-->

Kronik Toggle

Puisi bagi Yogya

Jakarta:Di bawah payung-payung dengan kursi-kursi mengelilingi meja di bawahnya, puluhan orang mengarahkan matanya pada satu sudut di dekat jendela. Tak ada panggung, tapi di situlah sejumlah orang yang dipanggil, maju dan membaca puisi. Ada Zen Hae, Endang Supriadi, Fikar W. Eda, Sanggar Devies Matahari, Shobier Poer, Saut Situmorang, dan lain-lain.

Suasana temaram membekap di halaman belakang MP Book Point, Jakarta Selatan, Sabtu malam lalu. Baca puisi itu adalah bagian dari peluncuran buku antologi puisi Jogja 5,9 Skala Richter. Seperti judulnya, buku ini didedikasikan untuk korban bencana gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.

Buku ini menghimpun 100 puisi dari 100 penyair. Tentu tidak mudah untuk memilih puisi itu. Sebab, seperti dikatakan salah seorang editornya, Kurnia Effendi, puisi yang masuk mencapai 563 buah dari 236 penyair. Dari situ kemudian dipilih puisi-puisi yang cocok untuk masuk buku setebal 157 halaman ini.

Selain nama-nama di atas, dalam buku ini ada puisi karya nama-nama seperti Sitor Situmorang, Afrizal Malna, Eka Budianta, Isbedy Stiawan Z.S., Joko Pinurbo, Dianing Widya Yudhistira, Abdul Wachid B.S., Mustafa Ismail, Tulus Widjanarko, Iyut Fitra, Gunoto Saparie, dan Raudal Tanjung Banua. Tapi tak semua nama yang tercantum dalam buku tersebut bisa hadir pada malam itu.

Secara umum, puisi-puisi dalam buku ini berbicara tentang Yogyakarta yang ditimpa bencana. Tapi cara pandangnya tentu berbeda-beda: ada yang menuliskan simpati, perasaan, pikiran, juga ada yang mengungkapkan kenangan.

Tengok salah satu puisi misalnya, berjudul Jogja yang dibacakan sendiri oleh penulisnya, Fikar W. Eda, malam itu. Di pagi yang belum sempurna/Jogja datang kepadaku/Dengan tubuh penuh luka/Bahu remuk/Air mata deras/Membentuk kolam darah//Jogja datang/Ketika lukaku sendiri/Masih bernanah.

Puisi pendek itu melukiskan sosok Yogya yang remuk dihantam bencana. Fikar, penyair asal Aceh, mengungkapkan bencana Jogja datang ketika luka penyair sendiri belum sembuh. “Lukaku” dalam sajak ini tentu saja adalah simbol tragedi tsunami Aceh, yang masih begitu terasa dampaknya.

Penyair Endang Supriyadi menuliskan impresinya tentang seorang sukarelawan gempa Yogya dengan puisi berjudul Duka Ranjang yang Menggenang. … di dusun imogiri, sebuah perkampungan/telah hilang. dan kau menangis untuk/kedua kali untuk birahi yang mati/ini akar, seperti tombak bermata seribu/menukik ke bumi. membelah rumah saudara-/saudara kita.

Dalam baris-baris terakhir Endang, dia menggambarkan heroisme sang sukarelawan itu: bukan kau kalau harus diam. tanganmu, ranting yang bergerak. menyentuh dinding-dinding jiwa. dan/kau tak juga pedih saat hidupmu tinggal sehari.

Penyair Medy Lukito, yang malam itu menjadi pemandu acara, menulis puisi pendek Aku, yang penuh perenungan tentang bencana: aku sayap meluka angin/kian tinggi kian menyakiti//aku derap melupa ingin/ kian cepat kian mengakhiri//.

Malam itu, di pengujung acara, sebuah film pendek tentang Yogya diputar. Film itu menggambarkan sebuah rumah, tempat sebuah organisasi budaya beraktivitas, runtuh meninggalkan puing-puing serta membenamkan buku-buku, lukisan, dan plang nama organisasi itu. Ini pun sebetulnya puisi, tapi dengan cara ungkap yang berbeda.

MUS

*) DIkronik dari Tempointeraktif, 21 September 2006

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan