-->

Esai Toggle

Diana AV Sasa | AIR

Tanyakan pada buku, siapa musuh abadinya? Maka selain menjawab api, buku pasti akan menjawab: AIR. Perang buku dengan air itu kekal karena keduanya tak akan pernah bisa disatukan. Tak peduli setetes atau bah, air adalah musuh. Tak ada kompromi. Titik.

Wajar jika buku begitu antipati pada air. Lihat saja bagaimana air melancarkan serangan untuk menghancurkan buku. Sementara buku tak pernah bisa melakukan perlawanan apa-apa. Serangan itu dimulai dengan jurus berubah wujud menjadi uap. Jangan anggap remeh partikel-partikel lembut itu, karena dengan kelembutannya pula air memiliki kesempatan untuk menempel pada sampul dan isi buku sekaligus.

Uap menyebabkan sampul buku jadi lembab. Maka lama kelamaan sampul itu akan ditumbuhi jamur. Perlahan tapi pasti, jamur akan menggerus warna sampul hingga memudar. Meskipun jamur bisa dibersihkan dengan mudah, tapi tetap saja akan meninggalkan bekas yang kentara. Sementara itu, di dalam buku, uap air akan menempel pada kertas. Uap ini memaksa kertas untuk berubah warna dari putih menjadi kecoklatan. Keindahan buku akan musnah dengan sendirinya.

Serangan itu akan semakin dasyat ketika uap air berubah wujud. Memperbesar ukuran dengan menjadi embun. Melalui titik-titik embun itu air akan meresap dalam pori-pori buku. Menembus serta-seratnya. Melelehkan tintanya hingga membuat buku lemas. Dan lambat laun buku akan rapuh, membusuk dengan sendirinya.

Menghancurkan buku dengan embun butuh waktu lama. Untuk menyingkat waktu, air akan datang dalam bentuk hujan. Menyusup ke setiap celah jendela. Menembus atap, membobol langit-langit dan mengucur deras menimpa buku. Dengan tak berdaya, buku akan menyerah. Membiarkan dirinya kuyup dan lemas. Ketika tak ada yang menghentikan, maka air akan melonjak gembira. Buku makin merana, lapuk, dan akhirnya remuk.

Air menunjukkan kehebatannya lagi dengan menyerang buku secara sporadis. Jutaan air di lautan akan menghempas kapal yang memuat buku. Mengombang-ambingkannya sebelum kemudian membantingnya keras-keras. Tanpa perlawanan, buku-buku itu akan tenggelam bersama kapal yang hancur. Dibekap air di dasar lautan.

Jika cara itu tak berhasil, buku akan meminjam tangan penguasa lautan. Bajak laut. Bajak laut yang hanya tahu kemilau harta karun pasti akan muak jika hanya menemukan tumpukan buku dalam kapal yang dirompaknya. Sudah pasti mereka akan membuangnya ke laut. Dan air lautan akan menyambutnya dengan tertawa seraya meneriakkan kemenangan. (Diana AV Sasa)

3 Comments

missy_butterfly - 13. Sep, 2009 -

hiyaaaaaaaaaaaaa… bener bangettt… kalau BANJIR datang…. maka bisa dipastikan satu dus buku ku akan ketrajang air…

biasanya ini adalah permukaan dasar tiap dus… buku2 ku

kalau banjir datang aku harus siap2 mengungsi tidur di kursi tamu, rela bo’ tidur di kursi demi buku ku yg tidur di kasur, daripada mereka harus kedinginan tidur di kolong kasur seperti biasanya

nasrudin - 13. Sep, 2009 -

Saatnya buku tahan air dan api…e-book….

badrud tamam - 13. Sep, 2009 -

Nasrudin apek sekali
pindah ke e-book, hehe

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan