaha menjelaskan dengan gamblang proses transaksi kerakusan orang-orang kapitalis dengan baik dan kontemplatif. Sering kali saya mendengar orang-orang mencemooh kapitalisme yang diciptakan oleh Amerika, namun jarang sekali saya temui penjelasan berarti tentang apa yang  dicemooh itu. Dahlan Iskan berusaha memaparkan kebusukan kapitalisme ini dengan berimbang dan solutif. Tidak sedikit Dahlan Iskan menggunakan kata “kerakusan” untuk selanjutnya mencemooh kapitalisme modern.

Kapitalisme yang mendasari pola ekonomi di krisi 2008 pun ia paparkan dengan bahasa sederhana.  Bermula dari subprime mortagage, sebuah usaha mirip perkreditan rumah yang “bersekongkol” dengan investement banking, semacam Lehman Brother.Investement Banking memberi pinjaman dalam proses perkreditan mortagage, sekaligus mencari penyandang dana. Kemudian, investement banking, dengan kerakusannya, tak lagi mempertimbangkan kepatutan individu yang berhak mendapatkan kredit mortagage. Maka yang terjadi adalah banyak kredit macet.  Banyak yang tidak mampu membayar. Rumah banyak yang di sita. Harga rumah pun ikut turun.

Hal itu belum diperparah oleh usaha perlindungan kredit bagi mereka yang tidak mampu membayar, yang dikenal dengan istilah CDS (Credit Default Swaps). CDS diciptakan oleh Joseph J. Cassano. Dialah yang kemudian yang “dikutuki” orang beramai-ramai. Dengan fasilitas CDS ini  mereka yang gagal,  dapat menikmati lagi fasilitas itu. Cassano menjamin semuanya melalui AIG, perusahaan asuransi terbesar di dunia. Lingkaran setan inilah yang meletuskan krisis finansial edisi 2008.

Mengapa krisis  ini bisa merambah pada negara lain? Beberapa negara terperdaya oleh iming-iming laba dan fasilitas dari investement banking bagi mereka yang mau menginvestasikan dananya. Walhasil setelah kredit macet, dengan seketika “penyandang dana” pun kehilangan uang sejumlah yang ditempatkan. Alih-alih mendapatkan laba dan fasilitas yang dijanjikan, sepersenpun mereka tak mendapatkan kembali uang tersebut. Maka banyak orang (konglomerat) stress. Mereka terpaksa menutup perusahaannya, membangkrutkan diri, dan para pekerjanya di rumahkan. Permainan pun makin rumit karena melibatkan semakin banyak pihak.

Dahlan Iskan menyebut beberapa nama yang secara terpisah adalah pencipta keruwetan yang berbeda-beda. Selain Cassano yang menciptakan CDS, masih ada Howar Sosin dan Randy Rackson yang pernah menciptakan software interest rate swaps yang diharapkan mampu melakukan perhitungan transaksi jangka panjang (puluhan tahun); serta Bernard Lawrence Madoff, yang menciptakan over the counter, sebuah jalan pintas bentuk transaksi perdagangan (uang, saham, obligasi, dan seterusnya) dengan biaya murah dan bunga besar. Dengan transaksi ini Bernie –demikian ia dipanggil– menciptakan kemudahan bagi mereka yang memercayakan uang kepadanya tanpa proses “birokrasi” yang rumit.

Sederhana dan hidup

Begitu sederhana cara tutur Dahlan Iskan sampai-sampai saya yang awam masalah seperti ini pun dapat memahaminya dengan baik, bahkan banyak ekonom yang terperangah oleh kesederhanaan ulasan itu (baca, Kata Pengantar). Kesederhanaan itu mirip dengan apa yang dituturkan Dahlan Iskan sendiri ketika pada suatu kesempatan datang tamu dari investement banking menawarkan banyak fasilitas jika dia mau menempatkan dana di sana: Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Weny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Kesederhanaan itu menjadi jembatan menarik dengan pembaca awam. Salah satunya dapat kita lihat melalui tulisan berjudul “Sebuah Jalan Enak Menuju Bangkrut” yang menjelaskan seluk-beluk tentang bangkrut; atau “Definisi Uang yang Kian Panjang” yang menjelaskan bagaimana uang yang selama ini dipahami orang awam sebagai alat pembayaran untuk membeli barang dan mendapatkan jasa, belum cukup. Tapi di mata orang-orang tertentu, definisi uang seperti itu tidak cukupHarus ditambah sesuai dengan kepentingan masing-masing, begitulah Dahlan Iskan menuliskannya. Sebuah Pilihan kata atau diksi yang menarik, puitis, sederhana, serta mampu merasuki ruang suasana pembaca. Tentu selain penjelasan yang cukup sederhana, pilihan kata yang digunakan Dahlan Iskan cukup menarik, kadang parodis, namun tidak sedikit yang sarkastik.

Selain itu, Dahlan menuturkan beberapa peristiwa dengan cukup dramatis. Itulah yang membuat buku ini terasa “hidup”. Seperti ketika Dahlan menceritakan kebijaksanaan menteri keuangan Sri Mulyani yang tidak bisa mengunjungi ibunya yang sedang kritis. Bahkan ketika akhirnya meninggal dunia. Beliau masih memimpin rapat membahas cara penyelamatan para penabung di bank. Hasilnya, DPR menyetujui suntikan dana sebesar 2 miliar. Begitu juga cerita seputar Bernie, Cassano, serta kebangkrutan dan kehilang uang dalam jumlah besar yang dialami oleh perusahaan maupun individu. Semua dengan bahasa yang enak dibanca dan ringan.

Catatan Sejarah

Dahlan Iskan memang merendah dalam kata pengantarnya, sekaligus memberikan wanti-wanti kepada pembacannya agar tidak terlalu berharap akan kedalaman analisisnya tentang krisis finansial 2008 dalam buku ini. Namun perlu diingat bahwa sejatinya seorang Dahlan Iskan adalah jurnalis. Karena itu mau tidak mau dan wajar jika sebelum menulis, Dahlan telah membekali diri dengan segudang pengetahuan mengenai apa yang akan ditulisannya. Jika dikemudian hari tulisan itu mendapatkan apresiasi baik dari masyarakat, maka itu tak lain adalah diri sang penulisnya yang mampu menafsikan fenomena dengan baik.

Karena itu kumpulan ulasan Dahlan Iskan ini, seyogyanya ditempatkan sebagai sebuah catatan (indah) si penulis tentang fenomena yang terjadi saat ini, dan tidak berharap lebih, untuk dikatakan sebagai sebuah analisis ekonomi. Perpaduan cara tutur jurnalis, sastra (feature), dan bahan dasar ilmu ekonomi ini adalah repertoar menarik. Karenanya buku ini sebenarnya diniatkan/ seyogyanya dikatakan sebagai catatan sejarah. Semacam album yang akan dikenang generasi selanjutnya. Karena itu usaha “mengliping” tulisan Dahlan yang tercerai-berai dalam berbagai edisi Jawa Pos ini menjadi berharga.

Dahlan Iskan menuliskan hal ini pada masa “jalan-jalan” sebagaimana lima buku yang telah terbit. KME pun ditulis selama kebersamaannya dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengikuti berbagai pertemuan puncak 20 kepala negara untuk membahas krisis ini di Amerika Serikat dan menghadiri pertemuan APEC. Kasus ini dengan sendirinya menjawab proses buku ini dan bagaimana orang sekaliber Dahlan Iskan yang tidak punya riwayat formal pendidikan ekonomi, ternyata mampu berbicara banyak untuk menjadi teman pertimbangan SBY selama lawatan untuk berunding masalah terkait ekonomi.

Sebagai sejarah yang memuat fakta saat ini apa adanya, temasuk beberapa foto-foto terkait di dalamnya, KME tidak berlalu begitu saja sebagai paparan fakta-fakta, ada sekelumit harapan di sana-sini yang diselipkan penulisnya. Tentu, selain menjadi jembatan bagi pembaca awan untuk memahami seluk-beluk krisis finansial secara bijaksana. Hal ihwal mengenai berbagai istilah ekonomi; bursa saham, bangkrut, derivatif, dan berbagai intrik ekonomi diulas dengan sangat baik dan sederhana dalam buku ini. Mungkin yang perlu ditambahkan dalam buku ini adalah glosarium, sehingga pembaca lebih mudah menerima berbagai istilah ilmiah secara definitif.

Lebih dari itu, satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah “cara tutur” buku dan “cara tutur” koran. Tulisan-tulisan ini sebelumnya memang menjadi catatan di Jawa Pos. Justru itu, ketika telah menjadi buku bebarapa hal terkait “cara tutur” koran harus diadaptasi sesuai “cara tutur” buku, meskipun di dalamnya terdapat sejarah pemuatan. Sehingga kalimat; (Besok pagi, di ruangan ini, saya akan menguraikan bagaimana perusahaan surat kabar..), dan sebagainya, tidak perlu dicantumkan, meskipun berada dalam tanda kurung. Bila buku ini cetak ulang, sebaiknya dilakukan penyuntingan ulang. (Umar Fauzi)

Judul: Kentut Model Ekonomi

Penulis: Dahlan Iskan

Penerbit: Jaring Pena, Surabaya

Cetakan: Februari 2009

Tebal: xxvi + 181 halaman

*) Umar Fauzi aktif di kelompok diskusi Komunitas Rabo Sore (KRS) Surabaya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan