-->

Kronik Toggle

Bangkitkan Iklim Kutubuku di Surabaya

Diskusi Penggila BukuDalam buku mereka yang terbaru, yang bertajuk Para Penggila Buku:100 Catatan di Balik Buku. Dua orang penggila buku ini memang seperti memberikan banyak catatan pada pembacanya untuk sesegera mungkin memikirkan ulang tentang realitas yang terjadi di sekitar kita, khususnya dalam dunia baca-membaca.

Dalam diskusi sekaligus launching bukunya yang digelar di Perpustakaan C20, Muhidin mengatakan, dalam menulis buku, seorang penulisbisa juga dikatakan sebagai lembaga riset, dengan demikian, seorang penulis tidak hanya kaya akan ide dan gagasan, melainkan juga kaya akan temuan-temuan yang keberadaannya merupakan faktor pendukung dari ide dan gagasan.

Dalam diskusi tersebut, beberapa pemateri yang merupakan redaktur dan penangung jawab rubrik Budaya dari 2 surat kabar yang berpusat di Surabaya, yakni Rakhmat Giryadi dari Surabaya Post, dan Arief Santoso dari Jawa Pos.

Selain itu, Kathleen Azali, selaku tuan rumah lebih banyak mengutarakan ekspektasinya terhadap kedua penulis dalam membangkitkan semangat membaca di kalangan generasi muda.

Berkaitan dengan itu, keadaan di Surabaya memang tergolong cukup mengenaskan. Tidak berkembangnya industri perbukuan di Surabaya bukan hanya disebabkan oleh minimnya budaya baca masyarakat Surabaya, khususnya terhadap buku-buku sastra dan budaya. Selain itu, kurang optimalnya networking atau komunitas dan klub-klub pecinta buku.

Ini seperti yang dikatakan Diana AV Sasa, selaku salah satu penulis buku. Menurutnya, terlepas dari aspek kuantitas, menurutnya, klub-klub buku yang mungkin ada di Surabaya masih kurang optimal dan teruji. ”Bukan bermaksud membeda-bedakan buku, tapi bagaimana bisa berkembang jika sebuah klub buku mengharuskan anggotannya membaca buku yang itu-itu saja,” tegasnya.

Oleh karena itulah, seharusnya, klub-klub pecinta buku yang ada harusnya sedikit demi sedikit membangun semacam networking yang bagus. Mereka harusnya bahu membahu dalam menciptakan ide-ide kreatif sebagai semacam bentuk perlawanan atas para elitis.

Dengan demikian diharapkan akan bermunculan penerbit-penerbit indie yang menerbitkan buku-buku indie pula. ”Inilah yang akan membuat iklim intelektual di Surabaya akan bisa stabil. Tidak hanya iklim bisnis dan dagang saja,” ujar Sasa, panggilan akrab Diana AV Sasa.

Oleh karena menerbitkan sebuah buku bukanlah hal yang mudah dan murah, maka kini koran ataupunh media massa memang sepertinya tengah menjadi sarana alternatif untuk mempublikasikan karya. Bagi beberapa penulis, kolom-kolom yang ada di media massa merupakan tempat alternatif agar karyanya bisa dibaca, meskipun tidak dalam bentuk buku.

Meski tiap minggu, penulis-penulis lokal di media massa selalu bermunculan, namun jika diperhatikan lebih jauh, secara prosentase, jumlah penulis Surabaya masih kalah jauh jika dibandingkan penulis-penulis yang berada di luar Surabaya, seperti misalnya Jogjakarta, atau bahkan Sumenep.

Hal ini dipertegas oleh Rahmat Giryadi. Selaku penanggung jawab rubrik budaya di Harian Surabaya Post, dirinya mengaku, produktivitas penulis Surabaya cenderung masih lemah.

Padahal, seharusnya, menurut Giryadi, keberadaan media, khususnya media lokal menjadi sebuah pemicu dari proses kreatifitas bagi penulis, khususnya penulis-penulis yang belum memiliki nama. ”Memang keberadaan media harusnya menjadi pemicu semangat menulis bagi penulis khususnya penulis muda,” ujarnya. 

Akan tetapi, pada kenyataannya, dengan berbagai alasan, tidak jarang beberapa media lebih memilih menggunakan penulis-penulis yang telah memiliki nama.

Mengenai hal ini, diakui oleh Giryadi, tidak sepenuhnya media hanya menyediakan ruang bagi penulis-penulis yang telah memiliki nama, namun sebenarnya memberikan porsi lebih pada penulis-penulis muda. Hanya saja pada kenyataanya, penulis-penulis muda terutama yang berasal lokal Surabaya dan sekitarnya masih terbilang jarang.

Diakuinya, setiap minggu naskah yang masuk ke redaksi, pada kenyataanya masih didominasi oleh penulis-penulis dari luar Surabaya. ”Kebanyakan dari Jogjakarta, bahkan Sumenep sudah mulai intens mengirimkan ke email saya,” ujarnya.

Minimnya produktifitas penulis Surabaya itu pulalah yang menyebabkan iklim penerbitan di Surabaya menjadi agak kering. Menurut Arief Santosa, selaku penanggung jawab redaktur buku di harian Jawa Pos, keringnya iklim intelektualitas di Surabaya, memang salah satunya disebabkan oleh minimnya penerbitan di Surabaya. Menurutnya dunia buku di Surabaya, dengan adanya banyak komunitas-komunitas kreatif, seharusnya membuat dunia perbukuan di Surabaya tidak sunyi.”Harusnya dunia buku di Surabaya merupakan dunia yang hingar bingar. Tidak malah jadi dunia yang sunyi seperti sekarang ini,” keluhnya.

Jadi, dengan keberadaan beberapa komunitas kreatif yang ada di Surabaya, memang sudah waktunya jika Surabaya mulai bangkit dan tampil tidak hanya sebagai kota bisnis dan dagang semata, melainkan nilai-nilai intelektualitas dan iklim ‘kutubuku’ juga harus ditonjolkan sebagai karakter dari Surabaya, khususnya para generasi pemuda. (Arief Junianto)

* Dinukil dari Harian Surabaya Post Edisi 5 Juli 2009

4 Comments

TAMAM - 10. Jul, 2009 -

ulasan yang jitu.
ah, barangkali perlu ditambah info2 ttg komunitas yang ada itu

doer - 21. Okt, 2009 -

mari qt terus gelorakan semangat literasi tiada henti yg berangkat dari kegigihan membaca. hidupkan kmbali Surabaya Membaca!!…

guntur - 22. Des, 2009 -

bila boleh gabung dalam komunitas penulis, tolong saya dikabari di email saya..
terimakasih.

maman - 26. Sep, 2010 -

komunitas pecinta buku disby ada g si.? namax apa.?
n,byasax kmpul dmn.?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan