-->

Perpustakaan Toggle

Taman Baca Masriyatul Ilmi Jombang

Oleh Fahrudin Nasrulloh

Sejauh mana tradisi literasi atau budaya membaca dan menulis bagi anak-anak dapat ditumbuhkan di Jombang? Barangkali hanya beberapa gelintir yang ada di kota santri ini. Salah satunya adalah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Masriyatul Ilmi di Keboan, Ngusikan, Jombang, yang diasuh oleh Nanik Masriyah dan Lilik Zaenab.

Taman Baca Masriyatul Ilmi Jombang

Taman Baca Masriyatul Ilmi Jombang

Sehubungan dengan itu, sejumlah pegiat dari Komunitas Lembah Pring (KLP) Jombang, yang diketuai Jabbar Abdullah, mengunjungi TBM ini pada Minggu, 1 Maret 2009. Selain bergiat di dunia sastra-budaya, KLP juga mengembangkan jaringan dengan berbagai pihak untuk membudayakan tradisi literasi. Inspirasi ini ditimba saat KLP mengikuti even Ode Kampung 3 di Komunitas Rumah Dunia-nya novelis Gola Gong, di Serang, Banten, pada akhir Desember 2008.

TBM Masriyatul Ilmi secara terbuka didirikan Nanik Masriyah pada 1 Januari 2008, meski sebelumnya TBM ini secara non-formal telah ramai dikunjungi sejak sekitar tahun 2000. Bu Nanik, yang juga adalah guru di SMPN Kudu ini, sebenarnya sudah lama bercita-cita bagaimana minat membaca dan menulis ditanamkan sejak dini pada anak. Semenjak 2006, ia juga dibantu dua saudaranya: Muji Murnining Ati dan Mentrik Sulih Puji Rahayu, untuk memasyarakatkan TBM ini yang pada mulanya hanya semacam kelompok belajar biasa.

Jumlah anak-anak yang menjadi anggota resmi adalah 301 anak. Namun jika ditotal secara keseluruhan bisa mencapai 600-an anak. Tiap sore TBM ini berjubel dikunjungi, terutama pas hari Minggu. Bu Nanik, yang alumnus 1993 Sastra Indonesia Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini, sangat terkesan dan menimba inspirasi langsung dari tradisi membaca masyarakat Jepang di mana pada 1994 ia terpilih menjadi salah satu (dari 27 orang/propinsi) peserta Pemuda Karang Taruna (bidang agrikultura) se-Indonesia untuk studi banding ke negeri Samurai itu selama 11 bulan. Juga, di negeri yang sama, pada 1998, ia termasuk dari 3 peserta yang mewakili Indonesia untuk mengikuti semacam “pelatihan pendampingan” bagi ibu-ibu berprestasi di Indonesia.

TBM Masriyatul Ilmi dapat menjadi percontohan, dengan bukti nyata bagaimana tradisi membaca bisa menjadi suatu “Gerakan Literasi” bahkan di kampung kecil seperti Keboan. Rata-rata mereka berasal dari anak-anak SD, SMP, dan SMA, yang bersekolah di Kudu, Ngusikan, Gedeg, dan Ploso. Semangat dan minat besar mereka terus berkembang pesat di mana para pembinanya juga menyuport dan berupaya terus menambah bahan bacaan. “Yang paling ramai, mereka mengunjungi TBM ketika masa libur sekolah. Bahkan kami sempat bingung campur bangga saat koleksi perpustakaan kami ludes dipinjam,” cerita Bu Zaenab. “Karena itu, kami kerap pula merogoh kocek sendiri untuk menambah koleksi perpus kami,” tambah Bu Nanik.

TBM ini terbuka untuk umum di waktu sore mulai pukul 15.00-17.00 WIB di hari Senin-Sabtu, dan pada Minggu atau hari libur nasional mulai pukul 08.00-13.00 sampai 15.00-17.00 WIB. Sejumlah buku yang paling diminati anak-anak di TBM Masriyatul Ilmi adalah tetralogi Andrea Hirata, cerita detektif Conan, novel Ayat-ayat Cinta, cerita bergambar, dan puluhan fiksi islami remaja maupun dewasa.

Dalam kesempatan itu, ketua KLP Jabbar Abdullah, menyerahkan cinderamata berupa 1 novel berjudul Dunia Kecil karya A. Syauqi Sumbawi, beberapa buletin komunitas, dan Peta Ibu Kota Majapahit yang dikopi-ulang dari buku babon Bukti-bukti Kejayaan Majapahit Muncul Kembali (penyusun Prof. Moendardjito dkk). KLP juga akan mengupayakan bagi TBM ini (juga TBM-TBM lain di Jombang) untuk mendapatkan sumbangan bahan bacaan dengan membuka jaringan ke banyak pihak, baik dari perorangan, penerbit, komunitas literasi, maupun dari instansi terkait. “Kunjungan KLP kali ini cukup berkesan, mereka akan membantu kami secara berkala, terutama dalam hal pengembangan mading, suplai buku, jurnalistik, dan pelatihan bercerita dan menulis cerita,” tutur Bu Nanik.

Dua hari kemudian, 3 Maret 2009, KLP telah mengantongi donator buku dari penerbit Pustaka Pujangga, Lamongan. Direktur penerbit ini, Nurel Javissyarqi, menyumbang 18 buku dan 3 jurnal kebudayaan The Sandour. TBM Masriyatul Ilmi sangat berterima kasih atas sokongan yang tak disangka-sangka tersebut. “Kami juga terbuka bagi penyumbang buku lain. Dan kami berharap TBM lain juga sama-sama bergeraka seperti kami,” pungkas Bu Zaenab.

*Fahrudin Nasrulloh, pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang

Dinukil dari Radar Mojokerto, Serambi Budaya, Minggu, 15 Maret 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan