-->

Suplemen Toggle

Agus ‘Gembel’ HST: Buntelan Buku Untukmu

Aku datang dari Jogja. Sengaja ingin menemui dirimu. Kubawakan buku yang kau pesan dulu. Suatu senja di stasiun kereta, delapan tahun lalu. “Di, carikan aku Budhisme karya Romo Muji itu. Aku ingin tahu tentang kasih itu seperti apa. Aku ingin belajar tentang kedamaian”, begitu pesanmu kala itu, sebelum peluit kereta menjerit dan membawaku ke kota barat. Kini aku datang. Dengan Budhisme di genggaman.

Aku melihatmu sedang berdiri di pinggir kali utara taman kota. Nampak tubuhmu lebih kurus dari delapan tahun lalu. Rambutmu panjang dan tak beraturan. Sebuah tas ransel lusuh tersandang di punggungmu. Kau duduk diatas bangku taman sambil memangku sebuah buku catatan. Pandanganmu jauh keatas kali dihadapanmu. Kemudian aku tahu, kau tengah menulis sebuah monolog yang kau beri judul ‘Pinggir Kali Pagi Ini’. Setelah aku membaca catatan yang belum selesai itu, aku hanya bisa menghela nafas panjang. Kau sedang meracau. Begitu kubaca ditulisanmu.

Delapan tahun meninggalkanmu membuatku kehilangan banyak cerita tentangmu. Saat bercakap denganmu pun aku seakan tak menemukan sahabat kecilku dulu. Kau nampak begitu rumit dan sulit kumengerti. Aku tak berani bertanya. Karena sepertinya matamu mengisyaratkan bahwa kau tak ingin bercerita apapun. Dari obrolan di kantin para seniman aku tahu bahwa beberapa tahun terakhir kau bergulat dengan foto dan instalasi, juga mendapingi gerakan seni pinggiran di daerah Jagir Sidosermo. Kudengar kau juga masih menulis beberapa naskah drama dan sesekali memainkannya. Aku senang kau masih menulis.

Dulu, kau pernah bilang padaku bahwa menulis adalah sebuah respon dari prosesmu membaca. Membaca adalah menggali tentang isi. Kau suka mengamati psikologi orang-orang disekitarmu. Kau menggali apa apa yang ada di orang itu dari pembacaanmu. Lalu kau meresponnya dengan puisi, cerpen, teater, dan foto. Karenanya kau suka sekali menekuni buku-buku novel psikologi macam Agatha Christie dan Sherlock Holmes. Katamu, buku-buku itu membantumu menemukan ‘simbol’ dalam senirupa dan membangun karakter saat menulis.

Delapan tahun lalu aku mengenalmu sebagai seorang pekerja di bidang konstruksi. Kini kau telah menjatuhkan  pilihan pada senirupa. Dunia yang kau jalani dengan ketekunan dan kecintaan yang aku sulit mengerti. Kau tinggalkan kemapanan yang dulu kau miliki untuk seni yang bagiku justru membuatmu nampak gila. Kutemukan selarik puisi ini diantara catatan gilamu:

Doa dari satu kawan lapar berjamaah

adalah tentang bagaimana bertahan hidup

adalah tentang bagaimana membagi rasa lapar yang datang

adalah tentang bagaimana menjaga rasa cinta walau lapar

adalah tentang bagaimana mengingatkan untuk tetap merasa lapar

adalah tentang bagaimana menangis hanya dalam dzikir

adalah tentang bagaimana berdzikir di setiap desah nafas kita

adalah tentang bagaimana tetap menjadi gila dengan sebab.

Aku masih tetap tak pernah akan bisa mengerti mengapa Tuhan membuat bahasa kita berbeda.

Mungkin memang kita yang telah tuli,

tak lagi mampu mencerna kata2 diam,

yang bermukim di buku hitam,

yang teriakkan kemerdekaan bertuhan,

yang bisikkan kasih adalah keutamaan,

yang nyatakan bahwa setiap pertemuan bukanlah sebuah kebetulan semata,

yang katakan bahwa rencana kita bukanlah rencanaNya,

yang janjikan segala sesuatu akan menjadi indah pada waktuNya.

tapi kita benar2 lupa,

tentang cara hidup bersahaja tanpa perlu merasa menjadi miskin,

tentang cara lapar yang menjadi berkah,

tentang cara pusing tanpa harus menjadi maling.

Kau menjadi begitu rumit bagiku. Di mejamu kutemukan buku-buku Anthoni de Mello, Afrizal Mana, hingga puisi Sapardi. Kau masih saja mencintai buku rupanya. Dulu sewaktu kita kelas 3 SD, buku membuat kita bertekuk lutut pada keangkuhan dan kebencian. Entah apa sebabnya kita begitu sering bertengkar kala itu. Aku benci melihatmu, pun sebaliknya. Hingga suatu siang, kutemukan kau di halaman sekolah tengah memangku sebuah buku. Aku terkejut. Kupikir kau tidak suka baca buku. Kebetulan kita memegang buku yang sama dengan seri yang berbeda. Dan aku pun tak dapat menahan diri untuk tak menyapamu dan menanyakan buku di pangkuanmu. Sejak itu tak ada lagi pertengkaran. Kebencian seperti menguap ke udara. Kelak kemudian kita tahu, strategi buku itu adalah hasil konspirasi kedua orangtua kita yang jengah dengan pertengkaran kita saban hari.

Dengan buku kemudian kita membagi tawa dan keceriaan masa kecil hingga remaja. Seri Jimmy Koboi di Majalah Bobo adalah kesukaanmu. Kau selalu membaca sambil makan. Waktu paling leluasa bagimu untuk membaca tanpa berebut dengan saudara-saudaramu yang lain. Kita juga mengenal bersama siapa itu Si Buta dari Gua Hantu dan Komik Petruk Gareng yang dibawa Pamanmu dari Jogja.

Aku harus kembali ke Jogja. Senja ini. Selamat mengarungi duniamu sebagai seniman senirupa. Agar kau tak berpisah dari buku, kutinggalkan buku-buku kesayanganmu yang dulu sempat raib:

  1. Manuskrip Celestin (James Redfield)
  2. The Big Four (Agatha Christie)
  3. Doa Sang Katak(Anthony de Mello)
  4. Sang penyair(Mustafa Lutfi al Manfaluthi)
  5. Pendekatan Holistik Pada Ganguan Jiwa Skizofrenia(Balai penerbit FKUI)

(Diana AV Sasa)

Agus Gembel HST, lahir di Jogjakarta, Oktober 1971,  Pameran Tunggal : 2005 “OOOGGiiiiiiiiikk…”, Galeri Surabaya (obyek mix media dan instalasi ruang), 2008 “Cinta… adalah sebuah ruang keluarga”, Galeri Surabaya (obyek mix media, fotografi, drawing, painting, patung dan instalasi ruang)

11 Comments

nisa ayu amalia - 29. Sep, 2009 -

romantisme masa kecil, kecintaan buku… aih… aih…

beth - 05. Nov, 2009 -

tampangnya gmn yach?

Aya katarai - 17. Des, 2009 -

Jd ikut teringat waktu SD saat rebutan buku ma tmn berjudul Siapa Punya Kuali Panjaaaang….? Hiks

gembel HST - 05. Des, 2010 -

Hiks jg…
jd teringat wkt smp suka mancing di kali eee.. dah gde kumat lg, tapi endingnya jd naskah monolog “Pinggir Kali Pagi Ini”, jgn tanya ikannya krn mmg jarang dapet. WAKAKAKAKAKAKAK..
tp itu 2007 yang 2010 lebih seru, sering dapet ikan krn lg blank berkesenian, jd cuti deh.. WAKAKAKAKAKAKAK..

Yulie Feizal - 27. Feb, 2010 -

Man, Buku Doa san Katak itu ternyata di kamu ya…..hehehe…big explore man

gembel HST - 05. Des, 2010 -

aku beli buku doa sang katak 1&2 mpe 3x dan semuanya ilang karena dipinjam dan gak mbalik serta gak jelas siapa peminjam selanjutnya
WAKAKAKAKAKAKAKAK..

bumi - 19. Apr, 2010 -

jika kelak aku dan kamu berada di hari perhitungan Tuhan…aku tak ingin kau adukan pada Tuhan tentang “Budhisme” yang raib entah kemana…dan Doa Sang Katak yang enggan aku kembalikan ke tanganmu…

dan jika tetap kau adukan, maka aku akan tersenyum di neraka…agar kamu juga bisa tersenyum sekarang…

gembel HST - 05. Des, 2010 -

matahari masih terlalu panas dan menyilaukanmu rupanya
semntara sepasang mata kita sudah menatap pementasan yang berbeda, aku masih setia menulis monolog2 walau bising

tenang ae, aku ada info ada 1 Buddhisme-nya Muji S yang terdeteksi berada di Sby, smg aku boleh memilikinya walaupun ngutang dl.
WAKAKAKAKAKAKAKAKAK…

rahma dewi - 14. Jun, 2010 -

aduh-aduh salut q ma ni orang

gembel HST - 05. Des, 2010 -

yup TX, sekarang dah mandi tiap hari kok..
kamu ngilang kok terus?

arek jagir - 15. Des, 2010 -

saluto….
Romantisme Sebuah memori masa kecil atau pun pemahaman tetang makna Kesederhanaan…???

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan