-->

Kronik Toggle

Fadli Zon: Saatnya Menguliti Keburukan Semua Capres

Jakarta: Fadli Zon, orang dekat Prabowo yang menulis buku “Politik Huru-Hara Mei 1998” mengajak kepada masyarakat untuk menguliti kebusukan semua calon presiden yang bakal bertarung di pemilihan presiden 5 Juli ini. Ini agar publik tahu siapa calon presiden yang akan dipilihnya.

Berbicara dalam bedah buku yang penuh kontroversi itu di Aula Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya, Jumat (28/5), ia mengingatkan seluruh masyarakat agar tidak salah memilih presiden akibat tidak adanya upaya mengungkap fakta dan data buruk tentang calon presiden itu. Ujungnya, jika masyarakat salah memilih presiden padahal ia menang secara demokratis dalam pemilu, maka publik juga yang akan menanggung segala risikonya.

“Jangan sampai kita tersandera oleh presiden yang memiliki catatan buruk. Apakah kalau presiden adalah pelanggar HAM kemudian bangsa ini mendapat boikot ekonomi dunia, maka yang merasakan presiden itu? Tidak. Kita semua, 220 juta bangsa Indonesia yang bakal kena,” tegasnya.

Selain itu, kata dia, masyarakat saat ini diberikan informasi dan data yang baik-baik saja tentang calon presiden. Karena itu, menjadi tugas dari siapa pun yang memiliki informasi kebusukan tentang capres untuk mengungkapkannya. “Kalau kampanya yang baik-baik, itu sih sudah dilakukan semua capres. Semua kecap nomor satu. Karena itu, masyarakat harus mengungkap keburukan capres. Tentu, harus tetap menggunakan data dan koridor hukum,” katanya.

Ia mencontohkan, bagaimana publik Amerika Serikat terbiasa sekali untuk mendapatkan fakta dan informasi tentang siapa calon presidennya. Media massa di AS juga terbiasa membongkar sisi hitam dari calon presiden. Ia mencontohkan diungkapnya kebiasaan selingkuh Clinton dan masyarakat Amerika secara luas mengetahuinya. Karena itulah, Fadli Zon mengajak siapa pun untuk mengungkap keburukan Wiranto, SBY, Amien Rais, Megawati dan juga Hamzah Haz.

Meski begitu, Fadli Zon mengelak segala tudingan yang menyebutkan bahwa terbitnya buku “Politik Huru-Hara Mei 1998” sebagai bagian kampanye hitam terhadap Wiranto. Ia mengemas pernyataannya bahwa buku itu terbit untuk mengungkap fakta dan data sejarah.

Sementara itu, pembicra lain di acara ini, Mayjen (Purn) Kivlan Zen, yang juga orang dekat Prabowo mengatakan bahwa sebagai sesama pensiunan tentara yang berarti sebagai masyarakat sipil, ia memiliki posisi yang sama dengan Wiranto. Kivlan, yang menyebut Wiranto sebagai pengecut yang tidak mau bertanggungjawab atas kerusuhan Mei 1998, ingin mengungkapkan fakta itu kepada masyarakat agar tidak terus mendapatkan berita bohong dari Wiranto.

Meski begitu, senada dengan Fadli, ia menolak disebut sebagai orang yang sakit hati terhadap Wiranto sehingga melakukan pembunuhan karakter ketika Wiranto maju sebagai capres. Kivlan yang sempat tersinggung dengan omongan Gus Dur yang menyebut dalang kerusuhan Ambon adalah seorang berinisial Mayjen K, juga mengingatkan masyarakat agar tidak salah memilih presiden.

Menjawab tudingan peserta diskusi bahwa ia menjadi tim sukses capres rival Wiranto, Kivlan dengan tegas mengelakanya. “Saya bukan tim sukses capres siapa pun. Dan saya tidakmenjadi bagian dari tim sukses capres siapa pun,” tegasnya.

Hanya saja, dalam kesempatan itu, Kivlan sempat menyebut bahwa SBY di matanya lebih bersifat satria. Ini dibuktikan dengan keberaniannya untuk mundur dari kabinet Megawati. Selain itu, SBY ia lihat juga lebih pintar dan memiliki visi.

Sunudyantoro – Tempo News Room

*) Dikronik dari tempointeraktif, 28 Mei 2004

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan