-->

Kronik Toggle

Kejaksaan Selidiki Atlas Bergambar Bendera Bintang Kejora

Surabaya:Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sedang menyelidiki atlas bergambar bendera Bintang Kejora yang sering digunakan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Kejaksaan juga menyita 3.284 buku peta setebal 96 halaman itu dari berbagai toko buku di Surabaya dan perusahaan yang menerbitkan.

Diduga ada sekitar 2 ribuan atlas sejenis yang terlanjur beredar di sekolah-sekolah dan toko-toko buku. Untuk menarik kembali atlas-atlas tersebut, Senin (21/11) kemarin Kejati telah menerbitkan surat kerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional serta kepolisian agar segera merazia di tiap-tiap sekolah dan toko buku.

Di buku berjudul “Atlas Lengkap Indonesia & Dunia, 33 Propinsi untuk SD, SMP, SMA & Umum” tersebut pada halaman paling belakang terdapat gambar bendera-bendera 210 negara di dunia. Salah satunya adalah bendera Bintang Kejora dengan keterangan di bawahnya Wirian (West Irian). “Atlas ini bisa menyesatkan siswa sekolah. Sejak kapan Irian Jaya jadi negara sendiri,” kata Kepala Seksi Penerangan dan Hukum Kejati Jatim, Devi Sudarso kepada Tempo, Selasa (22/11).

Dari penyelidikan intelijen kejaksaan, atlas bergambar sampul bola dunia (globe) itu diedarkan oleh empat penerbit berinisial CV. A, CV MP, CV G dan CV GBS. Kejati telah meminta keterangan dari para pemilik penerbitan beberapa hari lalu.

Pemilik penerbitan bernisial AL mengaku, sebelum mencetak halaman bergambar bendera-bendera dunia dirinya membeli CD room World Flag di salah satu mal di Surabaya seharga Rp 100 ribu pada akhir tahun 2002 lalu.

Pada Nopember 2003, AL menyerahkan CD room kepada sebuah percetakan agar gambar bendera-bendera itu divisualisasikan dalam bentuk cetakan. Selanjutnya pada awal 2004 AL menerbitkan atlas sebanyak 5000 eksemplar dan diedarkan ke toko-toko buku. “Masing-masing toko buku saya kasih jatah 10 eksemplar,” kata AL seperti ditirukan Devi.

Awal bulan lalu kejaksaan mendapat laporan dari masyarakat tentang beredarnya atlas tersebut. Pada 15 Nopember 2005 turun surat dari jaksa agung muda bidang intelijen agar dilakukan pengamanan terhadap atlas-atlas tersebut. “Kami memandang buku ini bisa membahayakan pemahaman siswa dan masyarakat,” ujar Devi. Kukuh S. Wibowo

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 22 November 2005

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan