-->

Lainnya Toggle

Wisata Buku dan Majalah Tua Bandung

Oleh Argus Firmansah

Menghabiskan waktu senggang dengan jalan-jalan memang cenderung jadi pilihan banyak eksekutif muda maupun keluarga. Kota-kota yang menarik menjadi pilihan. Khususnya bagi mereka yang bekerja atau jadi pengusaha di Jakarta atau Surabaya, kota Bandung menjadi pilihan paling cepat. Selain karena jarak yang relatif mudah melalui jalan Tol Cipularang, juga tawaran hiburan yang menarik di kota Bandung.

Bandung punya banyak tempat alternatif tujuan jalan-jalan akhir pekan, seperti kawasan wisata belanja di Factory Outlet yang berderet di Jalan Ir.H. Djuanda (Dago), Jalan L.L.R.E. Martadinata, juga Jalan Cihampelas di mana outlet-outlet celana jeans dan t-shirt berderet di sepanjang jalan.

Wisata Buku juga menarik dikunjungi bagi mereka yang hobi mengoleksi atau membaca buku dan majalah tua. Kawasan Wisata Buku yang terkenal berada di Jalan Cikapundung.

Bapak Salamun (40), salah satu pedagang buku dan majalah bekas di kawasan itu mengatakan, ia dan teman-temannya sudah berjualan dari tahun 80-an. “Kalau bicara penghasilan…ya…tidak tentu, Mas. Kadang-kadang nombok buat ongkos dan makan juga bayar retribusi karena tidak ada pembeli. Tapi kalau sedang baik…ya…bisa ratusan ribu dari penjualan buku langka.”

Saat ditanya siapa saja pembeli buku di Cikapundung, Salamun mengatakan, “…ada pelajar, mahasiswa, atau pegawai negeri yang sering datang ke sini. Ada juga profesor atau orang kedutaan yang memesan buku langka tahun 1800-an. Nah, yang kaya gitu yang menguntungkan. Walaupun cari bukunya juga susah sekali.” Wisata buku bekas dan tua di kawasan Cikapundung memang sudah berlangsung lama, karena Bandung dianggap masih menyimpan buku tua dan langka dari jaman Belanda menjajah negeri ini. Meski awalnya Pak Salamun dan teman-temannya hanya berjualan buku pelajaran bekas dan majalah bekas, tantangan mencari buku langka yang dipesan oleh orang-orang penting menjadi hal lain yang menguntungkan.
Pengusaha kecil yang terorganisir dalam sebuah koperasi ini sudah mulai berjualan buku dan majalah tua/bekas sejak tahun 1980. Yang sering melancong ke sana banyak di antaranya adalah kolektor dan peneliti dari luar kota. Kawasan Wisata Buku juga terdapat di Jalan Rd. Dewi Sartika (dekat Alun-Alun Kota Bandung), Jalan Supratman (Pasar Suci), Jalan Palasari (Pasar Buku Palasari), dan Jalan Cihapit.

Anak-anak muda yang gemar mengoleksi kaset-kaset bekas tahun Jadul (jaman dulu) juga bisa berekspedisi di kios-kios atau emperan toko yang ada di Jalan Rd. Dewi Sartika, atau Jalan Cihapit. Dengan banyaknya sentra penjualan barang-barang Jadul ini Bandung menjadi tempat ekspedisi atau perburuan barang-barang antik.

Kedai atau rumah makan juga tidak kalah menariknya di Bandung, dari menu pilihan khas Sunda sampai makanan impor dengan venue dan suasana yang disajikan di sana cukup mengundang selera makan, selain untuk rehat setelah berkendara di jalan-jalan kota Bandung yang seringkali macet oleh kendaraan dari luar kota.
Kedai atau rumah makan sederhana dengan menu sederhana untuk orang-orang menjadi pilihan utama, di samping lebih mudah diakses karena tersebar di pinggir jalan juga karena harganya yang sangat terjangkau. Mahasiswa dan pelajar memilih tempat rehat seperti itu untuk menghabiskan Sabtu malam di Bandung.

Mall sebagai sentra belanja modern juga tidak kalah menariknya di Bandung, mulai dari perlengkapan rumah tangga dan elektronik, Mall juga menarik dikunjungi untuk mereka yang gemar window shopping.

Selepas senja, pemandangan kota Bandung tidak kalah menariknya. Beragam tempat hiburan seperti caffe, kedai dan klab malam atau diskotek tersedia di Bandung di tempat-tempat strategis. Jalan Braga misalnya, jalan-jalan ke kawasan jalan Braga ini seakan menjadi keharusan bagi mereka yang jalan-jalan ke Bandung. Di jalan inilah orang-orang pelesir dari luar kota sejak tahun 1970-an menjadi kawasan sentra hiburan malam di Bandung.
Bermalam di Bandung adalah salah satu daya tarik yang tidak kalah dibanding siang hari dengan berbelanja di FO. Jalan Braga memiliki kehidupan fenomenal di Bandung. Jalan yang terkenal sebagai kawasan refreshment ini masih memlihara cita rasa hiburan malam yang menggoda selera humor dan seksnya. Meski pemerintah kota Bandung melarang hiburan malam yang berbau seks, tapi di kawasan ini tak pernah sepi dari orang-orang malam yang berburu kesenangan dengan mojang-mojang cantiknya setiap Sabtu malam dan Minggu malam.

Penginapan di Bandung juga tidak kalah menariknya. Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger, dan Hotel Panghegar, di samping hotel dan motel lainnya, memiliki daya tarik berkelas di samping karena nilai historis hotel-hotel itu yang dibangun oleh arsitek kenamaan dari Belanda dan Jerman di jamannya di abad 19. Atau menginap di Hotel Papandayan di Jalan Gatot Subroto yang bercitarasa Parahyangan.

Keunikan Bandung, selain tempat-tempat yang menarik untuk rehat dan menikmati suasana sejuknya, juga karena Bandung masih memiliki bangunan-bangunan tua pada jaman Belanda yang masih dipelihara, meski fungsi bangunan atau gedung tersebut sebagian banyak sudah berubah fungsi. Bangunan atau gedung tua ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang jalan-jalan ke Bandung di akhir pekan. Misalnya Gedung Sateh yang dibangun oelh seorang arsitek yang bernama J. Gerber pada tahun 1920, gedung ini sekarang menjadi kantor pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemandangan arsitektur yang diberikan gedung ini sangat memikat para pelancong dari luar kota Bandung. Karena gedung ini dianggap salah satu simbol kota Bandung di bidang arsitekturnya, selain Hotel Savoy Homann. Gedung Sateh ini pada jaman Belanda dirancang untuk gedung pusat pemerintahan Hindia Belanda.

Bandung sempat mendapat julukan kota kembang karena keasriannya yang alami dengan banyaknya pohon-pohon besar yang berumur puluhan tahun. Sekarang Bandung memiliki daya tarik yang lebih modern dengan banyaknya tempat-tempat dengan sajian gaya hidup metropolis. Beberapa bangunan tua dijadikan Factory Outlet oleh pengusaha dari Jakarta. Misalnya Ferry, dengan beberapa FO yang dimilikinya di kawasan L.L.R.E. Martadinata dan Jalan Ir.H. Djuanda (jalan Dago).

Bandung kotanya para jajaka dan mojang Parahyangan yang elok ini selalu memberi kesan lain setiap kali wisatawan domestik mengunjunginya. Di sisi lain, aktivitas pendidikan dari lembaga pendidikan yang tersebar di kota Bandung membuat kota ini sangat nyaman untuk selalu disinggahi. Tak heran bila pemukiman dengan desain dan letak geografis yang menyejukan di Bandung selalu diminati oleh orang-orang di luar kota Bandung. Setiap tahunnya, pertambahan jumlah penduduk selalu menunjukkan angka pertumbuhan yang signifikan, terlebih pada tahun ajaran baru. Nah, jangan heran bila setiap tahun selalu ada perubahan wajah interior kota Bandung. Entah itu Mall atau dapur-dapur (resto) yang berlabel khas Parahyangan. Selamat menikmati suasana santai di kota Bandung.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan