-->

Tokoh Toggle

Anak-Anak Muda Penyusun Kronik Seratus Tahun Bangsa

Dana Jual Lukisan Biayai Perjuangan Melawan Lupa

Inilah sekelompok anak muda kreatif. Berbeda dari rekan sebayanya yang cenderung hidup hura-hura, 50 pemuda muda ini menyusun sebuah kronik bangsa setebal 1,7 meter. Mereka juga merangkum jejak pers di Indonesia.

Ruangan itu penuh sesak dengan buku, lembaran koran, dan kertas yang berserakan. Ada empat kamar yang tak seberapa luas. Satu kamar untuk tempat beristirahat, tiga lainnya untuk tempat membaca. Di sana, buku-buku dijajar seadanya. Bau apak buku-buku tua tercium jelas begitu memasuki ruang-ruang tersebut. Di luar ruang-ruang itu, sejumlah lukisan diletakkan tak beraturan.

Kemarin (30/6) pagi, empat anak muda masih sibuk menyiapkan diri di ruang itu. Beberapa buku catatan dimasukkan tas ransel ukuran sedang, memasang sepatu, lantas mereka menuju Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dari Jalan Juanda, Jakarta, mereka menumpang bus kota menuju perpustakaan. Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai.

Di Perpustakaan Nasional itulah mereka sedang menggarap proyek raksasa, buku Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008). Dari namanya, buku itu merangkum kronik bangsa sejak seratus tahun silam. Proyek raksasa nonkomersial tersebut menarasikan perjalanan bangsa, mulai Indonesia yang masih dalam imajinasi hingga berbentuk seperti saat ini. Namun, tak ada interpretasi dalam jalinan narasi tersebut.

Model penyusunannya hari per hari, mulai tanggal 1 setiap bulan hingga pengujung bulan, sejak Januari hingga Desember. ”Jadi, setiap kejadian sejak seratus tahun lalu dicatat per tanggal, mulai peristiwa politik, ekonomi, budaya, hingga olahraga,” jelas Muhidin M. Dahlan, koordinator sekitar 50 anak muda tim penyusunan kronik tersebut.

Setiap hari, anak-anak muda itu melakukan rutinitas yang seragam. Berangkat pukul 08.30 menuju Perpustakaan Nasional. Sampai di sana pukul 09.00, kemudian pulang paling akhir di antara pengunjung yang ada sekitar pukul 17.00. Di sana mereka membaca koran-koran tua lewat microfilm. Setelah pulang, tak cukup jenak beristirahat, mereka menyalin catatannya ke sebuah komputer.

Muhidin yang pernah menuntut ilmu di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu bercerita, penyusunan buku tersebut hanya bermula dari sebuah tekad yang sederhana. ”Ini bukan sok-sokan, tapi hanya usaha menapaktilasi sejarah,” katanya.

Mayoritas penyusun buku itu berusia kurang dari 25 tahun. Mayoritas malah masih kuliah, terutama di jurusan sejarah. ”Ini soal penapaktilasan. Jadi, kami ingin melihat Indonesia dari perspektif anak muda,” ungkapnya.

Buku setebal tinggi orang dewasa itu disusun bahu-membahu penuh semangat oleh 50 anak muda. Mereka bekerja sejak Desember 2007 dan dibagi dalam tiga angkatan. Kelompok pertama mengerjakan kronik sejak 1908-1938, kelompok kedua 1938-1968, dan kelompok terakhir 1968-2008.

Dalam penyusunan, mereka bekerja secara tekun, dengan detail yang luar biasa. ”Saat ini kurang beberapa tahun lagi. Yang masih kurang ada di tengah-tengah, antara 1955 sampai akhir 1970-an,” ujar pria 32 tahun tersebut.

Jika sudah selesai, buku itu bakal menjadi buku pertama di Indonesia yang mampu menyusun kronik bangsa dalam rentang waktu yang sungguh panjang. ”Nanti terangkum berbagai peristiwa di setiap penjuru Nusantara, mulai Januari 1908 hingga Desember 2008. Kami usahakan tidak ada tanggal yang kosong. Setiap tanggal minimal merangkum tiga peristiwa,” jelas penulis novel laris Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur itu.

Muhidin menceritakan, bukan hanya peristiwa penting yang dicatat dalam kronik tersebut. Tak hanya ada Sumpah Pemuda, berbagai pertempuran, dan penangkapan tokoh-tokoh proklamator. Dalam buku itu juga ada renik-renik peristiwa yang nyaris dilupakan. ”Ibaratnya, mulai pidato-pidato Soekarno hingga pertandingan sepak bola tim nasional PSSI,” ungkap pemuda kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, 32 tahun lampau, tersebut.

Namun, buku itu nanti tidak diedarkan secara komersial. Hanya dicetak dalam hitungan jari. ”Kalau dicetak banyak, dananya sangat mahal. Kami tidak mau menerima sumbangan dari pemerintah atau pengusaha mana pun. Untuk sehari-hari, kami dapat dana dari penjualan lukisan,” tegasnya.

Jadi, kata dia, ada sekelompok pelukis muda yang juga karib tim penyusun kronik yang memercayakan penjualan lukisannya kepada mereka. Anak-anak muda penyusun kronik itu memainkan peran semacam perantara perdagangan lukisan. Dari situlah mereka menutupi biaya hidup.

Sebenarnya, penyusunan kronik bukan kali pertama di Indonesia. Sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer pernah melakukan kerja serupa. Namun, Pram, demikian sapaan penulis karya monumental Tetralogi Buru itu, hanya menyusun sepanjang empat tahun, mulai 1945 hingga 1948. Karyanya berumbul Kronik Revolusi Indonesia.

Hermawan Eka Prasetya, salah seorang periset, menyatakan, kerja semacam itu membutuhkan ketekunan luar biasa. Yang dicatat bukan hanya renik-renik peristiwa di Nusantara sejak seratus tahun silam, tapi juga membingkainya dalam tuturan yang runtut. ”Meski tidak diedarkan luas, setidaknya buku tersebut bisa menjadi acuan tentang bagaimana perjalanan bangsa ini. Tekad kami sederhana, hanya sebagai upaya melawan lupa,” ujarnya.

Selain kronik itu, mereka baru menyelesaikan buku Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa. Itu adalah senarai profil surat kabar yang pernah dan masih terbit di Indonesia. ”Ada 365 surat kabar sejak 1907,” kata Rhoma Dwi Aria, periset utama dalam buku tersebut.

Buku itu juga tidak diedarkan secara komersial. ”Cetaknya sangat mahal. Mungkin kalau ada yang pesan saja, kami akan mencetaknya,” ujar alumnus jurusan sejarah UMY tersebut.

Kali ini, bukan hanya Perpustakaan Nasional yang dikunjungi. Sejumlah perpustakaan lain tak luput dari sasaran mereka. Mulai Balai Pustaka, Pusat Dokumentasi H.B. Jassin, Dewan Pers, hingga perpustakaan pribadi Pramoedya Ananta Toer.

Di Semarang, mereka membongkar arsip di Perpustakaan Daerah Semarang. Begitu juga di Jogja. ”Kami juga mendata arsip di Museum Pers Solo,” ungkapnya.

Ria yang lulus kuliah pada 2000 itu menceritakan, timnya sempat sangat jenuh. Pekerjaan setiap hari nyaris mekanis, hanya melihat dan mencatat koran. ”Kami melihat semua koran, tidak peduli ini koran nasional atau lokal. Juga, tidak peduli koran ini beraliran apa,” ujarnya.

Sebenarnya, langkah semacam itu pernah dilakukan semasa Orde Baru oleh Dewan Pers. ”Tapi, banyak koran, terutama yang berhaluan kiri, tidak dianggap.”

Dalam buku tersebut, mereka menempatkan Medan Prijaji yang terbit kali pertama pada Januari 1907 sebagai titik mula pers kebangsaan. Dalam kacamata anak muda itu, Medan Prijaji adalah pers yang kali pertama menjadi alat pergerakan sekaligus mampu membuat bahasa menjadi perangkai kolektivitas masyarakat dalam hal kesadaran berbangsa. ”Rata-rata punggawa Medan Prijaji juga masih sangat muda,” jelasnya.

Meski harus diakui bahwa Medan Prijaji bukan koran tertua di Indonesia, ia tetap menjadi titik tolak bagaimana pers -dalam pengertian alat komunikasi- kala itu membayangkan Indonesia. ”Tirto Adhi Soerjo-lah (pendiri koran tersebut, Red) yang kali pertama mampu membuat momentum sejarah dengan rumusan nasionalisme. Dia lewat surat kabarnya mampu membangun identitas kolektif di Hindia Belanda kala itu,” katanya.

Pembayangan identitas kolektif oleh Tirto dinarasikan lewat parafrase ”bangsa jang terprentah”. Jadi, tanpa bias suku, agama, dan ras, Tirto mampu membayangkan sebuah tema ihwal bagaimana sebuah bangsa coba diretas. ”Tirto juga yang pertama menempatkan pers berseberangan langsung dengan kolonialisme, bahwa surat kabar itu tidak bisa tidak mesti berpolitik,” tegasnya.

”Itulah yang disebut dengan momentum sejarah,” sambung Muhidin. Jadi, Medan Prijaji hadir tidak secara sporadis dan tanpa arti. Ia tidak menjadi irisan sejarah tanpa arti. ”Medan Prijaji mampu memberi suntikan energi bagi kehidupan berbangsa yang masih sangat minor kala itu,” jelasnya.

Ria menyatakan, dengan ihwal sejarah pers semacam itu, layak kiranya Tirto diberi apresiasi lebih. ”Karena itu, kami coba mewacanakan 7 Desember sebagai Hari Pers Nasional,” katanya. Tanggal 7 Desember adalah hari Tirto menjadi mendiang. (eri/kim)

*) Dikronik dari Jawa Pos 1 Juli 2008

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan