-->

Kronik Toggle

Dr Haryatmoko: Perjumpaan Syafii dan Ricoeur

Pendekatan sejarah yang ditampilkan Syafii Maarif bukan hanya sebuah deskripsi tentang masa lampau, tapi juga untuk mengkritisi luka lama. Kritisisme atas luka itu bukan untuk melihat borok dan mengoreksi masa depan.

Demikian rangkuman pendapat Dr Haryatmoko dalam bedah buku Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah karya Syafii Maarif di Gedung PP Muhammadiyah Cikditiro Yogyakarta (16/7).

Bagi Romo Haryatmoko, pendekatan masa depan Syafii itu selaras dengan pendekatan Paul Ricoeur dalam memaknai teks. Bahwa teks bukan hal sesuatu yang mati, menafsir bukan reproduksi maksud pengarang, melainkan adalah upaya melihat ke depan bahwa teks mempunyai kemampuan untuk memproyeksikan dirinya. Bahwa teks selalu relevan di mana penafsir itu berada.

Horison baru dalam penulisan buku ini kemudian mendorong Haryatmoko berkesimpulan Syafii Maarif menulis bukan sekadar refleksi otak, melainkan dibarengi dengan pengalaman-pengalaman interaktif yang dibumikan.

“Cara pembacaan seperti itu yang membuat pribadi Syafii menjadi pribadi yang toleran dan terbuka,” tegas Haryatmoko setelah mengurai mulai dari halaman awal hingga akhir pesan-pesan dari buku ini. (GM)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan