-->

Kronik Toggle

Toeti Heraty Noerhadi Rooseno, 70 tahun, Luncurkan Buku

Usia 70 tahun tampaknya menjadi titik waktu istimewa bagi Toeti Heraty Noerhadi Rooseno. Budayawan dan guru besar filsafat kelahiran Bandung itu merayakan hari ulang tahunnya dengan rangkaian acara khusus. Ada penanaman pohon, peluncuran buku, ada pula pergelaran konser.

Puncak perayaan digelar di Ballroom Oktroi Plaza, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu pekan lalu. Untuk menandai acara puncak itu, putra-putri, kerabat, dan kolega Toeti meluncurkan buku Pawai Kehidupan. Buku setebal 348 halaman ini berisi tulisan yang dihadiahkan orang-orang yang mengenal Toeti, antara lain sosiolog Arief Budiman, praktisi hukum Adnan Buyung Nasution, profesor filsafat Kees Berten, dan Frans Magnis Suseno. Judul buku diambil dari salah satu puisi Toeti.

Pada malam yang sama, wanita kelahiran Bandung, 27 November 1933 itu meluncurkan buku Pencarian Belum Selesai (fragmen otobiografi) dan A Time, A Season (kumpulan pilihan puisi). Toeti membagi-bagikan ketiga bukunya sebagai cendera mata untuk tamu undangan yang umumnya teman-teman Toeti dari kalangan akademis dari dalam dan luar negeri.

Dalam kesempatan itu diputar rekaman video yang melukiskan kehidupan Toeti, serta komentar dari orang-orang dekatnya. Yang memberikan komentar antara lain bekas Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, pematung Dolorosa Sinaga, aktivis hak asasi manusia Munir, dan bekas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan.

Selama ini, Toeti dikenal luas dengan berbagai predikat. Mulai dari pengelola galeri seni, guru besar fisafat, penulis puisi, penulis esai, hingga wanita pengusaha. Keragaman disiplin ilmu yang pernah dituntutnya di masa lalu—pernah mendalami ilmu kedokteran, meloncat ke psikologi, ke filsafat—hingga urusan hak paten yang menuntunnya ke dunia bisnis telah mematangkan Toeti untuk tampil sebagai sosok wanita sukses saat ini.

Di dunia akademis, Toeti bisa disebut telah mencapai puncaknya. Meraih gelar doktor filsafat pada 1979, lalu pada 1994 ia didaulat menjadi guru besar luar biasa di Jurusan Filsafat, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Di samping menjadi Ketua Jurusan Filsafat UI, ia juga pernah menjadi Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Kiprah di dunia bisnis diawali jerih payah Toeti selama bertahun-tahun dalam mengurus paten temuan ayahnya, Prof. Dr. Ir. Rooseno Soerjohadikoesoemo, ke Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang. Itu pula yang mendorongnya ikut berkiprah di Biro Oktroi Rooseno, perusahaan pertama yang mengurusi hak paten di Indonesia, tempat Toeti menjadi direktur utamanya sejak 1975.

Dari pernikahannya dengan Eddi Noerhadi (almarhum), Toeti dikaruniai tiga putri dan satu putra. Di usianya yang memasuki senja, saat menyambut tamunya pekan lalu, Toeti tetap bugar dan ceria. Di tengah kesibukannya sehari-hari, Toeti pun selalu berupaya berbagi waktu dengan delapan cucunya.

”Saya merasa jadi rakyat nomor dua.”
— Alex Komang, aktor, di Jakarta pada Rabu malam pekan lalu, setelah pemerintah memutuskan tak akan meminta tambahan kuota haji dari Arab Saudi dan menyebabkan dia gagal berangkat ke Mekah tahun depan.

”Ini mau membentuk panti jompo atau mau memberantas korupsi?”
— Amien Sunaryadi, di DPR pada Senin pekan lalu, saat uji kelayakan untuk pencalonannya sebagai pemimpin Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi. Amien menyatakan akan mundur jika yang terpilih ada yang berusia di atas 60 tahun. Ia tak jadi mundur setelah mendapat masukan dari sejumlah kalangan.

*) Dikronik dari MBM Tempo,43/XXXII 22 Desember 2003

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan