-->

Kronik Toggle

Front Anti Komunis Membakar Buku Revolusi Agustus di Jawa Pos

[ Kamis, 03 September 2009 ]
Front Anti-Komunis Persoalkan Sosok Soemarsono (1)
Aminuddin: Jangan Sampai Digigit Ular Dua Kaki
SURABAYA – Sekitar 200 orang yang mengatasnamakan dirinya Front Anti-Komunis (FAK) berdemonstrasi di depan kantor Jawa Pos, Jalan A. Yani, kemarin (2/9). Mereka berkeberatan atas beberapa pernyataan Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang sekarang bermukim dan menjadi warga negara Australia.
TULISAN yang dianggap bermasalah itu bertajuk, Soemarsono; Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya. Catatan terkait dengan sejarah dan masa lalu Soemarsono tersebut dimuat bersambung tiga seri di halaman depan Metropolis, mulai 9 hingga 11 Agustus 2009, yang ditulis Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan.
Front Anti-Komunis yang berunjuk rasa kemarin terdiri atas Peguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur.
Ada pula Forum Madura Bersatu (Formabes) Jawa Timur, DHD ’45 Cabang Surabaya, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), serta beberapa kelompok lainnya.
FAK tiba di area parkir Graha Pena sekitar pukul 13.00. Beberapa perwakilan tampil berorasi di depan massa menggunakan pengeras suara dan membentangkan poster. Dalam orasinya, perwakilan FAK menyesalkan tulisan sosok Soemarsono, mantan gubernur militer PKI, pada peristiwa berdarah di Madiun pada 1948. ”Seolah-olah, dia adalah pahlawan. Padahal, tidak betul itu semua,” teriak Sekjen FPI Jawa Timur Muhammad Khoiruddin.
Setelah berorasi, Ketua CICS Arukat Djaswadi membacakan pernyataan sikap FAK. Dia menyesalkan pernyataan Soemarsono saat bertemu keluarga korban peristiwa 1948 di Madiun. Sebab, Soemarsono telah meminta maaf kepada keluarga korban sambil mengatakan bahwa mereka adalah sama-sama korban. Kaum komunis maupun umat Islam adalah korban dari penguasa saat itu.
Arukat menjelaskan, penguasa yang dimaksud Soemarsono adalah Mohammad Hatta. ”Alasan itu khas PKI. Sesuatu yang dipertahankan sejak gagal melakukan kudeta pada 1948,” ujarnya.
Setelah membacakan pernyataan sikap, Akurat, Muhammad Khoiruddin, dan Nazir Zaini (Formabes) beramai-ramai membakar buku testimonial Soemarsono berjudul Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah.
Rampung berorasi, 25 wakil FAK diundang untuk berdialog dengan awak redaksi Jawa Pos di ruang rapat JTV. Mereka ditemui, antara lain, oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya, Ketua Dewan Redaksi Mohamad Elman, Tim Ombudsmen, serta Pemimpin Redaki JTV Imam Syafi’i.
Dalam pertemuan kemarin, sejarawan Unesa Prof Aminuddin Kasdi menilai, tulisan tentang Soemarsono dianggap membengkokkan sejarah. Bagiamana pun, kata dia, Soemarsono adalah sosok yang bersalah dalam peristiwa Madiun. Namanya semakin tercemar karena dia menjadi kader PKI.
”Dalam teks sejarah, nama Soemarsono masih belum dicabut sebagai antek PKI,” tegasnya. ”Tulisan tentang Soemarsono merupakan legitimasi bahwa sosoknya adalah pahlawan. Kami sangat sakit hati dan kami tidak ingin digigit ular dua kali,” ujarnya.
Leak Kustiya menyampaikan terima kasih atas kedatangan 18 elemen masyarakat tersebut. Terima kasih itu ditujukan terutama kepada FAK yang sudah melakukan koreksi atas pemberitaan Jawa Pos.
”Memberi kontrol tulisan untuk keseimbangan di media massa memang penting. Tapi, yang perlu diingat, sejarah, meski dibelokkan atau dibengkokkan, ia akan tetap bermuara dalam kebenarannya sendiri. Yakinlah, tak seorang pun dan tak satu koran pun yang bisa mengubah kebenaran sejarah,” jelas Leak.
Memenuhi permintaan kelompok masyarakat yang merasa dirugikan atas pemberitaan tentang Soemarsono itu, Imam Syafi’i mewakili ombudsmen menyatakan bahwa Jawa Pos bisa memberikan hak jawab kepada mereka. ”Kami akan memberikan porsi liputan yang sama. Caranya, mewawancarai saksi dan ahli sejarah yang berada di sini yang tahu betul sosok Soemarsono ini,” katanya.
Aminudin Kasdi dan Arukat adalah orang bersedia diwawancarai terkait silang sengkarut sejarah ini. (nur/el)

Pada akhirnya, Front Anti Komunis, Peguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur benar-benar mendatangi kantor redaksi Jawa Pos di Surabaya. Dan, buku Soemarsono, Revolusi Agustus, dibakar di depan kantor redaksi itu. Catat ini: DIBAKAR! DIBAKAR! DIBAKAR! (Redaksi)

Ini berita Jawa Pos yang ditulis dengan sangat sangat sangat hati-hati:

Front Anti-Komunis Persoalkan Sosok Soemarsono (1)

Aminuddin: Jangan Sampai Digigit Ular Dua Kaki

SURABAYA – Sekitar 200 orang yang mengatasnamakan dirinya Front Anti-Komunis (FAK) berdemonstrasi di depan kantor Jawa Pos, Jalan A. Yani, kemarin (2/9). Mereka berkeberatan atas beberapa pernyataan Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang sekarang bermukim dan menjadi warga negara Australia.

Tulisan  yang dianggap bermasalah itu bertajuk, Soemarsono; Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya. Catatan terkait dengan sejarah dan masa lalu Soemarsono tersebut dimuat bersambung tiga seri di halaman depan Metropolis, mulai 9 hingga 11 Agustus 2009, yang ditulis Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan.

Front Anti-Komunis yang berunjuk rasa kemarin terdiri atas Peguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur.

Ada pula Forum Madura Bersatu (Formabes) Jawa Timur, DHD ’45 Cabang Surabaya, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), serta beberapa kelompok lainnya.

FAK tiba di area parkir Graha Pena sekitar pukul 13.00. Beberapa perwakilan tampil berorasi di depan massa menggunakan pengeras suara dan membentangkan poster. Dalam orasinya, perwakilan FAK menyesalkan tulisan sosok Soemarsono, mantan gubernur militer PKI, pada peristiwa berdarah di Madiun pada 1948. ”Seolah-olah, dia adalah pahlawan. Padahal, tidak betul itu semua,” teriak Sekjen FPI Jawa Timur Muhammad Khoiruddin.

Setelah berorasi, Ketua CICS Arukat Djaswadi membacakan pernyataan sikap FAK. Dia menyesalkan pernyataan Soemarsono saat bertemu keluarga korban peristiwa 1948 di Madiun. Sebab, Soemarsono telah meminta maaf kepada keluarga korban sambil mengatakan bahwa mereka adalah sama-sama korban. Kaum komunis maupun umat Islam adalah korban dari penguasa saat itu.

Arukat menjelaskan, penguasa yang dimaksud Soemarsono adalah Mohammad Hatta. ”Alasan itu khas PKI. Sesuatu yang dipertahankan sejak gagal melakukan kudeta pada 1948,” ujarnya.

Setelah membacakan pernyataan sikap, Akurat, Muhammad Khoiruddin, dan Nazir Zaini (Formabes) beramai-ramai membakar buku testimonial Soemarsono berjudul Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah.

Rampung berorasi, 25 wakil FAK diundang untuk berdialog dengan awak redaksi Jawa Pos di ruang rapat JTV. Mereka ditemui, antara lain, oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya, Ketua Dewan Redaksi Mohamad Elman, Tim Ombudsmen, serta Pemimpin Redaki JTV Imam Syafi’i.

Dalam pertemuan kemarin, sejarawan Unesa Prof Aminuddin Kasdi menilai, tulisan tentang Soemarsono dianggap membengkokkan sejarah. Bagiamana pun, kata dia, Soemarsono adalah sosok yang bersalah dalam peristiwa Madiun. Namanya semakin tercemar karena dia menjadi kader PKI.

”Dalam teks sejarah, nama Soemarsono masih belum dicabut sebagai antek PKI,” tegasnya. ”Tulisan tentang Soemarsono merupakan legitimasi bahwa sosoknya adalah pahlawan. Kami sangat sakit hati dan kami tidak ingin digigit ular dua kali,” ujarnya.

Leak Kustiya menyampaikan terima kasih atas kedatangan 18 elemen masyarakat tersebut. Terima kasih itu ditujukan terutama kepada FAK yang sudah melakukan koreksi atas pemberitaan Jawa Pos.

”Memberi kontrol tulisan untuk keseimbangan di media massa memang penting. Tapi, yang perlu diingat, sejarah, meski dibelokkan atau dibengkokkan, ia akan tetap bermuara dalam kebenarannya sendiri. Yakinlah, tak seorang pun dan tak satu koran pun yang bisa mengubah kebenaran sejarah,” jelas Leak.

Memenuhi permintaan kelompok masyarakat yang merasa dirugikan atas pemberitaan tentang Soemarsono itu, Imam Syafi’i mewakili ombudsmen menyatakan bahwa Jawa Pos bisa memberikan hak jawab kepada mereka. ”Kami akan memberikan porsi liputan yang sama. Caranya, mewawancarai saksi dan ahli sejarah yang berada di sini yang tahu betul sosok Soemarsono ini,” katanya.

Aminudin Kasdi dan Arukat adalah orang bersedia diwawancarai terkait silang sengkarut sejarah ini.

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi 3 September 2009

52 Comments

sasa - 03. Sep, 2009 -

Mereka membakar BUKU. Saya yang akan melawan…!!!

BERTUHAN1 - 03. Okt, 2010 -

Yth. Sasa,
Satu pernyataan, apakah anda juga bersikap sama yakni akan melawan pada pembakaran Al-Qur’an di AS ? atau hanya melawan yang membakar buku buku provokator KOMUNIS TAK BERTUHAN ? tunjukkan dadamu…….

Pustakawan - 03. Sep, 2009 -

Naudzubillahminzalik

teguh budi - 03. Sep, 2009 -

Dear Indonesia Buku ;

saya pribadi lebih sepakat jika diberi ruang untuk FAK menelurkan gagasan maupun sanggahannya. Memang benar kata Si Leak, tak satupun koran mampu merubah sejarah. Namun dibutuhkan kearifan dalam mensikapi masalah ini. Akupun secara pribadi adalah korban pemerintah pengusa kala itu. Tapi tetap berfikir logis, memang sejarah memiliki jamannya sendiri. Dan kita tak perlu pula merutuki sejarah, karena sejarah pula yang menjadikan bangsa ini besar.

Kenapa pula mereka tidak melihat keturunan orang yang disangka PKI. Yang tak mengerti dan bahkan tak tahu trageni iu berlangsung, namun menanggung dosa tak terperi. Tak bisa dan tak diperbolehkan berekspresi.

Saya pikir masih banyak yang musti didiskusikan tentang nilai-nilai kebangsaan yang belakangan terkoyak. Daripada sekadar berjibaku dengan saudara sendiri, saudara sesama korban kebijakan politik tempo dulu. Mungkin demikian.

salam.

Pustakawan - 04. Sep, 2009 -

betul mas, saya sepakat

BERTUHAN1 - 03. Okt, 2010 -

Yth. Teguh Budi ,
Andalah yang saya hormati karena bersikap arif bijaksana, tidak seperti saut situmorang yang membela PKI/Tidak Bertuhan . Lalu janganlah ada tragedi lagi seperti pasca G-30-S PKI seperti dulu lagi. Sudah berkali-kali ( sudah 3 x ) faham komunis/PKI/Tidak Bertuhan disebarkan di negara NKRI yang berujung pada pengkhianatan Komunis/PKI/Tidak Bertuhan pada negara NKRI yang Bertuhan/Ber-PANCASILA ini, dan semuanya berakibat pembunuhan massal sesama anak bangsa ini. Nada-nadanya saat ini sebangsa saut situmorang cs. yang memprovokator akan bangkitnya faham komunis/PKI/Tidan Bertuhan di negara NKRI yang kita cintai ini. Marilah kita melihat kedepan, dengan memberantas koruptor beserta sepahamnya yang berfaham KKN ini. Marilah bersatu padu menciptakan kedamaian, khususnya pada yang ber-agama ISLAM marilah kita tegakkan Al-Qur’an : “.Bagimu agamu dan bagiku agamaku….” marilah kita saling bahu membahu bersama sama membenahi NKRI ini sehingga menjadi negara damai selamanya….dan marilah kita tolak bersama faham-faham yang mengganggu dan mengancam PANCASILA di negara NKRI tercinta ini….Terima kasih.

Fayyadl - 03. Sep, 2009 -

ini vandalisme yang harus dilawan.

Irwan Bajang - 03. Sep, 2009 -

Lawan buku dengan buku harusnya!!! jangan buku dengan api…
masih ada ya manusi Ironis semacam itu!!!
Sial!

Musthafa Amin - 04. Sep, 2009 -

Saya sepakat vandalisme ini harus dilawan. sebagai tokoh intelektual, seharusnya beliau menjunjung tinggi nilai-nilai akademik yang telah dituangkan Soemarsono di dalam bukunya. meski kebenaran sejarah di dalamnya, memang bermasalah atau tidak, harus ditanggapi dengan porsi yang sama…
mata dengan mata, darah dengan darah dan buku dengan buku. nanti kebenarannya bisa diperbincangkan dengan akal sehat…

Tanzil - 04. Sep, 2009 -

membakar buku adalah perbuatan biadab!
lawan tulisan dengan tulisan!
lawan buku dengan buku! bukan dengan membakar !

bambang haryanto - 04. Sep, 2009 -

“Wherever books will be burned, men also, in the end, are burned.”

Heinrich Heine (1797–1856), penyair Jerman.

Habiburrohman - 04. Sep, 2009 -

Membakar buku sama saja dengan perbuatan yg paling “tak intelek”

Buku Lovers - 07. Sep, 2009 -

Provokasi apa yang bisa mencuci otak para kaum pembakar buku tersebut ….. buku adalah esensi pemikiran yang mahal….. terkutuklah mereka ! ! ! !

Rini - 13. Sep, 2009 -

Cuci otak gaya orde baru benar-benar luar biasa sampai orang begitu takut dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan komunisme. Seolah-olah dengan membakar buku ini, mereka menjadi lebih baik dari orang yang mereka kutuk. Benar-benar hasil pembodohan yang luar biasa, menjadikan orang-orang makin bodoh dalam dalam bereaksi terhadap apa yang dianggapnya salah. Lihat saja perilaku orang-orang bodoh yang membakar buku itu. Semoga mereka suatu saat bisa dicerdaskan.

BERTUHAN1 - 03. Okt, 2010 -

Yth. Mbak Rini,
Anda akan sadar dan terbuka mata bila telah merasakan kebiadaban PKI/Komunis Tidak Bertuhan, seperti bagaimana orang komunis/PKI/tidak Bertuhan ini berperilaku : memperkosa anda atau keturunan anda besaok kalao PKI/Komunis/Tidak Bertuhan ini menang, seperti di RRT. Vietkong, dll. Lho apa menunggu bukti dulu kebiadaban kaum faham komunis/PKI/Tidak Bertuhan ini menimpa anda dan keturunan anda mbak Rini ?, Apa nggak sebaiknya sebelum buku buku berfaham Komunis/PKI/Tidak Bertuhan ini mencekoki rakyat Indonedia yang berfaham Pancasila/Ber-TUHAN ini diberantas dulu ? untuk mencegah tragedi seperti pasca G-30-S PKI dulu? Mohon sadarlah…sebelum anda menjadi korban faham komunis/PKI/Tidak Bertuhan ini.

putra takeran magetan - 03. Okt, 2009 -

komunisme itu ideologi yg sudah tertanam dan akan terus berkembang di hati&pikiran mereka.komunis 2x mengkhianati bangsa.jgn sampe trjadi yg ke 3x.new komunis dg gerakan baru inovasi baru yg lbih halus harus qt waspadai.komunis pengkhianat bangsa!ideologi mereka msh tetap ada..sampe skarang!tumpas komunis!

IBOEKOE - 04. Okt, 2009 -

@Putra: boleh nggak kamu sebutkan dua kali pengkhianatan PKI itu. Bagaimana dengan PRRI yang melibatkan juga bapaknya Prabowo, yakni Soemitro. Masjumi pengkhianat bangsa juga karena turut dalam PRRI, termasuk Natsir, Sjarifuddin Prawira dan seterusnya. Juga ada tokoh2 PSI yang juga ambil bagian dalam PRRI. Bagaimana????

is - 15. Des, 2009 -

tak ada satupun ideologi yang sempurna di dunia ini. di sisi paradoksikalnya yg lain, tak ada pula ideologi yang sepenuhnya salah.
ketika ideologi hanyalah sebuah platform politik dari sekumpulan orang, dan kemudian mencoba mengekspresikan ide-ide fundamentalnya, dan lalu kalah oleh kekuatan lain, maka konsekuensi logisnya, ideologi itu memang ahrus rela menjadi kambing hitam.
ini bukan tentang kebenaran. ini tentang kekuasaan.
dan btw, saya jadi inget petikan lirik lagunya Pearl Jam dalam Do the Evolution:
“I can kill you, cause in God I trust…”

Mbah Sghriwo - 09. Feb, 2010 -

Konflik apapun di masa lalu jangan diaktualisasikan dan dibawa-bawa ke masa kini. Sejarah adalah bekal hidup untuk pembelajaran di masa kini dan masa depan. Generasi muda harus bersatu-padu melawan invasi dari luar negeri. Melawan penjajahan ekonomi asing, melawan budaya asing yang merusak, dan lain sebagainya.
Ingat, nenek-moyang kita yang sakti mandraguna dan berilmu tinggi dari beragam agama itu kalah, ya, kalah oleh Belanda yang mungil, kalah oleh Inggris, kalah oleh Portugis, bahkan kalah oleh Malaysia dalam perebutan wilayah perbatasan.
Kenapa kalah? Karena konflik terjadi di antara bangsa awak sendiri. Konflik antar ideologi tidak ada habis-habisnya. Mari kita bergandengan tangan saja. Sejarah adalah bahan pembelajaran, dan guru paling bijak.

Salam,

habib umar bin gople alhadad citeureup - 29. Agu, 2010 -

“nenek-moyang kita yang sakti mandraguna dan berilmu tinggi dari beragam agama”
nenek myang yang mana???oh,KEN AROK YA?!pantas jadi pereman sampai kini
tapi sayang ngaku merdeka malah jadi baboe n kacoong sinapore,malaysia,hongkong,korea,arab.tidak pernah jadi bangsa besar!!!

sabda alam - 01. Jun, 2010 -

mereka yg berbicara bahwa sejarah pki madiun adalah dusta betul2 goblok dan tolol nya mereka mereka bersorak-sorak bahwa sejak soeharto lengser komunis di perboleh kan lgi tapi TIDAK sama sekali komunis adalah suatu ideologi dimana anarkisme di perboleh kan pembunuhan di perboleh kan mereka senantiasa membenci agama melaknat alim ulama MENGINGKARI ADANYA TUHAN MEMFITNAH BAHWA SORGA TAK ADA tapi mereka bersembunyi di belakang kita berbaik hati bagai seorang ulama mulutnya manis bagai madu tapi fitnah hasutan tak pernah berhenti mereka senantiasa mengobarkan ke biadaban kakek atau bapa-ibu nya mereka mengira itu semua CUCI OTAK ORDE BARU tapi saya berkata CUCILAH OTAK DAN PERBUATAN KALIAN SELAMA DI DUNIA HILANGKAN LAH IRI DENGKI DENDAM DAN KOTORAN-KOTORAN DI HATI KALIAN BERTAUBAT LAH KALIAN tanda bahwa komunis masih ada adalah sifat bapak-ibu nyamenurunkan ke anak nya sejak kecil mungkin mereka di ajari berkelahi mungkin tak ada artinya kalian berteriak teriak HIDUP PKI HIDUP PKI HIDUP PKI pki sudah tak ada pki tinggal nama yg ada sampah-sampah pki itu mereka memfitah golongan ulama partai-partai islam seperti psii dan masyumi mereka tertawa bersorak kemenangan tapi alllah membela pada yg benar allah berikan cahaya kepada kita akan bahayanya pki tapi mereka sudah jatuh mereka sudah hancurrrr leburrr mati digundukan tanah menjadi tulang belulang bagi mereka yg mengaku pki HEY PKI HEY MANUSIA KOMUNIS TUNJUKANLAH HIDUNG KALIAN APA KALIAN TAKUT PADA KAMI APA KALIAN TAKUT JIKA KAMI MENGLULUH LANTAKAN KOMUNIS SEBAGAI MANA KEJADIAN YG LALU BAGI KALIAN YG BERANI MAJU JANGAN GENTAR APA KALAN HANYA BESAR DI MULUT LEMAH DI FISIK MANA PKI PKI SUDAH HANCUR LEBUR GA ADA LAGI AYO MAJU MANA PKI KLO PKI PUNYA ANGGOTA 100 ANGOTA ANTI PKI 1000 JIKA ANGOTA PKI 1000 ANGOTA ANTI PKI 1000000 DAN SETERUSNYA KAMI TAK AKAN GENTAR KAMI TAK AKAN MUNDUR SETAPAK PUN UNTUK MENGHADAPI PKI KARENA indonesia akan lebih makmur tanpa campur tangan kalian MERDEKA HIDUP INDONESIA HIDUP PANCA SILA ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR

Pustakawan - 02. Jun, 2010 -

Wahai saudaraku Sabda Alam, kata-katamu di atas sungguh menimbulkan kerisauan, menumbuhkan bibit-bibit kebencian dan amarah di dalam hati, yang akhirnya akan menimbulkan penyakit hati serta dengki. Lalu apa bedanya dengan tuduhan yang selama ini dilakukan oleh penguasa lalim, thogut, yang menganggap bahwa kritik berarti ancaman terhadap ketertiban umum, bahkan disamakan dengan perbuatan menghasut atau menebar kebencian?

Wahai saudaraku Sabda Alam. Kejujuran dan keterbukaan adalah sifat terpuji yang diajarkan oleh panutan ummat muslim, karena itu, bersikaplah terbuka, bukalah hati dan pikiran untuk berdialog, dan tunjukkanlah sikap itu dengan menunjukkan jati dirimu agar kita dapat saling ‘berjabat tangan’ dan ‘berbicara’ meski hanya lewat media maya ini.

Wassalam

SABDA ALAMSYAH - 02. Jun, 2010 -

MENGAPA SAYA BERBICARA SEPERTI ITU BUNG PKI MADIUN ITU KENYATAAN DI SAAT BANGSA KITA SEDANG BERJUANG MELAWAN PENJAJAH MEREKA MALAH MEMBUAT PEMBERONTAKAN PENGHIANATAN YG BAGI BANGSA INDONESIA BAGAI MUSUH DALAM SELIMUT APA GUNANYA MEREKA MEMBERONTAK TAK ADA GUNANYA ITU MALAH MEMBUAT MASALAH YG BERTAMBAH HEY BUNG SUDAH CUKUP BANGSA KITA PENUH MASALAH TAPI JANGAN BUNG MENAMBAH MASALAH PKI MEMBERONTAK TANPA SEBAB MEMBUNUH SECARA MEMBABI BUTA SEHINGGA RAKYAT KAUM ULAMA TNI DANTOKOH PENTING SEPERTI GUBERNUR JATIM R.M SURYO DAN DR MUWARDI MENJADI KORBAN SUATU KEBIADABAN MENJADI SUATU KORBAN PENGHIANATAN MENJADI SUATU KORBAN YG MATI SIA2 APA DIBENARKAN SEORANG PAHLAWAN MEMBERONTAK APA DIBENARKAN SEORANG PAHLAWAN BER HIANAT APA DIBENARKAN SEORANG PAHLAWAN MEMBUNUH ORANG YG TAK BERSALAH APALAGI BANGSANYA SENDIRI SAMA SEKALI TIDAK PKI ADALAH SUATU PARTAI POLITIK YG BERIDIOLOGI TAK JELAS YG MEMBUAT KERESAHAN RAKYAT ITU SENDIRI BILAANDA BUKAN KOMUNIS PASTI ANDA DIAM ATAU MEMBELA ATAU APASAJA TAPI SAYA MENULIS DIATAS SEBAGAI PEMANCING AGAR KALIAN SAMPAH2 PKI MENUNJUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI SEORANG KOMUNIS BUKAN MENYAMAR BERGANTI KULIT MENJADI ORANG YG ALIM DAN BAIK KLO ANDA SETUJU SAYA ANTI KOMUNIS ANDA HARUS KOMENTAR YA SAYA ANTI KOMUNIS TAPI KLO ANDA KOMUNIS YA TERSERAH ANDA TOH ITU HAK KALIAN DAN INGAT SUATU YG DI BENCI TUHAN DAN MANUSIA ADALAH SEORANG PENGHIANAT

WASSALAM

Pustakawan - 04. Jun, 2010 -

“HEY BUNG SUDAH CUKUP BANGSA KITA PENUH MASALAH TAPI JANGAN BUNG MENAMBAH MASALAH PKI MEMBERONTAK TANPA SEBAB….”

Wahai saudaraku Sabda Alamsyah, saya tidak sedang menambah masalah. Saya jadi ingin tahu, pernyataan tertulis saya yang mana yang saudara anggap sebagai masalah yang saya tambahkan? Dan bagaimana hubungan antara komentar saya ini dengan bangsa kita yang kini sedang penuh masalah?

“TAPI SAYA MENULIS DIATAS SEBAGAI PEMANCING AGAR KALIAN SAMPAH2 PKI MENUNJUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI SEORANG KOMUNIS BUKAN MENYAMAR BERGANTI KULIT MENJADI ORANG YG ALIM DAN BAIK…”

Saudaraku Sabda Alamsyah yang baik, tidak ada upaya saya untuk menyamar jadi orang alim dan baik. Saya hanya mengajak untuk berpikir lebih jernih, tidak emosional karena tidak ada gunanya. Lagi pula, saudara Sabda Alamsyah juga tidak perlu memancing-mancing, karena tidak ada sampah-sampah PKI di sini. Di sini isinya adalah manusia, sama seperti saudara Sabda Alamsyah. Kita semua adalah manusia, yang membedakan antara manusia satu dengan yang lain hanyalah baik dan buruknya, bukankah begitu saudara Sabda Alamsyah yang baik?

“…KLO ANDA SETUJU SAYA ANTI KOMUNIS ANDA HARUS KOMENTAR YA SAYA ANTI KOMUNIS TAPI KLO ANDA KOMUNIS YA TERSERAH ANDA TOH ITU HAK KALIAN DAN INGAT SUATU YG DI BENCI TUHAN DAN MANUSIA ADALAH SEORANG PENGHIANAT.”

Saya Pancasilais lho 😀

Silahkan simak profil saya yang ada kutipan salah satu sila dalam Pancasila 😀

Saya sungguh ingin tahu, mengapa Saudara Sabda Alamsyah selalu teringat tragedi-tragedi pemberontakan PKI. Kalau saya boleh tahu, apakah ada keluarga Saudara Sabda Alam yang menjadi korban dalam tragedi-tragedi tersebut, sehingga Saudara Sabda Alamsyah selalu teringat dan menganggap komunis adalah hantu yang sewaktu-waktu akan muncul kembali.

Kalau memang benar ada keluarga Sabda Alamsyah yang menjadi korban, saya bersimpati. Namun, saya pikir perlu juga melihat sikap keluarga Yani, yakni Amelia Yani yang secara terbuka bersikap bahwa tidak perlu meneruskan dendam dan permusuhan.

Kalau ternyata tidak ada keluarga Sabda Alamsyah yang menjadi korban, lantas mengapa saudara Sabda Alamsyah begitu bersemangat mengingat tragedi masa lalu di masa kini? Jujur dan terbuka sajalah, bukankah itu juga yang saudara Sabda Alamsyah harapkan dari dialog ini.

Satu hal lagi, coba saudara Sabda Alamsyah jelaskan, seberapa mungkinkah terjadi pemberontakan komunis di masa kini, sehingga saudara Sabda Alamsyah merasa perlu selalu memperingatkan bahaya komunisme.

Salam

sabda alam syah - 05. Jun, 2010 -

bung saya tak memikirkan pemberontakan komunis tapi saya memikirkan agama allah yg sudah mulai tercemar ajaran2 anarkis kaum komunis para ulama indonesia pun sudah tahu bahwa ajaran komunis adalah ajaran yg tidak sesuai dengan fitrah manusia jujur memang keluarga saya jadi korban tapi yg terpenting negara kita tak akan maju jika komunis ikut campur di republik kita saya tahu islam mereka hanya berkedok saja pada saat partai komunis indonesia(pki) muncul mereka mengunakan KITAB SUCI AL-QURAN sebagai alat peropaganda mereka setelah kuat partai mereka mereka bahkan berani membunuh orang yg tak berdosa bahkan kaum ulama ,ulama adalah penyambung lidah nabi jika ulama mati dibunuh pasti banyak ilmu pula menjadi mati atas kekejian pki itu saya hanya tak mau sejarah berdarah di negri kita terulang lagi saya hanya ingin memperingati teman2 adik2 saya dari tetangga dan orang di sekitar kita untuk mencegah pki bangkit di indonesia bahkan saya juga memberi arahan pada mantan pki bahwa apa yg di kerjakan sia2 dan saya menolak tegas gagasan pki bila hak cipta seseorang tak diperbolehkan pantas negrikita kebudayaan nya banyak di klaim negara tetangga dan tak menghargai karya orang lain sedang kutipan tentang “tuhan” saya cuma turut memperingatkan toh yg penting saya berjuang lilahitaala atasnama allah tuhan serusekalian alam dan memurnikan AL QURAN juga al hadis semoga anda mengerti maksut saya dan moga anda tak terpengaruh komunis amin

wassalam

Pustakawan - 06. Jun, 2010 -

Sodara Sabda Alamsyah, kok dalam komentar anda makin banyak aja pernyataan yg sumir ujung-pangkalnya.

“bung saya tak memikirkan pemberontakan komunis tapi saya memikirkan agama allah yg sudah mulai tercemar ajaran2 anarkis kaum komunis”

Tolong dong jelaskan ajaran2 anarkis kaum komunis mana yg sodara bilang mencemari itu? Anarkis yang anda maksud itu yg seperti apa, kalo misalnya bakar buku, mukulin orang, ngancam pake golok, kira2 semacam itukah anarkis itu? apakah tindakan-tindakan anarkis semacam itu biang keladinyanya adalah ajaran komunisme?

“…para ulama indonesia pun sudah tahu bahwa ajaran komunis adalah ajaran yg tidak sesuai dengan fitrah manusia jujur memang keluarga saya jadi korban tapi yg terpenting negara kita tak akan maju jika komunis ikut campur di republik kita”

saya bersimpati dengan tragedi yg menimpa keluarga anda. tapi jangan gitu dong, sampe nggak mau ngajak orang lain yg beda prinsip duduk bareng mikirin republik ini. republik ini bukan kepunyaan satu kelompok kan, wong yg punya gagasan awal ttg republik ini juga tokoh komunis kok.

“…saya tahu islam mereka hanya berkedok saja pada saat partai komunis indonesia(pki) muncul mereka mengunakan KITAB SUCI AL-QURAN sebagai alat peropaganda mereka setelah kuat partai mereka mereka bahkan berani membunuh orang yg tak berdosa bahkan kaum ulama ,ulama adalah penyambung lidah nabi jika ulama mati dibunuh pasti banyak ilmu pula menjadi mati atas kekejian pki itu

Siapapun bisa menggunakan kitab suci untuk melakukan propaganda, bahkan dijadikan dalil pembenaran untuk menghalalkan darah orang lain. Tapi sudahlah, sebab kalo mau pake hitungan korban nggak sedikit juga lho korban pasca ’65, banyak juga lho yg tidak bersalah tapi jadi korban. Saya juga menentang kekerasan dan pembunuhan, karena itu sebetulnya apa yg sodara dan saya tentang sebenarnya sama, yakni sikap mau benarnya sendiri dan menyingkirkan orang-orang yg berbeda pendapat.

“…saya hanya tak mau sejarah berdarah di negri kita terulang lagi saya hanya ingin memperingati teman2 adik2 saya dari tetangga dan orang di sekitar kita untuk mencegah pki bangkit di indonesia bahkan saya juga memberi arahan pada mantan pki bahwa apa yg di kerjakan sia2”

Silahkan, itu hak anda. Tiap orang punya hak untuk mempertahankan prinsipnya masing-masing. Tapi jangan main paksa doooong, misalnya sampe pake bakar-bakar buku segala (saya tdk sdg menuduh anda lho:) dan jangan sampe beranggapan bahwa orang yang punya prinsip berbeda berarti “sampah” sehingga harus dibersihkan.

“…dan saya menolak tegas gagasan pki bila hak cipta seseorang tak diperbolehkan pantas negrikita kebudayaan nya banyak di klaim negara tetangga dan tak menghargai karya orang lain.”

kok saya jadi ingat isu ttg opensource itu adalah komunis ya. gaswat deh. lagian gimana juga hubungan antara pki, hak cipta, dan klaim negeri tetangga atas kebudayaan kita. kalo anda elaborasi hubungan antara ketiganya, kayaknya bakal jadi artikel bagus tuh. saya yakin pengurus situs ini mau memublikasikannya 😀

“…sedang kutipan tentang “tuhan” saya cuma turut memperingatkan toh yg penting saya berjuang lilahitaala atasnama allah tuhan serusekalian alam dan memurnikan AL QURAN juga al hadis semoga anda mengerti maksut saya dan moga anda tak terpengaruh komunis amin

Amin, terima kasih atas doanya.
Mengenai maksud anda itu, sepertinya masih banyak yg belum saya pahami, mudah2an sodara bersedia menjelaskan hal-hal yang masih jadi tanda tanya.

Salam

nisa diani - 06. Jun, 2010 -

yang dibahas ini kan soal pembakaran buku? kenapa pembicaraannya melebar kemana2…

pantesan masalah di Indonesia g selesai2. sukanya melebar2kan masalah sih…

😀 *crossfinger

Saut Situmorang - 06. Jun, 2010 -

AYO BIKIN ‘FRONT PEMBELA KOMUNIS’!!! PKI ITU PAHLAWAN BANGSA, PARTAI PERTAMA YANG BERANI MEMAKAI NAMA ‘INDONESIA’ SEBELUM INDONESIA ADA! PARTAI PERTAMA YANG BERANI BERONTAK TERHADAP BELANDA TAHUN 1926! PIMPINAN PKI BERKORBAN KERNANYA, MATI, DIBUANG KE DIGUL, ATO DIBUANG KE BELANDA. PKI TAK PERNAH MEMBERONTAK TERHADAP ‘INDONESIA’. TAHUN 48 ITU ADALAH PERANG SAUDARA DI TUBUH MILITER SENDIRI, SAMA SEPERTI TAHUN 65! MILITER YANG SELALU MEMBERONTAK DI NEGERI INI! TAHUN 50AN MEREKA BERUSAHA MEMBUNUH SUKARNO DI CIKINI JAKARTA, MEREKA BERONTAK DENGAN NAMA PRRI/PERMESTA, MEREKA BERONTAK DAN MENGKUDETA SUKARNO DAN MENDIRIKAN ORDE BARU! ISLAM JUGA MEMBERONTAK DI JAWA BARAT DGN NAMA DI/TII. PKI CUMA MEMBERONTAK TERHADAP BELANDA! PKI BISA BEGITU POPULER DI TAHUN 60AN KERNA RAKYAT MELIHAT CUMA PKI YG BENAR-BENAR MEMPERHATIKAN MEREKA, MISALNYA DGN MELAKUKAN ‘AKSI SEPIHAK’ MEWUJUDKAN ISI UNDANG-UNDANG AGRARIA TENTANG LAND-REFORM. CUMA KAUM TUAN TANAH TAIK KUCING PENINDAS RAKYAT YG TAK SUKA DGN AKSI BELA RAKYAT PKI INI!

KALAU MAU TAHU TENTANG PKI, JANGAN BACA SEJARAWAN LOKAL YG CUMA JADI ANTEK MILITER, SEJARAWAN TAIK KUCING TAK BERMUTU! BACALAH BUKU-BUKU PARA PENELITI LUAR NEGERI, PARA PROFESOR LUAR NEGERI, YG TINGGI TINGKAT INTEGRITAS INTELEKTUALNYA, KAYAK RUTH MCVEY DGN BUKUNYA YG SUDAH DIINDONESIAKAN BERJUDUL ‘SEJARAH KOMUNISME DI INDONESIA, ATO BEN ANDERSON DKK TENTANG PERISTIWA KUDETA MILITER 65, ATO DISERTASI TOP JOHN ROOSA ‘DALIH PEMBUNUHAN MASSAL’. SEJARAH ITU BUKAN DONGENG YANG BISA KAU KARANG-KARANG SEENAK UDELMU, SEJARAH ITU REALITAS!!!

habib umar bin gople alhadad citeureup - 29. Agu, 2010 -

horas bah.tak ada beras loe makan sampah
pahlawan apa bah?!pahlawan sampah masyarakat di garugul???pahlawan jambret???mau debat nih no gua 021-87902688.umar tak takut sama tabak.ha martabak sampah.bapakmu pki ya???

Saut Situmorang - 29. Agu, 2010 -

Habib Umar Anjing Arab Bau!

Nama asli lu aja lu kagak berani pakek, sampah macam apa lu! Dan dari jawaban lu yang nunjukin kalok lu itu cumak tamatan kelas satu SD itu, orang segera tahu bahwa ngomong ama monyet jauh lebih berguna ketimbang ama anjing arab kayak lu! Gua bela PKI dari anjing-anjing pengkhianat bangsa kayak lu dan nama gua jelas dan lengkap di sini! Cobak lu dan anjing-anjing kurapan lain bantah pernyataan-pernyataan gua di atas kalok memang lu punya sedikit aja Kecerdasan dan Keberanian khas Batak, hahaha… Anjing Arab mah memang cumak bisa gonggong doang makanya kafilah pun tak takut dan jalan terus! Dimakan pun pasti tak enak, ciri-khas daging makhluk pengecut, hahaha… Cobak kalok anjing Batak, wah udah disambar congor baumu itu!

Saut Situmorang - 06. Jun, 2010 -

Front Anti Komunis kalok memang berani membicarakan Sejarah Indonesia, ayo bikin Debat Nasional besar-besaran! Di Surabaya pun jadi! Minta bos kalian Tentara itu jadi sponsor! Jangan sok berani pakek kekerasan cuma kerna tahu ada backing Tentara! Kalok Rakyat bergerak, kencing dalam celana kalian!!!

Saut Situmorang - 06. Jun, 2010 -

PEMBUNUHAN ATAS ANGGOTA PKI (PARTAI SAH DI INDONESIA SAMPAI BERKUASANYA TENTARA!) JUMLAH TERBESAR TERJADI DI JAWA TIMUR DAN BALI. DI JAWA TIMUR PEMBUNUHAN MASSAL ITU DILAKUKAN OLEH ORANG-ORANG YANG MENGAKU BERAGAMA, PERCAYA PADA TUHAN, DAN PARA TUAN TANAH PENINDAS RAKYAT, DAN DILATIH TENTARA! JENDRAL SARWO EDHIE MANTAN BOS RPKAD, KOPASSUS SEKARANG, YANG MEMBUAT PENGAKUAN INI SEBELUM DIA MATI DIKEJAR-KEJAR RIBUAN ARWAH PENASARAN!

KALAU BENAR-BENAR BERAGAMA DAN PERCAYA TUHAN, BERTOBATLAH DAN JUJURLAH! KALOK NGGAK, DIBAKAR DALAM NERAKA JAHANAM KAU SELAMANYA!

Saut Situmorang - 07. Jun, 2010 -

Killing for God

http://www.insideindonesia.org/edition-99/killing-for-god

“Ulama were also mindful of the threat that the PKI posed to their material interests. The unilateral actions had targeted lands owned by ulama families or their religious boarding schools, as well as the properties of NU benefactors in rural areas of Java. NU leaders must have viewed with alarm the risk of communist attacks upon their privileged socio-economic position, much of which was connected to control of land and access to capital. And when the direct interests of NU ulama elite were at risk, the organisation was capable of mobilising with belligerent fervour.

Ulama used Islamic boarding schools and public sermons to vilify communists. References to communist treachery at Madiun became increasingly common from 1964, as did mention of recent clashes between NU and PKI supporters, some of which resulted in severe injuries or death to NU members. The overall effect was to create an impression in the mind of the NU community that the PKI represented a lethal threat. Moreover, this threat had been historically recurring; the PKI had quickly recovered from its defeat at Madiun and become Indonesia’s largest political party by the late 1950s. The ulama argued that NU should now use the failed coup to help destroy communism permanently.

NU ulama did not only sanction the killings – they were also often directly involved in organising and training the Banser units and ad hoc killing squads. When attending training sessions, they would give special guidance and prayers for members, as well as dispensing amulets or talismans to ensure the safety of those involved in killings. Former Banser members from this period recount how they regarded themselves as a privileged group, closer to the religous elite than other NU members and better able to receive their blessings – something that is important in traditionalist Muslim communities, where ulama are seen as being able to channel God’s grace, and close proximity to them is likely to bring spiritual and material reward.”

Saut Situmorang - 07. Jun, 2010 -

Pelajaran-Pelajaran Dari Kudeta 1965 Indonesia

http://www.wsws.org/exhibits/1965coup/coup1965.shtml

Saut Situmorang - 07. Jun, 2010 -

Tragedi 1965 Belum Selesai, Komnas HAM Wajib Merespon

http://dev.progind.net/modules/AMS/article.php?storyid=22

Saut Situmorang - 07. Jun, 2010 -

Kolektif Info Coup d’etat ’65

http://dev.progind.net/

Saut Situmorang - 07. Jun, 2010 -

MAFIA BERKELEY DAN PEMBUNUHAN MASSAL DI INDONESIA

http://www.plunder.com/MAFIA-BERKELEY-DAN-PEMBUNUHAN-MASSAL-DI-INDONESIA-download-fb46198125.htm

Saut Situmorang - 07. Jun, 2010 -

JEJAK HITAM SOEHARTO

http://www.rakyatmerdeka.co.id/index.php?pilih=lihatsoe&id=69

Saut Situmorang - 07. Jun, 2010 -

Majalah Tempo Online
11 Agustus 2008

Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis

oleh Ignas Kleden

# Sosiolog, Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi

TAN Malaka meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok.

Selama masa itu, dia menggunakan 13 alamat rahasia dan sekurangnya tujuh nama samaran. Di Manila dia dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estahislau Rivera, sedangkan di Filipina Selatan dia menjadi Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy dia adalah Ossario, wartawan Filipina. Ketika menyelundup ke Burma, dia mengubah namanya menjadi Oong Soong Lee, orang Cina kelahiran Hawaii. Di Singapura, ketika menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas, dia bernama Tan Ho Seng. Setelah masuk kembali ke Indonesia, dia bekerja di pertambangan Bayah, Banten, dan menjadi Ilyas Hussein.

Pelarian dan penyamaran itu dimungkinkan, salah satunya, karena dia menguasai bahasa-bahasa setempat dengan baik. Ketika dia ditangkap di Manila pada Agustus 1927, koran Amerika, Manila Bulletin, menulis, “Tan Malaka, seorang Bolsyewik Jawa, ditangkap. Dia berbicara bermacam-macam bahasa: Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Tagalog, Tionghoa, dan Melayu.” Dalam pelarian itu, bermacam-macam pekerjaan sudah dilakukannya.

Di Amsterdam dan Rotterdam dia berkampanye untuk partai komunis Belanda pada waktu diadakan pemilu legislatif dan ditempatkan pada urutan ketiga. Di Moskow dia menjadi pejabat Komintern dengan tugas mengawasi perkembangan partai komunis di negara-negara Selatan, yang mencakup Burma, Siam, Annam, Filipina, dan Indonesia. Di Kanton dia menerbitkan majalah berbahasa Inggris, The Dawn. Di Manila dia menjadi kontributor untuk koran El Debate. Di Amoy dia mendirikan Foreign Languages School yang mendapat banyak peminat dan memberinya cukup uang. Di Singapura dia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas walau tanpa ijazah.

Sebelum dibuang ke luar negeri, dia dipenjarakan tiga kali oleh pemerintah kolonial, di Bandung, Semarang, dan Jakarta. Dalam pelariannya ke luar negeri, dia dipenjarakan di Manila dan Hong Kong. Setelah kembali ke Indonesia, dia dimasukkan ke penjara oleh pemerintah Indonesia di Mojokerto (1946-1947).

Dia mengagumi secara khusus pejuang kemerdekaan Tiongkok, Dr Sun Yat-sen, yang di kalangan pengikut bawah tanah dipanggil Sun Man. Dia membaca buku San-Min-Chu-I dan berkesimpulan bahwa Dr Sun tidak sepaham dengan dia dalam teori dan metode. Menurut Tan Malaka, Dr Sun bukanlah seorang Marxis, melainkan sepenuh-penuhnya seorang nasionalis. Dalam metode, dia tidak berpikir dialektis, tapi logis. Namun kesanggupan analisisnya tinggi, kemampuan menulisnya baik sekali, dan dia seorang effective speaker. Kekuatan Dr Sun terdapat dalam dua hal lain, yaitu satunya kata dan tindakan serta tabah menghadapi kegagalan. Usahanya memerdekakan Tiongkok dari Kerajaan Manchu baru berhasil pada percobaan ke-17, setelah 16 kali gagal.

Dr Jose Rizal menjadi pahlawan Filipina dan pahlawan Tan Malaka karena ketenangannya menghadapi maut. Beberapa saat sebelum dia ditembak mati, seorang dokter Spanyol rekan seprofesinya meminta izin kepada komandan agar diperbolehkan memeriksa kondisi kesehatannya. Dengan tercengang si dokter melaporkan bahwa denyut pada pergelangan tangan Dr Rizal tetap pada ketukan normal, tanpa perubahan apa pun. Ini hanya mungkin terjadi pada seseorang yang sanggup menggabungkan keyakinan penuh pada perjuangan, ketabahan dalam menderita, dan keteguhan jiwa menghadapi maut. Di sini terlihat bahwa Tan Malaka bukanlah seorang Marxis fundamentalis, karena dia dapat menghargai Dr Sun Yat-sen, nasionalis pengkritik Marxisme, dan mengagumi Dr Rizal, seorang sinyo borjuis dengan berbagai bakat tapi menunjukkan sikap satria sebagai pejuang kemerdekaan.

Kritik Tan Malaka kepada Bung Karno tidaklah ada sangkut-pautnya dengan sikap Soekarno terhadap Madilog, tapi merupakan kritik yang wajar terhadap seseorang yang sangat dihormatinya. Dasar kritiknya adalah apa yang dilihatnya sebagai kebajikan Dr Sun Yat-sen, yaitu satunya kata dengan perbuatan. Menurut Tan Malaka, ketika memimpin PNI, Soekarno selalu mengajak penduduk Hindia Belanda yang berjumlah 70 juta jiwa itu untuk berjuang mencapai Indonesia merdeka dengan menggunakan tiga pegangan, yakni sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan aksi massa yang tak mengenal kompromi. Dia memberikan apresiasi tinggi bahwa Soekarno telah banyak menderita dan dibuang ke pengasingan karena gagasan-gagasan politiknya.

Maka dia kecewa melihat Soekarno berkolaborasi dengan Jepang selama pendudukan di Indonesia. Kekecewaan ini disebabkan oleh dua latar belakang. Pertama, Tan Malaka merasa dekat dengan Soekarno, yang menerapkan aksi massa dalam perjuangan politiknya hampir sepenuhnya menurut apa yang ditulisnya di Singapura pada 1926 dalam sebuah brosur tentang aksi massa. Kedua, dia sangat terpesona oleh perjuangan kemerdekaan Filipina dengan semboyan immediate, absolute and complete independence (kemerdekaan segera, tanpa syarat, dan penuh). Kekecewaan ini sedikit terobati ketika Soekarno-Hatta atas desakan pemuda revolusioner membuat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Salah satu karya Tan Malaka yang boleh dianggap sebagai opus magnum-nya adalah buku Madilog, yang ditulis selama delapan bulan dengan rata-rata tiga jam penulisan setiap hari di persembunyiannya dekat Cililitan. Buku itu menguraikan tiga soal yang menjadi pokok pemikirannya selama tahun-tahun pembuangan, dengan bahan-bahan studi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, tapi sebagian besar harus dibuang untuk menghindari pemeriksaan Jepang. Naskah buku ini praktis ditulis hanya berdasarkan ingatan setelah bacaan dihafal di luar kepala dengan teknik pons asinorum (jembatan keledai).

Ketiga soal itu adalah materialisme, dialektika, dan logika. Materialisme diperkenalkannya sebagai paham tentang materi sebagai dasar terakhir alam semesta. Logika dibutuhkan untuk menetapkan sifat-sifat materi berdasarkan prinsip identitas atau prinsip nonkontradiksi. Prinsip logika berbunyi: A tidak mungkin sama dengan yang bukan A. Atau dalam rumusan lain: a thing is not its opposite. Sebaliknya, dialektika menunjukkan peralihan dari satu identitas ke identitas lain. Air adalah air dan bukan uap. Tapi dialektika menunjukkan perubahan air menjadi uap setelah dipanaskan hingga 100 derajat Celsius.

Madilog adalah penerapan filsafat Marxisme-Leninisme. Tesis utama filsafat ini berbunyi: bukan ide yang menentukan keadaan masyarakat dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, melainkan sebaliknya, keadaan masyarakatlah yang menentukan ide. Kalau kita mengamati hidup dan perjuangan Tan Malaka, jelas sekali bahwa sedari awal dia hidup untuk merevolusionerkan kaum Murba, agar menjadi kekuatan massa dalam merebut kemerdekaan politik. Dia bergabung dengan Komintern di Moskow dan Kanton karena setuju dengan tesis Komintern bahwa partai komunis di negara-negara jajahan harus mendukung gerakan nasionalis untuk menentang imperialisme.

Semenjak masa mudanya di Negeri Belanda, Tan Malaka sudah terpesona oleh Marxisme-Leninisme. Paham inilah yang menyebabkan dia dipenjarakan berkali-kali dan dibuang ke luar negeri. Ini berarti bukan penjara dan pembuangan itu yang menjadikan dia seorang Marxis, melainkan sikap dan pendiriannya yang Marxislah yang menyebabkan dia dipenjarakan dan dibuang. Selain itu, dia pertama-tama tidak berjuang untuk kemenangan partai komunis di seluruh dunia, tapi untuk kemerdekaan tanah airnya.

Dengan demikian, hidup Tan Malaka menjadi falsifikasi radikal terhadap gagasan Madilog yang dikembangkannya. Paradoksnya: dia seorang Marxis tulen dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya. Kita ingat kata-katanya kepada pemerintah Belanda sebelum dibuang: Storm ahead (ada topan menanti di depan). Don’t lose your head! Ini sebuah language game yang punya arti ganda: jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala. Tragisnya, dia yang tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri akhirnya kehilangan kepala di tanah air yang amat dicintainya.

Sumber:

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127934.id.html

Saut Situmorang - 07. Jun, 2010 -

The killings of 1965-66

http://www.insideindonesia.org/edition-99/the-killings-of-1965-66

Saut Situmorang - 07. Jun, 2010 -

AYO, Prof Aminuddin Kasdi, NGOMONG KAU DI SINI! BUKTIKAN KEPROFESORANMU ITU!!!

Anggun Dewara@FB - 07. Jun, 2010 -

Kalo orang masih mengira bisa menghapus ide dengan membakar buku, itu tandanya dia primitif. Biar dunia melihat siapa sebenarnya yang buta huruf.
Jaman gigapedia masih bakar buku? saknone rek rek

bertuhan1 - 22. Agu, 2010 -

SEDIKIT BUKTI KEKEJAMAN KOMUNIS DI SELURUH DUNIA

I.Di RRC,
*dalam buku buku “9 Komentar Mengenai Partai Komunis”, terbit tahun 2005, halaman 172-208, dapat dibaca cara-cara “basmi total”, metoda “membabat rumput sampai ke akarnya”, (maksudnya membunuh tuan tanah, berikut anggota keluarga seluruhnya), dan menghasut massa agar saling membunuh.
*Dalam masa kelaparan gara-gara kegagalan program partai komunis “Lompatan Jauh ke Depan”, akibatnya rakyat memakan bayi sendiri (kanibalisme);
* di sebuah sekolah, di depan murid-murid pengeksekusi memenggal 13 kali dan 13 kepala berjatuhan ke tanah. Anak-anak sekolah berjeritan. Lalu pengurus partai komunis datang membedah tubuh korban, mencabut jantung, dimasak untuk pesta (9 KMPK, halaman 185)
* Tiga orang anti komunis ditelanjangi dan dilempar ke dalam tong besar lalu direbus sampai mati, seorang ayah anti komunis dikuliti hidup-hidup, dituangi cuka dan asam sementara si anak laki-lakinya diharuskan menonton sampai mati (9 KMPK, halaman 186)
* Seorang janda pemilik tanah disiram satu teko air mendidih oleh setiap tetangga yg dipaksa oleh pengawal merah. Tidak diceritakan berapa belas atau puluh teko air mendidih itu. Beberapa hari kemudian janda malang itu mati sendirian di kamarnya, tubuhnya dikerubungi belatung.
* Membunuh bayi mungkin yang paling brutal, si pembunuh menginjakan kakinya di kak ikanan bayi lalu kaki kiri bayi ditarik sampai bayi itu sobek menjadi dua bagian (9KMPK, halaman 187-188)

*Di kamboja (1975-1978) perilaku penyiksaan komunis sejati gaya Pol Pot, terutama di kamp Tuol Sleng, dengan cara-cara berikut ini : menyetrum tahanan, dipaksa minum kencing dan makan kotoran tahanan lain, badan ditusuki jarum, kuku jari tangan dicabuti, dipaksa menyembah gambar anjing, dimasukkan ke dalam tong berisi air mendidih, kepala dipukul linggis, disiksa lalu isi perut dikeluarkan, disungkup kantong plastik sampai sesak nafas dan mati, digantung dengan kepala mengarah ke bawah (TI, Katasrofi Mendunia, 2004)
II. DI INDONESIA :
*Tiga puluh tahun mendahului Pol Pot di Kamboja, Musso di Madiun sempat memberikan petunjuk atau mungkin juga pelatihan penyiksaan gaya mentornya Josef Stalin ketika dia memimpin pengkhianatan PKI Madiun, September 1948.

* Dubur (maaf) warga desa di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan di tengah sawah hingga mereka kelihatan sepert ipengusir burung pemakan padi, seorang wanita, (maaf) ditusuk kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan di tengah sawah.

* Algojo PKI merentangkan tangga melintang sumur, lalu Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika dalam posisi terlentang itu, maka algojo menggergaji badannya sampai putus menjadi dua bagian, dan langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

* Seorang ibu, Nyonya Sakidi mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul kesana, sambil menggendong 2 orang anaknya, umur 1 tahun dan 3 tahun. Dia nekad minta melihat jenazah suaminya. Repot melayaninya, PKI sekalian membantai perempuan malang itu, dimasukkan ke dalam sumur yang sama, sementara kedua anaknya melihat pembunuhan ibunya. Saking traumanya kedua anak tersebut selama berhari-hari hanya makan kembang, akhirnya adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannnya itu dan membawanya pergi keluar dari Magetan (Maksum, Sunyoto, Agus dan Zaenuddin), (Lubang-lubang Pembantaian Petualangan PKI di Madiun, Grafiti, 1990).

* Kekejaman – kebuasan – keganasan pengkhianatan PKI Madiun 1948 ini masih melekat dalam ingatan traumatik penduduk Takeran, Gorang Gareng, Soco, Cigrok, Magetan, Dungus, Kresek, dan sekitarnya. Sehingga ketika 17 tahun kemudian PKI meneror di Delanggu, Kanigoro, Bandar Betsy dan daerah lain dalam pemanasan Pra Gestapu atau PKI, dengan klimaks pembunuhan 6 jenderal pada 30 September 1965, penduduk Jawa Timur masih ingat apa yg terjadi 17 tahun yg lalu itu (yg telah dimaafkan dengan PKI diijinkan masuk lagi ke gelanggang politik 1950 – 1965), dan mereka bergerak mendahului PKI. Terjadilah tragedi berdasar

Memasuki tahun 1960-an merupakan masa gegap gempitanya politik. PKI menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia yang memiliki kesempatan untuk berkuasa. PKI sadar, untuk mencapai tujuannya itu harus memanfaatkan figur Presiden Soekarno. Itu sebabnya, PKI berusaha mendukung semua kebijakan Presiden Soekarno.

Aksi massa yang cukup berbahaya dari manuver politik PKI adalah usaha-usaha memobilisasi massa untuk melakukan berbagai tindak kekerasan yang dikenal dengan nama �aksi sepihak�. Dalam tindak-tindak kekerasan yang dinamakan aksi sepihak itu, PKI tidak segan-segan mempermalukan pejabat pemerintah dan bahkan melakukan perampasan-perampasan hak milik orang lain yang mereka golongkan borjuis-feodal. PKI tidak malu mengkapling tanah negara maupun tanah milik warga masyarakat yang mereka anggap borjuis.

Sejumlah aksi massa PKI yang dimulai pada pertengahan 1961 itu adalah peristiwa Kendeng Lembu, Genteng, Banyuwangi (13 Juli 1961), peristiwa Dampar, Mojang, Jember (15 Juli 1961), peristiwa Rajap, Kalibaru, dan Dampit (15 Juli 1961), peristiwa Jengkol, Kediri (3 November 1961), peristiwa GAS di kampung Peneleh, Surabaya (8 November 1962), sampai peristiwa pembunuhan KH Djufri Marzuqi, dari Larangan, Pamekasan, Madura (28 Juli 1965)

Perlawanan GP Ansor
Aksi-aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI mau tidak mau pada akhirnya menimbulkan keresahan di kalangan warga masyarakat yang bukan PKI. Dikatakan meresahkan karena pada umumnya yang menjadi korban dari aksi-aksi massa sepihak tersebut adalah anggota PNI, PSI, ex-Masyumi, NU, dan bahkan organisasi Muhammadiyah. Ironisnya, aksi-aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI itu belum pernah mendapat perlawanan dari anggota partai dan organisasi bersangkutan kecuali dari GP Ansor, yang mulai menunjukkan perlawanan memasuki tahun 1964—dalam hal ini KH M Yusuf Hasyim dari Pesantren Tebuireng Jombang tampil sebagai pendiri Barisan Serbaguna Ansor (Banser).

Perlawanan anggota GP Ansor sendiri tidak selalu dilatari oleh persoalan yang dihadapi warga Nahdliyyin berkenaan dengan aksi-aksi massa sepihak PKI, melainkan dilatari pula oleh permintaan perlindungan dari warga PNI, ex-Masyumi maupun Muhammadiyah. Di antara perlawanan yang pernah dilakukan oleh GP Ansor terhadap aksi-aksi massa sepihak PKI adalah peristiwa Nongkorejo, Kencong, Kediri di mana pihak PKI didukung oleh oknum aparat seperti Jaini (Juru Penerang) dan Peltu Gatot, wakil komandan Koramil setempat. Dalam kasus itu, PKI telah mengkapling dan menanami lahan milik Haji Samur. Haji Samur kemudian minta bantuan GP Ansor. Terjadi bentrok fisik antara Sukemi (PKI) dengan Nuriman (Ansor). Sukemi lari dengan tubuh berlumur darah.

Pengikutnya lari ketakutan.
Pecah pula peristiwa Kerep, Grogol, Kediri. Ceritanya, tanah milik Haji Amir warga Muhammadiyah oleh PKI dan BTI diklaim sebagai tanah klobot, padahal itu tanah hak milik. Setelah klaim itu, PKI dan BTI menanam kacang dan ketela di antara tanaman jagung di lahan Haji Amir.

Karena merasa tidak berdaya, maka Haji Amir meminta bantuan kepada Gus Maksum di pesantren Lirboyo. Puluhan Ansor dari Lirboyo bersenjata clurit dan parang, menghalau PKI dan BTI dari lahan Haji Amir.

Tawuran massal Ansor dengan Pemuda Rakyat pecah pula di Malang. Ceritanya, Karim DP (Sekjen PWI) datang ke kota Malang dan dalam pidatonya mengecam kaum beragama sebagai borjuis-feodal yang harus diganyang. Mendengar pidato Karim DP itu, para pemuda Ansor langsung naik ke podium dan langsung menyerang Karim. Para anggota Pemuda Rakyat membela. Terjadi bentrok fisik. Pemuda Rakyat banyak yang luka.

Kelahiran Banser
Aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI pada kenyataannya sangat meresahkan masyarakat terutama umat Islam. Sebab dalam aksi-aksi itu, PKI melancarkan slogan-slogan pengganyangan terhadap apa yang mereka sebut tujuh setan desa. Tujuh setan desa dimaksud adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pengirim zakat (LSIK, 1988:72). Dengan masuknya �pengirim zakat� ke dalam kategori tujuh setan desa, jelas umat Islam merasa sangat terancam. aksi massa sepihak yang dilakukan PKI rupanya makin meningkat jangkauannya. Artinya, PKI tidak saja mengkapling tanah-tanah milik negara dan milik tuan tanah melainkan merampas pula tanah bengkok, tanah milik desa, malah yang meresahkan, sekolah-sekolah negeri pun akhirnya diklaim sebagai sekolah milik PKI.

Hal ini terutama terjadi di Blitar. Dengan aksi itu, baik perangkat desa maupun guru-guru yang ingin terus bekerja harus menjadi anggota PKI.

Atas dasar aksi sepihak PKI itulah kemudian pengurus Ansor kabupaten Blitar membentuk sebuah barisan khusus yang bertugas menghadapi aksi sepihak PKI. Melalui sebuah rapat yang dihadiri oleh pengurus GP Ansor seperti Kayubi, Fadhil, Pangat, Romdhon, Danuri, Chudori, Ali Muksin, H. Badjuri, Atim, Abdurrohim Sidik, diputuskanlah nama Barisan Ansor Serbaguna disingkat Banser. Pencetus nama Banser adalah Fadhil, yang diterima aklamasi.

�Karena Banser adalah suatu kekuatan paramiliter serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan di masa genting maupun aman, maka lambang yang disepakati dewasa itu berkaitan dengan keberadaan Banser,� tutur Agus Sunyonto, penulis masalah gerakan Islam, dalam tulisan �Mengenang Partisipasi Politik Banser pada 1965 : Lahir dalam Tekanan PKI.�

Lambang awal Banser mencakup tiga gambar yakni cangkul, senapan dan buku. Menurut Romdhon, tiga gambar itu memiliki makna bahwa seorang anggota Banser siap melakukan pekerjaan membantu masyarakat yang membutuhkan (simbol cangkul), siap pula membela agama, bangsa dan negara (senapan) dan siap pula belajar (buku).

Dalam tempo singkat, setelah Banser Blitar terbentuk, secara berantai dibentuklah Banser di berbagai daerah. Dan pada 24 April 1964, Banser dinyatakan sebagai program Ansor secara nasional. Mula-mula, Banser dilatih oleh anggota Brimob. Kemudian dilatih pula oleh RPKAD, Raiders dan batalyon-batalyon yang terdekat. Selain dibina oleh pihak militer, Banser secara khusus dibina oleh para kiai dan ulama tarekat dengan berbagai ilmu kesaktian dan kedigdayaan. Di antara kiai yang terkenal sebagai pembina spiritual Banser dewasa itu adalah Kiai Abdul Djalil Mustaqim (Tulungagung), KH Badrus Sholeh (Purwoasri, Kediri), KH Machrus Ali dan KH Syafii Marzuki (Lirboyo, kediri), KH Mas Muhadjir (Sidosermo, Surabaya), KH Djawahiri (Kencong, Kediri), KH Shodiq (Pagu, Kediri), KH Abdullah Siddiq (Jember).

Hasil kongkret dari pembentukan Banser, perlawanan terhadap aksi sepihak PKI makin meningkat. Kordinasi-kordinasi yang dilakukan anggota Banser untuk memobilisasi kekuatan berlangsung sangat cepat dan rapi. Dalam keadaan seperti itu, mulai sering terjadi bentrokan-bentrokan fisik antara Banser dengan PKI. Bahkan pada gilirannya, terjadi serangan-serangan yang dilakukan anggota Banser terhadap aksi-aksi massa maupun anggota PKI. Demikianlah, pecah berbagai bentrokan fisik antara Banser dengan PKI di berbagai tempat seperti: Peristiwa Kanigoro.

Pada 13 Januari 1965 tepat pukul 04.30 WIB, sekitar 10.000 orang Pemuda Rakyat dan BTI melakukan penyerbuan terhadap pondok pesantren Kanigoro, Kras, Kediri. Alasan mereka melakukan penyerbuan, karena di pesantren itu sedang diselenggarakan Mental Training Pemuda Pelajar Indonesia (PII). Pimpinan penyerbu itu adalah Suryadi dan Harmono. Massa Pemuda Rakyat dan BTI itu menyerbu dengan bersenjatakan golok, pedang, kelewang, arit, dan pentungan sambil berteriak histeris: – �Ganyang santri!�, �Ganyang Serban!�, �Ganyang Kapitalis!�, �Ganyang Masyumi!�.

Para anggota PR dan BTI yang sudah beringas itu kemudian mengumpulkan kitab-kitab pelajaran agama dan Al-Qur�an. Kemudian semua dimasukkan ke dalam karung dan diinjak-injak sambil memaki- maki. Pimpinan pondok, Haji Said Koenan, dan pengasuh pesantren KH Djauhari, ditangkap dan dianiaya. Para pengurus PII digiring dalam arak-arakan menuju Polsek setempat. Para anggota PR dan BTI menyatakan, bahwa PII adalah anak organisasi Masyumi yang sudah dilarang. Jadi PII, menurut PKI, berusaha melakukan tindak makar dengan mengadakan training-training politik.

Peristiwa penyerangan PR dan BTI terhadap pesantren Kanigoro, dalam tempo singkat menyulut kemarahan Banser Kediri. Gus Maksum �putera KH Djauhari� segera melakukan konsolidasi. Siang itu, 13 Januari 1965, delapan truk berisi Banser dari Kediri datang ke Kanigoro. Markas dan rumah-rumah anggota PKI digrebek. Suryadi dan Harmono, pimpinan PR dan BTI, ditangkap dan diserahkan ke Polsek.

Banser Versus Lekra
Bentrok Banser dengan PKI pecah di Prambon. Awal dari bentrok itu dimulai ketika Ludruk Lekra mementaskan lakon yang menyakiti hati umat Islam yakni : �Gusti Allah dadi manten� (Allah menjadi pengantin).

Pada saat ludruk sedang ramai, tiba- tiba Banser melakukan serangan mendadak. Ludruk dibubarkan. Para pemain dihajar. Bahkan salah seorang pemain yang memerankan raja, saking ketakutan bersembunyi di kebun dengan pakaian raja. Bulan Juli 1965, terjadi insiden di Dampit kabupaten Malang. Ceritanya, di rumah seorang PKI diadakan perhelatan dengan menanggap ludruk Lekra dengan lakon �Malaikat Kawin�. Banser datang dari berbagai desa sekitar. Pada saat ludruk dipentaskan para anggota Banser yang menonton di bawah panggung segera melompat ke atas panggung. Kemudian dengan pisau terhunus, satu demi satu para pemain itu dicengkeram tubuhnya. (Tim Duta)

Banyuwangi – Sudah dua tahun terakhir, Monumen Pancasila Jaya, Lubang Buaya di Dusun Krajan Desa Cemetuk Kecamatan Cluring, Banyuwangi, sepi kegiatan. Padahal tiap 30 September seperti hari ini, lokasi itu selalu ramai kegiatan.

Di depan monumen itu kokoh berdiri patung Burung garuda. Di sisi kanan berdiri dinding pembatas setinggi 1,5 meter sepanjang 15 meter. Di dinding itu terdapat relief bertema sadisme yang dilakukan PKI.

Setidaknya rekaman sejarah tergambar di relief mayat manusia yang diperlakuan bagai bangkai hewan buruan. Serta relief aksi sadisme yang tak kalah kejam lainnya. Memang, di tempat inilah 62 anggota Ansor dari Kecamatan Muncar dibantai secara licik dan sadis oleh PKI, pada tanggal 18 Oktober 1965.

Konon mayat para pemuda tersebut dikubur di dalam tiga lubang yang berbeda. Dua lubang masing-masing berisi 10 mayat. Dan lubang ketiga berisi 42 mayat. Mereka dibunuh dengan cara diracun oleh anggota Gerakan wanita Indonesia (Gerwani).

“Tiga lubang ini kuburan 62 pemuda Ansor. Sebab itu disebut sebagai lubang buaya,” jelas tokoh pemuda setempat Sugiono Abdillah (36) saat menemani detiksurabaya.com masuk ke dalam areal lubang buaya, Rabu (30/9/2009).

Abdillah tak dapat bercerita banyak tentang sejarah pembantaian yang dilakukan PKI. Ia hanya dapat menuturkan sepenggal cerita yang didapatnya sewaktu kecil dari para sesepuh Desa Cemetuk.

Menurut cerita, pembantaian itu sudah direncanakan oleh PKI secara licik. Mereka mengundang pemuda Ansor Muncar untuk menggelar pengajian bersama. Kedatangan para pemuda Ansor kala itu disambut anggota Gerwani yang menyaru sebagai Fatayat NU.

Ke-62 pemuda Ansor sekarat seusai menyantap hidangan beracun yang disuguhkan PKI. Sejurus kemudian, dengan membabi buta tubuh para pemuda Ansor dibantai dan ditumpuk dalam tiga lubang yang kini menjadi tetenger peristiwa tersebut.

“Setelah teler mereka dibantai dan dikubur di Cemetuk ini,” tambah Abdillah.

Diceritakan juga ada beberapa pemuda Ansor yang berhasil menyelamatkan diri dan memberitahukan kejadian itu ke rekan-rekannya. Pembalasan pun dilakukan Ansor dan ormas Islam lainnya yang berakhir dengan runtuhnya PKI di Banyuwangi. (fat/fat)
KALAO DATA-DATA DIATAS APAKAH SUDAH MEMENUHI KEINGINANMU WAHAI SAUT SITUMORANG (SIMPATISAN PKI ANTI TUHAN ? )

Saut Situmorang - 29. Agu, 2010 -

SAMPAH GITUAN KAU BILANG “DATA”! SAMPAH YANG TERUS MENERUS DIDAUR-ULANG SEJAK BERKUASANYA REJIM DIKTATOR MILITER JENDRAL BONEKA AMRIK BERNAMA SOEHARTO! REJIM YANG SANGAT TERKENAL DENGAN PEMALSUAN SEJARAHNYA ITU!

SATU KOMENTAR AJA DARI AKU UNTUK MENUNJUKKAN BETAPA TAK BERNILAINYA SAMPAH YANG KAU KLAIM SEBAGAI “DATA” DI ATAS:

KENAPA KAU LUPA MENYEBUT PEMBANTAIAN MASSAL WARGANEGARA INDONESIA, RAKYAT INDONESIA, DI TAHUN 1965-1968 YANG DILAKUKAN OLEH SOEHARTO DAN DIBANTU OLEH PEMUDA ANSOR ITU? JUMLAH YANG MEREKA BUNUH ITU MENCAPAI KISARAN JUTAAN JIWA MANUSIA. BELANDA AJA SELAMA 350 TAHUN DI PULAU JAWA TIDAK PERNAH MELAKUKAN PEMBUNUHAN BIADAB YANG MENGHINA ALLAH BEGINI TAPI MEREKA YANG KATANYA PENGIKUT ALLAH MALAH BANGGA DAN MERASA JADI PAHLAWAN SOEHARTO KERNA MELAKUKANNYA!!!

KENAPA KAU LUPA MENYEBUT FAKTA INI, WAHAI BERTUHAN YANG TAKUT MENUNJUKKAN IDENTITAS ASLINYA DI SINI?

EH, KAU TAKUT NUNJUKIN IDENTITAS ASLIMU KERNA MEMANG CUMAK CERITA BOHONG DI SINI KAN! ORANG BENAR GAK PERLU TAKUT TOH! HAHAHA…

Saut Situmorang - 29. Agu, 2010 -

KALOK CUMAK PEMUDA ANSOR SENDIRI MAH GAK ADA APA-APANYA BAGI ANGGOTA PARTAI KOMUNIS INDONESIA. TAPI ANSOR DILATIH MEMBUNUH DAN DIPERSENJATAI OLEH JENDRAL SARWO EDHI DAN PASUKAN KHUSUSNYA. INI PENGAKUAN SANG JENDRAL PEMBANTAI RAKYATNYA SENDIRI INI SEBELUM DIA MATI DIKEJAR-KEJAR ARWAH PENASARAN!

Saut Situmorang - 29. Agu, 2010 -

KALOK MAU TAHU DATA SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA YANG SEDERHANA TAPI JUJUR TANPA ADA MANIPULASI APAPUN, BACALAH INI:

http://encyclopedia.thefreedictionary.com/Indonesian+Communist+Party

BERTUHAN1 - 29. Sep, 2010 -

Saut situmorang,
Apa kamu pejuang bawah tanah PKI kah ? dan sekarang mau membangkitkan faham PKI ? lho kalao iya karuane……Demi ALLAH aku akan melawanmu sampai darah titik penghabisan. Asal tahu saja ya orang tuaku dan nenekku sudah menjadi korban PKI ini. Saya : Edy Machmud Hidayat , asal Lamongan Jawa Timur, dan Cari saya di Sukobendu, Mantup Lamongan, Jawa Timur, yen bener kamu PKI itu tak sengget clorit kamu, dan sak anak turunmu dan keluargamu tak babati koen. Mugo-mugo ALLAH meridhohi perjuanganku mengkikis PKI dari bumi pertiwi Indonesia.

BERTUHAN1 - 01. Okt, 2010 -

http ://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=191528
Sabtu, 01 Okt 2005,
Ceko Bongkar Konspirasi di Balik Kudeta PKI 1965
Minta Habisi dengan Sekali Pukul
447 halaman Kudeta 1 Oktober 1965 yang ditulis ilmuwan Ceko, Victor Miroslav Vic, mengungkap detail teori konspirasi di balik kudeta berdarah PKI 40 tahun lalu. Terutama tentang peran Ketua Partai Komunis China Mao Zedong.
Jakarta
Pesawat kepresidenan Jetstar yang membawa Presiden Soekarno dan 80 anggota rombongan, termasuk Ketua CC (Committee Central) PKI Dipo Nusantara (D.N.) Aidit, meninggalkan tanah air menuju Aljazair guna menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) II. Pesawat transit di Kairo, Mesir, 26 Juni 1965.
Ada kabar bahwa Presiden Aljazair Ben Bella dikudeta. KAA pun ditunda hingga 5 November 1965. Bung Karno kemudian memutuskan pulang ke tanah air. Sedangkan rombongan kecil yang dipimpin Aidit melawat ke Peking (Beijing), China. Salah satu di antara mereka adalah Nyono.
Di tanah air, penyakit ginjal Bung Karno kambuh lagi. Tim dokter China yang merawat Bung Karno sejak 1960 mendiagnosis bahwa kali ini penyakitnya makin gawat. Bahkan, tim dokter China itu memperkirakan, sewaktu-waktu jika penyakit Bung Karno kambuh lagi nyawanya tak tertolong. Keadaan ini makin mematangkan rencana PKI mengambil alih kekuasaan dari tangan Bung Karno. Yakni, dengan menyingkirkan rival utamanya lebih dahulu: para jenderal TNI AD.
Kesehatan Bung Karno itu terlihat dari perintah pemanggilan mendadak Aidit dan Nyono oleh sang pemimpin besar revolusi itu lewat Menlu Soebandrio. Keduanya diminta segera pulang ke tanah air. Lewat kawat, Aidit menjawab akan pulang pada 3 Agustus 1965.
4 Agustus 1965, kesehatan Bung Karno terus memburuk. Dia tiba-tiba muntah-muntah sebanyak 11 kali, ditambah hilang kesadaran empat kali. Dokter kepresidenan, Dr Mahar Mardjono, pun mendadak dipanggil ke kamar Bung Karno di Istana Negara. Saat itu sudah ada tim dokter China.
Diduga keras ternyata diagnosis dokter China tadi berkaitan erat dengan rencana PKI mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Rencana ini muncul setelah Aidit bertemu Mao Tze Tung (Mao Zedong) di China. Sebab, posisi Bung Karno sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi Angkatan Bersenjata sangat menentukan arah politik Indonesia.
Sampai Bung Karno mangkat, sudah bisa ditebak akan terjadi perebutan kekuasaan antara PKI dan TNI-AD. Saling mendahului dan saling jegal antara kekuatan saat itu sangat mewarnai politik Indonesia 1965. “Ternyata diagnosis tim dokter China terbukti keliru. Sebab, Bung Karno baru meninggal tujuh tahun kemudian,” ungkap Ketua LIPI Taufik Abdulah dalam bedah buku di Yayasan Obor yang menerbitkan buku karya Miroslav kemarin.
Lain yang menguatkan bahwa PKI akan mengambil alih kekuasaan di Indonesia terekam dalam pembicaraan Ketua Partai Komunis China Mao Tze Tung dan Ketua CC PKI DP Aidit yang menemuinya Zhongnanghai, sebuah perkampungan dalam dinding-dinding kota terlarang di China.
“Kamu harus mengambil tindakan cepat,” kata Mao kepada Aidit.
“Saya khawatir AD akan menjadi penghalang,” keluh Aidit ragu-ragu.
“Baiklah, lakukan apa yang saya nasihatkan kepadamu; habisi semua jenderal dan perwira reaksioner itu dalam sekali pukul. Angkatan Darat akan menjadi seekor naga yang tidak berkepala dan akan mengikutimu,” ungkap Mao berapi-api.
“Itu berarti membunuh beratus-ratus perwira,” tanya Aidit lagi.
“Di Shensi Utara, saya membunuh lebih dari 20 ribu orang kader dalam sekali pukul saja,” tukas Mao.
Menemui Mao, Aidit disertai dua dokter China, Dr Wang Hsing Te dan Dr Tan Min Hsuen (salah satu di antaranya diyakini Miroslav sebagai perwira intelijen China) terbang ke Jakarta guna mendeteksi kesehatan Bung Karno. Pada 7 Agustus 1965, mereka menghadap Bung Karno di Istana Merdeka.
8 Agustus 1965, Aidit kembali menemui Bung Karno di Istana Bogor untuk berbicara empat mata. Menurut Miroslav, saat bertemu secara pribadi dengan Bung Karno itulah, Aidit melaporkan hasil pembicaraannya dengan Mao Tze Tung. Misalnya, advis untuk menyingkirkan jenderal AD yang tidak loyal kepada presiden (baca dewan jenderal sebutan PKI bagi jenderal AD).
Sadar benar tidak mudah menyingkirkan para jenderal AD tanpa payung kekuasaan Soekarno. Kedua, membentuk Kabinet Gotong Royong dengan PKI sebagai pemegang kendali (dengan memasukkan para kadernya). Ketiga, setelah semua misi itu sukses, diam-diam PKI menyiapkan strategi untuk menyingkirkan Bung Karno secara halus. Caranya, China menawari Bung Karno untuk istirahat panjang di sebuah vila dekat Danau Angsa, China, guna mengobati penyakitnya.
“Itu sebenarnya cara licik Aidit dan Mao untuk menyingkirkan Bung Karno dari kekuasaannya setelah melapangkan jalan PKI mengambil alih kekuasaan,” ungkap Miroslav.
Itu pernah diterapkan Mao kepada Raja Kamboja Pangeran Norodom Sihanouk. Setelah China berhasil mengomuniskan Kamboja lewat Pol Pot. Giliran Jenderal Lon Nol mengudeta Sihanouk saat berkunjung ke Moskow. Saat Kremlin (baca Uni Sovyet) menolak memberikan suaka kepada Sihanouk, China dengan senang hati menawarkan tempat tinggal dan perawatan yang wah bagi Sihanouk. “Istrinya, Princess Monica, sangat menikmati pemberian China tadi,” tambah Miroslav.
Hasil rekonstruksi kejadian yang dibuat Miroslav, Bung Karno tampaknya sejalan dengan rencana Mao. Terbukti, lanjut Miroslav, Bung Karno memanggil Brigjen Subur, Komandan Resimen Tjakrabhirawa, dan Letkol Untung ke kamar tidurnya untuk bertanya pada mereka.
“Apakah dia (Untung) cukup berani menangkap para jenderal yang tidak loyal kepada presiden dan menentang kebijakannya?” tanya Bung Karno.
“Saya akan melakukan kalau diperintahkan,” jawab Untung saat itu.
Ketua LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Taufik Abdullah mengatakan, kevalidan sejarah seperti itu memang perlu diuji. Tapi, boleh jadi dugaan keras Miroslav tersebut ada benarnya.
Membuat tamsil, ada sepasang pengantin masuk rumah. Saat keluar wajahnya terlihat lusuh. Orang bisa menduga, pasangan pengantin itu baru melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri. Tapi, tidak ada yang tahu persis. “Bisa juga wajah yang tampak loyo itu disebabkan mereka habis membersihkan rumah,” ujar Taufik.
“Miroslav pantas menduga kuat bahwa pembicaraan Aidit dan Bung Karno di kamar tidurnya adalah soal isi pertemuan Aidit dengan Mao,” tambah Taufik.
Tze Tung, lanjut Miroslav, semula ingin menggandeng Bung Karno untuk menan-capkan kekuasaan PKI di Indonesia. Tapi, dalam perkembangan selanjutnya, Bung Karno dinilai bukan sosok pemimpin yang cocok. Dia dianggap terlalu sembrono dan pembawaannya meledak-ledak. Tapi, Mao tetap membutuhkan Bung Karno untuk mengantarkan PKI berkuasa di Indonesia.
Pembawaan yang meledak-ledak tersebut pernah dilaporkan Menlu China Marsekal Chen Yi saat menemui Bung Karno, 3 Desember 1964. Ketika itu, Bung Karno menuntut China agar membagi teknologi nuklirnya dengan Indonesia. Bung Karno juga mendesak uji nuklir dilakukan di wilayah Indonesia. Tujuannya, memberi dampak psikologis kepada kawan dan lawan Indonesia. Tapi, Chen Yi menolak karena itu terlalu berbahaya. Bung Karno kontan naik pitam. “Sambil menggebrak meja, Bung Karno berdiri menudingkan telunjuknya ke arah Chen Yi,” ungkap Miroslav.
Keragu-raguan Mao Tze Tung tersebut, akhirnya China menunda pengiriman 100 ribu pucuk senjata untuk angkatan kelima (baca buruh dan tani) seperti dijanjikan sebelumnya. Sebagai gantinya, Mao hanya mengirimkan 30 ribu pucuk senjata lewat beberapa kapal guna menghadapi jenderal AD yang reaksioner. Tapi, itu tidak gratis. Sebagai imbalannya, Mao minta presiden melapangkan jalan PKI menguasai Indonesia. “Soal perjanjian rahasia itu terungkap dalam surat Aidit 10 November 1965 yang dikirim ke Bung Karno,” terang Miroslav.
Intelijen yang dibangun PKI terus mengintesifkan pembicaraan dengan penguasa komunis China guna mempersiapkan pengambialihan kekuasaan di Indonesia. Kontak Aidit-Mao maupun Soebandrio-Chen Yi makin intensif menjelang pengambilalihan yang ternyata gagal itu.
Sejarah pun mencatat: pada 30 September 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan enam jenderal TNI-AD oleh pasukan Cakrabhirawa. Mereka lalu dibawa ke Lubang Buaya untuk dimakamkan.
Itu sekaligus pukulan balik bagi PKI. Pangkostrad Mayjen Soeharto berhasil mengorganisasikan berbagai kekuatan anti-PKI untuk memukul balik lawannya. Soeharto akhirnya menjadi penguasa Orba selama 30 tahun lebih. (*)
***************** 0 0 0 0 0 0 *******************
Fakta-fakta Keterlibatan PKI Dalam Peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI)
Pembelaan Nyono dimuka Mahmilub pada tanggal 19 Februari 1966. Di publikasikan pada situs Indo-Marxis, situs kaum Marxis Indonesia, 16 Februari 2002.
Dalam amanat Presiden Sukarno dihadapan wakil-wakil partai politik di Guesthouse Istana, Jakarta, tanggal 27 Okt 1965, ditegaskan bahwa . kejadian September bukan sekedar kejadian 30 September, tetapi adalah suatu kejadian politik didalam Revolusi kita. Saya sudah kemukakan bahwa prolog daripada G30S adalah adanya rencana kudeta dari dewan jenderal.
Dalam bahasa sehari-hari, gara-gara ada Dewan Jenderal maka ada Dewan Revolusi. Saya telah kemukakan bahwa prakteknya Dewan Jenderal merupakan golongan politik tersendiri. Disini saya tegaskan, karena tidak semua Jenderal masuk dalam Dewan Jenderal, maka Dewan Jenderal adalah golongan politik tersendiri dari Jenderal-Jenderal tertentu yang menjalankan politik Nasakom-phobi, khususnya Komunisto-phobi, hal mana adalah bertentangan dengan politik Presiden Sukarno.
Kegiatan anti komunis tersebut adalah langsung bertentangan dengan politik Presiden yang justeru kurang lebih dua minggu sebelunya, berkenaan amanat dirapat raksasa ultah ke-45 PKI di Stadion Utama Senayan, dimana Presiden Sukarno sekali lagi menandaskan bahwa PPKI adalah “ya sanak ya kadang, yen mati melu kelangan”. Jelaslah bahwa menentang Dwan Jenderal pada hakekatnya adalah menentang Jenderal tertentu yang menjadi kapitalis birokraat, yang dalam prakteknya bersifat memusuhi Nasakom dan sokoguru-sokoguru Revolusi.
Saya lebih yakin lagi akan adanya Dewan Jenderal setelah saya mendapatkan bahan-bahan masa epilog dari G30S masa epilog merupakan masa “openbaring” atau masa terbukanya wajah politik yang sesungguhnya daripada Dewan Jenderal. Dari koran-koran dapaat diketahui bahwa Jenderal AH. Nasution muncul terang-terangan dengan kampanye anti komunisnya. Sesungguhnya Presiden Sukarno tiada jemu-jemunya memberikan indoktrinasi tentang mutlaknya Nasakom bagi penyelesaian indonesia. Saya mengakui bahwa saya telah melakukan serentetan kegiatan membantu G30S, jelaslah bahwa G30S bukanlah suatu pemberontakan, tetapi suatu gerakan pembersihan. Bagaimana keterangan yuridisnya saya serahkan kepada kuasa hukum saya.
Kesimpulan:
PKI berada dibalik G30S, dengan dalih membela presiden soekarno, secara pribadi maupun untuk mengamankan “REVOLUSI” yang sedang dijalankan presiden soekarno. Peristiwa G30S merupakan puncak dari aksi revolusiatau kudeta PKI di Indonesia, yang sebelumnya sudah didahului dengan berbagai aksi kekerasan (pembunuhan) terhadap warga masyarakat diberbagai wilayah indonesia, yang menentang keberadaan komunis (PKI).
Cuplikan Pengakuan Dr. Soebandrio Tentang Tragedi Nasional 30 September.
Saat G30S meletus saya tidak berada dijakarta, saya melaksanakan tugas keliling daerah yang disebut turba (turun kebawah). Pada tanggal 28 sept 1965 saya berangkat ke Medan, Sumatera Uara. Beberapa waktu sebelumnya saya keliling ke Jawa Timur dan Indonesia Timur.
Pada tanggal 29 Oktober 1965 pagi hari , Panglima AU Omar Dhani melaporkan kepada Presiden Soekarno tentang banyaknya pasukan yang datang dari daerah ke Jakarta. Beberapa waktu sebelumnya saya melaporkan kepada bung adanya sekelompok Dewan Jenderal -termasuk bocoran dewan Jenderal membentuk kabinet.
Menurut Serma Bungkoes (Komandan Peleton Kompi C Bataliyon Kawal Kehor-matan) yang memimpin prajurit penjemputan Mayjen MT Haryono, di militer tidak ada perintah culik, yang ada adalah tangkap dan hancurkan. Perintah yang saya terima dari Komandan Resimen Cakrabirawa Tawur dan Komandan Bataliyon Untung tangkap para jenderal itu, kata bangkoes setelah ia bebas dari hukuman. Namun MT Haryono terpaksa dibunuh sebab rombongan pasukan tidak diperkenankan masuk rumah oleh isteri MT Haryono, sang istri curiga suami dipanggil Presiden kok dinihari. Karena itu pintu rumah itu didobrak dan MT Haryono tertembak tidak jelas apakah Haryono Pondok Gede (lubang buaya).
Ada masa dimana Indonesia lowong kepemimpinan sejak awal oktober 1965 sampai Maret 1966 atau sekitar enam bulan. Bung Karno masih sebagai Presiden, tapi sudah tidak punya kuasa lagi Bung Karno pada tenggang waktu itu belum benar-benar sampai ajal politik. Beliau masih punya pengaruh, baik di Angkatan Bersenjata maupun dikalangan parpol-parpol besar dan kecil. Para pemimpin parpol umumnya mendukung Angkatan Darat untuk membasmi PKI, namun mereka juga mendukung Bung Karno yang mencoba memulihkan wibawa. Walaupun Bung Karno akrab dengan PKI.
Lantas..mahasiswa melanjutkan demo turun kejalan..satu-satunya tuntutan mahasiswa yang murni menurut saya adalah bubarkan PKI. Setelah ditangkap saya langsung ditahan, saya diadili di Mahkamah Militer. Luar Biasa dengan tuduhan subversi dan dijatuhi hukuman mati.
Jelas saya sangat terpukul saat itu. dari posisi orang orang nomor dua di Republik ini saya mendadak sontak diadili sebagai penjahat dan dihukum mati. Saya menjalani awal dipenjara Cimahi Bandung. Disana berkumpul orang-orang yang senasib dengan saya (dituduh sebagai penjahat yang terlibat G30S) diantaranya adalah Kolonel Untung yang memang Komandan G30S.
..kalau Aidit mendukung anggota Dewan Jenderal, memang ya dalam suatu saya dengar Aidit mendukung gerakan pembunuhan anggota jenderal yang dikabarkan akan melakukan kudeta terhadap Presiden, sebab kalau sampai Presiden terguling oleh kelompok militer, maka selanjutnya bakal sulit.
Kesimpulan:
PKI berada dibalik peristiwa G30S, buktinya kesaksian Menlu Subandrio yang sekaligus kepala BPI (Badan Pusat Intelejen) mengatakan bahwa Aidit dan Untung terlibat dalam aksi G30S, dimana kedua orang tersebut adalah tokoh-tokoh PKI.
Tetap dengan dalih yang sama, seperti pengakuan Nyono, bahwa ada Dewan Jenderal yang berniat menggulingkan kepemimpinan presiden Soekarno. Namun kalau Nyono jelas jelas mengatakan bahwa PKI yang membasmi Dewan Jenderal demi alasannya.
Mewaspadai Kuda Troya Komunisme Di Era Refromasi. (Drs. Markonina Hatisekar dan Drs. Akrin Ijani Abadi, Pustaka sarana kajian Jakarta Brat, cetakan ke 3 maret 2001, hal 116-118)
Kegagalan G30S/PKI merupakan pukulan yang paling telak bagi sejarah perjuangan kaum komunis di Indonesia. Kehancuran kekuatan militer G30S/PKI Kabur. DN Aidit lari ke Jawa Tengah, Sjam, Pono dan Brigjen Suparjo mundur kebasis camp didaerah perkebunan Pondok Gede. Pada taggal 3 Oktober 1965, Sjam dan Pono menghadap Sudisman untuk memberikan keterangan tentang gagalnya PKI di Kayu Awet, Rawamangun, Jakarta. Setelah mendengar laporan tersebut, Sudisman memerintahkan Pono untuk pergi ke Jawa Tengah untuk melaporkan situasi terahir di Jakarta kepada DN Aidit.
Pada hari yang sama, DN Aidit di Jawa Tengah telah memerintahkan Pono kembali ke Jakarta membawa instruksi lisan kepada Sudisman dan sepucuk surat kepada Presiden Soekarno. Instruksi kepada Sudisman adalah agar anggota-angota CC PKI yang masih ada di Jakarta melakukan upaya penyelamatan partai dan Nyono dapat mewakili DN. Aidit menghadiri Sidang Kabinet Paripurna di Bogor pada taggal 8 Oktober 1965. Aidit beralasan, dirinya tidak dapat menghadiri sidang itu karena tidak adanya transportasi ke Bogor dari Jawa Tengah.
Dalam Sidang Paripurna di Bogor tanggal 8 Oktober 1965, Nyono membacakan teks yang intinya menyebutkan bahwa bahwa PKI sama sekali tidak terlibat dalam apa yang disebut gerakan 30 September 1965. Secara rahasia, beberapa pentolan PKI juga mengadakan rapat yang membahas serangkaian peristiwa terahir setelah serangkaian G30S PKI dan melakukan konsolidasi partai. tanggal 12 Oktober 1965, dirumah Dargo, tokoh PKI Solo, dilakukan rapat gelap antara DN Aidit, Pono dan Munir (anggota PKI yang baru tiba dari Jawa Timur). Dalam rapat itu dikatakan bahwa kegagalan gerakan Sept akan membuka kedok keterlibatan PKI. Keberadaan PKI melakukan perjuangan secara parlementer sudah tidak mungkin dilakukan lagi. Munir melakukan usulan untuk dilakukan gerakan bersenjata, usulan Munir pada prinsipnya disetujui oleh peserta rapat. Aidit menugaskan Ponjo untuk meneliti daerah mana saja yang memungkinkan untuk dijadikan basis PKI guna melaksanakan perjuangan bersenjata, daerah yang diusulkan untuk ditinjau adalah : Merapi, Merbabu serta Kabupaten Boyolali, Semarang dan Klaten.
Belum lagi kegiatan itu direalisasikan, gerakan pasukan RPKAD telah memasuki kota Solo. Walau PKI berusaha melawan, namun pada operasi pembersihan yang dilakukan RPKAD di Boyolali, DN Aidit terbunuh. Kejadian demi kejadian berlangsung dengan amat cepat. Rakyat sudah tidak percaya lagi pada PKI. Rakyat bersama-sama dengan mahasiswa dan militer yang masih setia pada konstitusi negara merapatkan barisan dan bergabung dalam satu front melawan PKI. ahirnya legalisasi PKI sudak tidak mampu dipertahankan oleh pengikutnya.Lewat ketetapan MPRS-RI. NO.XXV/MPRS/1966, PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia. Bukan itu saja, lewat ketetapan yang sama, paham Komunis dan Marxis-Leninisme dinyatakan haram berada di negara Indonesia.
Aksi G30S/PKI Awal Dari Pelanggaran HAM.
Peristiwa penyiksaan dan pembunuhan sembilan Jenderal pada 1 Oktober 1965 oleh pasukan Cakrabirawa yang menjadi bagian dari pasukan komunis Indonesia (PKI) dan dikenal sebagai Grakan 30 September adalah tanggal pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM ) di Indonesia. “Orang sekarang bicara pelanggaran HAM , sesungguhnya titik awal dari pelanggaran HAM adalah penyiksaan para jenderal.Itu apa yang kami rasakan, kata putra pahlawan revolusi Mayjen Anumerta Sutijo, Agus Wijoyo, di Jakarta, Senin (23/9). Pernyataan Wakil Ketua MPR itu disampaikan saat penjelasan pers rencana peluncuran buku bertajuk kunang-kunang kebenaran dilangit malam setebal 250 halaman pada tanggal 30 September nanti.
Buku tersebut berisi penuturan anak-anak dan keluarga Pahlawan Revolusi tentang kejadian yang disaksikan dan dialami 1 Oktoer dini hari.Penuturan itu terdiri dari keluarga Jenderal Ahmad Yani, Letjen Purnawirawan Soeprapto, Letjen Anumerta S. Parman, Mayjen Anumerta D.I. Penjaitan, Mayjen Anumerta Soetojo Siswomiharjo, Lettu CZI Anumerta Piere Tendean dan Keluarga AH. Nasution.
Mengeluh
Katerin Penjaitan mengeluh, dirinya orang tua yang bisa dihargai pengorbanannya, belakangan mereka seolah-olah dikaburkan, “saya tidak terima. Saya tahu peritiwa itu, karena bukan anak kecil lagi, waktu itu usia saya 17 tahun” katanya. Menurutnya orang tuanya mati secara sadis. “Kita sakit mengingat peristiwa itu, komunis memang sadis,” katanya dengan terbata-bata.
Sedangkan Amelia yani menyayangkan, para tahanan politik yang keluar dari penjara, enak sekali bicara bagaimana membunuh para jenderal. Mereka tidak merasakan bagaimana rasanya putra-putri yang ditinggalkan. Ia membantah para pasukan Cakrabirawa yang tergabung dalam PKI tidak melakukan penyiksaan, orang tua kita diseret, ditembak, mereka bilang seenaknya, itu bukan penyiksaan tandasnya.
Amelia menyatakan siapa lagi yang mau membela para Pahlawan Revolusi kalau bukan anak-anaknya “Kita tidak pakai bedil, hanya pakai pena, kita menyatakan kudeta, penyiksaan itu terjadi jangan terulang kembali.
Putra D.I. Penjaitan mengatakan hal senada, bahwa pasukan PKI sadis, sebagai gambaran, selongsong peluru mencapai 360 biji yang ditemukan diarea pekarangan rumah seluas 800 meter pada peristiwa penculikan dan penembakan ayahandanya, 1 Oktober 1965, sekitar pukul 03.00-04.00 WIB, selain orang tuanya keponakan ayahnya, Albert Naibab ikut meninggal ditembak dan Viktor Naibab cacat seumur hidup.
Kunang-kunang
Putri Suprapto, Nani Indah Sutojo menyatakan peristiwa yang diangkat tidak berkonotasi politik.
Harapannya dengan mengemukakan pengalaman, mata rantai kekarasan sejarah harus diputus, dibangun mata rantai baru dengan situasi yang damai dan harmonis.
menyadari, rekonstruksi peristiwa G30S/PKI berdasakan pengalaman keluarga Pahwalawan Revolusi bukan kesimpulan sejarah, sebab sejarah punya pendekatan, metode aliran tersendiri yang tidak mati, bisa mengungkap hal baru. “Itu milik akademisi. Tapi kebenaran yang kami sampaikan adalah realitas bersama.
Kunang-kunang sebagai judul buku bisa jadi dalam kegelapan ada cahaya baru yang mungkin redup, diganti dengan sejarah lain,” tuturnya.”Kami tidak bermaksud tetap pada tataran penderitaan, iba, belas kasihan, kami inginkan munculnya harapan baru pada tingkat kearifan sesuai kemampuan yang bisa kami sampaikan, tambahnya

anonymus anonym - 30. Nov, 2010 -

orang orang jaman dahulu itu mementingkan perjuangan untuk cita cita yang mulia.benar benar gk kaya zaman sekarang yang hanya mencari jabatan.ini patut dihargai.yang dihargai adalah cita cita yang luhur seperti mengabdi kepada rakyat atau mengangkat rakyat ke derajat yang tinggi.

anonymus anonym - 30. Nov, 2010 -

buku nya aminudin kasdi aja yang dibakar dia kan juga nulis buku.tentang gestok lagi.pasti bukunya gk bermutu.egois amat lu!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan