-->

Lainnya Toggle

Resep Anti Pikun Muda: Membaca-Menulis

ArmansyahUsianya 76 tahun. Kacamatanya tebal. Ucapannya jelas. Ingatannya tajam. Wawasannya luas. Begitulah sosok Pak Armansyah yang saya temui kemarin(7/7/09) siang di salah satu sudut utara kota Jogja.

Ia bertutur panjang tentang romantisme masa-masa Bung Karno berkuasa. Saya mendengar saja dengan tekun. Seperti cucu yang didongengi kakeknya. Dari masa revolusi lalu ia melompat ke masa pendidikan di Jerman, masa-masa sulit setelah prahara ’65, hingga kondisi politik terakhir.

Pendek-pendek saja ia bercerita. Saya seperti melihat lompatan-lompatan kisah mengelilinginya. Saya terkagum nyaris malu tersungkur. Ingatan dan wacananya luas sekali. Ingatannya pada kisah-kisah dan peristiwa-peristiwa sungguh tajam. Saya yang semuda ini mudah sekali terhapus ingatan.

Maka saya pun bertanya apa yang membuatnya demikian kuat menjaga ingatan. Ia menyebut : MEMBACA dan MENULIS. Membaca, meski sedikit demi sedikit(usia lanjut membuat matanya mudah lelah), membantunya menjaga ingatannya. Dengan membaca ia bisa mengulang-ulang memasukkan informasi. Untuk lebih mengasahnya, maka ia menulis. Dengan menulis ia melatih ingatan dari apa yang telah dibacanya.

Pak Arman tak ada waktu khusus untuk membaca, sesempatnya saja. Di samping tempat tidurnya saya menemukan buku-buku ini: Kebohongan di Gedung Putih(Scott McClellan), Pikiran Kritis untuk Rakyat Indonesia(Bungaran Antonius Simanjuntak), The Againts Third Way(Alex Collincos), Membongkar Manipulasi Sejarah (Asvi Warman Adam),dan Membongkar kegagalan CIA(Tim Weiner). Ini adalah buku-buku baru yang sedang dibacanya. Dengan membaca buku-buku ini Pak Arman bisa sembari mengingat-ingat lagi beberapa hal yang terjadi semasa mudanya, menghubung-hubungkan bacaan dengan memori ingatannya, lalu menulis.

Jika tak ingin cepat pikun, atau pikun muda (seperti saya), mungkin kita patut meniru cara Pak Arman :Membaca, menulis. (DAVS)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan