-->

Kronik Toggle

Bahasa Jadi Kendala Karya Jurnal

KOMPAS
Bahasa Jadi Kendala Karya Jurnal
Dosen Perlu Berlatih Penulisan Berbahasa Inggris
Rabu, 9 September 2009 | 12:36 WIB
Yogyakarta, Kompas – Dosen di Indonesia masih mengalami kendala bahasa dalam menyusun jurnal tingkat internasional. Selain soal tata bahasa berbahasa Inggris, terdapat pula kesulitan terkait penggunaan kosa kata ilmiah di bidang ilmu terkait.
Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Wisnu Nurcahyo mengatakan, dalam menyusun jurnal internasional, sejumlah dosen UGM masih perlu koreksi dari ahli tata bahasa dan pakar bidang ilmu terkait. “Beberapa dari mereka sudah menggunakan bahasa Inggris yang baik, namun masih dengan konteks Indonesia,” ujarnya di Yogyakarta, Selasa (8/9).
Menurut Wisnu, penyusunan tulisan untuk menembus jurnal internasional jauh lebih sulit daripada jurnal nasional. Hal ini karena tata bahasa yang digunakan harus memenuhi standar ilmu masing-masing secara spesifik. Ungkapan dan tata bahasa penyusunan di bidang humaniora, misalnya, akan berbeda dengan sains atau kesehatan.
Kondisi ini diperparah dengan belum dibudayakannya penulisan jurnal tingkat internasional di kalangan dosen di Indonesia. Hal ini berbeda dengan Jepang dan sejumlah negara Eropa yang mengharuskan mahasiswa jenjang S-3 untuk menulis jurnal internasional sebagai syarat kelulusan.
Sangat kecil
Wisnu menuturkan, akibat sejumlah kendala tersebut, dosen UGM yang aktif memublikasikan penelitian ke jurnal internasional masih sangat kecil, yaitu hanya satu persen dari dosen di UGM yang berjumlah total sekitar 2.380 orang. “Peningkatan signifikan baru terlihat di jurnal nasional. Sejak 2004, jumlah publikasi di jurnal nasional dari UGM bisa mencapai 300 tulisan setiap tahun, padahal sebelumnya kurang dari 100 tulisan,” ujar Wisnu.
Peningkatan ini terlihat sejak adanya pembinaan dari universitas. Sejak tahun 2004, UGM mengadakan program percepatan publikasi di jurnal nasional dan internasional. Untuk itu, UGM mengadakan pelatihan khusus penulisan jurnal internasional bagi 40 dosen setiap tahun. Selain itu, tersedia juga insentif bagi dosen yang bisa menembus jurnal internasional.
Staf Badan Perencana Universitas Islam Indonesia (UII) Rokhedi menuturkan, dosen UII yang bisa menembus jurnal internasional sebagian besar sudah pernah bersekolah di luar negari. “Jurnal biasanya mereka hasilkan saat sekolah di luar,” tuturnya.
Menurut Rokhedi, selain kendala bahasa, terdapat pula kendala waktu dan biaya dalam penyusunan tulisan untuk jurnal internasional. Waktu tunggu antara tulisan diterima hingga pemuatan di jurnal internasional bisa mencapai dua tahun. (IRE)

Dosen di Indonesia masih mengalami kendala bahasa dalam menyusun jurnal tingkat internasional. Selain soal tata bahasa berbahasa Inggris, terdapat pula kesulitan terkait penggunaan kosa kata ilmiah di bidang ilmu terkait.

Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Wisnu Nurcahyo mengatakan, dalam menyusun jurnal internasional, sejumlah dosen UGM masih perlu koreksi dari ahli tata bahasa dan pakar bidang ilmu terkait. “Beberapa dari mereka sudah menggunakan bahasa Inggris yang baik, namun masih dengan konteks Indonesia,” ujarnya di Yogyakarta, Selasa (8/9).

Menurut Wisnu, penyusunan tulisan untuk menembus jurnal internasional jauh lebih sulit daripada jurnal nasional. Hal ini karena tata bahasa yang digunakan harus memenuhi standar ilmu masing-masing secara spesifik. Ungkapan dan tata bahasa penyusunan di bidang humaniora, misalnya, akan berbeda dengan sains atau kesehatan.

Kondisi ini diperparah dengan belum dibudayakannya penulisan jurnal tingkat internasional di kalangan dosen di Indonesia. Hal ini berbeda dengan Jepang dan sejumlah negara Eropa yang mengharuskan mahasiswa jenjang S-3 untuk menulis jurnal internasional sebagai syarat kelulusan.

Sangat kecil

Wisnu menuturkan, akibat sejumlah kendala tersebut, dosen UGM yang aktif memublikasikan penelitian ke jurnal internasional masih sangat kecil, yaitu hanya satu persen dari dosen di UGM yang berjumlah total sekitar 2.380 orang. “Peningkatan signifikan baru terlihat di jurnal nasional. Sejak 2004, jumlah publikasi di jurnal nasional dari UGM bisa mencapai 300 tulisan setiap tahun, padahal sebelumnya kurang dari 100 tulisan,” ujar Wisnu.

Peningkatan ini terlihat sejak adanya pembinaan dari universitas. Sejak tahun 2004, UGM mengadakan program percepatan publikasi di jurnal nasional dan internasional. Untuk itu, UGM mengadakan pelatihan khusus penulisan jurnal internasional bagi 40 dosen setiap tahun. Selain itu, tersedia juga insentif bagi dosen yang bisa menembus jurnal internasional.

Staf Badan Perencana Universitas Islam Indonesia (UII) Rokhedi menuturkan, dosen UII yang bisa menembus jurnal internasional sebagian besar sudah pernah bersekolah di luar negari. “Jurnal biasanya mereka hasilkan saat sekolah di luar,” tuturnya.

Menurut Rokhedi, selain kendala bahasa, terdapat pula kendala waktu dan biaya dalam penyusunan tulisan untuk jurnal internasional. Waktu tunggu antara tulisan diterima hingga pemuatan di jurnal internasional bisa mencapai dua tahun.

* Dinukil dari Harian Kompas Edisi 9 September 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan