-->

Tokoh Toggle

Para Pesohor Publik Ngomongin Buku

sherinaSejumlah figur publik mengungkapkan judul buku memberi pengaruh besar kepada mereka tentang paham kebangsaan. Inilah kesaksian Sherina Munaf, Dita Amahorseya, Ade Rai, dan Giring Nidji.

Satu abad kebangkitan nasional seperti menjadi keniscayaan untuk sebuah selebrasi besar-besaran di sekujur negeri. Diskusi dan seminar digelar, serangkaian acara dirancang, lintasan sejarah kembali dikaji ulang: benarkah bangsa ini sudah betul-betul bangkit seperti diikhtiarkan sejak seratus tahun silam?

Tempo secara acak menghubungi sejumlah figur publik dari kalangan musisi, penyanyi, atlet, dan pekerja profesional untuk mengetahui buku apa yang membuat mereka lebih melek tentang wawasan keindonesiaan. l Yophiandi Kurniawan

SHERINA MUNAF
Penyanyi

Sherina bersyukur bahwa sekolahnya mewajibkan pembacaan karya sastra klasik, seperti Belenggu karya Armijn Pane. “Banyak ide progresif sekaligus kritik terhadap diri sendiri dalam buku itu,” katanya seraya menyebut kumpulan puisi Joko Pinurbo sebagai karya yang membuatnya “berpikir”.

Namun, buku yang diakuinya membuka wawasannya tentang kebangsaan adalah Burung-Burung Manyar karya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Dengan fasih, mantan penyanyi cilik ini bisa mengurai plot karya Romo Mangun tersebut dengan detail, termasuk tokoh yang ragu apakah Indonesia akan lebih baik seandainya merdeka dari Belanda atau tidak. “Sekarang pun kondisinya hampir sama,” katanya. “Indonesia masih dijajah. Memang bukan fisik, melainkan globalisasi yang menyerang gencar,” ujar murid kelas III SMP British International School, Jakarta Selatan, ini.

Tak baca chick-lit lazimnya para pelajar sekarang, Sher? “Aku sudah banyak baca komik, jadi tak baca chick-lit lagi,” katanya tangkas.

DITA AMAHORSEYA
Profesional

Dita Amahorseya, Vice President Corporate Affairs Head Citibank, memiliki klub buku bersama teman-teman ekspatriatnya. Setiap anggota wajib memberi rekomendasi buku tertentu yang harus dibaca. “Dan harus dalam bahasa Inggris,” katanya.

Namun, bukan buku-buku dalam bahasa Inggris, apalagi yang ditulis sastrawan Barat, yang membantunya memahami problem kebangsaan, melainkan buku-buku karya kakeknya, Sutan Takdir Alisjahbana, dan pengarang angkatan 1930-an lainnya. “Mereka berpikir maju sekali untuk zaman itu,” katanya seraya mencontohkan Layar Terkembang sebagai karya yang menginspirasi persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

Kini Dita menilai Laskar Pelangi karya Andrea Hirata menjadi contoh inspirasi yang bisa dibangun untuk Indonesia ke depan. “Memang tak seheboh karangan Abdul Muis, Armijn Pane, kakek saya, Pram, atau Mochtar Lubis,” katanya. “Tapi masak kita melihat nama-nama itu terus yang bukan potret masa kini, Indonesia modern?”

ADE RAI
Atlet

Ajaib. Semangat keindonesiaan I Gusti Rai Agung Kusuma Yudha justru muncul saat ia membaca biografi Bruce Lee, jagoan kungfu pencipta aliran jeet kune do. Lee berjuang hingga bisa menjadi orang Asia yang menaklukkan hati publik Amerika. “Sebelum Lee, Asia tak dianggap di Amerika, walau dia lahir di Amerika,” ujar Ade Rai–nama populernya.

Menurut Ade, yang dilakukan Bruce Lee dalam banyak kisah biografinya, antara lain Bruce lee: Biography karya Robert Clouse dan The Bruce Lee Story yang ditulis sendiri oleh sang legenda, membuat dirinya ikut terpantik untuk mengikuti cara Lee dengan menunjukkan kebesaran Indonesia di luar negeri.

Caranya? Sama seperti Lee, yang melakukannya dengan dana terbatas, Ade pun memilih tak mengeluh dengan dana yang cekak. “Yang penting mengefisienkan dana supaya tampil di publik internasional, bukan mengeluhkan minimnya dana,” katanya sembari menyayangkan citra Indonesia yang kini terpuruk di mata internasional.

GIRING NIDJI
Penyanyi

Di Bawah Bendera Revolusi akan selalu diingat Giring Ganesha Djumaryo, vokalis grup Nidji, sebagai penyemangat untuk membuktikan dirinya bisa berkontribusi terhadap nama Indonesia. Buku yang sering diceritakan ayahnya saat ia kecil dulu itu membuatnya tertarik untuk mengetahui lebih jauh sosok proklamator Indonesia, Soekarno. “Ternyata beliau hebat sekali,” ujar Giring.

Dengan memimpin negara yang masih muda, menurut Giring, Soekarno sudah membuat Indonesia sejajar dengan negara adidaya, seperti Uni Soviet dan Amerika Serikat, pada 1950-an. Bahkan ide Soekarno membuat persatuan negara Asia-Afrika sulit ditemukan tandingannya. “Terlepas dari kekurangannya dalam menjalankan ekonomi,” tuturnya.

Kini, sebagai mahasiswa jurusan hubungan internasional di Universitas Paramadina, Jakarta, bacaan favorit Giring tentu bertambah. Salah satunya buku yang berkait dengan pemikiran Henry Kissinger. “Orang-orang yang bervisi seperti inilah yang sulit dicari dalam jajaran politikus sekarang,” katanya. Bagaimana kalau dijadikan tema lagu saja, Ring?

* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 18 Mei 2008

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan