-->

Lainnya Toggle

Lagi, soal Tragedi Pembakaran Buku

Oleh: Djoko Pitono

DALAM drama Almansor yang ditulisnya pada 1821, pengarang Jerman Heinrich Heine menulis, ”Dort, wo man Bucher verbrennt, verbrennt man auch am Ende,” (Kapan mere ka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia).

Kata-kata Heine itu terkait dengan pembakaran besar-besaran kitab suci Alquran semasa terjadinya Inkuisisi Spanyol, yakni pengusiran kaum muslim dan Yahudi pada akhir abad ke-15 dari Kerajaan Spanyol.

Seabad kemudian, buku-buku karya pengarang keturunan Yahudi tersebut termasuk di antara ribuan buku yang dibakar oleh kaum Nazi Jerman di Opernplatz, Berlin. Sejarah mencatat, kaum Nazi kemudian membunuh banyak orang Yahudi Eropa selama masa Perang Dunia II.

Tetapi, hampir seabad kemudian di Israel, pada Mei 2008, sejumlah besar kitab Injil Perjanjian Baru dibakar di Kota Or Yehuda. Tragisnya, pembakaran itu diorganisasi oleh Wakil Wali Kota Uzi Aharon dari Partai Shas yang radikal. Aharon mengakui keterlibatannya dalam mengumpulkan Injil Perjanjian Baru dan ”propaganda Mesianik” lainnya yang telah disebarkan oleh para misionaris Kristen di kota itu.

Meskipun aksi itu melanggar UU Israel terkait dengan pembakaran benda-benda religius, tidak ada protes yang berarti. Protes-protes keras di mana-mana justru meledak pada akhir Mei, saat Menteri Kebudayaan Mesir Farouk Hosni dilaporkan mengatakan di Parlemen Mesir bahwa dirinya mendukung pembakaran buku-buku berbahasa Ibrani di sebuah perpustakaan di Kota Alexandria. Hosni kabarnya mengatakan, “Kalau masih ada bukunya di sana, saya sendiri akan membakarnya di depan Anda semua.”

Para tokoh terkenal keturunan Yahudi segera bereaksi mengingat Hosni adalah calon kuat untuk menduduki kursi Dirjen UNESCO yang berpusat di Paris, meng gantikan Koichiro Matsuura. Bernard-Henri Levy (filsuf-jurnalis), Claude Lanzmann (sutradara), dan Elie Wiesel (pemenang hadi ah Nobel Perdamaian) mendesak masyarakat internasional untuk menentang Hosni. Mere ka melukiskan Hosni sebagai seorang ”rasis dan penyebar kebencian”.

Kepada harian Le Monde, mereka menyebut sikap Hosni yang anti-Israel, termasuk menuduh orang-orang Yahudi telah menginfil trasi media massa di seluruh dunia dan menyebarkan kebohongan. ”Kami berharap agar semua negara yang menghargai kebebasan dan kebudayaan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk menghindari ancaman dan mencegah bencana bila dia terpilih dalam nominasi (sebagai Dirjen UNESCO),” kata mereka.

Hosni kemudian dilaporkan telah meminta maaf. ”Saya dengan tulus mengatakan menyesal atas kata-kata yang saya gunakan,” tulis Hosni.

Dia juga mengatakan sangat mengecam rasisme, juga upaya untuk merusak budaya Yahudi dan budaya-budaya lain. Dia meminta pengertian bahwa kata-katanya terkait dengan buku-buku berbahasa Ibrani tersebut diucapkan dalam konteks yang terkait dengan penderitaan rakyat Palestina.

Sekarang Farouk Hosni tak mudah melangkah untuk meraih kursi Dirjen UNESCO mengingat kuatnya jaringan penentangnya. Tetapi terlepas dari hal itu, pembakaran buku dalam sejarahnya tak bisa lepas dari hal-hal yang berbau politik. Sejak zaman baheula.

Pada masa Tiongkok kuno, misalnya, atas saran Menteri Li Si, Kaisar Qin Shi Huang memerintahkan pembakaran buku-buku filsafat dan sejarah dari negara-negara selain Qin sejak 231 Sebelum Masehi. Itu disusul dengan penguburan hidup-hidup sejumlah besar intelektual yang tidak mematuhi perintah negara tersebut.

Pada 25 Masehi, Senator Aulus Cremutius Cordus dipaksa bunuh diri dan karyanya, History,dibakar atas perintah senat. Buku yang memuji Brutus dan Cassius, yang membunuh Julius Caesar, dinilai terlarang menurut lex majestatis. Namun, satu buku dapat diselamatkan oleh putri Cordus, Maria, dan diterbitkan lagi dengan judul Caligula. Tapi, hanya beberapa fragmen yang selamat hingga sekarang.

Buku-buku filsafat karya Maimonides Guide for the Perplexed juga dibakar di Kota Montpellier, Prancis Selatan, pada 1233. Pada 1242, raja Prancis memerintahkan pembakaran semua kitab Talmud Yahudi di Paris setelah buku itu dinyatakan ”bersalah” dalam sebuah sidang pengadilan.

Pada 1490, sejumlah kitab suci Yahudi dan buku-buku Yahudi dibakar dalam masa Inkuisisi Spanyol. Pada 1499, sekitar 5.000 naskah berbahasa Arab dibakar di lapangan terbuka di Granada atas perintah Ximenes de Cisneros, uskup Toledo. Peristiwa itulah yang diabadikan dalam sebuah ungkapan oleh Heinrich Heine, yang kata-katanya dikutip di awal tulisan ini.

Terlalu banyak kiranya untuk menyebut satu per satu peristiwa pembakaran buku. Tetapi, beberapa insiden yang terjadi di masa modern bolehlah disebut, antara lain, pembakaran Perpustakaan Umum Jaffna, wilayah utara Sri Lanka, oleh polisi Sri Lanka berpakaian preman pada Mei 1981. Paling tidak, 95.000 buku, termasuk buku-kubu kuno berbahasa Tamil musnah dilalap api. Pembakaran tersebut, tampaknya, terkait dengan pemberontakan suku Tamil terhadap pemerintah yang didominasi oleh suku Sinhala.

Semua peristiwa itu kiranya ditangisi oleh para pencinta buku. Apalagi, sekarang ini juga muncul pembakaran buku dalam bentuk lain. Secara fisik, ada buku-buku tertentu yang tidak dibakar atau dilenyapkan dengan api. Tetapi, buku-buku itu diborong dari toko-toko buku. Atau, buku-buku tersebut dipersetankan sebagai barang-barang berbahaya dan orang-orang atau media yang mengulasnya akan diperlakukan sebagai penjahat. Pengedarnya pun bisa diadili di pengadilan.

Tragisnya, kejadian-kejadian seperti itu -terutama yang di Eropa dan Amerika Serikat- berjalan tanpa ada yang berani mengkritiknya. Begitu besar risikonya hingga mantan Uskup Desmond Tutu, peraih Nobel Perdamaian, mengatakan bahwa rakyat Amerika Serikat yang terkenal jujur pun tidak berani bersuara. (*)

Dinukil dari Jawa Pos 27 September 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan