-->

Lainnya Toggle

Mulanya Kertas Gulungan dan Karet Gelang

Oleh Faiz Ahsoul

Kali pertama saya kenal Ataka, pada sebuah pertemuan singkat di minggu ke dua bulan Agustus 2004. Waktu itu, dia menyodorkan gulungan kertas sobekan buku tulis yang diikat dengan karet gelang. Dia bilang, itu bakal novel yang sedang ia tulis. Saya terkejut. Langsung saja saya buka ikatan karet gelangnya dan menggelar gulungan kertas tersebut. Lembar pertama saya baca membuat saya terdiam agak lama; ini anak pengetahuan fiksi fantasinya didapat dari mana?

Setelah mendengar tuturan singkat tentang Ataka dari bapaknya, saya mulai mengajak ngobrol Ataka. Saya tanya apakah sudah bisa menggunakan komputer atau belum? Kalau sudah, alangkah baiknya jika tulisan bakal novel di atas sobekan-sobekan kertas yang digulung dan diikat karet gelang tersebut, dipindah-tuliskan ke dalam komputer agar tidak tercecer dan hilang. Ataka terdiam, dia melihat bapaknya dan bapaknya bercerita kalau Ataka belum bisa menggunakan komputer, tapi baru mulai belajar komputer. Duh, perasaan bersalah langsung menyulut saya karena telah mengajak ngobrol seorang anak berumur 12 tahun laiknya orang dewasa. Saya pun buru-buru minta maaf kepada bapaknya dan melempar senyum utuh kepada Ataka.

Pertemuan kala itu, benar-benar pertemuan singkat. Ataka harus siap-siap berangkat kursus bahasa Inggris. Sementara saya dan bapaknya Ataka, Taufiqurahman, juga masih punya agenda menuntaskan kerja-kerja pelatihan kader sehat untuk warga Yogyakarta. Jadi, pertanyaan tentang pengetahuan Ataka terhadap fiksi fantasi masih belum terjawab dan tetap menggantung di benak saya. Sebelum berpisah, sekali lagi saya sempatkan untuk memberi pesan kepada Ataka; kalau belajar komputer lagi, jangan lupa sambil menulis ulang bakal novelnya ke dalam komputer. Dan kalau bisa, ide-ide ceritanya lebih dikembangkan lagi. Kali ini, kata-kata saya bernada ringan dan tidak terkesan memaksa.

Kesibukan dan kegiatan saya sebagai pengangguran tidak tetap, membuat pertemuan pertama saya dengan Ataka terlupakan begitu saja. Bahkan, pertanyaan yang sempat menggangu saya tentang pengetahuan Ataka terhadap fiksi fantasi, menguap tak berbekas bersama lajunya gelombang waktu. Sampai kemudian, kurang lebih lima bulan setelah pertemuan pertama, tepatnya awal 2005, saya dipertemukan lagi dengan bapaknya Ataka oleh peristiwa yang tidak disengaja dan tidak begitu penting. Ya, waktu itu kami bertemu di tengah jalan saat mau pulang dari kesibukan masing-masing.

Mas Taufiq, demikian saya memanggil bapaknya Ataka. Dia bercerita kalau novel yang ditulis Ataka sudah bab VI dan sudah diketik ke dalam komputer. Katanya, mungkin bulan depan sudah kelar menjadi novel utuh. Kalau ada waktu, saya diundang main ke rumahnya di daerah Kuncen, dekat kampus lama Universitas Muhammadiah Yogyakarta (UMY).

Setelah dua-tiga kali bertandang ke rumahnya dan berinteraksi dengan keluarganya, pertanyaan yang sempat mengganggu saya: dari mana Ataka bisa mengusai pengetahuan tentang fiksi fantasi? Akhirnya terjawab lewat cerita bapaknya yang sedikit mengeluh kalau setiap bulan harus mengeluarkan uang Rp.200.000-Rp.300.000 untuk membelanjakan buku-buku bacaannya Ataka. Ya, Ataka termasuk anak yang mengidap candu baca novel-novel terjemahan seperti: Eragon, Darren Shan, Harry Potter, trilogi The Lord of The Rings, sampai Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle dan karya-karya Sidney Sheldon. Novel-novel berhalaman tebal yang mungkin hanya bisa dijangkau oleh orang-orang atau keluarga berkantong tebal.

Tapi apakah orangtua Ataka termasuk keluarga berkantong tebal? Seandainya benar, mungkin bapaknya tidak akan mengeluhkan uang dua-tiga ratus ribu setiap bulan demi kebahagiaan anaknya. Dan kita tahu sendiri, ternyata bapaknya Ataka termasuk orang tua yang merasa kerepotan dan mengeluh jika setiap bulan harus keluar uang ratusan ribu untuk kebutuhan fantasi anaknya. Apalagi, di samping candu baca, Ataka juga candu nonton film. Terutama film-film fantasi, petualangan, dan detektif. Kalau ada film baru, maka dia langsung minta ke orangtuanya untuk diajak nonton film di bioskop.

Melihat perkembangan anak sulungnya seperti itu, Mas Taufik dan istrinya terus berpikir bagaimana caranya menyiasati keuangan keluarga. Belum lagi ditambah dengan kedua adiknya Ataka: Atya dan Bintang yang mulai menampakkan kebutuhan yang tidak sedikit. Dan Ataka sendiri, setelah bisa menggunakan komputer dan internet, dia selalu menyempatkan diri berselancar dalam media maya tersebut. Kebutuhannya tentang informasi buku-buku baru dan film-film baru, membuat Ataka dalam sepekan bisa 3 sampai empat kali ke internet. Jadi, selain belanja buku, nonton film, orangtuanya juga harus menyediakan uang untuk sewa internet.

Akhirnya, kedua orangtua Ataka bersepakat mendaftarkan Ataka sebagai member pada sebuah penyewaan buku, peminjaman film, dan warnet (warung internet), yang tidak jauh dari rumahnya.

TERNYATA benar, pertengahan bulan Februari 2005, Ataka sudah merampungkan novel pertamanya. Dan saya diberi kehormatan sebagai pembaca pertama karya debutannya: Misteri Pedang Skinheald I ‘Sang Pembuka Segel’.

Pelahan-lahan saya mulai bisa mengikuti irama obrolan bersama Ataka. Saya mencoba selalu mengayuri pola ungkap dan cara bertutur Ataka. Saya juga berusaha meleburkan diri ke dalam logika cerita yang dibangun Ataka. Terutama, ketika sedang sama-sama membaca ulang dan mendiskusikan karyanya. Bahkan, sesekali saya dan Ataka pergi bersama memancing ikan sambil menghabiskan senja bersama skuter tua ungu.

Setelah itu, Ataka biasanya kembali membaca ulang karyanya sendirian. Kemudian dia menambah dan mengurangi apa yang ingin dia tambah dan apa yang ingin dia kurangi. Sementara saya sendiri, mencoba berpikir keras kira-kira penerbit mana yang bisa mempublikasikan karya pertamanya Ataka.

Sebelum menawarkan naskah, satu per satu penerbit yang saya kenal saya pelajari ulang karakter dan kecendrungan buku-buku terbitannya, termasuk sistem produksi dan kemasannya, juga manajemen serta jangkauan persebaran pasar bukunya. Dan ini tidak mudah. Apalagi melihat Ataka yang tampak bersemangat memperbaiki ulang novelnya. Ini membuat saya merasa semakin sesak nafas dan cemas. Apa yang akan terjadi jika naskahnya Ataka ternyata ditolak oleh penerbit dan akhirnya tidak bisa terbit?

Satu hal yang paling saya cemaskan adalah: Ataka tidak mau menulis lagi. Dan kalau sampai itu terjadi, maka saya menganggap itu termasuk kesalahan fatal dan dosa besar yang tak terampuni dalam sepanjang hidup saya.

Ya, kurang lebih satu bulan setengah saya dihantui kecemasan itu. Kemudian dari lima penerbit yang saya amati—dua penerbit yang sudah mapan dan tiga penerbit yang masih merangkak serta baru bisa menerbitkan buku beberapa judul—akhirnya saya pilih satu rumah penerbitan baru yang punya semangat bagus dalam dunia perbukuan dan penerbitan. Lalu saya tawarkan naskahnya Ataka.

Kenapa saya memilih penerbitan tersebut? Pertama, karena dia masih baru dan membutuhkan promo rumah penerbitannya. Dengan menerbitkan novelnya Ataka, maka dia bisa promo lembaganya lewat kemasan launching novel pertamanya Ataka; seorang penulis cilik berumur 13 tahun yang menulis novel bergenre fiski fantasi. Kedua, kalau akhirnya novelnya Ataka disambut baik oleh pasar buku dan laku, maka penerbit baru tersebut bisa memutar modal untuk menerbitkan buku-buku lainnya sekaligus menyambung nafas para pekerja yang rata-rata adalah teman saya. Ini bukan masalah kolusi dan semacamnya, tapi strategi mengoptimalkan tenaga pengangguran tidak tetap di Yogyakarta seperti saya.

Demikianlah penggalan kisah perjalanan buku novel Misteri Pedang Skinheald I ‘Sang Pembuka Segel’, yang akhirnya bisa cetak 3000 eksemplar dengan sistem terbit dua kali cetak Juni-Juli 2005, di bawah bendera rumah penerbitan Alenia.

LEPAS landasnya novel debutan Ataka di pasar buku membuat salah satu penerbit di Yogyakarta yang konsen terhadap karya-karya fiksi anak, langsung menghubung
i saya. Kebetulan yang punya rumah penerbitan tersebut adalah kawan saya juga. Dia protes, kenapa ada naskah novel anak seperti itu tidak ditawarkan ke rumah penerbitan miliknya?! Dengan jujur, saya minta maaf kepadanya. Karena sejauh yang saya tahu, rumah penerbitan miliknya hanya menerbitkan naskah-naskah novel terjemahan dan tidak naskahnya penulis lokal.

Kemudian dia tanya, kira-kira Ataka bisa menulis naskah lain tidak? Dan pada saat itu juga saya langsung mengambil ponsel dan mengirim sandek (pesan pendek) ke Ataka : “K, bisa ndak nulis naskah lagi yg beda dgn novel prtama dgn seting crita lokal? Ada pnrbit lain yg minta,trims.”

Tidak lama kemudian, Ataka membalas sandek saya: “Oke om. Nnt saya ushakn,trims”. Jawaban itu saya tunjukan ke kawan saya. Dia pun tersenyum. Hilang sudah rasa jengkelnya kepada saya.

Tiga minggu kemudian, Ataka menelpon saya, “Om, novel pesanannya sudah jadi. Kapan mau diambil dan main ke rumah?” Saya sempat tergeragap dan gugup. Gila, tiga minggu adalah waktu yang cukup singkat untuk menulis sebuah novel. Saya langsung menjawab, “Ya, secepatnya Om akan ke rumah bareng kawanya Om yang punya penerbitan.” Klik! Telepon pun dimatikan.

Cepat-cepat saya kirim sandek ke kawan saya dan mengajaknya bertandang ke rumah Ataka. Sampai di rumah Ataka, kami langsung disodorkan bendelan naskah tanpa judul. Kemudian Ataka bercerita asal-usul naskah tersebut. Mulanya adalah tulisan-tulisan cerpen yang dia kumpulkan. Dan salah satu cerpenya pernah dia kirim ke redaksi Mading (Majalah Dinding) di sekolahnya, tapi ditolak oleh pengurus redaksinya. Ketika dia dipesan untuk menulis naskah lagi, dia membongkar ulang cerpen-cerpen tersebut dan dirangkai kembali menjadi sebuah novel. Beberapa judul cerpen diganti menjadi bab-bab dalam novel, dan salah satu bab berjudul Misteri Pembunuhan Penggemar Harrry Potter.

Kawan saya langsung tersenyum sumringah. Otak bisnis penerbitannya berputar cepat, telak menjemput sasaran. Apalagi setelah tahu bagaimana jelinya Ataka dalam membuat naskah bakal novel keduanya. Ataka mengisahkan detektif cilik yang tergabung dalam barisan A3R. Sebuah organisasi agen rahasia yang sedang membongkar kasus pembunuhan di sekolah mereka, yaitu SMP N 5 Yogyakarta. Dan ternyata, setelah dibaca ulang lagi secara cermat, nama A3R adalah singkatan dari namanya Ataka sendiri: Ahmad Ataka Awwalur Rizqi. Sebuah kejelian yang cukup menakjubkan untuk ukuran bocah berumur 13 tahun. Dan kawan saya pun semakin kepincut dibuatnya.

Setelah dibaca bersama dan didiskusikan bareng-bareng, Ataka diminta untuk membaca ulang lagi dan membenahi beberapa bagian bakal novel keduanya tersebut. Rupanya pengalaman penerbitan buku pertamanya, membuat Ataka tidak mengalami kesulitan yang berarti. Satu minggu setelah diskusi bersama, Ataka menganggap penulisan naskah sudah kelar dan tuntas. Ya, ini merupakan salah satu bukti bahwa Ataka termasuk anak cerdas, kuat ingatan dan tidak rapuh untuk menangkap momen-momen tertentu.

Dalam proses kreatif novel kedua Ataka, saya sengaja tidak terlibat jauh. Bahkan untuk penyuntingan pun diserah kelolakan kepada redaksi Liliput. Ini semata-mata supaya Ataka punya pengalaman baru dan pengetahuan baru dalam dunia penerbitan buku. Dan tidak lama kemudian, di bawah naungan rumah penerbitan Liliput, terbitlah novel kedua Ataka: Misteri Pembunuhan Penggemar Harrry Potter; masih di tahun 2005.

BAIK novel MPS (Misteri Pedang Skinheald) maupun MP2HR (Misteri Pembunuhan Penggemar Harry Potter), dirancang oleh Ataka sebagai novel trilogi. Ketika kesibukannya mulai reda pasca launching, diskusi, dan talkshow untuk dua novelnya, Ataka kembali membuat kerangka novel MPS II. Malah, sebagian kerangkanya sudah jadi. Hanya perlu panambahan untuk karakter tokoh-tokoh barunya dan nama-nama seting tempat ceritanya.

Akhir tahun 2005, bakal novel MPS II sudah jadi sepuluh bab, dengan judul “Awal Petualangan Besar. Atas prakarsa penerbit Liliput, MPS II didiskusikan bareng dengan mengundang beberapa kawan-kawan yang gandrung akan novel fiksi fantasi dan suka mengamati perkembangan anak atau konsens terhadap dunia anak-anak. Efek dari diskusi bersama tersebut, membuat Ataka semakin keranjingan menulis dan ingin cepat-cepat menyelesaikan bakal MPS II.

Rupanya, hasrat menulis Ataka tidak bisa dibendung oleh dirinya sendiri. Kerangka awal MPS II yang hanya sampai bab X lebih sedikit, jebol oleh imajinasi menulisnya sendiri. Akhirnya, kerangka diperpanjang lagi sampai bab XV. Namun itu pun tidak bisa menampung semangat menulisnya yang membludak hingga tuntas bab XVIII. Ataka sendiri tidak menyangka kalau MPS II sampai bab XVIII. Namun, setelah itu dia mempunyai angan-angan untuk MPS III harus lebih tebal dan panjang lagi dari MPS II.

Tebalnya novel MPS II, membuat rumah penerbitan Alenia berpikir ulang untuk ongkos produksi buku dan strategi penjualannya. Pihak pemasaran Alenia keberatan kalau menjual buku-buku tebal dengan harga mahal. Alasanya, bisnis penerbitan buku sedang sepi. Nah, proses negosiasi inilah salah satu faktor yang membuat MPS II menjadi lama terbit. Bahkan proses negosiasi itu berlarut-larut hingga memakan waktu berbulan-bulan. Akhirnya, pihak orang tua Ataka menarik naskah MPS II dari Alenia dan ngajak ngobrol saya kalau Ataka jangan sampai tahu tentang pembatalan penerbitan MPS II dengan bendera Alinea.

Ya, Ataka yang suka bertanya ternyata tidak bisa untuk tidak tahu kalau proses penerbitan MPS II tersendat. Namun Ataka cukup bisa diajak ngobrol dan memahami apa yang terjadi. Bahkan, di tengah terkatung-katungnya nasib MPS II, dia menulis bakal novel lagi; sebuah novel tentang kisah perjalanan nasib seorang bocah korban bencana Tsunami di Aceh 2004, yang akhirnya terdampar di Yogyakarta. Bakal novel tersebut dia kasih judul Kenangan di Bumi Rencong, dan sudah diminta oleh salah satu penerbit mapan dari Surabaya.

Namun selama pengerjaan novel itu, Ataka terhenyak dengan kejadian bencana alam Gempa Bumi di Jateng-DIY yang notabene di daerahnya sendiri. Dia pun merespons fenomena alam yang menggedor rumahnya menghunjam kotanya itu dengan menulis satu lagi bakal novel yang berjudul Bulan Sabit di Langit Parangtritis.

Kembali ke nasib MPS II. Setelah pembatalan dengan Alenia, ada beberapa penerbit yang menawarkan diri untuk menerbitkan MPS II. Salah satunya adalah rumah buku penerbitan Copernican. Kemudian saya diminta oleh pihak penerbit untuk menggawangi proses terbitnya novel MPS II tersebut. Dalam hal ini, saya tetap melepas-bebaskan Ataka. Bahkan, ketika di tengah-tengah proses pra produksi, Ataka masih suka menambah dan melengkapi bakal novelnya tersebut, saya ladeni dan saya telateni.

Hingga akhirnya, novel MPS II “Awal Petualangan Besar” benar-benar bisa terbit dengan ketebalan 660 halaman, di bawah bendera rumah penerbitan Copernican, awal tahun 2007.

Demikianlah, catatan kesaksian saya terhadap proses kreatif Ataka, yang sempat membuat saya terkejut karena awal mula bakal novelnya hanya dari tulisan-tulisan di atas sobekan kertas yang digulung dan diikat dengan karet gelang.

2 Comments

Nenny Septiana - 03. Jan, 2008 -

Mengagumkan. Ternyata benar teori yang mengatakan, apa inputmu itulah outputmu. Ataka yang keranjingan buku dan film berhasil membebas luaskan pintu imajinasi pikirannya sehingga ia seperti melesat terbang melewati segala penghalang dalam menulis.
Yang jadi pertanyaan, bagaimana ia bisa begitu semangat membaca dan menulis? Seperti apa lingkungan dan orang tuanya mendidiknya? jika kita bisa menularkan semangat membaca adan menulis ini pada anak-anak (dan orang dewasa) lainnya, maka inilah salah satu cikal bakalnya bernafasnya Indonesia.

irwan Bajang - 29. Okt, 2009 -

Saya sudah baca buku MPS 1 dan 2 Attaka…
Imajinasinya kuat sekali…meskipun terpengaruh bacaan2 luarnya..
Hmmm…
Attaka apa khabar ya sekarang? lama tak terdengar khabarnya…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan