-->

Kronik Toggle

Menoreh Kepedihan dalam Kumpulan Puisi

  • Oleh Maulana M Fahmi

“bagai kelelawar, waktu tidurmu terputar balikkan……..
…… mencari yang luar biasa, karena yang terlalu biasa menjadi hampa……
….kuli tinta, kuli tinta, pengusung berita, pembuka cakrawala dunia
kuli tinta kuli tinta, pemburu berita penebar bibit angkara, Jika kau kemas dengan tirai fitnah
kuli tinta kuli tinta, pada mata, mulut dan telinggamu, tertitip amanah, rasa terimakasih dunia…..”

Sekelumit bait puisi tersebut keluar lirih dari bibir manis Nadya Nadine. Di tengah rerimbun pepohonan di halaman depan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) suara lirih wanita kelahiran Banyuwangi kadang terdengar lantang saat membacakan puisi-puisi karyanya di hadapan Manager Muri, Paulus Pangka dan beberapa wartawan.

Selain puisi berjudul “Wartawan” ia juga membacakan puisinya berjudul “Pasir Susu” dan “Cintamu Membunuhku”.

Ibu dua putera tersebut memang sedang memamerkan karya puisinya kepada Muri di kantornya Jl Perintis Kemerdekaan Srondol Semarang, Rabu (11/3). Kumpulan 900 judul puisi yang dibuatnya dalam kurun waktu 3 bulan dan 101 puisi karya terdahulunya tersebut disusun dalam satu buku dengan judul 1001 puisi Nadya Nadine.

Atas prestasinya tersebut, Muri menganugerahkan piagam penghargaan sebaga penulis puisi tunggal terbanyak, yaitu dengan 900 judul puisi yang dibuat dalam kurun waktu 3 bulan.

“Atas prestasi Nadine dalam menorehkan karya-karya puisinya dengan jumlah yang fantastis 900 puisi dan dalam kurun waktu singkat 3 bulan, Muri menganugerahkan rekornya yang ke 3.611. Semoga prestasi ini mampu memacu semangat para anak bangsa untuk senantiasa berkarya.”

Lantas apa yang menjadikan karya puisi Nadine ini layak mendapatkan penghargaan selain jumlah dan waktu pengerjaannya yang fantastis? Nadine mengatakan puisi-puisi karyanya merupakan perjalanan hidupnya. Semua puisi tersebut tercipta tatkala ia mengalami depresi berat karena kegagalannya mempertahankan mahligai rumah tangganya.

Selama tiga bulan, Oktober hingga Desember 2008 adalah masa-masa terberat dalam hidup Nadine. Di mana saat tersebut ia mengalami depresi. Dalam kalut dan gundah tersebut, wanita yang pernah tinggal selama 5 tahun di Jepang (2002-2007) memutuskan untuk menorehkan kepedihan hidupnya menjadi kumpulan puisi.

Berterima Kasih

“Sebenarnya dalam kondisi depresi tersebut saya berusaha untuk bisa sharing dengan orang lain. Namun, saya sadar setiap orang tentu mempunyai masalahnya sendiri. Takut dikatakan cengeng dan selalu mengeluh, saya pun akhirnya menorehkannya dalam puisi. Dan tentunya ini membuahkan karya yang berjumlah hingga 900 judul,”jelasnya.

Untuk itu, ia berterima kasih kepada “someone” yang berperan dalam penulisan karya-karyanya tersebut. Yang menorehkan sakit, sedih dan patah hati sehingga membuatnya lebih dewasa menghadapi hidup.

“Meski sakit dan perih, namun saya ucapkan terima kasih kepada dia yang telah menorehkan luka hati yang teramat dalam. Namun itu semua bagai proses yang dapat mendewasakan saya,”jelasnya.

Selain menorehkan karya-karya puisi bercerita perjalanan cintanya yang berujung perceraian dan patah hati, Nadine juga menorehkan karya puisi bertemakan Ketuhanan maupun politik.(41)

*) Suara Merdeka, 12 Maret 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan