-->

Kronik Toggle

Syafii Maarif: Sumpur Kudus Baru Merdeka Tahun 2005

Dalam paparannya di depan peserta bedah buku Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah karya Syafii Maarif di Gedung PP Muhammadiyah Cikditiro Yogyakarta (16/7), Dosen UGM Fajrul Falaakh mengutip salah satu fragmen refleksi pemikiran Syafii Maarif ihwal paradoks keagamaan dan realitas sosial. Fragmen itu ialah ketika listrik baru masuk Sumpur Kudus, Sawahlunto/Sijunjung, Sumatera Barat, pada tahun 2005.

Bagi Syafii, kenyataan itu getir sekaligus ironis. Listrik adalah simbol dari kemerdekaan, baik dilihat dari sisi sosial, ekonomi, maupun kultural. Dan listrik itu baru masuk ke tanah kelahirannya pada tahun 2005. Artinya, baru pada tahun itulah Sumpur Kudus merdeka.

“Bayangkan, tanah tumpah darah yang telah melahirkan tokoh Muhammadiyah sekelas Syafii baru bisa menikmati listri pada tahun 2005. Apanya yang salah di sini: Muhammadiyah, Islam, pemerintah, atau siapa. Sangat paradoks. Syafii tak perlu mengutip data dari mana-mana untuk melihat bagaimana paradoks keagamaan dan realitas sosial itu terjadi,” kata pakar hukum tata negara UGM dan pemikir NU ini disambut tepuk tangan peserta bedah buku. (GM)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan