Kathleen Azali: Perpus Pribadi untuk Publik

Pasti banyak yang memiliki perpustakaan pribadi. Namun, membukanya untuk umum, mungkin hanya satu atau dua orang yang berani. Sebab, risikonya, buku koleksi bisa rusak atau bahkan hilang. Di antara yang sedikit itu, ada Kathleen Azali, pengelola Perpustakaan C2O.

kathleen azali_thumbC2O adalah singkatan Cipto 20. Di jalan itulah perpustakaan milik Kathleen Azali berada. Tempat tersebut khas. Meski tak ada papan nama, setiap orang yang lewat pasti langsungngeh. Sebab, dinding depan bangunan itu begitu eye-catching. Ada hiasan mural dengan aneka warna dan bentuk yang ceria.

C2O berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 4 x 15 meter. Ruangan itu dibagi empat. Tak ada sekat yang memisahkan antarruang, kecuali antara ruang tengah dengan dapur.

Meski tanpa sekat, variasi warna dinding sudah menunjukkan perbedaan ruangan. Ada hijau, kuning, dan oranye. Kathleen memang menggunakan warna-warna cerah. Itu menyesuaikan dengan segmen perpustakaannya, yakni anak muda.

Di beberapa sisi, dia menyediakan meja-kursi untuk mereka yang ingin membaca di tempat. Untuk mereka yang suka lesehan, Kathleen menyediakan hamparan alas busa warna-warni plus beberapa bantal kecil. Penataan ruang itu menimbulkan suasana nyaman seolah-olah orang membaca di rumah sendiri. ”Kalau ada yang mau seharian baca buku di sini, boleh aja,” kata cewek kelahiran 7 Agustus 1981 itu.

Kathleen mengaku, ada sekitar 4 ribu judul buku yang dikoleksinya. Jenisnya bermacam-macam. Mulai teori sosial, politik dan budaya, sastra, sampai referensi untuk desain interior. Ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, bahkan Prancis. Semua tertata rapi di rak warna-warni yang ditempel di dinding plus beberapa rak kecil di tengah ruangan.

Menurut Kathleen, sebagian besar bukunya berasal dari koleksi pribadi. Tapi, ada juga yang disumbang kawan-kawannya. ”Waktu awal-awal buka dulu. Makanya, isinya macam-macam. Ada yang nyumbang buku resep juga,” ujar alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) tersebut.

Dia memang punya banyak judul buku yang terbilang langka, sulit dicari di pasaran. ”Memang sengaja saya bikin begitu. Soalnya, kalau banyak di pasaran, buat apa orang datang ke sini,” ujarnya. Dia lantas menyebut beberapa judul buku. Di antaranya, The Savage Mind karya Claude Levi Strauss dan The Practice of Everyday Life milik Michael de Certeau.

Bukan hanya itu. Dia juga berusaha melengkapi koleksinya dengan buku-buku asli milik sastrawan lama Indonesia. ”Sebab, sayang kan kalau nggak dibaca sama anak sekarang,” ujarnya. Sampai saat ini, dirinya sudah dapat sekitar 10 karya Pramoedya Ananta Toer. Dia juga punya karya Marah Rusli. Semua edisi lama, bukan yang cetakan anyar seperti yang dijual di toko-toko buku.

Di perpustakaannya, Kathleen menggunakan metode pengelompokan buku seperti perpustakaan lain. Untuk yang nonfiksi, dia memakai penggolongan standar. Misalnya, kode 00 untuk buku teori umum dan jurnalistik. Kalau 100, itu kode untuk filsafat. ”Gitu-gitu, deh,” ujar gadis yang juga seorang desainer grafis freelance tersebut.

Untuk menambah koleksinya, Kathleen berburu ke pasar buku bekas. Dia juga kerap huntingke Jakarta atau Jogjakarta. Dua kota tersebut memang lebih ”ramah” memberikan akses terhadap para pencinta buku. Tidak jarang pula, dia menitip kepada beberapa temannya yang bepergian ke luar negeri. ”Kalau ada yang mau pesan buku tertentu, bisa. Akan kami carikan, tapi tidak bisa dipastikan bakal ada,” ungkapnya.

Sebenarnya, ide membuka perpustakaan pribadi untuk umum bukan berasal darinya. Sang kakak, Erwin Azali, yang lebih dulu memulai. Sebab, Erwin memiliki cukup banyak buku desain grafis. ”Dulu bernama Good Idea,” kata Kathleen. Tapi, karena sibuk, perpustakaan tersebut tidak terurus. Lantaran dianggap sebagai pencinta buku, Kathleen pun ketiban sampur.

”Karena suka, ya saya anggap proyek senang-senang,” cerita cewek yang serius mengelola C2O sejak setahun lalu itu. Apalagi, setiap buku baru selalu dibaca lebih dulu. Dalam sehari, dia bisa membaca satu buku. Dia juga membuat sedikit review tentang buku tersebut, lalu dipasang di situs khusus perpustakaannya. ”Sekarang agak repot, jadi review-nya udahjarang,” ucapnya.

Namun, belakangan Kathleen mulai merasa kelabakan karena pemasukan tidak sesuai operasional. Buku terus bertambah, sedangkan minat masyarakat yang ingin membaca tidak terlalu besar. Dia pun terus-menerus mengeluarkan duit dari kantong sendiri. Orang tua juga sudah mendesak agar dia segera mengambil keputusan tentang nasib perpustakaannya tersebut. Namun, Kathleen memilih bertahan.

Untuk menambal biaya operasional, dia memang memberlakukan sistem sewa. Setiap buku bisa dipinjam dengan biaya sepersepuluh dari harga buku. Namun, tidak semua bisa dipinjam. Koleksi khusus yang harganya mahal serta sulit mendapatkannya hanya bisa dibaca di tempat. ”Biasanya sih buku desain. Sebab, kalau saya lihat di perpus kampus, sering digunting-gunting,” ungkapnya.

Beberapa kawannya menyarankan untuk menambahkan usaha tambahan yang bisa mendatangkan uang. Misalnya, kafe atau kaus. Namun, Kathleen masih enggan. Cewek berkacamata itu merasa hal tersebut akan mengganggu budaya membaca yang sudah dirintisnya. ”Saya nggak tahu. Rasanya nggak rela kalau akhirnya perpustakaannya kalah oleh yang lain,” katanya lantas tertawa.

Kathleen pun tak ingin memperbanyak koleksi komik. Dia tak mau perpustakaannya sama seperti tempat persewaan komik lain. Kalaupun ada komik, dia memilih yang tak terlalu pasaran. Misalnya, komik Prancis.

Saat ini, yang bisa dia lakukan adalah menambah aktivitas di perpustakaan itu. Yakni, nonton film bareng setiap Sabtu dan Minggu. Yang diputar adalah film-film indie atau film yang tidak masuk ke bioskop umum.

”Lumayan sih. Kalau ada pemutaran film, banyak yang datang. Biasanya kami sambung dengan diskusi ramai-ramai,” tutur cewek yang dibantu seorang pegawai untuk mengelola perpustakaan tersebut.

Tujuan utama Kathleen membuka Perpustakaan C2O memang tidak untuk memperoleh profit. Dia ingin menularkan minat baca kepada banyak orang. Sekaligus, memberi akses kepada masyarakat untuk membaca buku yang mungkin jarang beredar di Surabaya.

Karena itu, dia berusaha agar tujuan tersebut tidak terganggu. ”Sampai kapan? nggak tahu. Sekuatnya mungkin,” ucapnya lantas tersenyum.

* Artikel ini disalin ulang dari harian Jawa Pos edisi Jumat, 28 Agustus 2008 dengan judul “Awalnya Proyek Senang-Senang, Kini Kelabakan”. Terimakasih pada Kathleen yang sudah menjaga budaya baca di Surabaya dengan ketekunan.

Gus Muh

Gus Muh

Pencatat dan Pencatut Dunia Koran