Umat Punk Bedah Buku Punk

IBOEKOE (Jogja) — Banyak orang menilai anak-anak Punk adalah adalah sekumpulan urakan, berandalan jalanan, berdandan aneh dan mengganggu kenyamanan dengan nongkrong di perempatan jalan sambil ngamen.

Demikian cuplikan satu paragraf buku Punk: Fesyen-Subkultur-Identitas karya John Martono dan Arsita Pinandita. Menurut Pinandita yang juga salah satu vokalis boys band CangkangSerigala buku yang digelar diskusinya pada 1 Agustus di Jogja National Museum Yogyakarta ini fokus untuk melihat secara cermat pernak-pernik yang dipakai punker.

Tampil sebagai pembahas adalah peneliti Kunci Cultural Studies Ferdi Thajib dan penulis buku sekaligus direktur penerbit Resist Buku Eko Prasetyo. Sedangkan dosen muda FSRD ISI Jogja, Koskow, bertindak sebagai moderator.

Ferdi dalam diskusi ini mengelaborasi proses pencangkokan identitas punk yang menurutnya lebih banyak diimpor dari Barat.

“Impor mode seperti pakaian boleh, tapi harus tetap dinegosiasikan dengan budaya setempat,” kata Fredi.

Lebih lanjut Fredi mengatakan sebagai identitas, punk bisa dikenakan sebagai tampilan, fesyen, diinternalisasi sebagai suatu ideologi, dicangkokan ke dalam bentuk lokal, diterjemahkan, ditularkan dan dipelajari, dipelintir untuk kepentingan sosial, ekonomi, dan seterusnya,” kata Fredi di hadapan kaum punk yang beberapa di antaranya datang dari luar kota seperti Surabaya.

Eko Prasetyo lebih menukik lagi. Menurutnya, punk sebagai komunitas perlawanan mestilah pintar-pintar mencari ceruk di mana berposisi. “Kalau sama-sama melawan kapitalisme, sesekali dibangun aliansi dengan Al-Qaidah misalnya,” seru Eko.

Bagi Eko, simbol-simbol menjadi sesuatu yang luar biasa memberi pengaruh saat ini. Sebab di sanalah kapitalisme pasar bermain. “Bisa dikuasai nggak simbol-simbol itu,” ujarnya memprovokasi.

Diskusi berakhir saat azan magrib deket museum manggil-manggil. Bubar. Dan selanjutnya, pagelaran musik cadas ala punk pun dimulai. (GM)

Gus Muh

Gus Muh

Pencatat dan Pencatut Dunia Koran