-->

Kronik Toggle

Beginilah Jadinya Profesor Sejarah Kalau Marah Sama Komunis

IBOEKOE–Profesor Aminudin Kasdi, sejarawan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), berada dalam kerumunan massa… Kehadirannya bukan kebetulan belaka, tapi sekaligus menjadi “juru bicara” perihal seri tulisan Dahlan Iskan tentang sepak-terjang Soemarsono di Jawa Pos. Menurut Prof Kasdi, tulisan itu membengkokan sejarah.

Tak mengherankan sebetulnya sikap profesor sejarah itu atas komunisme. Bukunya yang berjudul Kaum Merah Menjarah: Aksi Sepihak PKI/BTI Di Jawa Timur 1960-1965 dan G.30S. PKI/1965: Bedah Cesar Dewan Revolusi Indonesia adalah bukti bagaimana sikap Profesor Kasdi.

Menurut salah seorang mahasiswanya di jurusan sejarah Universitas Airlangga, Rojil Nugroho, sikap Prof Kasdi memang sangat keras terhadap PKI. Bahkan itu sampai terbawa-bawa di ruang kuliah.

Tak terlupa oleh Rojil sewaktu membahas objektivitas sejarah di ruang kelas. Waktu itu ia dimarahi habis-habisan dan dibilang tak tahu apa-apa tentang sejarah.

“Inilah anak2 jaman sekarang ga ngerti apa yang terjadi waktu dahulu tentang sejarah terutama 65,” bentak Prof Kasdi sambil gebrak meja dan semua mahasiswa lainnya terdiam.

Perkaranya sepele, Rojil waktu itu hanya bilang kalau peristiwa 30 September 1965 itu bukan PKI dalangnya tapi banyak hal yang mengakibatkan peristiwa itu terjadi seperti ada CIA, TNI AD pecah, ada faktor Soeharto, soekarno dan PKI juga. Jadi, tak bisa dikatakan PKI adalah dalangnya.

“Aku bilang sejarah itu memiliki ideologi dan pasti akan menuliskan sejarah pemenang. Jadi saya rasa sejarah itu subjektif sekali. Dia (Prof Kasdi) tetap saja bilang sejarah itu objektif. Dia lantas menyuruhku membaca buku lagi aja tanpa banyak menanggapi saya,” tutur Rojil.

Saat itu Rojil mencontohkan kepada Prof Kasdi bahwa sejarah itu masih dikuasai penguasa karena banyak buku-buku Pelajaran sejarah dibakar. “Jadi bagi saya biarkan saja orang menulis. saat ini harus ada demokratisasi historiografi, apabila tidak setuju dengan munculnya sebuah buku ya harus ditanggai dengan nulis buku bukan membakar buku. Tugas sejarawan hanya menuliskan buku dan biarkan masyarakat yang menilai,” kata Rojil Nugroho.

Apa yang dilakukan sosok-sosok seperti Prof Kasdi itu ditanggapi penulis muda dari Jogja, Petrik Matanasi. “Sangat Ironis dan memalukan jika ada seseorang membakar buku, apalagi dilakukan oleh seseorang yang memiliki gelar akademis. Profesor macam apa yang membakar buku!? Harusnya gelar Profesornya dicabut saja! Jika dia tidak terima dengan sebuah wacana, hendaknya dia membalasnya dengan cara beradab. Jadi balas tulisan dengan tulisan, balas buku dengan itu. Itu yang beradab!” kata penulis buku Pemberontakan Andi Azis dan Westerling ini berapi.

Lebih lanjut Petrik menambahkan, tak ada yang salah dgn komunisme. Komunis lahir untuk kemanusiaan juga dalam sejarahnya. Soal buku, dalam sejarahnya buku adalah simbol peradaban manusia yang cinta ilmu pengetahuan. Semua buku, tanpa terkecuali adalah suci dan harus dihormati untuk perababan dunia. Pembakaran buku adalah sesuatu yang vandalis! Tidak menghargai peradaban. (GM)

13 Comments

teguh budi - 03. Sep, 2009 -

Huh… sungguh tak beradap…!!!!!

ary - 03. Sep, 2009 -

profesor linglung

Bonnie Triyana - 04. Sep, 2009 -

Kasihan……..

IBOEKOE - 04. Sep, 2009 -

Nie, yang kasihan siapa: Soemarsono apa Prof Kasdi. Kamu pastilah bukan muridnya juga kan karena dikaugerombolan sejarawan muda diponegoro. Hehehehehe.

Pustakawan - 04. Sep, 2009 -

kalo dia bener2 profesor, dia harus berani tampil dalam forum kebebasan akademik dan berpendapat serta bersifat terbuka, bila perlu di televisi; bukannya dengan cara keroyokan dan main api kayak di zaman pra-tulisan

Tanzil - 04. Sep, 2009 -

profesor yang aneh…!!!

rahmat - 04. Sep, 2009 -

yuk kita belajar sejarah lagi dengan benar…. hihihi

izzy - 04. Sep, 2009 -

bth istrhat sjenak tu profesor. skdar refleksi sdikit. untk mnmbh sdkit kbjksnaan..
smoga ja mahasiswa bijk..

diani - 04. Sep, 2009 -

profesor taek

edy - 06. Sep, 2009 -

Kasihan Profesor palsu. Inilah korban sistem pendidikan. Coba di telaah lagi di mana dia dibesarkan dan disekolahkan. Sungguh malang… Bapak Profesor yang belum profes… Aku turut berdoa bagimu

jpu - 09. Sep, 2009 -

saya kasihan sama mahasiswanya, kampusnya, univeritasnya, surabaya, jawa timur dan indonesia yang punya satu profesor seperti beliau, smoga cukup satu ini aja, saya turut berdoa buatmu prof…tabah…tabah..tabah

anti profesor kasdi - 07. Jan, 2010 -

profesor kasdi yang t****….sebaiknya kuliah saja lagi atau sekalian lepaskan gelar profnya…knp lebih mirip zaman bar-bar saja

lingga - 08. Sep, 2010 -

jangan menilai orang dari luarnya saja,.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan