-->

Literasi dari Sewon Toggle

Kontrakan

bebasOmi Intan Naomi. Penulis budaya pop. Penerjemah juga. Di dua bidang itu ia cukup tangguh.

Tapi kemudian ia mati muda pada usia 34 tahun.

Saya tak ingin menceritakan kembali bagaimana riwayat hidupnya dan apa saja dilakukannya. Yang ingin saya catat di sini adalah ucapannya yang dikutipkan kembali oleh adiknya, perupa Bunga Jeruk.

Ketika ditanya kenapa tak beli rumah saja, kenapa ngontrak melulu, sontak Omi menjawab: “Kalau bisa mengontrak, kenapa mesti beli rumah.”

Dan Omi memang menjadi kontraktor sampai mati. Ia wafat di rumah kontrakannya.

Ada hal yang menarik di sini. Kalau sedikit diulak-ulik, sejatinya mengontrakĀ  sudah jadi penanda status dalam kehidupan sosial kita. Mengontrak hanyalah bagi mereka yang tak bisa beli rumah. Mengontrak menunjuk langsung pada pribadi-pribadi yang secara ekonomi tak mapan.

Artinya, siapa pun yang mengontrak pastilah ia kaum menengah ke bawah alias miskin. Mengontrak sama sekali bukan pilihan sadar, melainkan keterpaksaan.

Orang-orang seperti Omi justru membaliknya. Omi jelas bukan orang miskin. Ia sangat bisa membeli rumah mentereng. Namun Omi memilih jalan lain. Ia mencoba memberi nilai dalam kerja mengontrak itu; bahwa dalam mengontrak ada soal identitas.

Identitas seperti apa? Itulah Kebebasan!!!!

Bukan cuma itu, kontrakan juga membuat kita berpikir banyak kali untuk mengonsumsi barang-barang. Bagi kontraktor, hanya barang yang paling primer yang dibeli karena ia sadar bahwa ia hanya singgah sebentar di tempat itu.

Dan buku termasuk barang yang paling primer. Omi pastilah sibuk sekali setiap pindah kontrakan akan membawa banyak buku.

Saya juga pernah mengalami kesibukan macam itu. Dan bertambah sibuk saya karena satu-satunya kendaraan yang saya punyai adalah sepeda. Dan untuk memindahkan ratusan buku, saya harus bolak-balik belasan kali dengan kardus yang ditaruh disadel.

Saya ngotot–barangkali juga para pencinta buku lainnya–untuk memindahkan semua buku itu karena keinginan untuk selalu dekat dengan fisik buku.

Dan itu tak kan terlampau kompleks bila bedol buku itu hanya dalam kota. Bagaimana dengan antar kota. Atau bahkan antar pulau. Bagaimana pula bila bukan hanya ratusan jumlah buku, tapi ribuan.

Pastilah itu repot sekali. Bagi orang keras kepala seperti Mohammad Hatta, yang memindahkan berpeti-peti bukunya ke Digul, pastilah itu sudah ia masukkan dalam kerangka sadar sebagai sebuah risiko.

Namun bagi mereka yang malas, mungkin buku itu diloak saja atau dibagi gratis ke teman-temannya. Atau dititip kepada teman yang dipercayakan.

Tapi setiap buku adalah jodoh. Tak ada pertemanan dalam dunia buku. Maksudnya, besar kemungkinan buku yang Anda titipkan kepada teman akan hilang jika memang jatuhnya jodoh tak tepat. Bahkan teman yang paling dipercaya sekalipun.

Saya kira, ini unsur tak bagusnya jika mengontrak. Kecuali bila Anda bisa membangun rumah sendiri di tiap-tiap kota yang menurut Anda penting.

Tapi itu tentu saja bukan watak kontraktor sejati. Bukan seorang pengelana. (Kan Panembahan)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan