-->

Kronik Toggle

Arukat Djaswadi: "Kami bakar buku Soemarsono karena kecewa berat"

Arukat Djaswadi: Kami bakar buku Soemarsono karena kecewa berat”
Bertepatan dengan Hari Aksara Internasional, Trijaya FM Surabaya 104.7 FM (8/9) pada pukul 8 pagi menurunkan perbincangan soal pembakaran buku.
Dalam pembukaannya, penyiar Trijaya mengemukakan di tengah makin bebasnya buku didapatkan, toko-toko buku tumbuh, cafe buku mulai subur, ada kalangan-kalangan yang justru membakar buku. “Itu kan biadab,” kata Ayu salah satu penyiarnya.
Ironis memang. Karena di sisi yang terkelam, Jawa Timur, menurut data Depdiknas, menjadi propinsi dengan buta aksara tertinggi di Indonesia.
Tampil sebagai narasumber adalah Ketua Centre For Indonesian Communities Studies (CICS) Arukat Djaswadi dan Redaktur Pelaksana Indonesia Buku Diana AV Sasa.
“Sebagai pemerhati komunisme, bukan sekali ini saja saya melakukan tindakan yang keras. PKI itu menurut saya melakukan skenario besar. Mereka melakukan apa saja. Mempengaruhi masyarakat lewat opini, buku, tulisan, internet,”kata Arukat.
Lebih lanjut Arukat mengatakan, buku Soemarsono Revolusi Agustus itu sesat-menyesatkan. Tidak ditulis dengan benar. Ke depan bisa menghancurkan bangsa. “Kebohongan isinya. Saya melihat buku Soemarsono itu bohong saja. Mosok dia bilang peristiwa Madiun itu fitnah. Padahal jelas-jelas Madiun itu PKI membunuh. Dia membenarkan itu kok. Banyak sekali kasus pembunuhan besar.”
Tapi ketika ditanya Ayu dan Luki dan Trijaya FM Surabaya mengapa tidak membantahnya dengan lewat buku, Arukat mengatakan tindakan membakar buku itu sebagai wujud kegalauan mereka yang yg sangat dalam. “Kecewa sekali. Wujud kekecewaan itu diwujudkan dalam bentuk pembakaran.”
Bayangkan, kata Arukat, hak jawab mereka tidak dimuat. Dimanipulir. Seakan-akan Soemarsono yang benar. “Kami menuntut Dahlan untuk minta maaf. Dia cuma ngasih halaman jawab, tapi mbela Soemarsono. Ini kami akan makin keras hati. Wartawan-wartawan itu takut dikatakan tidak reformis,” katanya.
Bagi Arukat, kelemahan kita di era reformasi, banyak org yang tak berani mengungkapkan kebenaran. “Takut nggak dikatakan reformis. Kita punya payung hukum. Org yang nyebarin paham komunis akan dikenai hukuman 12 tahun penjara.”
Apa yang dilakukan Arukat dan kelompok pembakar lain itu mengundang prihatin dari Diana AV Sasa.
Koordinator aksi melawan pembakar buku, Diana AV Sasa, mengatakan bahwa apa yang mereka tunjukan pada tanggal 7 September di Surabaya itu adalah gerakan simbolik bahwa mereka, pekerja dibalik buku, ingin memberitahu bahwa mereka melawan.
“Membakar adalah pelecehan harga diri pekerja buku. Yang dilakukan FAK itu memprihatinkan dan tidak selayaknya. Alasannya cuma kecewa, tapi kok bakar buku. Sederhana sekali alasannya. Buku lawan buku. Tulisan lawan tulisan. Ini kan generasi muda mempelajari sejarah. Masak kami disodori terus ketakutan.”
Bagi Diana, buku itu adalah dokumen sejarah. Biarkan buku mencari pembacanya, Jangan diberangus. Pembacalah yang memilih versi mana dia pilih. “Kami kecewa sekali. Apalagi di sana ada Prof Aminuddin Kasdi. Mestinya dia mencegah. Bagaimana kami bis meneladaninya,” lanjutnya. (GM)

Bertepatan dengan Hari Aksara Internasional, Trijaya FM Surabaya 104.7 FM (8/9) pada pukul 8 pagi menurunkan perbincangan soal pembakaran buku.

Dalam pembukaannya, penyiar Trijaya mengemukakan di tengah makin bebasnya buku didapatkan, toko-toko buku tumbuh, cafe buku mulai subur, ada kalangan-kalangan yang justru membakar buku. “Itu kan biadab,” kata Ayu salah satu penyiarnya.

Ironis memang. Karena di sisi yang terkelam, Jawa Timur, menurut data Depdiknas, menjadi propinsi dengan buta aksara tertinggi di Indonesia.

Tampil sebagai narasumber adalah Ketua Centre For Indonesian Communities Studies (CICS) Surabaya Arukat Djaswadi dan Redaktur Pelaksana Indonesia Buku Sektor Surabaya Diana AV Sasa.

“Sebagai pemerhati komunisme, bukan sekali ini saja saya melakukan tindakan yang keras. PKI itu menurut saya melakukan skenario besar. Mereka melakukan apa saja. Mempengaruhi masyarakat lewat opini, buku, tulisan, internet,”kata Arukat.

Lebih lanjut Arukat mengatakan, buku Soemarsono Revolusi Agustus itu sesat-menyesatkan. Tidak ditulis dengan benar. Ke depan bisa menghancurkan bangsa. “Kebohongan isinya. Saya melihat buku Soemarsono itu bohong saja. Mosok dia bilang peristiwa Madiun itu fitnah. Padahal jelas-jelas Madiun itu PKI membunuh. Dia membenarkan itu kok. Banyak sekali kasus pembunuhan besar.”

Tapi ketika ditanya Ayu dan Luki dan Trijaya FM Surabaya mengapa tidak membantahnya dengan lewat buku, Arukat mengatakan tindakan membakar buku itu sebagai wujud kegalauan mereka yang yg sangat dalam. “Kecewa sekali. Wujud kekecewaan itu diwujudkan dalam bentuk pembakaran.”

Bayangkan, kata Arukat, hak jawab mereka tidak dimuat. Dimanipulir. Seakan-akan Soemarsono yang benar. “Kami menuntut Dahlan untuk minta maaf. Dia cuma ngasih halaman jawab, tapi mbela Soemarsono. Ini kami akan makin keras hati. Wartawan-wartawan itu takut dikatakan tidak reformis,” katanya.

Bagi Arukat, kelemahan kita di era reformasi, banyak org yang tak berani mengungkapkan kebenaran. “Takut nggak dikatakan reformis. Kita punya payung hukum. Org yang nyebarin paham komunis akan dikenai hukuman 12 tahun penjara.”

Apa yang dilakukan Arukat dan kelompok pembakar lain itu mengundang prihatin dari Diana AV Sasa.

Koordinator aksi melawan pembakar buku, Diana AV Sasa, mengatakan bahwa apa yang mereka tunjukan pada tanggal 7 September di Surabaya itu adalah gerakan simbolik bahwa mereka, pekerja dibalik buku, ingin memberitahu bahwa mereka melawan.

“Membakar adalah pelecehan harga diri pekerja buku. Yang dilakukan FAK itu memprihatinkan dan tidak selayaknya. Alasannya cuma kecewa, tapi kok bakar buku. Sederhana sekali alasannya. Buku lawan buku. Tulisan lawan tulisan. Ini kan generasi muda mempelajari sejarah. Masak kami disodori terus ketakutan.”

Bagi Diana, buku itu adalah dokumen sejarah. Biarkan buku mencari pembacanya, Jangan diberangus. Pembacalah yang memilih versi mana dia pilih. “Kami kecewa sekali. Apalagi di sana ada Prof Aminuddin Kasdi. Mestinya dia mencegah. Bagaimana kami bis meneladaninya,” lanjutnya. (GM)

5 Comments

Allan - 08. Sep, 2009 -

Bagi Arukat, kelemahan kita di era reformasi, banyak org yang tak berani mengungkapkan kebenaran. “Takut nggak dikatakan reformis. Kita punya payung hukum. Org yang nyebarin paham komunis akan dikenai hukuman 12 tahun penjara.”

Dan di masa Gusdur itu mau dihapus. tp mash menjadi kontroversi karena pihak PKi gak dikasi kesempatan untuk menemukan sejarahnya.

Apakah bukan Arukat sendiri yg ketakutan jika kedoknya nanti terbongkar pada masa tahun 65 itu?
aneh2 aja

Petrik Matanasi - 08. Sep, 2009 -

Ha ha dasar Arukat, si paranoid… kayaknya dia harus baca buku sejarah dari berbagai versi jangan cuma buku sejarah versi ORBA atau cuma buku Tulisan Kasdi aja….
Dalam peristiwa madiun, banyak orang bermain dan gak cuma komunis… dalam sejarah selalu ada skenario tersembunyi… Dan Arukat taunya cuma PKI yang salah… kalau mau ditelisik sih ada pihak lain yang harus disalahkan atas pembunuhan2 yang dilakukan orang2 yang ngaku komunis tapi gak paham apa itu komunis….
Asal tau aja, orang2 PKI belum tentu paham apa itu komunis…
sementara Arukat taunya komunis itu buruk..

kayaknya kita harus kasih les privat sejarah buat Arukat!!!

teguh budi - 08. Sep, 2009 -

Menurut saya; siapapun yang telah membakar buku di depan publik tersebut adalah orang yang tidak menghormati pikiran orang lain. Mereka melakukan itu hanya iri karena tak mampu membuat buku.

Saya setuju dengan Diana AV Sasa itu, buku harus dibalas dengan buku. Bukan dibalas dengan api. Saya jadi ragu dengan kapabilitas mereka yang membakar buku itu tersebut.

Jangan-jangan mereka juga tak faham tentang permasalahan komunis di tanah air. Mungkin mereka terlalu lama dicekoki ketakutan dari rangkaian dokma sesat yang dilakukan Orba….

Sungguh kasihan mereka itu.

Rini - 13. Sep, 2009 -

Kalaupun ada yang tidak sepakat dengan buku itu, kenapa harus dibakar? Biarkan publik yang menilai mutu maupun kebenaran ini buku itu, bukan main hakim sendiri dengan cara anarkis. Banyak beredar buku atau majalah lain yang isinya gak benar, tapi gak dibakar? Anehnya lagi buku ini dibakar di daerah yang tingkat buta aksaranya tinggi. Bukannya banyak membaca biar lebih pintar, malah buku dibakar. Memang ironis.

histo - 02. Jan, 2011 -

memang terasa ironis sekali kejadian tersebut, karena tidak menunggu moment yang tepat. Seandainya para pelaku aksi tersebut bisa sabar menunggu mungkin ceritanya akan berbeda. karena kalau tidak dibakar pasti buku tersebut sudah saya injak-injak.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan