-->

Tokoh Toggle

Hadi Sunoto:Alumnus AAL yang Hobi Berat Belajar Bahasa

hadi sunotoUSIANYA sudah 68 tahun. Meski begitu, Hadi Sunoto tetap getol belajar bahasa Inggris. Paling tidak, dia terus berusaha menjaga kemampuan berbahasanya tersebut.

Misalnya, Hadi rajin memanfaatkan kamus untuk mencari arti istilah yang tidak diketahuinya. ”Sekarang memang tak banyak lagi yang tidak saya ketahui,” jelasnya. Meski begitu, saat membaca buku atau majalah, kadang dia menemukan istilah yang baru berkembang zaman sekarang.

Alumnus Akademi Angkatan Laut itu juga aktif mengirimkan e-mail kepada teman-temannya dengan bahasa Inggris. Hadi menyatakan jarang menggunakan bahasa Indonesia saat mengirimkan e-mail. Itu dilakukan untuk menjaga kemampuan menulis dalam bahasa Inggris. “Bahasa itu harus selalu diprkatikkan agar tidak lupa,” tutur Hadi.

Bahkan, saat menerima telepon dari teman, dia juga sering menggunakan bahasa Inggris. “Tapi, ya hanya pembukaannya. Itu cara saya menjaga kemampuan berbahasa Inggris,” jelasnya.

Mungkin karena itu, dalam usia yang hampir 70 tahun, Hadi masih aktif mengajar bahasa Inggris di Fakultas Teknik Universitas Hang Tuah Surabaya. Di kampus tersebut, Hadi juga mengajar percakapan bidang kelautan.

Menurut Hadi, ada bahasa Inggris khusus bidang kelautan. Misalnya, istilah komponen kapal dan awak kapal. Dalam percakapan, ada pula percakapan antarkru kapal, antara kapal dan pelabuhan, serta antara kapal dan pelabuhan asing. “Ada bahasa Inggris khusus yang ditetapkan International Maritime Organization (IMO),” jelas Hadi.

Organisasi yang berkedudukan di London itulah, kata Hadi, yang menetapkan berbagai istilah tentang kelautan. Mereka juga memberikan sertifikat kepada pengajar yang sudah mengikuti pelatihan dan dianggap menguasai istilah kemaritiman.

Hadi mengatakan sudah mengantongi sertifikat yang dikenal sebagai sertifikat SMCP (standard maritime communication phrases) tersebut. Dengan sertifikat itu, dia layak mengajar bahasa Inggris tentang kelautan. “Tidak banyak yang bisa mengajar bahasa Inggris tentang kelautan. Saya kan sudah lama di angkatan laut. Jadi, tahu istilah-istilah kelautan,” ujarnya.

Kini, Hadi bahkan sedang menyusun buku bahasa Inggris untuk mahasiswa. Hadi menganggap buku itu penting agar mahasiswa punya pengangan buku bahasa Inggris kemaritiman. Dalam buku tersebut, Hadi juga menulis tata cara belajar bahasa Inggris, termasuk percakapan kemaritiman, dengan sederhana dan mudah.

Meski sudah puluhan tahun menggeluti bahasa Inggris, Hadi toh harus mengumpulkan kamus bahasa Inggris. Dia merasa kesulitan karena masih jarang buku tentang bahasa Inggris kemaritiman. Yang ada hanya buku bahasa Inggris umum. Padahal, banyak istilah kelautan yang tidak ditemukan dalam buku bahasa Inggris umum.

Menulis buku itu, lanjut Hadi, tidak mudah. Sebab, hasilnya harus sesuai dengan standar pembelajaran yang ditetapkan IMO. “Sejak 2008, saya punya sertifikat IMO. Itu sangat membantu saya menulis buku ini,” terangnya. Buku yang disusun sejak awal 2009 itu kini siap cetak. Jika bagus dan banyak yang membutuhkan, buku tersebut akan dicetak ulang dan dijual untuk masyarakat umum. (lum/soe)

Tapaki Empat Benua Berbekal Kemampuan Berbahasa
HADI Sunoto bolehlah dibilang telah bepergian ke empat benua hanya bermodal kemampuan berbahasa Inggris. Padahal, dia bukan alumnus fakultas atau jurusan sastra Inggris. Dia adalah lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL).

Minat belajar bahasa Inggris mulai muncul saat Hadi duduk di kelas 3 SMA pada 1960. “Guru saya lancar sekali bicara bahasa Inggris. Saya heran waktu itu,” katanya. Keheranan itulah yang kemudian mendorong Hadi untuk datang ke gurunya tersebut dan menanyakan cara mudah belajar bahasa Inggris.

Waktu itu Hadi diminta menemukan istilah Inggris di buku, koran, atau majalah, lalu mencari artinya di kamus. Tidak hanya artinya, malah. Hadi juga diminta mencari jenis kata itu, apakah kata kerja, kata sifat, atau kata benda. ”Saya masih lakukan kebiasaan itu sampai sekarang tiap kali menemukan istilah yang jarang digunakan,” katanya.

Lulus SMA pada 1961 dan masuk AAL di Surabaya, kemampuan bahasa Inggris itu pula yang membantunya lolos tes. ”Di TNI-AL kan banyak istilah Inggris, terutama istilah perkapalan,” tuturnya.

Tak disangka, begitu lulus AAL, kemampuan bahasa Inggris itu jstru memberinya kesempatan melanglang buana. Awalnya, Hadi berkesempatan menetap di Rusia selama lima tahun pada 1963-1968 untuk medalami ilmu perkapalan di Odessa Marine Engineering Institute, Ukraina, Rusia. Dia dipilih karena dinilai mumpuni berbahasa Inggris.

Padahal, semua perkuliahan di institut itu menggunakan bahasa Rusia. ”Bahasa Rusia merupakan bahasa pengantar perkuliahan. Jadi, semua mahasiswa harus menguasainya,” jelas pemilik hobi bersepeda itu.

Menurut Hadi, para mahasiswa diajari bahasa Rusia secara aplikatif. Mereka tidak dijejali banyak teori. Pembelajaran dilakukan dengan metode pengenalan lingkungan. Mahasiswa diminta mengenal istilah-istilah di sekitar. Jika sedang di ruang tamu, misalnya, benda-benda di ruang tamu itulah yang harus dihafal. ”Metode itu ternyata memudahkan kita belajar bahasa,” jelas purnawiran TNI-AL tersebut.

Bahkan, lanjut dia, Hadi dan teman-temannya sering diundang ke rumah dosen untuk makan malam sekaligus mendalami bahasa Rusia. Tentu, kali ini mereka belajar mengenal nama-nama makanan dan istilah dalam makan malam. ”Kita jadi tahu budaya makan malam di Rusia,” jelasnya.

Pulang ke Indonesia setelah lima tahun belajar di Rusia, Hadi ditugasi mengajar di Jurusan Teknik Perkapalan Universitas Hasanuddin Makassar. Di sana, Hadi kembali mendalami bahasa Inggris. “Saat itu, TNI-AL membuka kursus bahasa Inggris khusus untuk medalami teknik kelautan,” katanya.

Dalam kursus itu, Hadi belajar istilah-istilah teknologi kelautan, juga menerjemahkan tulisan tentang teknologi kelautan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan dari bahasa Indonesai ke bahasa Inggris. Dia juga belajar membuat surat lamaran kerja dan surat kontrak atau perjanjian. ”Saya bisa belajar dengan intensif karena kegiatan saya hanya mengajar dan kursus bahasa Inggris,” kata Hadi..

Tuntas tugas mengajar di Universitas Hasanuddin, Hadi kembali ke Surabaya dan bertugas di PT PAL. Belum lama bertugas di pabrik kapal tersebut, dia dikirim ke Korea Selatan untuk mengawasi pembuatan kapal milik TNI-AL pada 1981. Untuk keperluan itu, Hadi 1,5 tahun tinggal di Korsel. ”Saya diutus karena kemampuan bahasa Inggris. Dulu kanmasih jarang yang lancar berbahasa Inggris,” katanya.

Enam tahun kemudian, Hadi diutus ke Jerman untuk mengikuti perbaikan kapal selam milik TNI-AL. Tak hanya ke Rusia, Korea Selatan, dan Jerman, kemampuan berbahasa Inggris juga mengantar Hadi ke Amerika Serikat, Finlandia, dan Vietnam. (lum/soe)

Tentang Hadi Nama Hadi Sunoto MSc

Tempat, tanggal lahir Purwodadi, 7 Februari 1941,  Jabatan Kepala Bidang Kerja Sama dan Humas Universitas Hang Tuah,  Istri Sylvia Paula,  Anak Irma Chriswina (34) Mirna Sylvani (33) Melisa Mariani (23), Keliling Dunia berkat Bahasa Kuliah di Rusia untuk belajar ilmu perkapalan (1963). Dikirim ke Korea Selatan untuk mengawasi pembuatan kapal (1981). Diberangkatkan ke Jerman untuk mengikuti perbaikan kapal selam. Ke Amerika Serikat bersama rombongan PT PAL (1988). Ke Jerman Timur bersama rombongan perwira TNI-AL (1990) Ke Finlandia untuk survai dok apung yang akan dibeli PT PAL. Mengikuti seminar kelautan negara-negara Asia-Pasifik di Hanoi, Vietnam (1999).

Artikel ini disalin ulang dari Jawa Pos, edisi Jum’at, 25 September 2009

2 Comments

Wil @ Wil's World of Words - 27. Sep, 2009 -

That’s so interesting. Once a language becomes a hobby it is so interesting to learn. It’s such a shame that schoolteachers have so much trouble inspiring kids’ interest in language.

Arif Setya Budi - 06. Jan, 2010 -

its been so long, I was your student Sir…its me Arif – Naval Architecture class 98.
yes correct….language is about habit……there is no doubt about it….. no matter what language we learn……..language is about Habit to use it ….

now I’m working for German Company DSD_NOELL GmbH (Rep. Office Jakarta)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan