-->

Lainnya Toggle

Jejak Langkahku di Antara Hikayat Diktat Kuliah Dokter

Oleh Mita Hafsah Saraswati

Dua setengah tahun sudah aku belajar menjadi seorang dokter. Tepatnya di salah satu kampus tertua di Indonesia. Selama itu pula aku akrab dengan anatomi tubuh manusia, praktikum, fisiologi, metabolisme, dan banyak lagi. Tak ayal SOBOTTA , buku babonnya anak kedokteran jadi buku rutin yang ku baca. Buku sebanyak dua jilid itu kini berjajar rapi di kamar kosku, bersama buku-buku lainnya.

Sewaktu kecil aku bercita-cita menjadi seorang dokter. Namanya juga anak-anak, keinginan itu sirna begitu saja seiring laju usiaku. Duduk di bangku Sekolah Menengah, cita-citaku berubah. Aku ingin menjadi seorang akuntan, kuliah di jurusan Akuntansi, jika tidak aku ingin menjadi seorang dosen seperti ibuku. Kebetulan ibuku adalah seorang pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Sempat juga aku bertekad bersekolah di Fakultas Kedokteran Gigi. Namun keinginanku lagi-lagi kugantung. Cukup unik barangkali seorang dokter gigi justru mencegahku untuk bersekolah sama dengannya. Pelbagai alasan dikemukakannya, yang pada akhirnya membuatku luruh.

Akhir kelas tiga SMU, kebetulan ibuku menggelar sebuah acara di kampusnya semacam promosi jurusan dan memang bidikannya adalah siswa SMU. Ibu sudah wanti-wanti supaya aku bisa datang pada acara di kampusnya. Aku mengiyakan. Bersamaan dengan acara ibuku itu, aku disibukkan dengan kegiatan sekolah. Bukan lupa, hanya saja aku tak bisa meninggalkan kegiatan sekolah. Kawan-kawanku pun demikian, mereka punya kesibukan lain. Akhirnya aku tak datang ke acara ibuku.

Tak kuduga ibu marah besar. Aku hanya bisa diam, tak berani melawan. Sebagai penebusan dosa aku mengalah, biar ibu yang memilih jurusan apa yang kelak aku masuki nanti. Langsung ibu meyuruhku memilih jurusan Akuntansi dan Manajemen, keduanya di UI, tempat ibuku mengajar. Untuk pilihan pertama ibu memintaku memilih Fakultas Kedokteran. Aku turuti mau ibu. Meski aku sempat ragu juga.

Dan sekarang aku diterima dan sudah nyaris tiga tahun aku kuliah di UGM. Kali ini adalah minggu kedua pekuliahanku di blok 16. Di fakultas kami, pelajaran kami tempuh dengan sistem blok. Setiap blok biasanya langsung dihadapkan pada masalah real atau penyakit tertentu. Dari satu penyakit itu, kemudian penanganannya diusahakan dari pelbagai disiplin mata kuliah. Dan itu kami cari sendiri di pelbagai literatur dan bahkan ngelayap ke internet.

Ada tujuh sks di setiap bloknya. Minggu ketiga perkuliahan kami, ujian pun digelar. Saat-saat seperti itulah yang terkadang membuatku pusing tujuh keliling. Buntutnya seusai ujian aku pergi dengan kawan-kawanku. Kebanyakan aku berwisata kuliner, mencoba makanan satu dengan lainnya. Setiap ada warung makan baru, aku tak mau ketinggalan mencobanya.

Pagi biasanya aku pergi ke kampus. Minggu-minggu ini setiap harinya aku masuk pukul tujuh pagi, kecuali hari sabtu. Itu artinya sebelum pukul tujuh aku harus bersiaga. Seperti hari ini, tepat pukul tujuh pagi dosen memasuki ruang kelas. Aku mendengar penjelasan dari dosen. Pagi ini kami belajar tentang metabolisme.

Usai kuliah pagi, aku dan kawan-kawan bertolak menuju Puskesmas Catur Tunggal. Jumlah kami 12 orang. Di sana kami praktek untuk berhadapan langsung dengan pasien. Aku menanyakan tentang keluhan seorang pasien perempuan paruh baya. Kepadaku ia mengeluh kepalanya acapkali gatal-gatal. Aku hanya terbengong mendengar keluhannya. Usut punya usut ternyata si ibu memakai cat rambut, dan itulah yang menjadi penyebab gatal di kepalanya.

Ada-ada saja polah tingkah pasien di puskesmas siang itu. Aku dan kawan-kawan tak kuasa menahan geli tatkala seorang pasien yang sudah masuk ruang periksa, langsung keluar lantaran enggan jika ‘dokternya’ lebih dari satu orang. Di puskesmas kami hanya menanyakan kepada pasien apa keluhannya. Kami melihat dan mencoba meraba bagian yang dirasa sakit, memeriksa dengan menggunakan stetoskop dan kemudian hasil ‘pemeriksaan’ lalu kami serahkan kepada dokter jaga. Kami belum sampai pada tahap memberikan obat. Anehnya si dokter percaya-percaya saja pada hasil pemeriksaan kami tanpa adanya pemeriksaan ulang.

Aku dan kawan-kawanku yang pergi bersama ke puskesmas adalah kawan satu kelompok tutorial. Itu semacam kelompok diskusi resmi yang dibentuk untuk membahas perkuliahan, praktikum, bahkan tak jarang kami pergi bersama untuk sekadar berwisata kuliner. Tak heran keakraban terjalin di antara kami. Bagaimana tidak dalam satu tahun kami ditakdirkan untuk selalu bersama.

Sejak duduk di bangku sekolah menengah aku terbiasa dengan aktivitas di luar kegiatan akademis. Sampai kuliah aku tak bisa menghilangkan begitu saja kebiasaanku itu. Aku tercatat pernah aktif di beberapa organisasi intra kampus. Bahkan sampai sekarang. Meski bukan lagi pengurus, aku masih seringkali bolak-balik mengurusi organisasi yang telah banyak menempa ilmuku selain ilmu-ilmu kedokteran tentunya. Dari organisasi itulah banyak hal yang aku dapatkan. Hari-hariku pun penuh dengan agenda kegiatan. Melelahkan memang. Rasanya aneh jika aku pulang ke kos lebih awal dari biasanya.

Aku juga bergiat di salah satu kelompok studi di kampus. Kami sering menyebutnya Health Study Club (HSC). Di kelompok studi itu aku dan kawan-kawan bergiat menuliskan kembali catatan perkuliahan yang diberikan oleh dosen. Tak jarang kami mengopi transparasi atau power point yang diberikan dosen. Kemudian kami menulis kembali dan membagikannya kepada kawan-kawan yang membutuhkan tentu saja dengan ongkos sebagai ganti photocopy.

Sungguh menyenangkan belajar bersama dengan cara demikian. Tak jarang ketika membuat catatan ulang tersebut aku menggunakan bahasaku sendiri. Bukankah belajar dengan bahasa sendiri membuat kita lebih mudah memahami sesuatu? Paling tidak dari situlah aku belajar menulis.

Meski awalnya berat akhirnya bisa juga aku menjalani kehidupan sebagai seorang calon dokter. Aku bisa juga menikmatinya, meski belum usai jejak langkahku. Setidaknya aku bisa mensyukuri apa yang aku terima saat ini. Seperti yang pernah dijelaskan oleh salah seorang dosenku, dia berkata bahwa bayi yang lahir terbelakang mental, adalah satu di antara seribu bayi yang lahir di Indonesia. Aku bergumam dalam hati seraya bersyukur, aku terlahir normal.

Memang bersekolah di Fakultas Kedokteran sungguh melelahkan. Kurasakan hal itu. Bagaimana tidak, kami dijejali dengan hapalan-hapalan, yang terkadang kami tak tahu apa artinya. Belum lagi kebanyakan dari referensi yang ada berbahasa Inggris. Itulah yang membuat beberapa mahasiswa kedokteran tak tahu dengan lingkungan. Misalnya saja hanya beberapa gelintir mahasiswa kedokteran saja yang tahu soal PP 37 yang diributkan itu.

Aku berusaha untuk mengimbanginya dengan mengikuti berita di televisi. Sembari makan aku mengikuti berita dari televisi. Agar seimbang itu saja. Aku punya tergetan, setidaknya dalam satu bulan aku harus bisa menyelesaikan dua buah buku di luar diktat kuliah.

Keseharianku memang melelahkan tapi setidaknya ada kepuasan terselip di antara lelah. Aku bisa berbuat sesuatu untuk sesama. Aku cukup terharu, ketika gempa 27 Mei lalu, aku menangani beberapa pasien, rata-rata mereka mengucapkan terimakasih dan aku menangkap pancaran kepuasan dari matanya. Meski tugasku hanya mengganti infus.

* Mahasiswa Kedokteran Umum UGM Angkatan 2004 (sebagaimana dituturkannya kepada kontributor I:BOEKOE, Fadila Fikriani Armadita)

5 Comments

dr.mizuno - 04. Jun, 2008 -

Janganlah engkau menanggung beban
Lemahlah engkau beratlah beban
Hiduplah tenang janganlah segan
Raihlah apa yang dibagikan

Bila beban ingin kau pikul
Seganggam angin takkan terpikul
Itulah beban ringan mengampul
Jika hati tiada menyimpul

aku ucapkan salut untuk mita,tetap ikhlas dalam berjuang di jalan yang diridhoi Alloh. tentang cita-cita apakah mau menjadi akuntan, ataupun dokter menurut saya sama saja yang penting kita dapat menjadikan pekerjaan yang mungkin akan kita tekuni kelak sebagai ladang amal untuk mendekatkan diri kapada Allah.
from: twinkle_miracle

Fi2 - 28. Okt, 2008 -

Assalamu’alaikum

Ini mita smunsa depok bukan…
Kl iya…oaalah, kangen aku rek…pie kabare??

Subhanallah bahasanya ta..Kuliah kedokteran apa kuliah sastra..hehe ^_^

imam - 07. Jul, 2009 -

hee..
maaf baru baca, jadi ingat masa lalu :’)

bintang - 12. Jul, 2009 -

yaah..semangat terus bu…!

yudi dynamic - 27. Apr, 2010 -

berbicara tentang jalan hidup atau cita-cita
entah menjadi dokter, akuntan, dosen
dan sebagainya…
memang terkadang kita tak pernah menduga
dimasa depan nanti kita akan menjadi apa..

namun yang terpenting adalah seberapa besar peran
dan manfaat yang telah kita berikan
sehingga benar-benar dapat dirasakan
oleh orang-orang yang ada disekitar kita..

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan