-->

Lainnya Toggle

Ataka: “Kalau Indonesia Saya Suka Pram… di Luar, Tolkien”

Oleh Fadila Fikriani Armadita

Nama-nama tokohnya sih sebagian saya karang sendiri, sebagian cari di Buku Pintar. Ada juga bahannya dari desaku… Atau kalau di Jogja ada Jalan Magelang, itu kan jalan menuju Magelang; Jalan Kaliurang itu jalan menuju Kaliurang. Kalau di Burton ada jalan menuju pelabuhan Mariata namanya Jalan Mariata. Bedanya cuma nggak pake kilometer. Berikut percakapan I:BOEKOE dengan A Ataka Awwalurrizky (14,7 TAHUN)

I: Sibuk nulis apa nih sekarang?
A: O ini lagi nulis Skinheald III.

I: Kapan terbit lagi?
A: Targetnya sebelum masuk SMA, Skinheald III sudah selesai.

I: Wah ngebut dong?
A: Iya, tapi sudah ada kerangkanya kok, jadi tinggal nulis aja. Di Skinheald III ceritanya lebih seru, ada perangnya terus juga tokoh-tokoh baru yang muncul.

I: Ngomong-ngomong siapa orang yang paling berpengaruh dalam kamu berkarya?
A: Orangtua yang paling berpengaruh.

I: Coba cerita sedikit proses awal kepenulisan kamu!
A: Proses menulis saya dimulai saat masih kelas lima SD, tepatnya habis ujian. Saat habis ujian kan tidak diijinkan meninggalkan kelas sebelum menunggu hasil koreksian. Bosan di dalam kelas akhirnya saya mulai menulis, meski asal-asalan. Memang yang pertama saya tulis adalah fantasi tapi langsung judulnya dan bab-babnya. Agak lama nggak saya terusin karena sudah lupa dan kertasnya lecek.

I: Apa yang kamu lakukan sebelum menulis?
A: Ya… cari data-data yang berkaitan. Misalnya mau nulis tentang tsunami di Aceh ya mencari data-data tentang itu.

I: Susah nggak
A: Susah! Soalnya saya belum pernah ke Aceh. Jadi sulit membayangkan situasi, kenampaakan alam serta budayanya.

I: Terus apa yang Aka lakukan?
A: Cari referensi tentang Aceh, kebiasaan-kebiasaan, puisi tentang Aceh, juga buku-buku tentang tsunami. Selain itu saya juga membaca koran-koran lokal Aceh yang lebih detail nulis tentang berita tsunami itu aku dapat dari teman bapak yang orang Aceh. Begitu itu. Informasinya saya dapat dari kenalannya bapak yang jadi aktivis di Aceh saat tsunami dan banyak foto-foto juga buku-buku tentang tsunami ya saya baca-baca.

I: Kembali ke bukumu yang Skinheald I. Berapa lama nulisnya?
A: Menulis Skinheald I agak lama, soalnya sekalian bikin kerangka dari Skinheald I sampai III. Jadi hampir satu tahun.

I: Ide-ide cerita itu dapat dari mana aja?
A: Tahu-tau ada sendiri, terus dibayangkan kelanjutan ceritanya terus langsung ditulis di komputer. Dulu ditulis di kertas, sampai-sampai kertasnya pada lecek baru dipindah ke komputer.

I: Kalau sudah selesai menulis apa yang Aka lakukan?
A: Kalau sudah selesai ya baca-baca, istirahat dulu baru baca ulang.

I: Kalau tulisannya dibaca ulang, biasanya ada perubahan gak?
A: Ada sih, tapi gak banyak paling ditambahi, kalau ada kalimat yang agak efektif diganti.

I: Ada waktu khusus buat nulis?
A: Nggak, kalo ada waktu senggang aja, kalau banyak ulangan dan tugas ya enggak.

I: Oh ya, kenapa sich kamu suka cerita-cerita fantasi?
A: Asyik aja gak cuma hal-hal biasa.

I: Kalau kegiatan Aka sehari-hari ngapain aja. Nggak terus-terusan nulis dong?
A: Ya… banyak sich, belajar, baca buku, nonton film, nulis, main sama adik.

I: Bisa cerita gak kondisi desa tempat tinggalmu di Banyuwangi seperti apa?
A: Ya kondisinya bagus sich, ada sungai besar, banyak sawah, terus kalo pagi-pagi berangkat ke sekolah, di belakang sekolah kayak terlihat gunung besar.

I: Lo kan kondisi desa tempat tinggalmu itu mirip dengan latar novelmu. Benar nggak sih?
A: Hehe, memang mirip Desa Burton. Terus di situ ada sekolahnya itu juga mirip SD ku dulu, kalau ke sekolah lewat sawah-sawah gitu, cuma gerbangnya aja di SD ku gak pake gerbang tinggi. Terus di belakang sekolah itu ada gunung. Kalau pagi kelihatan, tapi di novel itu aku tempatkan di bagian lain. Biar nggak sama-sama amat.

I: Bagaimana kalau Jogja. Kamu ambil di mananya?
A: Kalau di Jogja misalnya Jalan Magelang, itu kan jalan menuju Magelang; Jalan Kaliurang itu jalan menuju Kaliurang. Kalau di Burton ada jalan menuju pelabuhan Mariata namanya Jalan Mariata. Bedanya cuma nggak pake kilometer aja.

I: Terus kalo tokoh-tokoh itu kamu melihat dari mana sich?
A: Nama-namanya sih sebagian aku karang sendiri, sebagian cari di buku pintar. Di Buku Pintar itu kan ada nama-nama dari berbagai bahasa. Nah saya ambil nama-nama yang kira-kira cocok.

I: Paham Mbak sekarang. Tokoh-tokoh dalam karya kamu itu tidak imajinatif-imajinatif banget. Iya kan?
A: Benar. Ada yang memang ada. Tapi ada juga yang saya karang-karang sendiri.

I: Ada gak misalnya satu tokoh itu penggabungan karakter beberapa orang?
A: Oh ada… di Skinheald itu kan yang kembar Ony sama Andy, itu teman saya tapi yang kembar justru Koko sama Kiki, tapi sifat-sifatnya kebanyakan Ony.

I: Ini hal lain Aka. Siapa sih pengarang favorit kamu?
A: Kalo Indonesia Pram, kalo luar ehm…. siapa yaaa…. Kayaknya Tolkien deh.

I: Apanya yang kamu suka dari Pram?
A: Bahasanya itu yang saya suka. Kalimatnya pendek-pendek.

I: Kalau boleh tahu, buku Pram mana aja yang udah kamu selesaikan?
A: Arus Balik dan Bumi Manusia.

I: Tetralogi Aka belum lengkap ya?
A: Itulah soalnya. Saya belum lengkap Tetraloginya. Kalau udah, pasti deh saya baca semuanya. Itu cita-cita saya. Baca semua Tetralogi Pram.

I: Oke. Kalau Tolkien?
A: Pertama baca The Hobbit. Itu bagus, alurnya bagus, ga membingungkan. Pas baca Lord of the Ring pertamanya agak-agak bosen juga, kok ceritanya lebih runtut, semakin banyak deskripsinya, akhirnya menyesuaikan diri malah jadi suka yang panjang-panjang.

I: Kalau sudah selesai nulis selain ditunjukkan ke ayah-ibu pernah gak ditunjukkin ke teman?
A: Kalau diskusi sama teman belum, tapi cerita-cerita sedikit. Kalo diskusi itu sich… itu tentang ras-rasnya kalau main game, diajak diskusi ada ras apa lagi.

I: Ketika nulis pernah ga punya anggapan kalau kamu adalah tokoh dalam cerita kamu?
A: Nggak pernah, soalnya ya Robin-nya (tokoh utama dalam Skinheald–red) walaupun awalnya kayak gitu semakin lama semakin dewasa, makin banyak bedanya sama aku. Tapi kalau yang Aceh malah ya… sedikit banyak kesamaan.

I: Masukan-masukan yang kamu terima bentuknya seperti apa Ka?
A: Kalo cerita nggak, kalo misalnya ada puisi di awal, saya banyak diskusi, terus di Skinheald II peletakannya puisi di mana. Pas Skinheald II kan ada 18 bab tuh. Waktu sepuluh bab selesai sama penerbit didiskusikan bareng sama penulis-penulis. Di situ terus banyak masukan-masukan.

I: Terus dari masukan-masukan itu apa yang kamu lakukan?
A: Ya… banyak yang memberi masukan supaya gaya tulis saya kembali ke Skinheald I. Soalnya ya memang agak-agak beda. Biar gak berubah. Mungkin ada perkembangan tapi ga jauh berbeda. Pak Kartono itu waktu launching memberi masukan soal sampul, trus apa lagu yyaaa… soal sekolahnya bertanam singkong kan logikanya belum pas… Misalnya lagi, makanan khas Burton yang dijemur, itu harus diperlogis.

I: Ini yang terakhir. Menurut Aka sendiri gimana sich cara nulis yang baik?
A: Saya sendiri nulisnya gak terlalu terpaku pada struktur kalimat apa yang ada di pikiran ditulis. Jadi ngalir gitu aja. Ada pemikiran ya ditulis. Setelah itu perlu dibaca l
agi, o kata ini enaknya diganti gini terus diubah susunan kalimatnya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan