-->

Tokoh Toggle

Bambang Ismawan, Negara Agraris tanpa Majalah Pertanian

Bambang Ismawan2Lelaki kelahiran 7 Maret 1938, di Lamongan, Jawa Timur ini adalah praktisi media pertanian terbesar, Trubus. Nama “Trubus” berarti hidup. Tapi di Indonesia, kata ini menjadi alamat satu-satunya majalah pertanian bikinan Bambang Ismawan.

Bambang sadar bahwa bangsa besar adalah yang punya pasokan pangan yang mencukupi bagi warganya. Dan Indonesia adalah negara agraris besar. Maka tak ada salahnya bila ia membuat majalah pertanian.Bambang tak pernah lupa bagaimana seorang pastur Belanda yang keluar-masuk kawasan tanah merah dan bercadas di Gunung Kidul Jogja. Pastor itu menolong warga dari paceklik dengan mengajak menanam lahan terlantar dan bantuan keuangan. Bambang tersentuh. “Mengapa dia, orang asing, yang membantu rakyatku, bukan saya?”

Lima belas tahun pertama, Trubus tak dilirik orang dan orang pengiklan tergoda. Namun rupanya keyakinan bahwa bangsa “agraris mesti punya majalah pertanian” lebih kuat dari risiko pailit. Usaha gigih itu bertuah. Kini Trubus beredar per bulannya sekira 70 ribi eksemplar dan menginspirasi korban PHK pascakrisis moneter untuk usaha agribisnis, menjadi sumber referensi pelbagai persoalan pertanian dan ikutannya, serta mendongkrak nama dan gengsi tanaman hias.

Tapi Trubus dan Bambang Ismawan bukan hanya soal pers, melainkan institusi pemberdayaan yang mendorong potensi swadaya dan swakelola masyarakat. Seperti lauret Nobel Mohammad Yunus dengan Grameen Bank-nya, Bambang yakin sepenuh-penuhnya kalau keluarga petani butuh kredit mikro dan tak butuh harga murah, karena berkat keuletanlah kegiatan ekonomi bisa profitable.

Dengan 17 perusahaan yang dirintisnya Bambang dan Trubus mengembangkan lima kegiatan, yakni keuangan mikro, agrobisnis, komunikasi pembangunan, wisata alternatif, dan pemberdayaan masyarakat warga. Pusat pelatihan juga didirikan dengan sarana pendidikan dan pelatihan bidang agribisnis untuk memberdayakan masyarakat sipil. Hingga 2007, sudah ada 10 ribu alumni terlatih.

Bambang sangat tahu dan sadar bagaimana menggerakkan pembacanya yang umumnya adalah petani. Ia juga sungguh tahu bahwa kemiskinan adalah soal mahabesar di Indonesia. Pemerintah dihimbaunya, tapi masyarakat luas juga diajaknya, terutama dirinya sendiri untuk mengambil langkah-langkah. Bukan langkah besar dan massif memang, tapi langkah kecil yang sudah selama empat dasawarsa dilakukan secara terus-menerus.

Ia adalah sang pemula yang menerbitkan majalah pertanian yang berdekade-dekade didorongnya dengan keyakinan penuh untuk memediasi antara pemerintah dan petani. Tapi ia bukan sekadar tokoh pers, tapi juga relawan sosial yang membaktikan hidupnya bagi kemandirian petani di Indonesia.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan