-->

Kronik Toggle

Alih-Alih Dengar Suara Korban, Malah Mereka Membungkamnya

Wahyudi Akmaliah muhammad: Suara Korban itu tak Pernah Mau Kita Dengarkan
IBOEKOE–Ada banyak cara bagaimana orang melupakan dan membungkam masa lalunya sendiri. Ada yang diam, lalu mencoba membiarkannya hilang. Ada pula orang yang terus membicarakannya agar semakin diingat semakin tak karuan juntrungan atas masa lalu yang dihadapi. Tapi ada juga yang lebih ekstrim, ia membakar apapun yang terkait dengan masa lalu tersebut.
Demikian pendapat mahasiswa dual master program di International Peace Studies, Ateneo de Manila University dan University for Peace, Costa Rica, Wahyudi Akmaliah Muhammad.
Bagi Yudi, peristiwa 1965-1966 adalah masa lalu, karena ulah kebengisan rezim Orde Baru memutarbalikkan ingatan, membuat orang melihat masa lalu sebagai sesuatu yang menjijikan dengan rasa penuh amarah. Tanpa sudi mengeksplorasi lebih dalam, apakah itu benar-benar bagian sejarah dari perjalanan Indonesia terfaktakan atau tidak: yang penting komunis, dan karena komunis bersalah dan ateis, apapun dalihnya maka ia adalah salah.
Pembakaran buku karya Soemarso, Revolusi Agustus, adalah satu gambaran kecil bagaimana “amarah” masyarakat yang kerap tidak tahu menahu mengenai masa lalu dan hanya menggunakan ingatan hasil bentukan Orde Baru.
Parahnya, lanjut peneliti alternatif suara-suara korban, sejarawan yang harusnya berada di garda depan menguak tabir peristiwa 1965-1966 dan yang terkait dengan sejarah Indonesia sebelumnya, malah menjadi pengukuh atas “ketidaktahuan” tersebut.
Alih-alih menjadi pembawa misi warta masa lalu kepada publik dengan layak, posisi dan peran seorang sejarawan perlu mendapatkan gugutan yang keras.
Menurut penulis buku “Islah dan Politisasi Ingatan di Kalangan Korban Priok ini hal itu terjadi karena lebih menitikkan sejarah pada centrum wacana yang berkuasa dengan pameo yang selalu di pegang, “no document no history”. Sementara sejarah mengenai ingatan para korban dan saksi yang terlibat di masa lalu tidak pernah didengarkan menjadi suara kebenaran yang lain, yang perlu dipertimbangkan kebenarannya.
“Pembarakan buku yang menguak sisi lain dari sejarah Indonesia di depan kantor Jawa Pos tersebut adalah bentuk ‘kebebalan’ yang tidak mau tahu atas masa lalu yang mengerikan itu,” tegas mantan mahasiswa S2 Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanatha Darma Yogyakarta ini. (GM)

IBOEKOE–Ada banyak cara bagaimana orang melupakan dan membungkam masa lalunya sendiri. Ada yang diam, lalu mencoba membiarkannya hilang. Ada pula orang yang terus membicarakannya agar semakin diingat semakin tak karuan juntrungan atas masa lalu yang dihadapi. Tapi ada juga yang lebih ekstrim, ia membakar apapun yang terkait dengan masa lalu tersebut.

Demikian pendapat mahasiswa dual master program di International Peace Studies, Ateneo de Manila University dan University for Peace, Costa Rica, Wahyudi Akmaliah Muhammad.

Bagi Yudi, peristiwa 1965-1966 adalah masa lalu, karena ulah kebengisan rezim Orde Baru memutarbalikkan ingatan, membuat orang melihat masa lalu sebagai sesuatu yang menjijikan dengan rasa penuh amarah. Tanpa sudi mengeksplorasi lebih dalam, apakah itu benar-benar bagian sejarah dari perjalanan Indonesia terfaktakan atau tidak: yang penting komunis, dan karena komunis bersalah dan ateis, apapun dalihnya maka ia adalah salah.

Pembakaran buku karya Soemarso, Revolusi Agustus, adalah satu gambaran kecil bagaimana “amarah” masyarakat yang kerap tidak tahu menahu mengenai masa lalu dan hanya menggunakan ingatan hasil bentukan Orde Baru.

Parahnya, lanjut peneliti alternatif suara-suara korban, sejarawan yang harusnya berada di garda depan menguak tabir peristiwa 1965-1966 dan yang terkait dengan sejarah Indonesia sebelumnya, malah menjadi pengukuh atas “ketidaktahuan” tersebut.

Alih-alih menjadi pembawa misi warta masa lalu kepada publik dengan layak, posisi dan peran seorang sejarawan perlu mendapatkan gugutan yang keras.

Menurut penulis buku “Islah dan Politisasi Ingatan di Kalangan Korban Priok ini hal itu terjadi karena lebih menitikkan sejarah pada centrum wacana yang berkuasa dengan pameo yang selalu di pegang, “no document no history”. Sementara sejarah mengenai ingatan para korban dan saksi yang terlibat di masa lalu tidak pernah didengarkan menjadi suara kebenaran yang lain, yang perlu dipertimbangkan kebenarannya.

“Pembarakan buku yang menguak sisi lain dari sejarah Indonesia di depan kantor Jawa Pos tersebut adalah bentuk ‘kebebalan’ yang tidak mau tahu atas masa lalu yang mengerikan itu,” tegas mantan mahasiswa S2 Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanatha Darma Yogyakarta ini. (GM)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan