-->

Kronik Toggle

Kritisnya Nasib Kaum Epistoholik (Pecandu Surat Pembaca)

Para pecandu menulis surat pembaca kerap disebut epistoholik. Dan dalam pers, posisi mereka istimewa, seistimewa penulis-penulis opini. Karena istimewanya posisi mereka ini, halaman opini/surat pembaca “haram” dimasuki berita-berita iklan. Sebagaimana penulis opini yang kritis (tajam, vokal), posisi mereka juga kritis (gawat, darurat, genting). Berita di Harian Jawa Pos Edisi 16 Juli 2009 bawah ini juga salah satunya.

Ya, Nasib Khoe Seng Seng tak seberuntung Prita Mulyasari. Sama-sama menjadi terdakwa kasus pencemaran nama baik setelah menulis keluhan dan dijerat dengan pasal Un­dang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Prita bisa bebas. Sedangkan Khoe Seng Seng divonis enam bulan pen­jara dengan percobaan setahun.

Ketua majelis hakim Robinson Tarigan menilai Kho Seng Seng secara sah dan meyakinkan telah mencemarkan nama baik PT Duta Pertiwi, pengelola ITC Mangga Dua. Dengan vonis itu, bila Kho Seng Seng melakukan perbuatan pencemaran nama baik lagi dalam kurun waktu setahun, dirinya akan dijebloskan penjara selama enam bulan.

”Saya tak terima dengan vonis tersebut dan akan banding,” jelas Kho Seng Seng di Pengadilan Jakarta Timur kemarin. Pria yang sehari-hari berdagang di ITC Mangga Dua itu bakal mengirimkan memori banding beberapa hari ke depan.

Aseng -panggilan Kho Seng Seng- mengungkapkan, banding itu dilakukan karena majelis hakim tak membaca lengkap seluruh fakta dalam sidang. Putusan hakim juga menampilkan banyak ketidak­cermat­an. Di antaranya, saksi Dewan Pers tak pernah diperiksa Ma­bes Polri. “Tapi, justru disebutkan pernah diperiksa,” ungkapnya. Ha­kim, tambah dia, juga menyatakan dirinya keberatan membayar biaya hak pengelolaan lahan (HPL). Padahal, dirinya mempersoalkan status hak guna bangunan (HGB) yang belakangan berubah HGB di atas HPL.

Keberatannya terhadap putusan itu akan dituliskan dalam surat pembaca di surat kabar. “Saya akan tulis surat pembaca lagi di surat kabar. Saya tidak kapok,” ungkapnya. Dalam sidang, hakim Robinson memastikan Khoe Seng Seng bersalah mencemarkan nama baik anak perusahaan Sinar Mas Grup itu. Kasus tersebut berawal saat Khoe Seng Seng menuliskan keluhannya dalam surat pembaca yang diterbitkan sebuah harian nasional pada 26 September 2006.

1 Comment

bpkp jakarta - 02. Okt, 2012 -

keadilan untuk Khoe Seng Seng!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan