-->

Kronik Toggle

Bersekutu Sesama Jiran

Suara tawa berderai memecah keheningan di aula Gedung IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Jumat pagi lalu. Derai tawa itu terhambur dari bibir hadirin karena celetukan penyair Djamal Tukimim asal Singapura setelah membaca karya-karyanya. “Memang saya tidak muda, tapi saya tetap muda,” teriak kakek empat cucu ini kepada hadirin.

Ya, Djamal memang tak bisa disebut muda lagi. Pria keturunan Purwokerto, Jawa Tengah, ini lahir pada 20 Oktober, 60 tahun lalu. Toh, dia tetap dimasukkan panitia dalam daftar sepuluh penyair muda Asia Tenggara yang tampil dalam acara bulan bahasa (Falasido) Universitas Indonesia.

Selain Djamal, terdapat nama Saring bin Sirad. Penyair dan wartawan asal Negeri Selangor, Malaysia, ini bahkan memulai kariernya sebagai polisi pada 1956. Bisa dibayangkan berapa usianya. “Yang paling penting bukan berapa jumlah usia, tapi semangat muda yang dibawa,” ujar Asep Sembodja, panitia acara itu, kepada Tempo.

Acara pembacaan puisi ini juga menjadi bagian dari peluncuran buku antologi puisi berbahasa Melayu dari 10 penyair Asia Tenggara yang hadir pada acara tersebut. Buku bertajuk Legasi ini memuat 101 puisi dari lima negara Asia Tenggara.

Dari Malaysia, ada empat penyair yang tampil, yakni Mohd. Diani Kasian, Ibrahim Ghaffar, Imlan Adabi, dan Saring Sirad. Indonesia menurunkan tiga penyair, yakni Asep Sembodja, Tulus Widjanarko, dan Medy Loekito. Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand masing-masing diwakili satu penyair, yakni Djamal Tukimim, Mohammed Zefri Arief, serta Abdul Razak Panaemalae.

Menurut Asep, persekutuan penyair Asia Tenggara ini dimulai dari pertemuan rekan-rekan akademisi dari UI, Universitas Brunei, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. “Saat itu saya bertemu dengan Zefri Arief dari Brunei dan Diani Kasian alias Bung Kancil pada 2004,” ujar Asep.

Setelah itu, mereka mulai berdiskusi soal bagaimana puisi mereka dibukukan. “Supaya tidak eksklusif, kami juga mengajak rekan-rekan di luar kampus,” Asep menambahkan.

Buku yang hanya terbit di Malaysia itu rencananya akan terbit hingga lima jilid setiap tahun hingga 2010. Selain kesepuluh penyair itu, menurut Asep, pada jilid-jilid berikutnya akan dibuka kesempatan bagi penyair-penyair lain ikut berpartisipasi. Konsep Legasi, Asep melanjutkan, adalah merangkum keberagaman. “Meski dominasi Melayu sangat besar,” dia menambahkan.

Sayangnya, buku ini baru bisa dinikmati masyarakat Malaysia. “Memang belum ada rencana mengedarkan di Indonesia. Tapi hal ini bisa jadi masukan,” ungkap Asep.

Sita Planasari A

*) Dikronik dari Tempo interaktif, 17 November 2006

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan