-->

Lainnya Toggle

Kalau Miskin, Jangan Coba-coba Sakit

Oleh Muhidin M Dahlan

Buku Orang Miskin Dilarang Sakit ini ditulis dengan tujuan bukan sekadar ancaman, tapi sebuah seruan yang coba membelah sistem dan praktik kapitalisme yang nyaris menggerogoti dunia kedokteran. Dunia ini tak lagi nyaman untuk kredo tempat berhimpunnya wakil Tuhan penolong manusia yang dijerang penyakit, tapi telah mengubah diri menjadi industri niaga raksasa. Karena telah menjadi firma, maka semua aktor dan produk-produknya dinilai semata oleh dua hal: untung dan rugi. Kalau menguntungkan, ambil. Kalau merugikan, buang.

Pasien tak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan objek dagang. Darwinisme sosial-ekonomi berlaku di sini. Yang hidup panjang bukanlah yang kuat, tapi yang adaptif. Karena hukum ini, maka dunia kedokteran beradabtasi dengan neoliberalisme yang sedang berkuasa. Karena neoliberalisme kesehatan, maka orang miskin adalah manusia pertama yang akan merasakan pecutannya.

Kesimpulan-kesimpulan itu dipacalkan Eko Prasetyo dengan bahasa seperti orang gila yang berteriak,memukul, dan meracau marah. Miriplah sumpah serapah atau lelangut orang miskin yang ditolak oleh rumah sakit karena petugas jaga yang sudah diseting sedemikian rupa bertanya pertama kali di pintu UGD, bukan kau sakit apa, tapi kau punya uang berapa untuk penyakit kau.

Katakanlah pasien bisa masuk. Namun di sinilah malapetaka itu akan sempurna dialami. Karena pasien akan berhadapan dengan harga-harga obat, biaya kamar, biaya dokter periksa, biaya kamar mandi, dan bahkan kentut pun harus bayar. Bukan saja nyawa hilang karena diserang penyakit jantung dadakan setelah melihat nota bon yang diserahkan kasir, tapi juga kerbau, sawah untuk penyakit yang juga tak pernah sembuh.

Buku ini merangsang orang untuk melihat rumah sakit telah beralih fungsi sedemikian rupa. Jika dulunya rumah sakit adalah seperti rumah ibadah di mana setiap orang masuk ke sana tanpa pandang bulu menjadi tenang oleh karena jiwanya diberkati dan diselamatkan, maka sekarang rumah sakit telah menjadi rumah yang menakutkan. Pada titimangsa inilah kesyahduan yang terpancar dari rumah sakit dan integritas seorang dokter tergadaikan.

Dalam praktik farmasi misalnya, seorang dokter berkomplot sedemikian rupa dan membagi keuntungan dengan perusahaan-perusahaan farmasi yang bersaing ketat dengan catatan sang dokter memberi rekomendasi kepada pasien untuk menebus obat di apoteknya. Praktik seperti itu miriplah kerjasama makelar tanah dengan petugas notaris.

Tugas buku ini adalah berteriak dan mengiba-iba kepada negara agar melindungi warganya yang dicekik sistem kedokteran yang diktator seperti ini. Sebab konstitusi mengamanatkan bahwa hak-hak publik atas warganya yang tak mampu seperti pendidikan dan kesehatan menjadi tanggungan negara. Sementara negara sendiri oleh aparatus pemerintah dan aparatus-aparatus intelektual neoliberal yang mengurung istana dikebiri dan membiarka orang miskin diinjak-injakoleh persaingan yang bukan hanya tak sehat tapi juga tak berimbang.

Dalam teriaknya itu Eko membeberkan data dan fakta-fakta bagaimana brengseknya dunia kedokteran kita dan betapa gagalnya pemerintah mengelola kesehatan masyarakatnya. Entah karena buku ini atau karena desakan kesadaran untuk menjaga vitalitas tubuh masyarakatnya, beberapa kawasan seperti Jakarta terdorong untuk menggratiskan biaya pengobatan bagi warganya.

Tentu itu bukan hanya kebijakan populer sesaat, tapi berkelanjutan dan bisa meluas hingga ke pelosok-pelosok Nusantara. Sebab jika sistem kesehatan ini terus dibiarkan tak beres, itu artinya kita membiarkan penyakit rutin masuk dan leluasa. Dari demam berdarah, malaria, TBC, flu burung, bahkan AIDS. Apalagi penyakit saat ini ternyata menjadi sangat efektif melindungi para koruptor. Tiap sidang akan digelar, dengan cepat mereka sodorkan secarik surat dokter ke para hakim. Secarik tulisan dokter itu sama nilainya dengan surat pengampunan.

Dan orang miskin adalah piramida yang paling sakit dalam sistem kesehatan yang diskriminatif dan diktator seperti ini. Maka Eko mengajak Anda yang pernah jadi korban penanganan salah urus dari dokter atau rumah sakit, untuk: “Ayo, lawan sistem kesehatan yang menindas ini!!!”

Judul: Orang Miskin Dilarang Sakit
Penulis: Eko Prasetyo
Cetakan: I, November 2004
Penerbit: Resist Book, Jogjakarta
Tebal: 145 halaman

1 Comment

Art - 16. Jan, 2013 -

maklum kalo ongkos ke dokter mahal. dokter sendiri sekolahnya juga mahal. beginilah nasib orang kecil, selalu sering tersisihkan.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan