-->

Lainnya Toggle

Setahun Airmata Buku Jogja

Oleh Editor

Pagi ini setahun silam, 27 Mei, pukul 05.55, kota buku tua itu tergetar. Lalu setelah 55 detik, kota buku itu terhambur, tersobek, berantakan. Ia diguncang tarian bumi dari laut selatan segaris dengan jalur sungai opak yang selalu ritmik. Tarian maut itu geletekkan semua ruas buku Jogja yang mulai terbuka di pagi akhir pekan. Semua panik, semua lari.

Dan rumah-rumah pun terduduk. Lalu rintih dan tangis merundung. Darah mengalir. Luka menganga. Kepiluan menyeradak dari mata-mata yang kosong. Ibu mencari-cari anaknya, mencari-cari suami, mencari-cari sanak. Sementara anak memanggil-manggil di mana ibu, di mana ibu, di mana ibu, di mana ayah. Dan ribuan anak pun yatim tak beribu, piatu tak berbapak.

Tapi Jogja adalah buku. Ia bisa bangkit dengan solidaritas, ketahanan asa, dan kegigihan kerja. Pagi itu anak yang memanggil-manggil di mana ibu sedang menjemur buku yang basah airmata pencari ibu itu. Lalu pagi-pagi selanjutnya, siang-siang selanjutnya, dan malam2 selanjutnya, airmata buku itu sudah kering. Dan hari ini Jogja, si kota buku tua itu, sudah bisa membaca lagi seperti sediakala.

1 Comment

MESINKETIK - 02. Jun, 2007 -

gusmuh..i love u dah!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan