-->

Kronik Toggle

105 Penggiat Buku Serukan Petisi Anti Pembakaran Buku di Surabaya

105 Penggiat Buku Serukan Petisi Anti Pembakaran Buku di Surabaya
Pelbagai profesi penggiat buku bersatu menyerukan kecaman atas aksi pembakaran buku di Surabaya. Ini untuk ketiga kalinya para pencinta buku ini pasca reformasi mengeluarkan statemen melawan pembakaran buku, yakni pada 2001, 2007, dan kini 2009.
Pernyataan sikap atas pembakaran buku ini dipicu oleh aksi Front Anti Komunis di Surabaya membakar buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono pada 2 September 2009 di depan kantor Harian Jawa Pos di Surabaya. Guru Besar Ilmu Sejarah Prof. Dr. Aminuddin Kasdi ikut dalam pembakaran dan mengatakan bahwa sejarah adalah milik pemenang. Mereka membakar buku sebagai reaksi terhadap kolom serial wartawan Jawa Pos Dahlan Iskan tentang Soemarsono, “Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya.”
“Kami prihatin dengan pembakaran buku itu kendati kami belum tentu sepenuhnya setuju dengan isi buku tersebut. Tapi kebebasan berpendapat, baik lisan maupun tulisan, dijamin oleh UUD 1945. Pembakaran buku Soemarsono mengulang kembali aksi fasisme Nazi yang juga membakar buku-buku karya Sigmund Freud, Albert Einstein, Thomas Mann, Jack London, HG Wells serta berbagai cendekiawan lain. Nazi menganggap buku sebagai musuh mereka,” demikian salah satu bunyi keprihatinan pamflet pernyataan sikap itu.
Ke 105 penggiat buku ini menyatakan keprihatinan atas aksi yang dilakukan sekelompok orang, yang memakai nama Islam namun melakukan tindakan tercela pada bulan Ramadhan, bulan di mana Allah pertama kali menurunkan perintah membaca kepada Nabi Muhammad SAW. Buku semestinya dibaca, bukan untuk dibakar.
Tak lupa, penggiat dan pencinta buku ini menyayangkan pernyataan Aminuddin Kasdi. Pernyataan sejarah hanya milik pemenang tak sepantasnya dikatakan oleh seorang guru besar ilmu sejarah. Penulisan sejarah semestinya mengedepankan keberimbangan fakta dan keberagaman versi, bukan monopoli satu versi praktik Orde rezim Baru.
Dengan pelbagai keprihatinan itu, ke-105 penggiat dan pencinta buku ini mengeluarkan tiga seruan:
PERTAMA, mengecam para pelaku pembakaran buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono, dan menganggapnya sebagai tindakan fasistis, yang bertentangan dengan kemanusiaan dan upaya mencerdaskan masyarakat.
KEDUA, menuntut kepada Presiden Republik Indonesia untuk menjamin kebebasan berpendapat dan menindak tegas mereka yang menciderai kebebasan sipil di Surabaya.
KETIGA, menuntut dihentikannya tindakan pelarangan buku atas alasan apapun. Bila terdapat perbedaan pandangan, yang diwakili sebuah buku, hendaknya dijawab dengan menerbitkan buku baru, yang mencerminkan pandangan yang berbeda –bukan dengan larangan.
Inilah nama-nama penggiat dan pencinta buku pendukung petisi:
Aboeprijadi Santoso (wartawan)
Agung Dwi Hartanto (pengelola taman bacaan)
Andreas Harsono (wartawan)
Akmal Nasery Basral (wartawan)
Amalia Pulungan (aktivis)
Anton Septian (wartawan)
Andi K Yuwono (aktivis)
Aryo Yudanto (Aktivis IKOHI Jawa Timur)
Agus Bejo Santoso (aktivis)
As Manto
Andre J.O Sumual (wartawan)
Arif Gunawan Sulistyo (wartawan)
Abdul Firman Ashaf (Dosen FISIP Universitas Lampung)
Agung Cahyono Widi (wartawan)
Aria W. Yudhistira (wartawan Seputar Indonesia)
Anissa S Febrina (wartawan Jakarta Post)
Aryati
Badrus Sholeh (UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta)
Basil Triharyanto (wartawan)
Budi Setiyono (Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
Bonnie Triyana (sejarawan-cum- wartawan)
Bustanul Arifin (aktivis Jaringan Videomaker Independen)
Bonnie Setiawan (Institute for Global Justice)
Dr Baskara T Wardaya (guru sejarah)
Chris Poerba (Wartawan)
Chan Chung Tak (pemerhati Indonesia)
Cony Harseno (RIVER, Yogyakarta)
Danial Indrakusuma (aktivis)
Das albantani (Pejuang EcoVillage)
Dandhy Dwi Laksono (wartawan)
Devi Fitria (wartawan)
Desantara Joesoef (Penerbit Hasta Mitra)
Derry Putera (wartawan)
Darma Ismayanto (wartawan)
Dasa Rudiyanto (aktivis)
Faiza Hidayati Mardzoeki (aktivis perempuan)
Firdaus Cahyadi (Knowledge Sharing Officer-Yayasan SatuDunia)
Fahri Salam (wartawan)
Firdaus Mubarik
Fahmi Faqih (penyair)
Firliana Purwanti (Hivos)
Frans Padak Demon (wartawan)
Dr Gerry van Klinken (sejarawan, KITLV, Leiden)
Goenawan Mohamad (wartawan senior)
Heri Latief (penyair)
Hamzah Sahal (PP Lakpesdam NU)
Halim HD. (Networker Kebudayaan, Forum Pinilih, Solo)
Hendayana Musaleft (Aktivis Komite Aksi Mahasiswa Pelajar Pemuda
Cilograng, Banten)
Iwan Samariansyah (wartawan)
Ibrahim Isa (Wertheim Stichting, Belanda)
Irina Dayasih (aktivis perempuan)
Irham Ali Saifuddin (Pesantren Nurulhuda, Garut)
Irma Dana (penulis)
Imam Nasima (peneliti PSHK)
Imam Shofwan (wartawan)
Imas Nurhayati
Indah Nurmasari (wartawan)
Ibnu Adam Avicena (dosen STAIN Banten)
Johanes Lewi Nugroho (aktivis sosial)
Krisno Winarno (mahasiswa sejarah Undip, Semarang)
Lexy Rambadetta (produser film dokumenter)
Lisa Febriyanti (produser film dokumenter)
Lolly Suhenty
Maria Dian Nurani
Mawie Ananta Jonie (penyair eksil di negeri Belanda)
M Faishal Aminuddin (sejarawan, dosen Fisip Unbraw)
M Abduh Aziz (Dewan Kesenian Jakarta)
Markus Kajoi (KIPRa Papua)
MF Mukti (aktivis Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
M Yamin Panca Setia (wartawan)
M Akbar Wijaya (mahasiswa sejarah Undip, Semarang)
Nezar Patria (Ketua Umum AJI)
Nurul Kodriati (health economist)
Ngurah Suryawan (sejarawan)
Nong Darol Mahmada (aktivis)
Pratono (aktivis Kronik Filmedia Semarang)
Rina Kusuma
Rivki Maulana Priatna (Mahasiswa jurnalistik Fikom Unpad)
Ririn Sefsani (Walhi)
Patra M Zen (Direktur YLBHI)
Rahung Nasution (film maker)
R Nugroho Bayu Aji (alumnus Departemen Sejarah Unair, Surabaya)
Rukardi Ahmadi (wartawan)
Siswa Santoso (peneliti, alumnus Universiteit van Amsterdam)
Sijo Sudarsono (ISAI)
Sapariah Saturi (wartawan)
Suar Suroso (penyair eksil, China)
Tata Septayuda Purnama (wartawan)
Teguh Santosa (wartawan)
Tyson Tirta (mahasiswa sejarah UI)
Tri Agus Siswowiharjo (aktivis)
Taufik Andrie (wartawan)
Theresia Mike Verawati (Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan
Demokrasi)
Tjiu Hwa Jioe
Triana Dyah (Librarian)
Veralin Septyana (karyawan swasta – periklanan)
Dr Willy R. Wirantaprawira (Executive Director ASEAN Institute, Jerman)
Wilson (sejarawan)
Wahyu Susilo (aktivis-cum- sejarawan)
Yerry Wirawan (Mahasiswa PhD EHESS, Sorbone, Paris)
Yudho Raharjo (wartawan)
Y.T.Taher (pelaku sejarah, menetap di Australia)
Y.L. Franky (aktivis)
Zen Rachmat Soegito (sejarawan)

Pelbagai profesi penggiat buku bersatu menyerukan kecaman atas aksi pembakaran buku di Surabaya. Ini untuk ketiga kalinya para pencinta buku ini pasca reformasi mengeluarkan statemen melawan pembakaran buku, yakni pada 2001, 2007, dan kini 2009.

Pernyataan sikap atas pembakaran buku ini dipicu oleh aksi Front Anti Komunis di Surabaya membakar buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono pada 2 September 2009 di depan kantor Harian Jawa Pos di Surabaya. Guru Besar Ilmu Sejarah Prof. Dr. Aminuddin Kasdi ikut dalam pembakaran dan mengatakan bahwa sejarah adalah milik pemenang. Mereka membakar buku sebagai reaksi terhadap kolom serial wartawan Jawa Pos Dahlan Iskan tentang Soemarsono, “Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya.”

“Kami prihatin dengan pembakaran buku itu kendati kami belum tentu sepenuhnya setuju dengan isi buku tersebut. Tapi kebebasan berpendapat, baik lisan maupun tulisan, dijamin oleh UUD 1945. Pembakaran buku Soemarsono mengulang kembali aksi fasisme Nazi yang juga membakar buku-buku karya Sigmund Freud, Albert Einstein, Thomas Mann, Jack London, HG Wells serta berbagai cendekiawan lain. Nazi menganggap buku sebagai musuh mereka,” demikian salah satu bunyi keprihatinan pamflet pernyataan sikap itu.

Ke 105 penggiat buku ini juga prihatin atas aksi yang dilakukan sekelompok orang, yang memakai nama Islam namun melakukan tindakan tercela pada bulan Ramadhan, bulan di mana Allah pertama kali menurunkan perintah membaca kepada Nabi Muhammad SAW. Buku semestinya dibaca, bukan untuk dibakar.

Tak lupa, penggiat dan pencinta buku ini menyayangkan pernyataan Aminuddin Kasdi. Pernyataan sejarah hanya milik pemenang tak sepantasnya dikatakan oleh seorang guru besar ilmu sejarah. Penulisan sejarah semestinya mengedepankan keberimbangan fakta dan keberagaman versi, bukan monopoli satu versi praktik Orde rezim Baru.

Dengan pelbagai keprihatinan itu, ke-105 penggiat dan pencinta buku ini mengeluarkan tiga seruan:

PERTAMA, mengecam para pelaku pembakaran buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono, dan menganggapnya sebagai tindakan fasistis, yang bertentangan dengan kemanusiaan dan upaya mencerdaskan masyarakat.

KEDUA, menuntut kepada Presiden Republik Indonesia untuk menjamin kebebasan berpendapat dan menindak tegas mereka yang menciderai kebebasan sipil di Surabaya.

KETIGA, menuntut dihentikannya tindakan pelarangan buku atas alasan apapun. Bila terdapat perbedaan pandangan, yang diwakili sebuah buku, hendaknya dijawab dengan menerbitkan buku baru, yang mencerminkan pandangan yang berbeda –bukan dengan larangan.

Inilah nama-nama penggiat dan pencinta buku pendukung petisi:

Aboeprijadi Santoso (wartawan)

Agung Dwi Hartanto (pengelola taman bacaan)

Andreas Harsono (wartawan)

Akmal Nasery Basral (wartawan)

Amalia Pulungan (aktivis)

Anton Septian (wartawan)

Andi K Yuwono (aktivis)

Aryo Yudanto (Aktivis IKOHI Jawa Timur)

Agus Bejo Santoso (aktivis)

As Manto

Andre J.O Sumual (wartawan)

Arif Gunawan Sulistyo (wartawan)

Abdul Firman Ashaf (Dosen FISIP Universitas Lampung)

Agung Cahyono Widi (wartawan)

Aria W. Yudhistira (wartawan Seputar Indonesia)

Anissa S Febrina (wartawan Jakarta Post)

Aryati

Badrus Sholeh (UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta)

Basil Triharyanto (wartawan)

Budi Setiyono (Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)

Bonnie Triyana (sejarawan-cum- wartawan)

Bustanul Arifin (aktivis Jaringan Videomaker Independen)

Bonnie Setiawan (Institute for Global Justice)

Dr Baskara T Wardaya (guru sejarah)

Chris Poerba (Wartawan)

Chan Chung Tak (pemerhati Indonesia)

Cony Harseno (RIVER, Yogyakarta)

Danial Indrakusuma (aktivis)

Das albantani (Pejuang EcoVillage)

Dandhy Dwi Laksono (wartawan)

Devi Fitria (wartawan)

Desantara Joesoef (Penerbit Hasta Mitra)

Derry Putera (wartawan)

Darma Ismayanto (wartawan)

Dasa Rudiyanto (aktivis)

Faiza Hidayati Mardzoeki (aktivis perempuan)

Firdaus Cahyadi (Knowledge Sharing Officer-Yayasan SatuDunia)

Fahri Salam (wartawan)

Firdaus Mubarik

Fahmi Faqih (penyair)

Firliana Purwanti (Hivos)

Frans Padak Demon (wartawan)

Dr Gerry van Klinken (sejarawan, KITLV, Leiden)

Goenawan Mohamad (wartawan senior)

Heri Latief (penyair)

Hamzah Sahal (PP Lakpesdam NU)

Halim HD. (Networker Kebudayaan, Forum Pinilih, Solo)

Hendayana Musaleft (Aktivis Komite Aksi Mahasiswa Pelajar Pemuda

Cilograng, Banten)

Iwan Samariansyah (wartawan)

Ibrahim Isa (Wertheim Stichting, Belanda)

Irina Dayasih (aktivis perempuan)

Irham Ali Saifuddin (Pesantren Nurulhuda, Garut)

Irma Dana (penulis)

Imam Nasima (peneliti PSHK)

Imam Shofwan (wartawan)

Imas Nurhayati

Indah Nurmasari (wartawan)

Ibnu Adam Avicena (dosen STAIN Banten)

Johanes Lewi Nugroho (aktivis sosial)

Krisno Winarno (mahasiswa sejarah Undip, Semarang)

Lexy Rambadetta (produser film dokumenter)

Lisa Febriyanti (produser film dokumenter)

Lolly Suhenty

Maria Dian Nurani

Mawie Ananta Jonie (penyair eksil di negeri Belanda)

M Faishal Aminuddin (sejarawan, dosen Fisip Unbraw)

M Abduh Aziz (Dewan Kesenian Jakarta)

Markus Kajoi (KIPRa Papua)

MF Mukti (aktivis Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)

M Yamin Panca Setia (wartawan)

M Akbar Wijaya (mahasiswa sejarah Undip, Semarang)

Nezar Patria (Ketua Umum AJI)

Nurul Kodriati (health economist)

Ngurah Suryawan (sejarawan)

Nong Darol Mahmada (aktivis)

Pratono (aktivis Kronik Filmedia Semarang)

Rina Kusuma

Rivki Maulana Priatna (Mahasiswa jurnalistik Fikom Unpad)

Ririn Sefsani (Walhi)

Patra M Zen (Direktur YLBHI)

Rahung Nasution (film maker)

R Nugroho Bayu Aji (alumnus Departemen Sejarah Unair, Surabaya)

Rukardi Ahmadi (wartawan)

Siswa Santoso (peneliti, alumnus Universiteit van Amsterdam)

Sijo Sudarsono (ISAI)

Sapariah Saturi (wartawan)

Suar Suroso (penyair eksil, China)

Tata Septayuda Purnama (wartawan)

Teguh Santosa (wartawan)

Tyson Tirta (mahasiswa sejarah UI)

Tri Agus Siswowiharjo (aktivis)

Taufik Andrie (wartawan)

Theresia Mike Verawati (Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan

Demokrasi)

Tjiu Hwa Jioe

Triana Dyah (Librarian)

Veralin Septyana (karyawan swasta – periklanan)

Dr Willy R. Wirantaprawira (Executive Director ASEAN Institute, Jerman)

Wilson (sejarawan)

Wahyu Susilo (aktivis-cum- sejarawan)

Yerry Wirawan (Mahasiswa PhD EHESS, Sorbone, Paris)

Yudho Raharjo (wartawan)

Y.T.Taher (pelaku sejarah, menetap di Australia)

Y.L. Franky (aktivis)

Zen Rachmat Soegito (sejarawan)

5 Comments

teguh budi - 08. Sep, 2009 -

Teruskan perjuangan ….
Jangan ada kata sesal, sebelum pembakar buku menyesali perbuatannya..

Pustakawan - 08. Sep, 2009 -

Salam Solidaritas!!

listiyono santoso - 09. Sep, 2009 -

Salam
saya pernah membuat tulisan tentang STigmatisasi dan Vandalisme dunia Pemikiran kita di Kompas (lupa tahunnya terlalu lama) serta Preseden buruk Pembakaran Buku (surabaya post) saat kasus sweeping buku2 kiri….saya pikir masyarakat beradab tidak akan menghadirkan perilaku tidak beradab ketika tidak setuju dengan sebuah pikiran..pikiran harusnya dilawan dengan pikiran.buku dilawan dengan buku..tapi nyatanya dalam alam pikiran global ini masih saja ada orang yang memaksakan kehendak berbuat vandalis..teruslah mencerdaskan orang lain dengan buku, tidak sepakat dengan isinya buat buku baru..membakar itu perilaku bar-bar..primitif.salam kecerdasan.

Petrik Matanasi - 09. Sep, 2009 -

aku bersama kalian para penggiat BUKU… jangan sampai ada pembakaran buku lagi!!!

Aku - 09. Sep, 2009 -

Yang membakar buku2 itu hanya trbawa emosi dari beberapa orang ..yang ingin menutupi kekurangannya sendiri..apa mereka juga nggak pernah berbuat salah ?
Pasti mereka yang yang tidakannya sering dikecam masyarakat saat ini ingin mencari “pembenaran ” dirinya dengan mencari kekurangn orang lain yang belum tentu bersalah. Biar kayaknya dia yang paling suci gitu lho..Kayak teroris yang mengatakan dirinya :PAHLAWAN..demikian juga mereka..
Sebuah pengungkapan dalam sebuah buku sebetulnya bebas aja, kan ini pernyataan Soemarsono dari PKI dilihat dari kacamata dia bukan dari resim Orde Baru..harusnya kita pelajari saja dan anggap sebagai kekayaan kita punya beberapa pendapat dari beberapa pihak..Takut amat sih ama PKI ..
Kalau saya lebih takut sama Noordin M Top..(yang mungkin tindakannya dibenarkan oleh para pembakar BUKU itu)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan