-->

Kronik Toggle

Inilah Pembakaran Buku Terbesar di Masa pemerintahan SBY

Merujuk pada kronik, nyaris sepanjang Juni-Agustus 2007, ribuan buku ajar sejarah dipanggang dalam bara.
Dalam sebuah upacara yang gagah pada 19 Juni di halaman belakang Kejaksaan Tinggi Semarang dan dihadiri puluhan pegawai kejaksaan dan diknas, polisi, TNI, dan penerbit, 14.960 eksemplar buku sejarah dari 13 penerbit dilalap api. Buku sebanyak itu merupakan hasil operasi di 15 daerah di Jateng, yaitu Kejati Jateng (13.808 buah), Purworejo (655), Semarang (120), Banjarnegara (69),Tegal (15), Batang (10), dan 9 daerah lain yang jumlahnya di bawah 10 buah.
Upacara yang tak kalah hikmatnya–dengan disaksikan Kepala Kejaksaan Negeri Depok Bambang Bachtiar, Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail, dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda–terjadi di depan kantor Kejaksaan Negeri Depok, Jawa Barat pada 20 Juni. Sekira 1.400 buku sejarah Indonesia untuk SMP dibakar dalam acara “pemusnahan buku-buku terlarang”. Buku sejarah yang dimusnahkan itu disita dari lima sekolah menengah pertama negeri dan tiga sekolah menengah atas di Kota Depok.
Di Purwakarta, Jawa Barat, sejumlah karyawan dinas pendidikan juga melakukan pemeriksaan terhadap sekolah-sekolah yang menyimpan buku-buku tersebut. Hasilnya, sekira 300 buku diguyur minyak dan ludes terlalap api.
Di Jawa Timur, ratusan massa yang tergabung dalam Front Anti Komunis (FAK) mendatangi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur untuk meminta menyita buku-buku berisi ajaran komunis. Dalam kesempatan itu, FAK menunjukkan sejumlah buku, di antaranya Melawan Lewat Restoran, Das Kapital Untuk Pemula, dan lainnya.
Pada 7 Agustus Dinas Pendidikan Kota Solo beserta aparat penegak hukum setempat merazia buku pelajaran bergambar palu-arit. Buku-buku ini beredar di sekolah-sekolah menengah atas. Gambar palu-arit yang merupakan lambang Partai Komunis Indonesia itu terdapat dalam buku pelajaran bahasa Inggris berjudul Look Ahead on English Course untuk kelas XI jilid 2 terbitan PT Erlangga Bandung, Jawa Barat. Selain gambar palu-arit, pada buku karangan Th. M. Sudarwati dan Eudia Grace itu juga terdapat siluet manusia yang diduga menyerupai tokoh komunis Mussolini. Ada 170 buku terjaring razia yang mirip razia narkoba itu.
Kejaksaan rupanya tak cukup mengawasi barang cetakan, tapi juga menyisir opini di media massa. Bersihar Lubis yang menulis artikel “Interogator Dungu” di Koran Tempo pada 17 Maret 2007 diadili di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. Dengan masygul Bersihar mendengar keputusan 14 November 2007 itu: pidana delapan bulan penjara.

Merujuk pada kronik yang disusun Indonesia Buku, nyaris sepanjang Juni-Agustus 2007, ribuan buku ajar sejarah dipanggang dalam bara.

Dalam sebuah upacara yang gagah pada 19 Juni di halaman belakang Kejaksaan Tinggi Semarang dan dihadiri puluhan pegawai kejaksaan dan diknas, polisi, TNI, dan penerbit, 14.960 eksemplar buku sejarah dari 13 penerbit dilalap api. Buku sebanyak itu merupakan hasil operasi di 15 daerah di Jateng, yaitu Kejati Jateng (13.808 buah), Purworejo (655), Semarang (120), Banjarnegara (69),Tegal (15), Batang (10), dan 9 daerah lain yang jumlahnya di bawah 10 buah.

Upacara yang tak kalah hikmatnya–dengan disaksikan Kepala Kejaksaan Negeri Depok Bambang Bachtiar, Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail, dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda–terjadi di depan kantor Kejaksaan Negeri Depok, Jawa Barat pada 20 Juni. Sekira 1.400 buku sejarah Indonesia untuk SMP dibakar dalam acara “pemusnahan buku-buku terlarang”. Buku sejarah yang dimusnahkan itu disita dari lima sekolah menengah pertama negeri dan tiga sekolah menengah atas di Kota Depok.

Di Purwakarta, Jawa Barat, sejumlah karyawan dinas pendidikan juga melakukan pemeriksaan terhadap sekolah-sekolah yang menyimpan buku-buku tersebut. Hasilnya, sekira 300 buku diguyur minyak dan ludes terlalap api.

Di Jawa Timur, ratusan massa yang tergabung dalam Front Anti Komunis (FAK) mendatangi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur untuk meminta menyita buku-buku berisi ajaran komunis. Dalam kesempatan itu, FAK menunjukkan sejumlah buku, di antaranya Melawan Lewat Restoran, Das Kapital Untuk Pemula, dan lainnya.

Pada 7 Agustus Dinas Pendidikan Kota Solo beserta aparat penegak hukum setempat merazia buku pelajaran bergambar palu-arit. Buku-buku ini beredar di sekolah-sekolah menengah atas. Gambar palu-arit yang merupakan lambang Partai Komunis Indonesia itu terdapat dalam buku pelajaran bahasa Inggris berjudul Look Ahead on English Course untuk kelas XI jilid 2 terbitan PT Erlangga Bandung, Jawa Barat. Selain gambar palu-arit, pada buku karangan Th. M. Sudarwati dan Eudia Grace itu juga terdapat siluet manusia yang diduga menyerupai tokoh komunis Mussolini. Ada 170 buku terjaring razia yang mirip razia narkoba itu.

Kejaksaan rupanya tak cukup mengawasi barang cetakan, tapi juga menyisir opini di media massa. Bersihar Lubis yang menulis artikel “Interogator Dungu” di Koran Tempo pada 17 Maret 2007 diadili di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. Dengan masygul Bersihar mendengar keputusan 14 November 2007 itu: pidana delapan bulan penjara.

3 Comments

teguh budi - 06. Sep, 2009 -

Yang justru patut diperhatikan adalah kebebasan membaca kita yang mulai terancam. Terancam oleh kepentingan kelompok tertentu yang merasa dirinya paling benar….
Kenapa harus takut dengan komunis, kalau perilaku mereka juga tak jauh berbeda dengan perilaku komunis yang mereka tuduhkan sendiri?
Saya masih meyakini hukum karma tak bakal lepas dari siapapun. Ibarat siapa menabur angin, ia akan menabur badai….

hahn - 06. Sep, 2009 -

GILA!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan