-->

Kronik Toggle

Agung Laksono Bukukan Pengalaman Memimpin Wakil Rakyat

Tak Pernah Lupa dengan Kericuhan Pro-Kontra Kenaikan BBM

Beberapa hari ke depan merupakan saat-saat terakhir Ketua DPR Agung Laksono berada di parlemen. Wakil ketua umum DPP Partai Golkar yang sudah tiga periode menjadi wakil rakyat itu tidak bisa tembus untuk periode 2009-2014. Sebuah buku sengaja diluncurkan sebagai kenang-kenangan terakhir.

DIAN WAHYUDI

DENGAN raut bangga, Agung Laksono bersemangat membubuhkan tanda tangan di tiap lembar pertama buku denganhardcover putih yang disodorkan sejumlah sejawat. Buku bergambar gedung DPR di bagian sampul itu merupakan catatan perjalanan Agung sebagai ketua DPR selama lima tahun sejak terpilih pada 1 Agustus 2004.

“Buku tersebut bercerita tentang suka duka saya selama memimpin lembaga itu (DPR, Red),” ujar Agung sesudah acara peluncuran buku tersebut di Gedung Nusantara IV, kompleks parlemen, Senayan, kemarin (28/9). Buku setebal 371 halaman yang khusus diberi judul Dari Rumah Rakyat Mengawal Demokrasi itu mengungkap banyak kenangan yang tidak bisa dia lupakan.

Misalnya, kericuhan dalam sebuah sidang paripurna DPR yang membahas kenaikan harga BBM pada 2005. Saat itu puluhan wakil rakyat merangsek hingga depan meja pimpinan sidang. Saling dorong terjadi antara kubu yang pro dan kontra atas kebijakan tersebut. “Gambar insiden itulah yang masih sering diputar televisi untuk menggambarkan sisi-sisi buruk DPR,” ujar Agung, sekilas menceritakan sambil tersenyum kecut.

Sebagai pimpinan sidang kala itu, Agung berada di tengah-tengah kerumunan anggota dewan yang gontok-gontokan tersebut. Hujatan dan makian disampaikan langsung oleh sejumlah anggota di depannya. “Saya kaget juga saat disemprot seperti itu,” tambahnya.

Peluncuran buku tersebut dihadiri sejumlah tokoh. Selain sejumlah pimpinan fraksi dan anggota DPR, Menko Kesra Aburizal Bakrie dan Panglima TNI Djoko Santoso hadir dalam acara tersebut.

Dalam buku itu, Agung menggambarkan bahwa dirinya harus bersusah payah melobi setiap ketua fraksi untuk mencari titik temu atas persoalan tersebut. “Saya turun langsung saat itu,” ujar pria kelahiran 23 Maret 1949 tersebut seperti yang ditulis dalam buku itu.

Selain memaparkan suka duka selama memimpin DPR, dalam buku tersebut Agung menyelipkan beberapa kisah pribadi di dunia politik. Di antaranya, alasan dia terjun di dunia politik dengan bergabung ke Partai Golkar. “Hobi aktif di organisasi terus menyeret saya ke dunia itu,” papar ketua umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) tersebut.

Sejak terjun di dunia politik sekitar 1977, setumpuk jabatan pernah dia emban. Mulai sejumlah organisasi sayap hingga sejumlah jabatan di DPP Golkar. Mulai Wasekjen DPD AMPI tingkat I DKI (1977-1979), wakil bendahara PDK I Kosgoro DKI Jakarta (1979-1983), hingga ketua Departemen Pengabdian Masyarakat DPP Golkar (1988-1993).

Karirnya terus menanjak sesudah Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar pada 1998. Agung terpilih untuk menduduki jabatan strategis sebagai ketua DPP Partai Golkar Korbid Organisasi, Keanggotaan, dan Kader (OKK). Selanjutnya, saat Jusuf Kalla terpilih sebagai ketua umum pada 2005, alumnus Fakultas Kedokteran UKI, Jakarta, tersebut terpilih sebagai wakil ketua umum.

Di pemerintahan, Agung dua kali menjadi anggota kabinet. Keduanya menempati pos menteri pemuda dan olahraga. Yakni, era terakhir Soeharto dalam Kabinet Pembangunan VII (1998) dan era B.J. Habibie (1998-1999). Tapi, dalam pemilihan legislatif terakhir, Agung yang maju dari dapil Jakarta itu harus bersabar karena tak mampu menembus Senayan.

Kini, sebagai petinggi Golkar, dia bersiap-siap menghadapi munas di Pekanbaru, Riau. Dia dikenal sebagai pendukung utama Aburizal Bakrie. Bila Ical -sapaan Aburizal Bakrie- menang, sangat mungkin karirnya di Golkar terjaga. (tof)

Dinukil dari Jawa Pos edisi 29 September 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan