-->

Lainnya Toggle

Amazon: Raja Toko Buku On Line Sejagad

Oleh Diana AV Sasa

amazonthumbMajalah Time mengumumkan Jeff Bezos sebagai Man of The Year di tahun 1999. Ia adalah laki-laki terkaya di du­nia yang meraihnya pada usia termuda, 33 tahun. Kesuksesan itu di­raih Bozes karena ketekunannya pada buku.

Ya, sejak awal Bezos yakin dan percaya bahwa bisnis buku yang digagasnya mempunyai peluang besar untuk ber­kem­bang. Maka meskipun hanya berawal dari sebuah garasi kecil rumahnya, ia tekun dan gigih mengembangkan usaha toko buku yang ia beri nama Amazon itu.

Tapi Bezos tak me­nyang­ka bahwa perkembangan toko buku on line yang ia rintis akan sedemikian pesat. Jauh melampaui harapan awalnya.

Bermula dari sekisaran tahun 1994 ketika Bezos mendapati feno­mena yang cukup mengesankan tentang perkembangan internet. Pengguna internet—yang saat itu masih tergolong ben­da asing—mengalami kenaikan 2300% setiap tahun.

Angka itu membuat Bozes terinspirasi untuk menggunakan in­ter­net sebagai ladang bisnis baru. Ia pun berpikir keras untuk me­nentukan bisnis apa yang paling tepat untuk internet. Maka Bezos mulai melakukan penelitian terhadap per­usa­ha­an yang melakukan pemesanan melalui surat. Dia sadar bahwa pe­mesanan itu sebenarnya bisa dilakukan melalui internet. Bah­kan memberi keuntungan lebih karena pemesan tak perl­­u waktu dan tenaga untuk mengirimkannya ke expedisi/kan­tor pos.

Bezos pun mencoba membuat katalog 20 produk ung­gulan dan menawarkannya pada perusahaan-perusahaan klien­nya.

Ujicoba itu rupanya mendapat respons yang sangat baik dari pelanggan. Beberapa perusahaan pun mengalihkan cara pe­me­sanan barang dari cara konvensional ke pemesanan me­la­lui internet. Prestasi awal ini kemudian mengantar Bezos un­tuk memikirkan barang apa yang dicari orang dan bisa di­ju­al melalui internet.

Inspirasi itu datang. Dan buku adalah ja­waban­nya. Bagi Bezos, berbelanja buku dengan mendatangi toko buku, menenteng keranjang belanjaan yang berat, sudah bu­kan zamannya.

Di saat orang begitu sibuk dan hanyut oleh ru­ti­nitas yang penat, berbelanja dengan cara lebih praktis adalah pi­lihan bijak. Menjual buku dengan menumpuknya di rak-rak ber­debu juga bukan lagi pilihan menarik.

Ia berpikir untuk menyediakan katalog buku-buku dari pel­bagai penerbit, lengkap dengan resensi dan harganya. Pem­beli yang berminat tinggal memesan melalui formulir yang di­se­diakan, membayar melalui transfer rekening bank atau kartu kredit, lantas buku akan diantar ke alamat pembeli tan­pa perlu beranjak dari tempat duduknya. Praktis dan tak ber­tele-tele.

Ide itu diwujudkan dengan membuka toko buku on line. Maka mulai 16 Juli 1995, Bezos membuka sebuah tokobuku se­der­hana yang dibangunnya di garasi rumahnya. Toko buku on line yang di buka untuk seluruh dunia itu bisa dipesan me­la­lui situs Amazon.com.

Mengejutkan, dalam tempo 30 hari ma­sa percobaan, dengan tanpa publikasi, Amazon telah berhasil men­ju­al buku ke 50 negara bagian Amerika dan 45 bangsa di se­lu­ruh penjuru bumi.

Dengan motto “Tumbuh Lebih Besar dengan Lebih ce­pat” perusahaan itu terus tumbuh dan berkembang pesat. Pada Mei 1996, Amazon diulas pada halaman depan koran Wall Street Journal.

Usaha yang awalnya hanya tokobuku itu pun berkembang menjadi toko virtual terlengkap yang me­nye­dia­kan pelbagai keperluan, mulai dari buku, VCD, CD Musik, permainan, software komputer, baju, perhiasan, hingga ma­kan­an. Dengan bermodal kreativitas, ketekunan, komitmen, dan ke­ya­kinan yang kuat Bozes mampu menunjukkan pada dunia bah­wa buku yang awalnya tak seberapa bernilai dibanding ben­da-benda niaga lain itu ternyata bisa mendatangkan pasive income baginya.

Meski hanya dipandang sebagai barang niaga, ta­pi ia bisa membuktikan bahwa buku mempunyai nilai lebih ji­ka kita pandai mengemasnya dengan sedikit kreativitas. Kini, amazon.com telah menjadi jujugan bagi kutubuku yang membutuhkan buku-buku yang tak banyak dijumpai di pa­sar­an.

Dan Amazon pantas disebut sebagai Raja Pasar Buku dunia. Kesuksesan Amazon kemudian diikuti beberapa pelaku bis­nis lokal sejenis. Di Indonesia mulai bermunculan saudagar-sau­da­gar buku di dunia maya itu.

Sebut saja yang sudah populer se­per­ti kutubuku.com, bukabuku.com, dan lain-lain. Masing-ma­sing me­mi­lih jalur spesifikasinya. Ada yang menyediakan bu­ku kom­plit, semua jenis buku ada. Ada pula yang lebih me­nyem­pitkan ruang dengan hanya mengambil segmen buku khu­sus seperti buku Muslim, buku Nasrani, buku impor, bu­ku terjemahan, buku pela­jaran, komik, dan sebagainya.

Se­mua menawarkan layanan isti­me­wa mulai diskon, layanan antar­jem­put (delivery) dalam kota, merchandise bonus, undian, sampai re­sensi lengkap setiap buku. Toko buku konvensional seperti Gramedia dan Toko Buku Palasari (Bandung), Toko Buku Uranus pun mau tak mau mesti mengekor menyediakan layanan belanja jarak jauh ini karena tuntutan pasar yang makin ingin dimanjakan.

Tak ke­tinggalan pula penerbit-penerbit besar seperti Erlangga, Andi, dan Serambi ikut pula menggelar dagangan di jagat cyber. Sebuah terobosan baru memotong jalur distribusi buku da­ri penerbit ke konsumen. Konsumen buku di era serba digital ini memang semakin di­man­jakan.

Terutama buat mereka yang tak punya banyak wak­tu untuk blusukan ke toko buku dan mengitari rak-rak dengan bu­ku berjajar-jajar hampir seluas lapangan bola. Cukup duduk ma­nis di depan komputer, memilih-milih buku yang disuka di to­ko buku on line yang jumlahnya seabrek, mencari informasi re­sen­sinya lewat “Paman Google”, membanding-bandingkan har­ga, lalu jika suka tinggal isi formulir, kirim biaya lewat ATM Bank atau Kartu Kredit dan buku akan dikirim ke alamat bebe­ra­pa hari kemudian.

Jika tak punya alat pembayaran canggih itu, masih bisa melakukan pembayaran di tempat bagi yang ber­a­da dalam kota. Praktis waktu dan efisien tenaga. Cocok sekali bagi manusia-ma­nu­sia modern yang telah menjadi robot waktu, bekerja dari jam ke jam hingga tak sempat menjamah toko buku. Dengan la­yanan belanja on line ini, mereka tetap bisa menikmati buku ke­sukaan tanpa harus kehilangan waktu—yang menurut me­re­ka berharga—untuk bekerja.

2 Comments

dewa api - 23. Jul, 2009 -

tinggal ibuku buat toko buku online..

tutik - 05. Okt, 2009 -

belanja buku yang canggih!!!tak usah repot2 ke toko buku….

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan