-->

Lainnya Toggle

Sekali lagi, Geger Radya Pustaka

Oleh Heri Priyatmoko

Museum Radyapustaka Surakarta menempati Gedung Kadipolo di Jl. Slamet Riyadi 275. Bagian depan museum dengan patung Rangga Warsita.

Museum Radyapustaka Surakarta menempati Gedung Kadipolo di Jl. Slamet Riyadi 275. Bagian depan museum dengan patung Rangga Warsita.

Ronggowarsito. Sebuah nama yang menggetarkan dunia kesusastraan Jawa di abad 19. Nama itu selalu dikenang sebagai pujangga besar yang karya-karyanya tetap abadi sepanjang masa. Dari pena pujangga ampuh Keraton Kasunanan tersebut mengalir beragam karya sastra kelas berat yang sarat nilai humaniora. Setumpuk bukunya mengulas falsafah, lakon wayang, sejarah, primbon, ilmu kebatinan, kisah raja, dongeng, syair, adat kesusilaan, dan lainnya.

Daun kalender menunjuk angka 24 Desember 1873. Masyarakat Surakarta berkabung. Pujangga hebat ini tutup nyuswa (uisa). Untuk mengenang kiprahnya dalam dunia tulis-menulis, maka pada 11 November 1953, Presiden Soekarno mendirikan patung dada Ronggowarsito persis di halaman depan Museum Radya Pustaka Surakarta.

Museum tertua nomor dua di Nusantara ini memiliki perpustakaan yang mengoleksi mahakarya Ronggowarsito dan pujangga lainnya. Keberadaan buku-buku kuno dalam almari kaca itu seolah memaksa pembaca menengok masa lalu sejenak. Bukan sekadar bernostalgia, melainkan membuka ruang kesadaran agar kita selalu belajar dari kearifan sejarah segala peristiwa di tempo dulu. Akhir-akhir ini, bila pecinta naskah kuno dan sejarah Jawa masuk ke perpustakaan Museum Radya Pustaka (MRP), bukan kenikmatan yang justru diperoleh, melainkan keterkejutan atas kabar yang tak sedap. Yaitu, puluhan masterpiece buku kuno diketahui hilang dari tempat penyimpanannya! Artinya, jejak sejarah penting abad silam pun ikut terkuburkan.

Terkisah, Nancy Florida pada bulan Februari 2009, waktu kembali ke Indonesia, mengambil kesempatan itu untuk membaca di perpustakaan MRP guna mencocokkan dan memperbaiki catatan yang dibuatnya 25 tahun silam. Pada saat itu baru diketahui bahwa 61 naskah kuno yang telah dia baca dulu sudah tidak dapat ditemukan lagi. Entah ”ketelisut” atau hilang.

Sepulang ke Amerika dia mengirim daftar ke-61 naskah itu kepada petugas MRP, lengkap dengan catatan tentang judulnya, pengarangnya, tahun dibuatnya, ukurannya, dan nomor halamannya, dengan harapan bahwa daftar itu dapat membantu pelacakan naskah yang hilang itu. Ternyata di antara naskah yang hilang tersebut ada karya-karya agung yang tak terhingga nilainya. Misalnya naskah tulisan tangan pujangga karaton R Ng Ranggawarsita; sebuah versi Kekawin Bratayuda yang dibuat tahun 1783 untuk Pakubuwana IV (waktu masih anak), dengan gambar-gambar dan iluminasi prada emas; Serat Yusup, yang dibuat pada tahun 1729 untuk Pakubuwana II di Kartasura atas perintah neneknya, Ratu Pakubuwana, yang juga penuh gambar-gambar; dan sebagainya.

Beberapa tahun terakhir, museum yang didirikan Patih Sosrodiningrat IV ini menjadi sorotan nasional. Sebelum 2006, museum yang kaya akan tinggalan sejarah berbagai periode (klasik, Islam, kolonial) walau letaknya di Kota Budaya, namun saban hari sepi pengunjung. Pengunjung yang datang sekadar kepingin diramal Mbah Hadi. Kemudian pada 2007, masyarakat digemparkan atas hilangnya arca klasik. Para pelakunya justru ”orang dalam” yang berkonspirasi dengan seorang pialang tenar yang malang-melintang sebagai agen barang antik. Baru saja, berita lenyapnya beberapa naskah kuno kian meyakinkan kita bahwa museum bukan lagi tempat yang paling aman untuk menyimpan koleksi warisan leluhur. Jika demikian, sebetulnya sejauh mana kita bersungguh-sungguh menghargai naskah kuno sebagai jejak peradaban?

Naskah Jawa merupakan suatu gejala global. Di seantero dunia terdapat koleksi naskah-naskah yang berasal dari Jawa, baik di perpustakaan universitas, museum, dan perpustakaan nasional. Tentu saja koleksi naskah penting dilestarikan, baik di perpustakaan maupun menjadi koleksi pribadi, tetapi keberadaan koleksi naskah Jawa di luar negeri juga tidak kalah penting. Saya teringat pernyataan novelis Ceko Milan Kundera, ”Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.” Kalimat itu tidak berlebihan, dan sejarah telah banyak membuktikannya. Sebab itu, hasil kebudayaan tertulis suatu bangsa tidak boleh diremehkan.

Geger hilangnya buku-buku langka di Museum Radya Pustaka bukanlah kali pertama di Indonesia. Peristiwa serupa pernah terjadi di Museum Fatahillah. Bambang Budi Utomo (2008) mencatat, buku yang raib berjudul Oud en Niew Oost-Indien karangan Valentijn yang terbit 1724-1726. Karya yang seluruhnya terdiri atas 8 jilid itu di seluruh dunia hanya ada beberapa kopi. Satu kopi dari buku tersebut menjadi koleksi Museum Fatahillah, tetapi kini raib entah ke mana. Ironisnya, hilangnya tidak sekaligus, tetapi buku demi buku, berlangsung sejak 2005 hingga ketahuan hilang 2006. Tidak lama setelah diketahui hilang, seseorang menghadiahkan fotokopi buku-buku tersebut kepada Museum Fatahillah. Sayangnya, kasus tersebut tidak dilaporkan kepada pihak berwajib, apalagi terendus media massa.

Jaya Suprana dalam esainya yang menantang, Buku: Sebuah Kotemplasi yang dibukukan dalam Buku Membangun Kualitas Bangsa (Kanisius, 1997), menulis, ”Kadang-kadang buku memang terlalu dikultuskan menjadi semacam berhala. Padahal pada dasarnya, buku sama sekali bukan suatu benda tujuan akhir, melainkan sekadar suatu media demi menunaikan fungsi yang lebih utama, yaitu menyampaikan informasi bagi para pembaca. Yang utama sebenarnya bukan bentuk apalagi nilai ekonomis sebuah buku, melainkan isi sang buku itu!”

Jaya Suprana menambahi, yang utama sebetulnya bukan membaca, melainkan mengerti makna isi sebuah buku kemudian didayagunakan untuk satu langkah karsa dan karya nyata produktif dan konstruktif.

Oleh karena itu, betapa besar kerugian kita lantaran setumpuk ingatan, kenangan, kreativitas dalam naskah itu tidak bisa dinikmati secara kolektif lagi. Masyarakat tidak dapat belajar ilmu pengetahuan lokal yang terkandung dalam naskah yang hilang dan mencomot kearifan lokal di dalamnya untuk bisa dijadikan pijakan bertindak di hari esok. Maka, pihak berwajib harus turun tangan melacak ”kitab-kitab pusaka” di mana kini berada. Ini merupakan bentuk pembuktian kesungguhan kita menghargai naskah kuno sebagai jejak peradaban. Kita mesti sadar, manusia tidak lepas dari lilitan epidemi amnesia atas kejayaan masa lalu. Dari buku-buku itulah manusia dapat selamat dari apa yang dikatakan Milan Kundera.

* Heri Priyatmoko, Kolumnis Solo Tempo Doeloe, peneliti sejarah di Kabut Institut Solo

Diketik dari Harian Jawa Pos Edisi 12 Juli 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan