-->

Lainnya Toggle

Dicari: Sang Pembuka Segel!

Oleh Fadila Fikriani Armadita

Pernah membaca Harry Potter atau Lord of The Ring? Jika pernah membaca keduanya tentu tak asing lagi dengan penulisnya yang telah mendunia, J.K Rowling dan J.R.R Tolkien. Sosok Tolkien hadir di Indonesia dan dia ‘hanya’ seorang anak kecil yang belum menamatkan bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dari tangan mungilnya lahir trilogi novel Pedang Skinheald. Misteri Pedang Pembunuh Skinheald ‘Sang Pembuka Segel’ (Alenia, Juli 2005; x+190 hlm) adalah sekuel pertama si bocah memberinya judul Misteri Pedang Skinheald ‘Sang Pembuka Segel’. Luar biasa bocah 14 tahun ini. Meski terbilang muda imajinasi penulis cilik ini cukup mengejutkan barangkali juga tak pernah terbersit dalam benak orang dewasa. Novel yang ditulisnya bergenre fantasi, bisa dibilang sekelas dengan Lord of The Ring.

Gaya tuturnyapun memikat, sungguh asli tak dibuat-buat atau direkayasa. Ataka menggunakan gaya tutur sehari-hari terlihat dalam tulisannya ia menggunakan gaya percakapan sehari-hari, tak didramatisir, atau dilebih-lebihkan. Imajinasinyapun cukup mengejutkan. Barangkali tak pernah terpikir oleh orang dewasa. Imajinasinya tak cuma dalam jalan cerita tetapi juga pada karakter tokoh yang ditampilkan.

Pada sekuel pertama ini terbagi atas tujuh episode. Cerita dimulai dengan Robin, seorang guru di sekolah Ayo Bertanam Singkong yang juga cucu orang terkaya di desanya, Burton. Ia mendapat peringatan agar berhati-hati kepada orang asing, karena dirinya dalam bahaya. Robinpun disarankan untuk membuat pesta agar lebih mudah untuk meramal siapa yang berniat jahat padanya. Seusai pesta ia mendapat surat yang menyuruhnya untuk pergi ke arah jendela kamar kakeknya, jika ia menemukan lantai yang berbeda, ia diminta untuk mengucapkan mantera, dan dia akan menemukan sebuah ruang yang disebut ruang tenang damai, Robin diminta untuk memeriksa ruang tersebut.

Lantaran bingung banyak orang baru di sekitarnya Robinpun berniat pergi ke rumah salah satu salah satu anggota Para Penggosip Burton. Malang, di tengah perjalan ia tak bisa menampik goblin yang tiba-tiba saja datang menyerangnya. Untung saja dia ditolong oleh pasukan Kesatria Selatan. Robin terluka akibat serangan para goblin, dan lukanya iu sama persis dengan yang dimiliki oleh kakeknya, Adin Halfman.

Beberapa hari berselang, Robin masuk ke dalam ruang tenang damai, seuai anjuran dalam surat yang ditujukan padanya. Ruangan itu ternyata dijaga oleh seorang hantu, Robinpun bertarung dengan hantu tersebut. Di ruangan itu pulalah Robin mendapat Old Blade, sebuah pedang milik kakeknya yang tiba-tiba mendekati Robin. Pedang itu telah memilih pemiliknya.

Sejak saat itu diketahui identitas Robin, dia adalah sang Pembuka Segel Pedang Skinheald. Pedang ini telah disegel oleh Mildebest, Greylay, dan Pyraf. Pedang ini diburu oleh Penguasa Istana Kegelapan karena dapat membunuhnya sehingga mereka bertiga ingin menyegelnya. Ataka mengakhiri cerita pada sekuel pertama ini dengan rencana Robin dkk untuk pergi ke pulau Fa, untuk membuka segel dan membunuh para penguasa istana kegelapan.

Terlihat imajinasi Ataka yang cukup luar biasa dimiliki olehnya. Dalam sekuel tersebut salah satunya juga diceritakan tentang keberadaan sebuah benda yang disebut media komunikasi sihir, benda yang mirip cermin tersebut bisa berkomunikasi dengan kawan di daerah lain dan bisa melihat secara langsung peristiwa yang terjadi di daerah tersebut.

Kekuatan lain yang ada pada novel ini adalah karakteristik tokoh. Ataka mampu menggambarkan sifat dan karakter tokoh, cukup mengagumkan Ataka tak asal dalam mencipta tokoh. Ia membuka buku pintar, ataupun kamus untuk mendapat nama sekaligus karakter tokoh yang diinginkannya.

Sayangnya dalam novel ini belum maksimal penyuntingannya, masih terdapat beberapa kesalahan ejaan. Namun untuk ukuran bocah seumur Ataka, novel ini cukup bisa menyita pikiran orang dewasa untuk membacanya, tak cuma anak-anak.

Kehadiran Ataka, setidaknya mewarnai kancah dunia sastra anak (di) Indonesia yang selama ini hanya dikuasai oleh orang dewasa dan sudah saatnya anak-anak menemukan dunianya lewat tangan-tangan kecil mereka.

(Fadila Fikriani Armadita)

Ayo Bermain Detektif!
Judul: Misteri Pembunuhan Penggemar Harry Potter
Penulis: A.Ataka Awwalurizqi
Penerbit: Liliput
Cetakan: Kedua, Juli 2005
Tebal: x + 115 halaman

Mulanya ingin dimasukkan ke majalah sekolah. Lantaran terlampau panjang bocah ini memutuskan untuk menyimpan dan menyempurnakannya. Ini adalah novel kedua yang lahir dari tangan bocah mungil bernama Ataka. Berbeda dengan novel pertama yang membuat orang sedikit bepikir, dalam novel keduanya ini Ataka menyajikannya lebih dekat dengan masyarakat.

Meski berbeda, Ataka tetap menelurkan novel ini dengan genre fantasi, hanya saja setting lokal tempat penulis berada begitu terasa dalam novel ini. Semisal lingkungan sekolah, kawan-kawan dekatnya, juga beberapa tempat atau daerah yang ada di kota Yogyakarta.

Novel ini bercerita tentang sekelompok murid SMP yang tergabung dalam kelompok detektif A3R. Bak detektif profesional ketiganya memecahkan beberapa kasus yang ada di sekitar mereka. Kasus yang ditampilkan dalam cerita bisa diblang cukup unik, dan bisa jadi tak terduga oleh kita. Misalnya saja ketika mereka (A3R) memecahkan kasus yang dialami oleh kawan sekolah mereka yang merasa dibuntuti oleh orang yang tak dikenal, kasus lain ketika mereka mencoba untuk memecahkan teka-eki siapa ketua mereka sebenarnya, karena selama ‘bertugas’ tidak ada satupun di antara mereka yang mengetahui pasti seperti apa wajah sang ketua. Mereka berkomunikasi dengan ketua melalui sms, dan nomor yang digunakan oleh sang ketua selalu berganti, tak pernah tetap.

Kasus-kasus kecil namun cukup menggelitik juga terdapat dalam novel ini, misalnya saja kasus bolpen hilang, atau kasus HP hilang dan ternyata hanya disembunyikan di dalam lipatan celana.

Petualang mereka semakin mengasyikan ketika mereka mereka berhasil memecahkan kasus yang mereka anggap cukup berat, yakni kasus pembunuhan. Bukan saja jalan cerita, ataupun pilihan tokoh. Kekuatan yang ada pada novel Ataka yang kedua ini terletak pada ide serta imajinasi yang dimunculkan olehnya.

Bayangkan saja Ataka mampu membayangkan sebuah kasus serta penyelesaiannya secara detail dan masuk di akal. Membaca karyanya kita akan teringat pada serial Detektif Conan yang sangat digemari oleh kebanyakan anak-anak, termasuk Ataka barangkali. Ide-idenya dalam cerita ini bisa dibilang sedikit ‘nakal’ dan tak terlintas pada benak orang dewasa sama seperti novel sebelumnya.

Dalam penyelesaian kasusu-kasus yang dihadapi oleh agen detektif ‘besutan’ Ataka ini bisa dibilang cukup unik dan menggelitik. Ketika mencari identitas sang ketua misalnya, mereka meneliti satu persatu karangan kawan-kawan sekolahnya untuk mendapat gaya bahasa yang sama dengan gaya bahasa sang ketua dalam sms yang kerap mereka terima, juga dengan menjebak sang ketua dengan cara menelponnya dan mengenali suara sang ketua, karena mereka berasumsi bahwa sang ketua agen A3R adalah juga siswa SMP 5 sama seperti mereka.

Gaya tutur Ataka tak jauh berbeda dengan novel sebelumnya. Tuturannya seolah ia sedang berbincang dalam kesehariannya.Bukan hanya itu saja tindakan yang dilakukan para pelaku dalam novel inipun terasa sangat akrab dengan kehidupan penulis sehari-hari. Khas anak seusianya.

Dalam novelnya ini juga disertakan ilustrasi atau gambar sebagai representasi dari cerita, sungguh khas anak-anak. Cukup menarik sepertinya ilustrasi dalam novel ini sebab sang ilustrator menggambarkan tokoh dalam cerita ini dengan gaya kartun, sesuai dengan segmentasi pembaca buku ini anak-anak. Meski secara khusus buku ini diperuntukkan untuk anak, tak menutup kemungkinan orang dewasa turut membacanya sebab karya Ataka tak hanya mampu membuat de
cak kagum anak-anak. Orang dewasapun selayaknya angkat topi untuk karya fenomenal ini.

Di sinilah letak perbedaan sastra anak yang ditulis oleh orang dewasa dengan sastra anak yang ditulis sendiri oleh anak-anak. Dalam tulisannya yang lugas sesuai dengan kehidupannya masing-masing. Di sinilah Ataka berperan sebagai seorang anak dia mewakili kaumnya untuk menggambarkan dunia mereka.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan