-->

Lainnya Toggle

“Hanya Dongeng yang Bisa Kuberi pada Aka”

Oleh Nur Hilawah, Ibunda Ataka

Mulanya aku tak mengetahui bakat anakku, maklum kami terpisah jarak. Aku dan ayahnya tinggal di Yogyakarta, sementara Ataka, putra sulungku bermukim di Kaligondo, Genteng, Banyuwangi bersama orangtuaku.

Sejak usia 6 bulan Ataka sudah berpisah dengan kami sampai usianya menginjak 12 tahun. Selama Ataka di Banyuwangi aku rutin menyambanginya. Ketika masih bayi hampir setiap bulan aku datang, mengantarkannya imunisasi. Beranjak ia besar ketika ia sudah mulai berbicara, aku bertambah sering menjenguknya, tak lupa aku membawakannya ‘oleh-oleh’. Buah tangan yang aku bawa memang bukan makanan, aku membawakannya buku cerita atau majalah. Anakku gemar sekali mendengarkan cerita. Sebab hanya itu yang bisa aku lakukan untuk Aka.

Setiap akhir pekan aku berupaya sebisa mungkin untuk bisa pulang ke Banyuwangi, hanya untuk mendongengi Ataka. Ia pun selalu menanti kehadiranku untuk mendengar dongeng-dongeng yang kuberikan. Sebab aku tak pernah menyelesaikan dongeng dalam sekali waktu. Selalu aku buat bersambung ternyata itu membuatnya penasaran dan menanti kelanjutannya.

Aku membuat aturan, dongeng hanya kuberikan menjelang tidur. Ataka selalu menanti waktu untuk tidur, bahkan ketika belum mengantuk ia berkata kalau dia sudah ingin tidur, hanya untuk mendengar dongeng lebih cepat. Mulanya Ataka tak terbiasa tidur di siang hari, tetapi karena ingin dibacakan cerita, ia mulai membiasakan diri untuk tidur di siang hari.

Usia tiga tahun, ia belum bisa membaca tapi ia bisa menceritakan isi buku berdasar gambar, persis sama dengan apa yang aku ceritakan kepadanya. Dari situlah aku mulai tahu ketertarikan anakku pada buku. Melihat kebutuhannya dibacakan cerita cukup tinggi, orangtuaku meminta tolong pada saudara membacakan cerita untuk Ataka ketika aku sedang berada di Yogyakarta. Saking gandrungnya dibacakan cerita, ia tidak takut kepada siapa saja, asal orang itu mau membacakannya cerita. Beranjak besar, Ataka sudah mulai bisa memilih buku apa yang dia inginkan.

Selepas Sekolah Dasar (SD) Ataka hijrah ke Yogyakarta. Itu memang sudah menjadi keinginannya sejak lama sebab jika tinggal di Banyuwangi ia akan kesulitan mengakses buku yang diinginkan. Dalam bayangannya ketika tinggal di Yogyakarta ia bisa hunting buku kegemarannya kapan saja ia mau.

Jujur aku tak pernah membayangkan anakku bakal menjadi penulis seperti sekarang. Aku tahu ia gemar menulis, pada selembar kertas. Lama kelamaan kertas itu menumpuk. Suatu saat aku membereskan kamarnya karena ada saudara akan datang berkunjung. Aku menemukan tumpukan kertas penuh tulisan tangan Ataka yang cukup sulit dibaca. Aku berpikir ketika itu, tulisan itu adalah rangkuman dari bacaan kegemaran Ataka selama ini, Harry Potter, Lord of the Ring atau Eragon, aku tak tahu pasti sebab aku tak pernah membacanya. Warna tumpukan kertas itu sudah menguning dan lecek karena kupikir tidak terpakai aku menyingkirkannya ke dalam kardus.

Ternyata Ataka mencari tumpukan kertas yang aku singkirkan tadi. Ia bertanya padaku, aku jawab, ”Untuk apa kertas seperti itu disimpan, toh itu cuma rangkuman buku, dan kamu sudah punya bukunya.” Ataka mengelak ia mengatakan kalau itu sangat penting baginya. Ataka masih malu mengakui kalau itu tulisannya sendiri. Aku tak diijinkan melihat tumpukan kertas itu. Malam ketika Aka tidur, aku mencuri kesempatan untuk membaca tumpukan kertas itu, kemudian aku cocokkan dengan buku-buku koleksinya, ternyata berbeda. Dari situlah baru aku tahu tulisan-tulisan itu adalah karya orisinil Ataka, putra sulungku.

Pertengahan Agustus 2004 Ayah Aka, Taufiqurrahman, mengenalkan Ataka pada seorang kawan. Kepadanya kami menunjukkan karya Ataka, ia merespon positif. Harapan kami ada orang yang bisa membimbing dan mengarahkan Ataka dalam menulis. Meski aku lulusan Sastra Perancis, aku tak banyak tahu soal teori menulis

Kami menganjurkan Ataka untuk memindahkan tulisannya ke komputer, supaya lebih enak dibaca. Satu minggu setelah perkenalan dengan Faiz, kawan ayahnya, (M Faiz Ahsoul—baca kesaksiannya ….. ) kami dihubungi dan mengatakan kalau ada penerbit yang berminat menerbitkan buku Ataka. Gayung pun bersambut. Hampir setahun berselang buku pertama Ataka terbit, tepatnya bulan Juni 2005.

Ketika menulis, Ataka memang asyik dengan dunianya. Ia tak menghiraukan apa pun di sekitarnya. Ibarat kata, ketika huru-hara terjadi ia tak akan bergeming. Sampai-sampai ia lupa makan dan minum. Aku dan ayahnya bertindak sebagai polisi, yang wajib mengingatkan Ataka waktu makan bahkan ketika minum susu sekalipun.

Tak jarang aku membawakan segelas susu ke hadapannya. Itu pun harus kutunggui sampai aku yakin Ataka benar-benar menghabiskannya. Perlahan ia kunasehati, tak baik terlalu cuek dengan sekitar ketika menulis. Ia pun perlahan mulai sadar dan mengurangi kebiasaan cueknya itu.

Dua adiknya, Yayang dan Bintang, kerap sekali ngrusuhi kakaknya ketika menulis. Tak jarang ketika Ataka beranjak sejenak untuk buang air atau sekadar minum, tulisan Ataka ditambahi dua atau tiga kalimat. Atau si kecil Bintang yang selalu mencari perhatian Ataka, mengajaknya bermain perang-perangan. Tak heran si bungsu selalu menanti kepulangan Ataka. Oleh karenanya setiap kali menulis Ataka selalu menutup rapat pintu kamarnya.

Dia selalu enggan ketika aku mengajaknya berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Jika mau ia pasti meminta membawa laptop, ia tak pernah melewatkan kesempatan barang sedetik pun untuk menulis.

Ketika membaca pun Ataka tak pernah mengenal lelah, padahal aku sendiri lelah melihat tumpukan buku koleksi Ataka yang tebalnya bukan kepalang. Terkadang aku sendiri yang khawatir kalau-kalau dia tak kuat membaca. Tapi sepertinya ia merasa enjoy, dan bisa menikmati.

Awal mula dia di Yogya ketika membaca buku ia pun serius dan tak bergeming sedikit pun. Terkadang aku mengalah untuk menyuapinya, itupun ia enggan menengok untuk memasukkan makanan ke mulutnya. Aku harus ada di hadapannya menyuapi Ataka, pandangan matanya tak beringsut dari buku yang dipegangnya.

Tiga hal yang tak bisa lepas dari Ataka: buku, film, dan game. Kala suntuk ia bisa menghabiskan empat film sekaligus atau bermain game seharian dengan kedua adiknya. Tak heran jika ia selalu mencari informasi-informasi terbaru seputar film. Sebisa mungkin Ia adalah orang pertama yang menyaksikan film tersebut.

(Seperti dituturkan kepada reporter Iboekoe, Fadila Fikriani Armadita)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan