-->

Kronik Toggle

Hanya 20 Persen Peneliti yang Mau Datang ke Perpustakaan Nasional

Jakarta:Ternyata, hanya 20 persen peneliti yang memanfaatkan fasilitas Perpustakaan Nasional. Survey yang dilakukan terhadap 60 orang peneliti di Jakarta dan Bogor ini dilakukan peneliti INDEF Fadil Hasan, yang dibeberkan dalam sebuah seminar tentang Perpustakaan Nasional di Jakarta, Senin (23/5).

?Dari survey itu, 65 persen lainnya malah sama sekali belum pernah ke Perpustakaan Nasional. Sisanya, hanya sesekali berkunjung,? ungkapnya.

Menurut Fadil, para responden umumnya berpendapat bahwa perpustkaan yang terdapat di bilangan Salemba, Jakarta Pusat ini, koleksinya tidak lengkap dan kurang spesifik. ?Selain itu, mereka lebih banyak menggunakan internet untuk memperdalam penelitiannya. Sebanyak 70 persen menggunakan internet,? ujarnya.

Sementara itu, Staf Pengajar Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Ibnu Hamad, mengusulkan agar Perpustakaan Nasional, membuat jaringan e-library. ?Jadi semua perpusnas mempunyai jaringan internet dengan perpustakaan-perpustakaan kampus, perpustakaan daerah, dan perpustakaan lain. Dengan begini, siapapun yang akan melakukan penelitian bisa mengklik saja ke situs perpusnas,? katanya.

Dengan jaringan terintegrasi antara lembaga yang memiliki perpustakaan, kata dia, duplikasi dan plagiasi bisa dihindari. Namun Ibnu mengakui kalau membuat jaringan seperti itu akan memakan waktu yang cukup lama. ?Bisakah Perpustakaan Nasional menjadi gerbang emas untuk bisa menembus dinding baja sektoral antar lebaga yang memiliki perpustakaan? Mungkin bertahun-tahun untuk mewujudkan hal ini. Entah partai mana yang mempunyai kepedulian pada masalah ini,? ujarnya.

Ke depan, menurutnya, manajemen klasifikasi koleksi mestinya diperbaharui,dengan tidak hanya memanfaatkan model konvensional, seperti klasifikasi berdasarkan bidang, agama, sejarah, filsafat, sosial, dan seterusnya. ?Kenapa tidak dilakukan pengklasifikasian berdasarkan bidang yang jauh lebih baru, misalnya kajian hukum, gender, studi masyarakat kota, dan yang lainnya.Jadi ketika ada orang yang mau melakukan studi gender, bukunya gampang dicari,? katanya.

Namun demikian dia yakin kalau fungsi perpustakaan tidak akan tergantikan oleh internet. Misalnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. ?IPTEK itu, tidak mungkin berkembang tanpa ada kaitannya dengan IPTEK masa lalu. Untuk itu, deposit itu perlu. Di sinilah peran perpustakaan berada,? katanya.

raden rachmadi

*) Dikronik dari TEMPO Interaktif , 23 Mei 2005

,

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan