-->

Kronik Toggle

Scott Merrillees: Penulis Buku Batavia Kesamber Bom Batavia

Scott Merrillees. Foto: http://bataviase.files.wordpress.com/

Scott Merrillees. Foto: http://bataviase.files.wordpress.com/

Scott Merrillees, penulis buku Batavia in Nineteenth Century Photographs, secara mengagetkan menjadi salah satu korban kecipratan bom “Mega Kuningan” yang menghantam Hotel Ritz-Carlton dan Hotel JW Marriott di Jumat pagi yang benderang di pekan ketiga Juli 209.

Mendengar nama Scott ada di deretan korban bom “Kuningan Jilid III”, barangkali kita berpikir ulang betapa teror memang bersifat tak pandang bulu. Bom itu juga tak mau tahu bahwa yang keserimpet itu adalah orang yang mencintai Jakarta dan Indonesia dengan sepenuh-penuh hatinya.

Wawancara dengan Mingguan Tempo pada 2001 di bawah ini barangkali bisa menjadi refleksi bagaimana kecintaan Scott itu atas Indonesia umumnya dan Jakarta pada khususnya.

Majalah TEMPO Edisi 47/XXIX 22 Januari 2001

Scott Merrillees: Saya Ingin Membangun Mesin Waktu…

“Senja baru saja turun ketika kuda kami memasuki Batavia. Saya begitu tercekat atas kesunyiannya. Batavia seperti kota orang mati. Kami melewati alun-alun luas yang lengang. Ada bekas kastil di situ. Setelah kereta melalui sebuah jembatan besar, tampak balai kota. Bangunannya mengingatkan saya gaya konstruksi abad 17 …”

Pada 1862, seorang pelancong bertutur demikian melalui buku Batavia in Nineteenth Century Photographs. Foto sudut-sudut Batavia seabad silam tampil sepi. Jalan Matraman, Kebon Sirih, Harmoni, Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Pintu Besar—semua yang kini penuh sesak, hiruk-pikuk, dan merupakan sumber stres warga Jakarta karena kemacetan.

Pada masa itu, Batavia tampak lengang. Ngungun. Di jalan tanah lebar itu hanya terlihat bekas alur roda ban delman. Serasa terdengar sayup-sayup suara ketipak kaki kuda. Bangunan-bangunan besar, yang kukuh dan indah, bisa bernapas lega. Tiba-tiba kita sadar, Jakarta tadinya adalah kota yang dikonsepkan hanya untuk berpenghuni 500 ribu orang.

Foto itu hasil rekaman Walter B. Woodbury dan James Page—dua fotografer Inggris—yang menginjakkan kaki di Batavia pada 18 Mei 1857. Mereka membuka studio di rumah seorang nyonya berkebangsaan Skotlandia di Jalan Medan Merdeka (dulu areal Koningsplein). “Mama, suasana Koningsplein seperti Hyde Park,” demikian tulis Woodbury dalam sepucuk surat.

Woodbury dan Page adalah sepasang pengelana. Foto-fotonya tentang Indonesia telah diterbitkan KITLV Press Belanda, dengan judul Woodbury & Page: Photographers Java. Tetapi baru kali ini masyarakat bisa menikmati kompilasi foto mereka tentang Batavia. Semua ini berkat jasa Scot Merrillees, warga kelahiran Australia yang menyediakan waktu selama 10 tahun untuk berburu foto Woodbury dan Page. Padahal, pekerjaan sehari-harinya adalah analisis saham.

Buku ini memuat 155 foto yang sebagian besar milik Merrillees. Beberapa buah foto adalah pinjaman dari Troppen Museum di Amsterdam, Museum of Ethnology di Rotterdam, dan koleksi KITLV. Usahanya untuk mengenal bangunan di Batavia tempo doeloe menjadikan Scott bagai seorang sejarawan amatir. Setiap Sabtu, Merrillees menenggelamkan diri di lantai enam Perpustakaan Nasional Jakarta, yang menyimpan ratusan buku tua koleksi Museum of Batavian Society of Arts and Sciences dan lantai 4, yang terdapat ribuan surat kabar tua seperti Java Bode.

Kecintaan Scott Merrillees, President Director Regional Consumer Products Analyst pada Jakarta di masa lalu ini, terlihat dari ruang kerjanya di PT BNP Paribas Peregrine. Setiap jengkal dinding kantor Merrillees dihias berbagai litografi Batavia. “Tapi istri saya mengatakan, setelah buku saya terbit, saya harus setop memburu foto, perhatian harus kembali ke keluarga,” kata ayah dua anak, Maxi dan Nicole, ini tertawa.

Berikut obrolan wartawan TEMPO Gita W. Laksmini dengan Scott Merrillees.

Kapan Anda mulai terpikat karya Woodbury dan Page?

Saya mengenal Woodbury dan Page pertama kali sepuluh tahun silam dari buku berjudul Tukang Potret, yang diterbitkan di Belanda untuk merayakan ulang tahun ke-150 Hindia Belanda. Kemudian di San Francisco pada 1991, ada pameran fotografi Indonesia, termasuk karya Woodbury dan Page. Saya membeli katalog yang memuat karya mereka dan sejak saat itu jatuh cinta.

Pada 1994, ada sebuah buku berjudul Photographers Java-Woodbury and Page, karya seorang peneliti Amerika Serikat yang tinggal di Belanda bernama Steven Wachlin. Buku ini menghimpun foto Woodbury dan Page tentang berbagai daerah di Indonesia. Hal tersebut berbeda dengan apa yang saya kerjakan. Saya mengkhususkan diri pada karya Woodbury dan Page di Batavia.

Bagaimana Anda mengoleksi foto Woodbury ini?

Ini soal ketekunan saja. Ada cara kita dapat berlangganan katalog foto kuno dari balai lelang semacam Christie dan Sotheby di London, Swann Gallery di New York, Prancis, Jerman, Belanda. Tapi cara itu kadang tak menarik minat saya. Kita juga bisa mencari lewat para dealer. Tapi tidak banyak dealer foto Batavia. Informasi tentang dealer foto kuno Batavia disebarkan dari mulut ke mulut. Butuh waktu lama untuk mencari tahu para dealer tersebut. Karena itu, proses mengoleksi merupakan sebuah perjalanan yang panjang. Beberapa foto bahkan Anda peroleh langsung dari keturunan Woodbury.

Bisa Anda ceritakan prosesnya?

Awalnya adalah melalui Steven Wachlin. Saat ia mengerjakan riset untuk bukunya, ia menelusuri semua buku petunjuk telepon, mencari nama Woodbury, menghubungi mereka semua. Steven Wachlin akhirnya pada 1994 berkenalan dengan putri Woodbury, Lou-Ann Woodbury, melalui Royal Photographic Society di Inggris. Dialah yang kemudian memberikan banyak informasi tentang Woodbury. Dari situlah saya berhubungan dengan Lou-Ann Woodbury. Ia sangat senang karena ada orang yang menaruh perhatian terhadap karya ayahnya, yang sudah bertahun-tahun terlupakan.

Apa komentar putri Woodbury menyaksikan buku Anda ini?

Wah, ia senang sekali karena apa yang dikerjakan oleh ayahnya dihargai orang. Tahun 1860-1880 adalah masa keemasan Woodbury dan Page. Tapi firma fotografi mereka mati pada 1908, setelah mengalami masa-masa kemunduran selama 10-20 tahun. Setelah 100 hingga 125 tahun berlalu, orang kembali menghargai karya Woodbury dan Page. Lou-Ann sendiri usianya sekarang sudah mencapai 79 tahun. Ia sempat berandai-andai kalau saja ayahnya masih hidup, ia yakin ayahnya pasti senang melihat bagaimana orang mengapresiasi karyanya.

Bagaimana perkembangan fotografi di Indonesia abad ke-19?

Waktu itu adalah awal masa fotografi. Kamera baru ditemukan pada 1839. Ketika itu, orang tertarik pada foto pemandangan seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Fotografi adalah alat dokumentasi pengganti fungsi sketsa atau lukisan. Tapi, ketika itu orang tidak memotret kota. Saya belum pernah melihat foto tentang Jakarta di kurun tahun 1840-an. Yang menjadi tren masa itu adalah fotografi potret. Ketika itu semua orang ingin dirinya dipotret. Baru di akhir 1850-an orang mulai memotret kota. Pada paruh akhir abad ke-19 itu, banyak hal yang layak dicatat dalam perkembangan Jakarta, seperti berakhirnya sistem kultur stelsel, sistem perkebunan, dan dimulainya partisipasi pengusaha swasta sejak tahun 1870-an.

Mengapa Anda tidak memfokuskan pada koleksi foto potret?

Memang kala itu Woodbury dan Page banyak memotret hal yang menarik secara etnografis, seperti gadis ronggeng, putri Jawa, pangeran Bali, atau penari topeng. Sekalipun begitu, saya memilih mengoleksi foto bangunan, fotografi arsitektur, topografi. Saya ingin bila pada tahun 2000 ini, kita berkendaraan keliling Jakarta melihat-lihat kota, akan timbul dalam bayangan, seperti apakah kota ini tahun 1860-1870-an. Buku ini adalah mesin waktu pribadi saya, sehingga saya tahu betul seperti apa kota ini di masa lalu. Orang boleh saja bilang, “Scott, bukumu tidak memuat foto-foto orang.” Itu memang bukan tujuan saya. Bagi saya, jelas bahwa saya ingin membangun mesin waktu…. Memang, setelah melihat kumpulan foto di sini, ada perasaan yang berbeda ketika, misalnya, kita lewat di Cafe Batavia. Buku ini memang ingin memberikan imaji virtual pada pembacanya. Saya juga menyertakan deskripsi sebagai pelengkap foto saya. Dengan demikian, pembaca bisa membayangkan energi dan keriaan yang terjadi di tempat-tempat tersebut.

Dengan membaca buku ini, orang bisa sadar, bangunan apa saja yang sudah tidak ada lagi saat ini.

Bagaimana Anda mencari tahu asal-usul bangunan yang ada dalam foto….

Saya harus mengoleksi begitu banyak buku dan memanfaatkan perpustakaan di Belanda maupun Jakarta. Saya juga mesti membeli majalah dan buku dari Belanda dan banyak dibantu oleh seorang romo (pastor) Jesuit bernama Adolph Heuken, penulis buku Historical Sites Old Jakarta. Romo Heuken memiliki perpustakaan yang komplet. Misalnya foto yang satu ini (Scott menunjuk gambar tentang sebuah bangunan rumah di bukunya). Bila dicermati, ada nama pemiliknya tertera di dinding tembok rumahnya, M.P. Pells. Ini tantangan bagi saya untuk menemukan siapakah M.P. Pells ini. Saya kemudian mencari dari kumpulan surat kabar dan buku tua di lantai 6 Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba, Jakarta. Pernah ketika saya mencari tahu sebuah firma dagang bernama Van Bloytand and Cox, yang bangunannya ada dalam foto, saya hampir frustrasi karena buntu. Namun, suatu hari, Romo Heuken dikirimi surat dari seseorang bernama Henry Cox. Orang itu bertanya apakah Romo Heuken mengenali bangunan dalam foto tua yang ia miliki. Romo Heuken meneruskan surat tersebut kepada saya. Ternyata, saya memiliki foto yang sama seperti yang dimiliki oleh Henry Cox. Foto tersebut adalah foto bangunan yang terletak di wilayah di Jalan Kalibesar Timur III dan kini berfungsi sebagai Koperasi Angkatan Laut. Sekarang memang bangunan tua itu sudah musnah, tetapi masih ada yang tersisa. Saya kemudian memotret bangunan tersebut dan mengirimkannya ke Henry Cox. Begitu senangnya, ia lantas mengirimkan semua informasi tentang keluarganya dan firma yang mereka kelola kepada saya. Riset semacam itu, yaitu mengumpulkan serpihan-serpihan informasi untuk membangun konteks pada sebuah foto, sungguh-sungguh memberi rasa puas saya.

Foto mana yang menurut Anda paling menarik?

Sulit bagi saya untuk menjawabnya. Dalam mesin waktu ini, setiap foto membuka jendelanya masing-masing ke masa silam. Meskipun demikian, ada sebuah foto yang menarik, yaitu foto panorama Batavia. Sepanjang pengetahuan saya, ini adalah satu-satunya foto panorama dari Kota Batavia. Foto jenis ini banyak ditemukan untuk kota lain seperti Hong Kong atau Singapura. Tetapi jenis tersebut termasuk langka untuk Jakarta.

Apakah buku Anda ini dapat digunakan untuk sebuah kebijakan konservasi?

Saya berharap demikian. Saya sendiri tidak pernah terlibat dalam proyek konservasi. Namun, itu bukanlah tujuan saya. Yang saya inginkan adalah agar orang-orang bisa sadar bahwa tak banyak bangunan (Batavia) yang masih berdiri. Memang, negara berkembang seperti Indonesia punya prioritasnya sendiri ketimbang menyelamatkan bangunan tua. Saya menyadari hal tersebut. Namun, sayang rasanya apabila gedung-gedung tua tersebut harus dihancurkan. Anda berasal dari Melbourne, yang banyak memiliki bangunan indah. Kenapa Anda tidak mengerjakan buku tentang kampung halaman Anda? Kota Melbourne memang menarik, banyak foto cantik tentang kota tersebut. Tetapi, sebagai kota, Batavia punya sejarah yang sangat panjang, sampai 400-500 tahun, ketimbang Melbourne, yang dibangun pada 1835. Makna penting Batavia adalah sebagai kota melting pot dan pusat perdagangan. Kapal-kapal yang berlayar dari pulau rempah Maluku ke Benua Eropa mampir di Batavia untuk mendapatkan perbekalan yang mereka butuhkan. Dan sebuah tulisan yang lengkap dengan foto-fotonya belum banyak. Mungkin apa yang saya kerjakan ini bisa memberikan kontribusi.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan